Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Buruk Rupa Kesayangan Mafia

Istri Buruk Rupa Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:49k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.

​Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.

​Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.

​Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daddy! Mommy!

Di Mansion Elson. Si Putri Palsu alias Annabella perlahan membuka matanya lalu melirik jam dinding.

Jam 10 pagi.

"Astaga!"

Ia langsung loncat dari kasur, mandi secepat kilat, pakai dress paling manis yang ia punya, lalu berlari ke dapur.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Panci dingin dan kompor mati. Ia mengumpat dalam hati.

"Sial! Padahal sudah pasang alarm jam 5 pagi! Kenapa bisa kebablasan begini!"

Tepat saat itu, Rafandra muncul dari ruang kerjanya dengan dua cangkir kopi di tangan. Melihat istrinya panik mondar-mandir di dapur, ia mengernyit.

"Kenapa panik begitu, sayang?"

Annabella langsung switch mode. Dalam sepersekian detik, wajah kesalnya hilang. Ia pasang muka cemberut, bibirnya manyun, matanya berkaca-kaca dibuat-buat.

"Mas Rafa..." suaranya manja, dibuat sesenggukan.

"Maafkan aku... aku kesiangan. Padahal aku sudah niat mau buatin sarapan pertama buat Mas sebagai istri... aku sudah pasang alarm, tapi..." ucapnya menunduk sambil memainkan ujung bajunya seperti gadis polos yang bersalah.

Rafandra yang semalam sempat kecewa karena ditolak pelukannya, langsung luluh melihat tingkah itu.

"Ini Luviana-ku yang dulu. Manja dan polos."

Ia mendekat dan tersenyum.

"Gak apa-apa, sayang. Gak usah dipikirin."

"Loh, kok gak apa-apa? Kan harusnya—"

"Tadi alarmmu bunyi," potong Rafandra lembut. "Tapi aku yang matikan."

Annabella mengangkat wajah. "Hah?"

"Aku lihat kamu tidurnya lelah banget semalam, pulas. Aku gak tega bangunin kamu. Jadi aku biarin kamu tidur. Sarapan gak penting, Sayang. Kamu istirahat itu lebih penting."

Mendengar itu, senyum manja Annabella hampir retak.

"SUAMI BODOH!"

Dalam hati, Annabella mengumpat marah dengan tangan yang mengepal di balik punggung.

"Jadi gara-gara kamu aku kesiangan dan gagal pencitraan jadi menantu rajin?!"

Tapi di luar, ia mengelus dada dengan dramatis.

"Ya ampun, Mas Rafa baik banget... aku jadi terharu," desisnya dengan suara cempreng manja.

Lalu ia cepat-cepat mengalihkan topik, matanya melirik sekeliling. "Oh iya, Mami sama Papi mana? Kok rumah sepi?"

"Mami dan Papi ke rumah Bang Raka," jawab Rafandra santai sambil menyeruput kopinya.

Annabella langsung kaget, matanya mendelik.

"Bang Raka? Rakanza? Buat apa? Bukannya dia seharusnya di mansion ini?"

"Iya. Papi sama Mami mau ketemu istrinya Bang Raka."

Annabella membeku.

"APA? Rakanza sudah menikah?!" suaranya hampir melengking, tak bisa menahan syok. "Siapa istrinya, Mas?"

Rafandra mengangkat bahu. "Aku juga gak tahu. Kata Mami, pernikahannya mendadak. Papi dan Mami juga baru tahu kemarin."

Annabella mendadak mual.

"Sialan! Rakanza nikah?! Berarti dia sudah benar-benar keluar dari mansion ini dan dapat warisan sendiri?! Rencanaku buat menguasai semua harta Elson jadi berantakan kalau dia sudah punya istri!"

Rasa kesal itu memuncak, tapi ia tahan.

Rafandra yang melihat kening istrinya berkerut, menepuk bahunya lembut.

"Kamu kenapa? Kok kayaknya kesal begitu?"

Annabella langsung sigap merangkul lengan Rafandra erat, menempelkan kepalanya di bahu suaminya. Senyum palsunya kembali merekah, manis dan lengket.

"Enggak kok, Mas. Aku cuma kaget aja. Soalnya aku kan belum pernah ketemu Kak Raka."

Ia mengedipkan mata manja.

"Hari ini Mas Rafa mau kemana? Aku ikut ya. Kemana pun Mas pergi, aku akan selalu di sisi Mas."

Rafandra tersenyum, terbuai sambil mengusap kepala istrinya.

"Kebetulan aku mau ke studio. Ayo ikut."

"Beneran? Aku boleh ikut ke studio Mas?" mata Annabella berbinar. Bukan karena cinta, tapi karena rencana busuknya baru saja menemukan panggung.

"Bagus! Balas dendamku akan aku mulai dari studio kamu, Rafa. Akan aku pastikan semua orang tahu siapa ratunya di sana. Dan semua karya Luviana yang dulu kamu bangga-banggakan itu, akan aku hancurkan satu per satu," batinnya licik sambil terus bergelayut manja di lengan Rafandra.

Ia tersenyum manis di depan. Tapi di dalam hatinya, ia sudah mengasah pisau.

__

Di waktu yang sama, Luviana tak menyerah, ia masih memohon di studio Lucky.

"Tolong... saya cuma mau ketemu Bang Lucky sebentar saja..."

Staf studio yang sudah habis kesabaran, mendorong bahu Luviana dengan keras.

BRUK!

Luviana tersungkur lagi ke tanah yang kasar. Telapak tangannya terhempas duluan, tergores aspal.

"AUNTY!" Lily menjerit panik.

Elio membelalak. Kedua tangannya mengepal, napasnya memburu. Dengan amarah yang sangat mirip Rakanza, ia hendak maju melawan staf itu.

Namun Luviana dengan cepat menahan pergelangan tangan Elio. Ia menggeleng pelan. Napasnya tersengal menahan perih.

"Jangan, Elio... jangan berantem..."

"Tapi Aunty..."

"PERGI GAK KALIAN?! KALAU MASIH DI SINI, KAMI PANGGIL POLISI!" ancam staf itu sebelum membanting pintu studio dengan keras.

Tidak ada pilihan lain. Luviana menuntun si kembar menjauh. Mereka berhenti di sebuah halte bus yang sepi. Bertiga duduk berjejer di bangku kayu.

Luviana menunduk, menatap dua bocah di sebelahnya dengan rasa bersalah yang begitu dalam. Abayanya masih basah bau comberan dan telapak tangannya berdarah.

"Lily, Elio... maafin Aunty ya. Gara-gara Aunty, kalian jadi kena marah, jadi kotor begini..."

Lily dan Elio kompak menggeleng.

"Ndak papa, Aunty. Kan Lily yang mau ikut," sahut Lily polos, meski matanya masih berkaca-kaca.

Elio tidak menjawab. Ia diam-diam membuka ritsleting ransel kecilnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan botol obat merah dan gulungan perban mini, dan kemudian menyerahkannya pada Luviana.

Luviana tertegun. Bocah sekecil ini...

"Kak Elio itu kayak kantong Dolaemon, Aunty!" celetuk Lily sambil memamerkan gigi kecilnya. "Selalu bawa balang-balang di lanselnya. Kalau Lily, yang bawain makanan. Ada kelipik, loti, biskuat, sama susu kotak juga. Lengkap!"

Luviana tak bisa menahan tawa kecil di balik cadarnya. Haru menyusup halus di dadanya.

"Anak-anak Julian ini... terlalu cerdas untuk ukuran mereka. Julian pasti mendidik mereka dengan prinsip 'sediakan payung sebelum hujan'."

Dengan hati-hati, Elio mengobati telapak tangan Luviana. Gerakannya pelan, serius, seperti dokter kecil. Luviana menahan perih sambil menatap wajah tenang bocah itu.

Saat perban selesai terpasang, pikirannya melayang pada satu nama terakhir.

Layla...

Hanya adik bungsunya itu yang mungkin masih punya kepekaan batin untuk mengenalinya. Layla yang dulu selalu menangis di pelukannya.

Dan seolah Tuhan mendengar...

Mata Luviana membelalak. Di seberang jalan, di pelataran mall, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan.

Layla tampak berjalan keluar bersama Arsen dan Adara. Daddy dan Mommy-nya yang keluar shopping.

Dada Luviana bergemuruh hebat. Napasnya tercekat. Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini tumpah begitu saja, membasahi cadarnya yang kotor.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia menggenggam erat jemari Lily dan Elio.

"Ayo... ayo ikut Aunty..."

Ia menuntun mereka menyeberangi jalan. Langkahnya gemetar, semakin cepat dan hampir berlari.

"DADDYYY... MOMMYYY...!"

Panggilnya lantang. Suaranya serak yang dipenuhi empat tahun kerinduan.

__

Alhamdulillah...

Retensinya tercapai, mohon terus dukung author agar novel ini cepat lulus kontrak dan Mom Ilaa semangat update banyak-banyak.... Terima kasih ♥️

1
Muft Smoker
cepat sembuh kak author ,,
Mifta Afandi
moga cepat sembuh kak
Elina thea
lanjut~~~
Mifta Afandi
ini mana kak kq blum up satu hari ini
Adinda
lanjut thor
Muft Smoker
boleh laa bungkus sepasang ,, gemeez bangeet liat ny ,,
Farida Irwanq
layla ma dokter julian aja kak thor🤣
Bunda SalVa
gemes banget sama si kembar , pengen nguyel2 😄😄
Bunda SalVa
Elvam kena omel Lily nih 🤣🤣🤣🤣
Adinda
lanjut thor penasaran
Mifta Afandi
lanjut kak jangan lama"
Muft Smoker
si Gavin perlu di hukum lari keliling Indonesia niih ,, bos pingsan bukan bantuin ,, Mlah sibuk mikirin si kembar 4😒😒😒
Dew666
Asisten laknat ini nih hahaha
Elina thea
ahhh~~~ masih kurang thor
Adinda
lagi thor penasaran nih
Mifta Afandi
lagi dong kak tapi jangan satu 1 klau up
eny mamanya irwanfizi
boleh minta lagi gag ...nati vote buat KK dech
Farida Irwanq
pengenya dokter julian jodoh sama layla, tapi kok kayak sama dokter elma🤭
Mifta Afandi
lagi kak jangan kau gantung
Adinda
lanjut thor penasaran nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!