Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 — Satu Malam untuk Istrimu
Adrian membiarkan Maya memegang pergelangan tangannya.
Liontin kecil itu bergerak ketika istrinya menarik napas. Ia masih mengenali bentuknya, meskipun sudah lama tidak melihat Maya memakainya.
“Aku nggak pernah lupa,” katanya.
Maya mengusap kulit di dekat jam tangannya dengan ibu jari. Gerakan yang biasa ia lakukan di mobil atau ketika menonton televisi. Adrian mendadak teringat betapa mudah dulu ia menggenggam tangan itu kembali.
“Kalau begitu, tinggal malam ini.”
Ia mengangkat wajah.
“Kita nggak harus membicarakan semuanya sekarang. Makan dulu. Kamu belum makan, kan?”
Di meja ada dua piring, masih bertumpuk. Sebuah wadah makanan diletakkan di sampingnya. Maya rupanya belum yakin ia akan bersedia duduk.
“May…”
“Kamar kita masih di atas. Bajumu masih di lemari. Kamu bukan tamu yang harus kutanya kapan mau pulang.”
Maya melepaskan tangannya dan mengambil piring. Ia membuka wadah itu, menyendok nasi terlalu banyak, lalu mengembalikan sebagian. Adrian menarik kursi sebelum istrinya harus memintanya lagi.
Maya duduk di seberang.
“Aku nggak mau bicara soal anak dulu,” katanya. “Kita tunda. Kalau itu membuatmu merasa tertekan, aku bisa berhenti menanyakan.”
Adrian meletakkan sendok yang baru diambil.
“Jangan menawarkan itu karena kamu takut aku pergi.”
Maya menatapnya.
“Aku memang takut kamu pergi. Harus ngomong bagaimana supaya kamu nggak keberatan mendengarnya?”
“Aku bukan keberatan.”
“Anak kutanya, kamu tertekan. Sekarang aku bilang bisa menunggu, itu juga salah.” Maya mendorong piringnya sedikit. “Kamu datang ke sini untuk apa kalau semua yang kucoba selalu salah?”
Adrian memandang nasi di depannya. Ia lapar sejak sore, tetapi tidak bisa makan sementara Maya menunggu jawabannya.
“Kamu berhak ingin punya anak. Aku yang belum mau. Jangan kamu yang harus menarik semua keinginanmu setelah aku menyakitimu.”
“Aku nggak sedang menghitung siapa yang berhak.” Suaranya pecah. “Aku sedang mencoba mempertahankan suamiku.”
Maya menyeka pipi dengan telapak tangan, kesal karena menangis lagi.
Adrian meraih tisu dan mengulurkannya. Istrinya memandang kotak itu, lalu menerima selembar tanpa mengucapkan apa-apa.
“Jumat ulang tahun pernikahan kita,” katanya setelah beberapa saat. “Dua hari lagi.”
“Aku ingat.”
“Aku sudah pesan tempat. Yang kamu bilang makanannya enak waktu pulang dari acara bulan lalu.”
Adrian menunduk. Ia ingat percakapan di mobil itu. Maya bertanya apakah ia mau kembali untuk makan, dan ia menjawab iya sambil membuka pesan kerja.
Istrinya menyimpan jawaban itu. Ia bahkan hampir melupakannya.
“Datang makan denganku,” kata Maya. “Berdua saja. Aku nggak mengundang keluarga, nggak akan menyuruh siapa-siapa membujukmu.”
Adrian terlambat menjawab.
Maya tersenyum dengan bibir gemetar.
“Makan sama Nara kemarin bisa. Sama istrimu pada hari pernikahan kita, harus dipikirkan selama itu?”
Ia mengangkat kepala. Nara belum menceritakan hasil pertemuan mereka pagi tadi.
“Dia bilang?”
“Iya. Masih banyak yang kalian perlu cocokkan sebelum cerita ke aku?”
“Bukan begitu.”
“Aku nggak meminta kamu senang melihatku. Cuma datang. Satu malam.”
Adrian melihat piring kedua yang belum disentuh. Ia tidak sanggup membayangkan Maya duduk sendirian di restoran yang telah dipilih untuk mereka.
“Aku akan datang.”
Maya diam, seolah takut salah mendengar.
“Aku ingin kita bicara, May,” lanjutnya. “Tapi aku belum bisa bilang sesudah makan semuanya akan kembali seperti dulu.”
“Aku dengar.” Maya mengangguk cepat. “Kita makan dulu saja.”
Ia mengulurkan tangan dan membetulkan sendok di sebelah piring Adrian. Gerakan kecil itu membuatnya merasa lebih bersalah daripada tangis tadi. Ia belum menjanjikan akan bertahan, tetapi Maya sudah tampak berharap.
* * *
Sesudah makan, Adrian mengambil beberapa pakaian kerja dari kamar.
Maya mengikutinya sampai pintu lemari.
“Jadi masih ke hotel.”
“Iya.”
“Tadi aku minta kamu tinggal.”
Adrian berhenti melipat celana. Maya sudah menyingkirkan bantal yang biasa ia peluk ke sisi ranjangnya sendiri, menyediakan tempat untuknya.
“Kalau aku tidur di sini lalu besok tetap bilang belum tahu, kamu akan menunggu lagi.”
Maya mendekat. Tangannya menahan lengan Adrian, memaksanya berhenti melipat.
“Lihat aku.”
Ia menurut.
Maya mencium bibirnya. Singkat, dengan wajah basah dan jari yang mencengkeram kemejanya. Adrian tidak segera bergerak. Ia mengenali sentuhan itu, dan justru karena mengenalinya ia merasa begitu kejam ketika memegang kedua bahu istrinya untuk memberi jarak.
Maya menatapnya.
“Sekarang disentuh aku saja kamu nggak mau?”
“Aku nggak mau membuatmu mengira—”
“Aku tahu kamu mau ngomong apa.” Maya mundur. “Sudah. Ambil bajumu.”
Adrian menutup tas. Di ambang kamar ia berhenti, tetapi Maya sudah menghadap cermin dan menghapus bekas riasan di pipinya.
Ia pergi tanpa mencoba menyentuhnya lagi.
* * *
Nara membaca pesan Adrian sambil duduk di tempat tidur.
Aku baru selesai bicara dengan Maya. Sekarang kembali ke hotel. Boleh telepon?
Ia sudah memegang ponsel sejak satu jam lalu. Berkali-kali ia membuka percakapan mereka, lalu menutupnya supaya tidak terlihat terus menunggu.
Adrian ke rumah Maya.
Ia ingin bertanya apakah mereka berpelukan. Apakah Maya memintanya tidur di sana. Pikiran itu memalukan, tetapi tidak berhenti hanya karena Nara mengingat bahwa perempuan itu istrinya.
Ia mengetik boleh.
Sebelum pesan terkirim, nama ibunya muncul memenuhi layar.
Nara mengangkat, lega sekaligus takut. Sejak pertengkaran dengan Dimas, ia belum berani menelepon lebih dulu.
“Bu?”
“Dimas tadi datang.”
Nara menurunkan kedua kakinya ke lantai.
“Dia cerita apa?”
Ibunya tidak langsung menjawab. Dari seberang terdengar bunyi pintu ditutup, kemudian suaranya mengecil.
“Nara, Ibu mau kamu jawab sendiri. Apa benar laki-laki itu suaminya Maya?”
Nara menekan bibir. Ia sudah menyiapkan banyak penjelasan di kepala, tetapi mendengar nama Maya dari ibunya membuat semuanya terasa tidak berguna.
“Iya, Bu.”
Heningnya begitu lama sampai Nara hampir memanggil lagi.
“Besok pagi Ibu ke tempatmu. Dimas akan mengantar.”
“Bu, aku bisa jemput—”
“Besok saja kita bicara. Sekarang Ibu belum sanggup.”
Setelah panggilan berakhir, Nara kembali melihat pertanyaan Adrian.
Ia menghapus kata boleh yang belum terkirim.
Dimas sudah menemui ibuku. Besok mereka datang. Aku takut.
Kali ini ia menekan kirim, lalu mengangkat telepon Adrian begitu berdering.