Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.bela terus istrimu
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela besar mansion Diksara. Di dalam rumah mewah bergaya klasik itu, ketegangan justru merayap naik tanpa bisa dicegah.
Naya baru saja tiba di mansion menjelang jam tujuh malam, diantar oleh supir pribadi yang disediakan Damar. Begitu ia melangkah masuk ke ruang utama, aroma masakan lezat langsung menyambut, namun atmosfer di sekitarnya terasa agak kaku. Mamah Ratna sudah duduk tegak di meja makan dengan wajah ditekuk masam, menanti kedatangan putra kesayangannya.
Tak lama berselang, pintu utama terbuka. Damar melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap, dasinya sedikit longgar akibat lelahnya seharian memimpin rapat di kantor. Pria itu baru saja melempar tas kerjanya ke atas sofa ketika Mamah Ratna langsung memanggilnya dengan nada tegas namun menyiratkan kekecewaan mendalam.
"Damar! Duduk di sini sekarang," pinta Mamah Ratna, menunjuk kursi di sebelah kanannya.
Damar menghela napas berat. Ia melirik sekilas ke arah Naya yang sedang berdiri santai sambil melepas tas tangan di dekat tangga. Dengan langkah malas, Damar akhirnya mendekati meja makan dan duduk di tempat yang disediakan ibunya.
"Ada apa, Mah?" tanya Damar dengan suara baritonnya yang tenang, berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap lembut. Sebagai anak tunggal, Damar sebenarnya sangat menyayangi ibunya, meski ia sering sebal dengan sifat keras kepala Mamah Ratna.
Mamah Ratna melipat tangannya di depan dada, menatap putranya dengan sorot mata penuh protes. "Kamu masih tanya ada apa? Kemarin pagi, saat Mamah sedang meluapkan emosi dan memperingatkan Naya di ruang keluarga, kamu justru dengan gegabahnya menarik tangan istrimu dan membawanya pergi begitu saja di hadapan Mamah. Kamu ninggalin Mamah gitu aja tanpa pamit yang benar, Damar."
Mendengar teguran itu, ekspresi wajah Damar sedikit melunak. Ia merasa bersalah karena bersikap impulsif di hadapan ibunya kemarin pagi.
"Maafin Damar kalau kemarin cara Damar ninggalin rumah kurang sopan," ucap Damar tulus, mencoba meredakan ketegangan. "Tapi situasi kemarin sudah tidak kondusif buat Naya. Damar harus bawa dia pergi."
"Tidak kondusif katamu?!" sergah Mamah Ratna, meski suaranya tidak sekencang biasanya karena ia tetap luluh melihat kelembutan putranya. "Kamu sengaja mengabaikan Mamah, melenggang pergi dari rumah, lalu menghilang seharian ke villa pribadi! Kamu tahu sendiri kan jadwal perusahaan sedang padat, tapi kamu malah mendadak meninggalkan rapat penting dewan direksi demi menemani istrimu di villa. Reputasi kamu sebagai CEO bisa jadi bahan gosip kalau begini terus, Damar!"
Naya yang berdiri agak jauh dari meja makan menyimak percakapan tersebut. Mendengar keluhan Mamah Ratna, ia tahu betul bahwa kemarahan ibu mertuanya itu murni karena rasa sayang dan kekhawatiran seorang ibu terhadap karier anaknya, bukan sekadar benci buta.
Sebelum Damar sempat membuka mulut untuk membela diri, sebuah suara ringan nan santai lebih dulu memecah keheningan ruang makan.
"Duh, Ibu Ratu jangan khawatir berlebihan begitu dong," cibir Naya sambil melangkah mendekati meja makan dengan senyuman savage yang sangat menyebalkan.
Naya menarik kursi tepat di seberang Mamah Ratna, lalu duduk dengan anggun. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap sang ibu mertua lekat-lekat.
"Mas Damar itu CEO hebat, Mah. Sekali-kali mangkir dari rapat gara-gara ngurusin istri tercinta mah sah-sah saja, biar hidupnya nggak 24 jam mikirin grafik saham mulu," ledek Naya santai.
Mamah Ratna langsung melotot tajam ke arah Naya. "Kamu ya! Kalau bukan karena kamu yang memancing masalah sejak awal, anak saya tidak akan bersikap senekat itu!"
"Eh, kok saya?" protes Naya pura-pura tidak bersalah. "Kan kemarin yang ditarik keluar dari kandang macan kan saya, Mah. Kalau saya nggak dibawa kabur, mungkin saya udah jadi tumsek—tumis sekuter—di ruang keluarga."
Damar menoleh ke samping, menatap Naya dengan campuran rasa pusing dan geli yang luar biasa. Di satu sisi, ia ingin menyuruh Naya berhenti memancing; di sisi lain, ia tidak bisa menahan senyuman tipis yang hampir terukir di bibirnya.
"Sudah, Mah," kata Damar lembut, meraih tangan ibunya di atas meja lalu mengusapnya pelan guna menenangkan wanita paruh baya itu. "Damar minta maaf ya kalau keputusan Damar kemarin bikin Mamah khawatir dan kesal. Tapi tolong jangan salahkan Naya terus. Apa pun yang terjadi kemarin, itu adalah tanggung jawab Damar sebagai suami."
Mamah Ratna menghela napas panjang, menatap putranya dengan tatapan pasrah. Betapa pun marahnya ia pada Naya, ia tidak pernah bisa marah lama-lama pada Damar. Wanita itu mendengus pelan, lalu menarik tangannya kembali.
"Kamu ini ya, sejak menikah jadi makin membela istrimu terus," gerutu Mamah Ratna, meski nadanya sudah jauh lebih lunak. "Ya sudah, cepat makan malamnya. Jangan ulangi lagi bolos rapat tanpa alasan yang jelas."
Naya tersenyum penuh kemenangan melihat keakraban ibu dan anak itu.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari kawasan perkotaan. Di ruang kerja utama lantai atas mansion, Damar sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, sibuk memeriksa laporan keuangan triwulan melalui layar laptop.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk pelan tiga kali sebelum dibuka dari luar.
Naya menyembulkan kepalanya di balik pintu dengan senyuman misterius. "Sibuk, Pak Direktur Utama?" tanya Naya basa-basi.
Damar mendongak, menutup layar laptopnya sebentar lalu menatap istrinya dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa lagi, Naya? Jangan bilang kamu mau bikin keributan baru sebelum jam sembilan pagi."
Naya melangkah masuk ke dalam ruang kerja Damar, mengenakan dress kasual berwarna kuning cerah yang membuat auranya tampak segar. Ia berjalan mendekati meja kerja Damar, lalu meletakkan selembar kertas brosur berukuran besar tepat di hadapan suaminya.
Damar melirik brosur tersebut. Tulisan tebal terpampang di sana: Pameran Seni Modern dan Festival Kuliner Tradisional Nusantara - Akhir Pekan Ini.
"Apa ini?" tanya Damar datar.
"Surat tugas dinas tambahan untuk suami teladan," jawab Naya dengan senyuman manis penuh rencana licik. "Akhir pekan ini, saya mau kamu nemenin saya jalan-jalan ke pameran seni itu. Biar apa? Biar warga sekitar tahu kalau CEO Diksara Group juga manusia biasa yang bisa diajak nongkrong makan kue pancong, bukan cuma ngurung diri di kantor mulu."
Damar memutar bola matanya malas, bersidekap dada. "Saya sibuk. Jadwal saya akhir pekan penuh dengan—"
"Eits! Tolong diingat ya, Tuan Damar," potong Naya cepat sambil mengangkat telunjuknya. "Di klausul tersembunyi nomor sekian yang ada di kepala saya, suami kontrak wajib mendampingi istrinya bersosialisasi demi menjaga citra harmonis rumah tangga kita. Kalau kamu menolak, saya bakal bongkar cerita piyama kucing ke seluruh rekan bisnis kamu di kantor!"
Ancaman itu terbukti sangat ampuh. Damar mendengus pasrah, menyadari bahwa ia tidak punya celah untuk melarikan diri dari teror sang istri. Pria itu mengembuskan napas berat, menyerah pada takdir.
"Baiklah. Akhir pekan ini saya luangkan waktu dua jam," jawab Damar pasrah.
Naya bersorak kecil penuh kemenangan. "Dua jam? Kurang! Minimal setengah hari biar puas jalan-jalannya! Oke, deal ya, Mas Kulkas!"
Damar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menyaksikan betapa lihainya gadis itu memutarbalikkan keadaan. Namun di balik ekspresi datarnya, sudut bibir Damar sempat terukir senyuman tipis yang hangat—senyuman yang membuktikan bahwa benteng es di dalam hatinya benar-benar perlahan runtuh oleh kehadiran sang ratu savage.
_Bersambung
Kira-kira kejutan apa lagi yang disiapkan Naya untuk mengerjai Damar selama kencan akhir pekan mereka nanti?