Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
Rasa lelah yang luar biasa setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Sandy Shores akhirnya menagih haknya. Alkohol dingin yang mengalir di kerongkongan perlahan membuat kesadaran Michael dan Andika makin meredup. Di atas sofa tua dan kursi kayu ruang tengah kediaman Lester, kedua pria itu akhirnya terkulai tertidur lelap, diselimuti deru halus kipas angin dan pendar remang monitor komputer yang tak pernah mati. Franklin yang juga kelelahan sempat merebahkan diri di sudut lain, sementara Lester tetap terjaga di depan meja kerjanya, mengetik baris demi baris data keamanan target perampokan mereka.
Waktu berlalu dalam keheningan yang panjang, hingga matahari siang tepat berada di puncak langit Los Santos.
BRAAAKKK!
Pintu kayu depan rumah panggung Lester mendadak didobrak dari luar hingga menghantam dinding dengan dentuman keras!
"BANGUN, KALIAN PEMALAS BAJINGAN! SELAMAT SIANG LOS SANTOS!"
Aura kegilaan gahar seketika membanjiri seluruh sudut ruangan. Trevor Philips berdiri di ambang pintu dengan kaus putih lusuhnya yang berbercak debu, memegang dua botol bir di tangan kiri dan menyeringai lebar bagaikan iblis yang siap meledakkan kota.
Tanpa membuang waktu, Trevor melangkah lebar menghampiri sofa tempat Andika dan Michael tertidur. Ia menyiramkan sisa bir dingin dari botolnya tepat ke wajah Michael, lalu mendaratkan pukulan kasar ke bahu Andika sambil tertawa histeris!
"BANGUN, MICKY! BANGUN, BOCAH! WAKTU ADALAH UANG DAN AKU TIDAK DATANG KE KOTA INI CUMA UNTUK CUCU-CUCU MANJA YANG SEDANG TIDUR SIANG!" raung Trevor dengan suara serak melengkingnya.
"GHOAARRGH! TREVOR, BAJINGAN KAU!" jerit Michael kaget setengah mati, melompat bangun sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup oleh bir.
Andika yang terbangun kaget dengan refleks cepat langsung menegakkan tubuhnya, matanya tajam mengunci sosok Trevor dengan napas memburu. Namun menyadari bahwa itu adalah Trevor yang datang dengan semangat gilanya, Andika hanya mengusap wajah, menghembuskan napas panjang, lalu terkekeh pelan menggelengkan kepala.
Franklin yang tertidur di kursi sudut ikut tersentak kaget, menyapu matanya yang masih sepet. "Gila... Pria tua ini benar-benar tidak punya tata krama."
Lester memutar kursi rodanya, memukul meja kayu dengan tongkatnya untuk menenangkan kegaduhan yang meluap seketika.
"Cukup, Trevor! Hentikan sirkusmu!" bentak Lester tegas. "Kita tidak punya banyak waktu untuk main-main. Kau datang tepat waktu, sekarang duduk dan diam!"
Trevor tertawa lepas, melempar botol kosong ke sudut ruangan lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu di samping Andika. Ia menepuk punggung Andika dengan keras. "Bocah ini punya refleks bagus, Mike! Dia hampir saja mematahkan tanganku tadi!"
Dengan hadirnya Trevor, kelima anggota inti kini telah berkumpul utuh di ruang tengah kediaman Lester Crest: Michael De Santa sang eksekutor lapangan veteran, Franklin Clinton sang pengemudi andal, Andika sang penembak jarak dekat yang tangguh, Trevor Philips sang penghancur berdarah dingin, dan Lester Crest sang otak operasional di balik layar.
Lester mematikan lampu gantung ruangan, menyalakan proyektor besar yang langsung memancarkan gambar peta, denah bangunan, dan skema keamanan sebuah gedung megah di pusat kota ke dinding putih.
Di tengah pendar cahaya proyektor, wajah Lester berubah menjadi sangat serius dan dingin.
"Baiklah, perhatikan baik-baik," kata Lester, menunjuk gambar sebuah gedung megah bergaya arsitektur klasik bernuansa emas dan marmer. "Target kita adalah The Fleeca Bank cabang Pacific Bluffs—bank swasta elite tempat para pengusaha dan pejabat menyimpan emas serta uang tunai tak terdaftar milik mereka. Ini bukan sekadar perampokan minimarket. Ini aksi heist profesional kelas atas."
Semua orang di ruangan mendadak hening. Andika merapatkan duduknya, menyulut sebatang rokok, dan menyimak setiap detail ucapan Lester dengan cermat.
Lester menekan tombol di pengontrolnya, memunculkan grafik sistem keamanan internal bank.
"Di dalam brankas utama bank ini terdapat uang tunai senilai lebih dari 8 juta dolar serta beberapa peti emas batangan murni," lanjut Lester. "Sistem keamanannya menggunakan laser grid terbaru dan pintu brankas baja berketebalan 30 sentimeter yang terhubung langsung dengan markas pusat LSPD (Los Santos Police Department). Sekali alarm berbunyi, SWAT akan mengepung tempat itu dalam waktu kurang dari empat menit."
"Empat menit, huh?" gumam Franklin sambil bersedekah tangan. "Celah waktu yang sangat sempit."
"Tepat," tegas Lester. "Sebab itu, skenario kita harus berjalan seperti operasi bedah medis—presisi, cepat, dan tanpa cela. Aku membagi operasional ini menjadi tiga fase utama."
Lester menunjuk skema Fase Pertama: Infiltrasi dan Peretasan.
"Kita akan melancarkan aksi ini besok sore pukul 15:00, saat bank sedang sibuk-sibuknya melakukan rekapitulasi uang tunai mingguan," jelas Lester. "Empat orang dari kalian—Michael, Franklin, Andika, dan Trevor—akan tiba menggunakan van Burrito hitam yang sudah kita siapkan. Kalian semua wajib mengenakan empat setelan jas hitam, dasi merah, dan topeng badut yang sudah dibeli Andika. Penampilan profesional ini penting agar CCTV tidak mengenali wajah kalian, dan memberikan efek teror psikologis yang instan pada para sandera."
Lester beralih menunjuk nama Michael dan Trevor. "Michael dan Trevor, kalian berdua adalah Crowd Control atau pengendali massa. Begitu masuk, lumpuhkan semua penjaga keamanan di lorong utama, hancurkan semua kamera CCTV dengan tembakan presisi, dan kumpulkan seluruh staf serta nasabah di tengah aula. Buat mereka terlalu takut untuk mencoba menekan tombol alarm darurat!"
"Serahkan padaku," seringai Trevor. "Tugas membentak dan menakut-nakuti penakut adalah keahlian utamaku!"
Lester menggelengkan kepala pelan lalu menunjuk skema Fase Kedua: Penbobolan Brankas.
"Sementara Michael dan Trevor menguasai aula utama, ini bagianmu, Andika," kata Lester menatap tajam ke arah Andika. "Kau, bersama Franklin, akan langsung bergerak menuju pintu brankas bawah tanah. Aku sudah meretas sistem kunci elektronik luar, tapi pintu baja brankas utama harus dibuka secara manual menggunakan alat bor termal bertekanan tinggi (thermal drill) yang sudah kusiapkan di dalam peti."
Andika mengangguk tenang, membuang abu rokoknya ke ashtray. "Berapa lama waktu yang saya punya untuk membobol pintunya, Lester?"
"Kau punya waktu maksimal dua menit lima puluh detik untuk menembus empat titik pengunci baja brankas itu," jawab Lester mantap. "Kau harus tenang dan presisi. Begitu pintu terbuka, Franklin akan masuk membongkar deposit box utama dan memasukkan seluruh uang tunai dan emas ke dalam tas kargo. Ingat, jangan serakah! Mengambil apa yang ada dalam tenggat waktu jauh lebih penting daripada terjebak bersama pasukan SWAT!"
Lester lalu menunjuk gambar peta jalanan Los Santos dan menunjuk Franklin serta Andika untuk Fase Ketiga: Pelarian (Escape Plan).
"Ini bagian tersulitnya," kata Lester, suaranya meninggi. "Meskipun kita memotong jalur sinyal alarm, sistem komputer bank akan otomatis mengirim sinyal bahaya jika pintu brankas dibuka secara paksa. Polisi akan mulai berdatangan dari segala penjuru dalam hitungan menit."
Lester menunjuk rute garis merah di peta proyektor.
"Franklin, kau yang memegang kemudi mobil pelari (getaway vehicle). Begitu kantong uang sudah diamankan, kalian berempat harus langsung keluar dari pintu belakang bank menuju gang sempit di mana van Burrito hitam sudah bersiap. Franklin akan membawa kalian melaju menembus barikade jalanan, memotong jalur melintasi jalan tol Del Perro Freeway menuju perbukitan Vinewood Hills!"
Lester memandang Michael dan Trevor. "Di sepanjang jalan pelarian, Michael dan Trevor wajib menggunakan senapan serbu M4 dari kaca jendela untuk menembaki ban mobil polisi yang mengejar! Dan jika helikopter LSPD muncul... Trevor, kau pakai senapan M4-mu untuk menembak pilotnya!"
"Dengan senang hati, Lester!" tawa Trevor meledak gembira.
"Setelah berhasil mengocok dan menghilangkan jejak dari kejaran helikopter di jalanan berliku Vinewood Hills," tutup Lester sambil mematikan proyektor, "Kalian akan masuk ke dalam sebuah truk kontainer besar yang sudah kuparkir di dalam terowongan bawah tanah. Di sana kalian akan berganti pakaian, meninggalkan van hitam yang akan kita bakar, dan keluar dari terowongan sebagai warga sipil biasa yang membawa tas berisi jutaan dolar tunai. Pembagian hasil akan kita lakukan di markas ini."
Ruangan kembali disergap hening sejenak. Rencana perampokan besar yang dirancang Lester begitu mendetail, rapi, berbahaya, namun sangat masuk akal. Sebuah skenario kejahatan sempurna yang menjanjikan kekayaan instan sekaligus taruhan nyawa yang sangat tinggi.
Michael menatap tiga rekannya satu per satu—Franklin yang tersenyum penuh percaya diri, Trevor yang menggebu-gebu dengan dahaga darah, dan Andika yang tetap tenang dengan sorot mata tajam tanpa rasa takut sedikit pun.
Michael menyunggingkan senyuman tipisnya yang khas, lalu menepuk meja dengan mantap.
"Rencananya sudah jelas. Persenjataan lengkap, strategi matang, dan tim terbaik sudah berkumpul," tegas Michael dengan nada mantap. "Sekarang, kalian semua kembali ke rumah masing-masing, istirahat yang cukup, dan persiapkan mental kalian. Besok sore jam tiga... kita guncang Los Santos!"
"Siap, Mike!" seru Franklin dan Andika kompak.
Rencana perampokan besar The Fleeca Bank resmi dikunci. Roda takdir baru bagi perjalanan Andika di dunia bawah tanah Los Santos kini telah siap bergulir menuju aksi heist paling mematikan dalam hidupnya.
Setelah seluruh detail strategi perampokan dikunci rapat oleh Lester, suasana tegang di dalam ruang tengah perlahan mencair. Kepulan asap rokok dan sisa hembusan napas lega menandai berakhrinya rapat operasional yang intens tersebut.
Franklin berdiri dari sofanya, merenggangkan otot-otot badannya yang pegal. "Kalau begitu, saya balik dulu, Mike, Lester. Mau menyiapkan mental dan istirahat buat besok," ujarnya sambil menepuk bahu Andika. "Ayo, Bro, kita jalan bareng ke luar."
Andika mematikan puntung rokoknya di ashtray, lalu ikut berdiri. "Iya, saya juga mau pulang dulu," balas Andika tenang.
Trevor, yang sejak tadi tidak bisa duduk tenang, langsung menyambar jaket lusuhnya dari atas meja. "Aku juga cabut! Kota ini terlalu banyak tempat menyenangkan untuk dilewatkan sampai besok sore! Sampai jumpa di neraka besok, para bajingan!" jerit Trevor histeris diselingi tawa gilanya yang khas. Tanpa menunggu jawaban siapa pun, pria gila itu melompat keluar pintu, menghilang entah ke mana untuk menjelajahi sudut-sudut liar Los Santos dengan gayanya sendiri.
Andika dan Franklin berjalan berdampingan menunuri tangga kayu rumah Lester. Di halaman depan, Franklin melangkah menuju sedan Buffalo miliknya, sementara Andika menghampiri Chopper Scorpio hitam kesayangannya.
"Sampai ketemu besok jam tiga sore di titik kumpul, Frank," kata Andika seraya mengenakan helm dan memutar kunci kontak motornya.
"Siap, Bro. Jaga dirimu baik-baik malam ini," balas Franklin dengan acungan jempol sebelum melesat pergi membelah jalanan.
BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!
Mesin 225cc Chopper milik Andika menderu gahar. Ia menancap gas, meluncur mulus meninggalkan perbukitan El Burro Heights menuju rumahnya, bermaksud mengistirahatkan pikiran dan fisiknya demi menghadapi eksekusi heist terbesar dalam hidupnya besok sore.
Sementara itu, di dalam rumah panggung yang kini kembali hening, Michael dan Lester masih bertahan di depan jajaran monitor. Michael menyulut sebatang rokok baru, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sembari menatap layar proyektor yang kini menampilkan peta jalur evakuasi darurat.
"Kau yakin anak baru itu bisa menangani thermal drill di bawah tekanan, Mike?" tanya Lester pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ketikan komputernya. "Menjebol brankas Fleeca bukan tugas main-main."
Michael menghembuskan asap rokoknya ke atas, menyunggingkan senyum tipis yang sarat kepercayaan. "Andika punya ketenangan yang jarang dimiliki anak muda seusianya, Lester. Kau lihat sendiri bagaimana dia menghadapi Trevor tadi—tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. Dia dan Franklin akan menyelesaikan tugasnya di bawah, sementara aku dan Trevor menjaga pintu depan."
Lester mengangguk-angguk pelan, memperhitungkan ulang rasio keberhasilan skenario mereka di atas kertas. Keduanya terus tenggelam dalam obrolan mendalam, menyisir setiap kemungkinan terburuk dan menyiapkan rencana cadangan hingga larut malam.