Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan 'Mas' yang Meresahkan

26

Klotak! 

Azam meletakkan ponselnya di atas meja dengan sedikit kasar, entah sejak kapan ia membiarkan perasaan pribadi mendominasi kewarasannya. Jelas itu bukan Azam, ya, Azam merasa berubah menjadi pribadi yang aneh. Apalagi penyebabnya hanya karena pesan belum dijawab. 

Biasanya dia bisa mengabaikan ponsel atau apapun jika sedang sibuk bekerja di kebun, tapi kali ini entah kenapa rasanya berbeda. Dan perbedaan itulah yang justru membuatnya kesal pada diri sendiri.

“Masih belum dibalas?” Suara Aisha tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Azam langsung menoleh, adiknya sedang berdiri santai sambil membawa segelas jus timun, wortel, dan bengkuang kesukaannya. Sementara kedua matanya penuh rasa ingin tahu.

“Siapa yang belum membalas? Kepo amat sama urusan orang,” celetuk Azam pura-pura tidak mengerti.

Aisha tersenyum, sebelah alisnya terangkat, lama-lama ia geli melihat tingkah kakaknya. Kelihatan sekali jika Azam seperti pria yang mengalami puber kedua. Padahal usianya belum genap 30 tahun. 

“Memangnya siapa lagi? Dari tadi Mas pegang ponsel terus. Jangan-jangan sedang menunggu pesan dari seseorang?”

“Banyak pekerjaan, Sha. Mas sedang memeriksa laporan,” dusta Azam, ia berpura-pura membuka lembaran kertas berisi laporan pemasukan dan pengeluaran harian kebun sayur mereka. 

Aisha melirik meja di hadapan kakaknya dengan rasa curiga. Beberapa lembar kertas memang terbuka, tetapi Aisha tahu, sejak tadi Azam mengabaikannya alih-alih membaca seperti yang dikatakannya barusan. 

“Iya, deh. Laporan pekerjaan yang namanya Dina,” ledek Aisha lalu menghisap juice-nya. 

Azam mendelik kaget, karena Aisha seperti bisa membaca pikirannya. “Kamu ini kalau bicara sembarangan sekali,” gerutu Azam. 

“Lho, memang benar, kan? Tadi Bunda menyuruh Mas menghubungi Mbak Dina. Jadi dibagian mananya aku berkata sembarangan?” 

Semakin mengelak, Aisha senang meledek kakaknya. 

“Mas hanya menanyakan kabarnya, tidak lebih.” 

“Lebih juga nggak papa, kok, Mas. Kenapa wajah Mas seperti orang yang ketahuan mencuri? Panik, cemas, mengelak.” 

Azam kembali mendelik, kali ini lebih tajam dan mengerikan. “Aisha!” tegurnya tegas. 

Gadis itu langsung tertawa, lalu bergegas meninggalkan ruangan sebelum kakaknya benar-benar kehilangan kesabaran. “Iya, deh, maaf. Jangan marah-marah, Mas! Nanti cepat tua! Kasihan Ghazi kalo punya papa aki-aki.” 

Aisha langsung kabur setelah mengatakannya, Azam hanya menggelengkan kepala, adik bungsunya itu, memang selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Meski begitu Azam tetap menyayanginya. 

Setelab Aisha menjauh, Azam kembali mengintip ponselnya, dan masih belum ada jawaban. Pria itu menghembuskan nafas kesal, kemudian membalikkan ponselnya hingga layar benda malang tersebut menghadap ke permukaan meja. 

Setidaknya untuk lima menit, ia tak ingin melirik ponsel. 

•••

Sementara itu, Dina baru saja selesai mandi sore ketika Bu Rara memanggilnya dari ruang makan.

“Dina, makan dulu, Nak. Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” kata Bu Rara. 

“Iya, Ma. Sebentar, aku keringkan rambut dulu.” 

Dina mengeringkan rambutnya seadanya, menggunakan kipas angin, karena ia tak suka hair dryer yang mengeluarkan udara panas. Wanita itu mengenakan pakaian rumah yang nyaman, tubuhnya masih terasa lelah setelah seharian berada di perkebunan, jadi saat di rumah ia mencoba membuat dirinya senyaman mungkin, agar lelahnya terobati. 

Sejak membantu Pak Hermanto menghidupkan kembali lahan keluarga, ia memang mulai terbiasa dengan aktivitas baru. Meski demikian, tubuhnya terkadang masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Begitu duduk di meja makan, Dina langsung menyantap hidangan yang disiapkan ibunya.

“Makan yang cukup, ya. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengurus kebun sampai lupa menjaga kesehatan sendiri,” pesan Bu Rara, saat menemani Dina menyantap makanannya. 

Dina tersenyum dengan mulut penuh makanan, “Iya, Ma.”

“Kalau capek, istirahat, jangan terlalu memaksakan diri. Perkebunan itu memang sudah lama terbengkalai, jadi tidak mungkin semuanya bisa selesai dalam beberapa hari,” tutur Bu Rara. 

“Aku juga berpikir begitu. Makanya, sekarang kami berbagi tugas, Papa memimpin para pekerja membersihkan tanaman yang tumbuh liar. Sedangkan aku mendata tanaman apa saja yang masih bisa dipertahankan, serta tanaman apa yang akan kami tanam selain jeruk. Setelah itu baru menentukan langkah berikutnya.”

Bu Rara tersenyum bangga melihat semangat putrinya, “Mama senang melihat kamu mulai punya sesuatu yang ingin diperjuangkan lagi.”

Dina terdiam sejenak, Dina tahu, yang dimaksud ibunya bukan hanya perkebunan.Tapi juga Dina yang memendam kesedihannya sendirian selama berbulan-bulan. “Dina ingin mencoba, Ma. Kalau ternyata nanti gagal, setidaknya Dina sudah berusaha,” kata Dina yakin. 

Bu Rara meraih tangan putrinya dan menggenggamnya lembut, “Tidak apa-apa kalau gagal. Kita bisa belajar lagi. Yang penting, kamu jangan sampai kehilangan dirimu sendiri.”

“Iya, Ma.”

•••

Setelah makan, Dina membantu ibunya membereskan bekas peralatan makannya sendiri, karena Pak Hermanto masih berdiskusi dengan Pak Darto.

Baru setelah itu Dina kembali ke kamar untuk beristirahat. Saat duduk dan pumping ASI untuk Ghazi, Dina memeriksa ponselnya yang tergeletak di atas nakas, sejak ia pulang dari perkebunan. Dina baru ingat bahwa pagi tadi ada pesan masuk dari Azam, dan karena ia sibuk di perkebunan, maka Dina belum sempat membalasnya. 

Wanita itu segera membuka laman percakapannya dengan Azam. 

📥 Dina, bagaimana kabarmu?

Dina terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum bahagia. 

Dina menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak karena baru membalasnya sekarang, tapi tak urung juga ia mengetik pesan balasan. 

📤 : Alhamdulillah, baik, Mas. Maaf, baru membalas. Tadi aku sibuk di kebun, jadi tak sempat memperhatikan pesan yang masuk.

Di tempat lain, Azam juga baru selesai mandi, sambil menunggu maghrib berkumandang, pria itu membuka ponsel untuk memeriksa daftar pengiriman sayuran hari ini, serta pembelian pupuk kompos dan media tanam lainnya. Saat itulah ia melihat pesan balasan dari Dina. Bahkan, wanita itu memanggilnya dengan sebutan Mas.

Azam sampai mengucek matanya beberapa kali, serta membaca pesan tersebut sekali lagi, tentu dengan perasaan berdebar namun, bahagia. 

Padahal di seberang sana, Dina sedang panik karena asa sebutan ‘Mas' yang ia gunakan saat memanggil Azam. 

“Duh, kenapa ada embel-embel ‘Mas' segala, kamu mikirin apa, sih, Din?!” makinya pada diri sendiri. 

Apa yang Azam pikirkan sekarang? Hendak di hapus, tapi centangnya sudah berwarna biru. “Habislah kamu, Dina!” ringisnya kesal bercampur malu, padahal Azam tak ada di dekatnya. 

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
nanti*
Sh
Sarah bodoh, tas mahal dijual, pasti diminta balik... ayo, nanti jawabannya apa Ama Farhan ? suruh ganti atau penjarain aja.. menjual yang bukan hak miliknya...penasaran, dulu tuh tas dibeli pakai uang istri atau suami ?
Sh
mau dibuat 50 episode langsung tamat ya😂😂
Shee_👚
nikmati saat2 masa baikmu sebelum bom meletus🤣
Shee_👚
ampun otak si sarah di dengkul kali ya anak lagi nyusu eh malah di copot habis itu digeletakin😏
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
moon: maklum kak, pas pembagian otak, dia asal nyomod trus buru2 kabur, biar larinya cepet otaknya ditempelin di dengkul 🤣🤣
total 1 replies
Shee_👚
oke siap² Sarah kena murka Farhan😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣
vania larasati
lanjut
Shee_👚
mati lah sarah, kena kau🤣🤣
Shee_👚
sepemikiran aku di awal baca, dah berhari-hari dina di rumah azzam sementara statusnya bukan siapa².
Shee_👚
nah disini tas nya bakalan ketahuan🤭
Shee_👚
Alhamdulillah mayra mau di up lagi, semangat kak aku tunggu
🌷Vnyjkb🌷
lunakkkk????? tunggu aja farhan mode singa laparrr!!😜😜
🌷Vnyjkb🌷
wkwkkkkkk cakra tdk sebodoh kamu, padahal kamu sutradara looooo😜😜 masakkk sih kalahh sama costrada🤭
🌷Vnyjkb🌷
otw farhan bercula!!!😜😜
🌷Vnyjkb🌷
otw sarah step!!! 😜😜
Esther
Tas yang kamu curi dan jual itu, akan membuka rahasiamu Sarah
Nar Sih
jdi gak sabar nunggu sarah si pencuri tas mahal dina ketahuan belang nya
Ma Em
Kalau Dina takut jadi bahan omongan orang tinggal dirumah Azam lbh baik Dina dan Azam menikah saja agar Ghazi benar2 bahagia mempunyai mama dan papa walaupun Ghazi bkn anak kandung Dina tapi Dina sdh terlanjur sayang pada Ghazi .
Nar Sih
sebaik nya emang pulang dulu dina ,walau berat semoga nanti kmu berjodoh dgn papa nya ghazi yaa
Nar Sih
kak moon ..ditunggu mayra nya yaa🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!