Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Ayudia menunduk, wajahnya terasa panas, sementara jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah membayangkan akan mengucapkan kalimat itu secara langsung, terlebih ketika mereka sedang menikmati makan siang bersama.
Alfa sendiri masih terdiam, menatap Ayudia yang tampak salah tingkah. Dirinya berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Menikah?" ulangnya pelan.
Ayudia memejamkan mata sesaat, hatinya berisik. 'Ya ampun, kenapa harus diulang lagi, sih? Apa dia tidak tahu kalau aku sangat malu?'
"Maaf... Mas Alfa jangan salah paham. Anggap saja tadi aku tidak mengatakan apa-apa," sahutnya cepat,
Ia lalu meraih gelas minum dan meneguk isinya hingga tandas untuk menyembunyikan kegugupannya.
Sementara itu, Alfa menyandarkan punggungnya pada kursi, melihat tingkah gadis di hadapannya yang menurutnya sangat lucu.
"Kamu baru saja mengajakku menikah, tapi sekarang malah menyuruhku melupakannya. Bagaimana aku bisa memberikan jawaban kalau kamu sudah menarik kembali ucapanmu?"
Seketika Ayudia tampak gugup. "Oh... Bukan begitu maksud aku, Mas,"
Ia mengusap kepalanya yang berbalut hijab dengan kasar. "Aduh, bagaimana, ya? Begini... Maksudku, kalau kita sudah menikah, aku bisa mendampingi Mas Alfa setiap kali periksa. Aku juga bisa tahu apa yang harus dilakukan sebagai pasangan. Jadi, Mas tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."
Selesai berkata wajah Ayudia langsung memerah. Ia bahkan tidak berani menatap Alfa karena merasa ucapannya barusan terlalu lancang.
Namun, Alfa justru tersenyum, betapa polosnya gadis itu. Tidak ada tuntutan ataupun desakan dalam ucapan Ayudia. Ia hanya menyampaikan keinginannya dengan cara yang jujur, meskipun akhirnya panik sendiri.
"Ayu," panggil Alfa lembut.
Ayudia mengangkat wajahnya perlahan. "Iya, Mas?"
"Apa sebelumnya kamu pernah punya kekasih?"
Pertanyaan itu membuat Ayudia menggeleng cepat. "Belum pernah."
"Sama sekali?"
"Iya." Ayudia mengembuskan napas, berusaha mengembalikan ketenangannya. "Dulu memang ada beberapa pria yang mencoba mendekat, tetapi tidak ada yang benar-benar membuatku ingin menjalin hubungan."
Alfa mengangguk, lantas bertanya lagi lebih serius. "Lalu, kenapa sekarang kamu begitu yakin ingin menikah denganku?"
Gadis itu terdiam mendapat pertanyaan tersebut. Ia menatap Alfa, mencoba menyusun kata-kata yang paling tepat untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Awalnya, aku memang menerima perjodohan ini karena menghormati keinginan Papa. Tapi, sebenarnya ada sesuatu yang lebih dari itu," jawabnya jujur.
Alfa menatapnya penuh perhatian. "Apa itu?"
Ayudia terlihat malu-malu, tetapi ia tetap melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya aku mulai tertarik sama Mas Alfa sejak kejadian di proyek dulu, ketika menyelamatkanku dari material yang jatuh."
Alfa tampak sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kejadian yang sudah lama berlalu itu masih diingat Ayudia.
"Sejak saat itu?"
Ayudia mengangguk, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pengakuannya.
"Awalnya aku hanya menganggapnya hal biasa. Karena aku tahu saat itu kita hanya berhubungan karena pekerjaan. Jadi, aku memilih menyimpan perasaanku sendiri. Lagipula aku juga berpikir mungkin Mas Alfa sudah memiliki seseorang yang dekat."
"Sampai akhirnya, saat peresmian toko bangunan itu, Ayah mengutarakan niatnya untuk menjodohkan kita, Mas." Ayudia kembali tersenyum mengingatnya.
"Jujur, aku sendiri terkejut mendengarnya. Namun, di sisi lain aku juga senang, ternyata Ayah menginginkan hal yang sama denganku."
"Padahal sebelumnya, aku tidak pernah meminta Ayah menjodohkanku denganmu, Mas. Apalagi menyampaikannya langsung kepada kedua orangtuamu."
Alfa yang dari tadi menyimak pengakuan Ayudia akhirnya mengangguk paham. Mengapa ia begitu terbuka menerima perjodohan mereka. Rupanya, gadis itu sudah menyimpan ketertarikan padanya sejak lama, tetapi memilih menunggu tanpa berani berharap terlalu jauh.
"Terima kasih, Mas. Kamu tidak pernah memperlakukanku seolah aku hanya wanita yang dipilihkan untuk menjadi istri. Tapi kamu memberiku kesempatan untuk mengenalmu tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.
Alfa tetap terdiam, membiarkan Ayudia menyelesaikan perkataannya.
"Aku tahu kamu pernah terluka, Mas. Aku juga tahu ada hal-hal yang masih membuatmu khawatir tentang masa depan. Tapi, aku tidak ingin menikah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi diriku sendiri."
Ayudia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Aku ingin menjadi pasangan yang bisa berbagi kesulitan dan kebahagiaan denganmu Mas."
Ucapan itu menyentuh bagian hati Alfa yang selama ini berusaha dia lindungi. Dulu, dia pernah percaya sepenuhnya kepada Davina, tetapi kepercayaan itu justru membawanya pada kehancuran. Kini, ketika ada seseorang yang menawarkan ketulusan, ada sebagian dari dirinya masih takut untuk kembali melangkah.
"Ayu, aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang selalu mudah. Aku juga tidak tahu bagaimana hasil pemeriksaanku nanti."
"Aku mengerti, Mas."
"Kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, bagaimana?"
Ayudia menarik napas pelan. "Aku tidak bisa pura-pura untuk tidak merasa sedih, Mas. Tapi, aku tidak ingin menilai masa depan kita hanya berdasarkan satu kemungkinan yang bahkan belum menjadi kenyataan."
"Aku tidak menikah denganmu hanya untuk mendapatkan keturunan," lanjut Ayudia.
"Aku ingin membangun rumah tangga dengan seseorang yang bisa kupercaya dan yang juga bersedia mempercayaiku. Soal anak, kita bisa mengusahakannya bersama dan mengenai hasilnya kita serahkan semuanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya."
Untuk beberapa saat Alfa menatap Ayudia, tak menyangka gadis itu memiliki pemikiran yang begitu dewasa serta bijaksana. Selama ini, dia terlalu sibuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk sampai lupa bahwa pernikahan bukan hanya tentang memiliki keturunan, melainkan juga tentang menemukan seseorang yang bersedia berjalan bersamanya.
"Terima kasih sudah mengatakan semuanya dengan jujur," ucap Alfa kemudian.
"Jadi, kamu tidak marah karena aku tadi tiba-tiba mengajak menikah, Mas?" tanya Ayudia.
Alfa menggeleng. "Kenapa harus marah? Aku justru senang kamu berani mengungkapkan keinginanmu."
"Syukurlah. Kalau Mas marah, mungkin aku akan langsung pulang dan tidak berani datang ke sini lagi."
"Kalau begitu, aku harus menjagamu agar tidak kabur."
Keduanya lantas tertawa bersama. Dan pembicaraan tentang pernikahan itu tidak membuatnya merasa terdesak. Dia justru mulai membayangkan kemungkinan untuk membangun kehidupan baru bersama gadis di hadapannya.
"Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu dengan terburu-buru, Yu," kata Alfa setelah suasana kembali tenang.
"Namun, aku juga tidak ingin kamu menganggap aku tidak serius menjalani hubungan ini."
Ayudia mengangguk. "Aku bisa menunggu, Mas. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang kurasakan."
Alfa mengulurkan tangan, lalu menyentuh jemari Ayudia dengan lembut.
"Kalau begitu, kita jalani semuanya bersama-sama. Pelan-pelan, tanpa harus memaksakan apa pun."
Senyum Ayudia mengembang. Ia membalas genggaman itu, merasa lega karena akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya tanpa merusak kedekatan yang telah mereka bangun.
Makan siang itu pun berakhir dengan suasana yang jauh lebih hangat. Setelah Ayudia berpamitan, Alfa kembali bekerja dengan perasaan berbeda. Dirinya tidak hanya memikirkan bagaimana cara mempertahankan apa yang telah dibangun, tetapi juga mulai mempertimbangkan siapa yang ingin diajaknya berbagi masa depan.