Indonesia
NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

"Aku sendiri jujur masih belum merasa yakin, Alan. Apa mungkin takdir sejati seorang calon Alpha sepertiku benar-benar jatuh pada anak perempuan Tuan Lucas yang statusnya hanyalah seorang manusia biasa? Karena jujur saja, selama aku melangkah di dalam rumah ini, aku sama sekali tidak merasakan adanya sisa atau aliran darah makhluk immortal sedikit pun mengalir dari tubuh pria paruh baya itu."

"Lalu jika situasinya memang seperti itu, bagaimana caranya hidung serigalamu bisa mencium aroma magis Mate jika ayahnya saja terbukti manusia biasa? Bukankah sepanjang sejarah peradaban, bangsa Werewolf murni tingkat atas tidak akan pernah bisa memiliki pasangan sejati dari kalangan manusia biasa? Berdasarkan informasi yang aku dengar, manusia tidak dianugerahi umur panjang seperti kita, Ethan. Siklus hidup mereka sangat singkat dan tubuh fisik mereka teramat cepat menua," cecar Alan bertubi-tubi, mencoba melempar sudut pandang logis demi menenangkan sahabatnya.

Ethan menolehkan wajahnya, tatapan matanya mendadak berubah menjadi teramat intens dan tajam menatap Alan.

"Bagi seorang Werewolf dominan sepertiku, ikatan Mate yang sudah digariskan secara mutlak oleh Dewi Bulan itu memiliki kuantitas kekuatan sihir yang sangat kuat dan tidak akan pernah mudah untuk dipisahkan oleh hukum alam apa pun. Sekalipun ego kita mencoba keras untuk menolaknya—ikatan itu tetap akan mengikat jiwa kita, kecuali jika salah satu pihak melakukan ritual penolakan secara resmi."

Ethan menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Itulah landasan kenapa aku bisa merasakan presensinya dengan sangat kuat dari jarak sejauh itu. Dan mengenai hal yang kamu katakan tentang pernikahan antar-ras itu memang sebuah kebenaran, bangsa kami teramat sulit untuk menikahi manusia karena jika bersikeras dilanggar, mereka akan mengalami kesulitan besar untuk bisa mendapatkan keturunan serigala."

Vokal suara Ethan terdengar dipenuhi oleh aura keyakinan yang mutlak, meskipun jauh di dalam dasar manik mata merahnya tetap menyiratkan sebaris keraguan mendalam yang berkecamuk liar.

"Kalau begitu, bersabarlah sedikit lagi... tunggu saja sampai besok pagi tiba," ujar Alan sembari perlahan-lahan kembali merebahkan punggung tegapnya ke atas permukaan kasur.

"Tapi tetap saja, Alan! Detik ini aku masih merasakan gejolak gelisah dan rasa penasaran yang teramat menyiksa di dadaku. Kita berdua belum melihat wujud fisiknya secara langsung dengan mata kepala kita sendiri. Mungkin saja... ada entitas makhluk immortal lain yang sedang bersembunyi di dalam rumah ini tanpa sepengetahuan Tuan Lucas, atau... mungkin anak perempuan Tuan Lucas itu sebenarnya bukanlah sesosok manusia biasa pada umumnya."

Alan menghela napas panjang yang sarat akan kelelahan fisik, sepasang kelopak matanya kini mulai terpejam rapat kembali. Efek kelelahan ekstrem setelah dipaksa melakukan perjalanan jauh seharian tanpa henti membelah dimensi dan hutan kini telah mencapai titik puncaknya.

"Sudahlah, Ethan! Lebih baik sekarang kamu merebahkan tubuhmu dan beristirahat saja! Tidak mungkin aku akan mengizinkan atau membantumu untuk menggeledah setiap sudut kamar di rumah orang asing pada tengah malam buta seperti ini."

Alan menjeda ucapannya sejenak, mulutnya terbuka lebar saat ia tak kuasa menahan kantuk. Ia mencoba memaksa matanya terbuka sedikit lagi demi melirik jendela luar yang masih gelap gulita.

"Malam sudah memasuki waktu dini hari! Cepat tidur, Ethan! Kamu tentu tidak mau kan kalau sampai aksi mondar-mandirmu memicu kecurigaan Tuan Lucas dan membuat pria itu berpikir bahwa kita bertiga adalah sekelompok perampok ladang?"

Alan merasa sebagai pihak yang menumpang, mereka harus tahu diri untuk menjaga etika kesopanan.

Ethan memutar sepasang bola matanya malas, lalu mendengus kasar. "Ck! Bilang saja kalau isi kepala otakmu itu saat ini memang sudah terlanjur mengantuk berat! Asal kamu tahu saja, aku ini masih berada dalam kondisi waras dan tidak akan mungkin melakukan aksi pencarian konyol itu sekarang juga. Jadi kamu tidak perlu repot-repot menceramahiku dengan kalimat sepanjang itu, huh!"

Ethan mendengus penuh kejengkelan, lalu menarik tubuhnya naik ke atas ranjang dan berbaring kasar dengan posisi tubuh yang sengaja dihentakkan di samping Alan. Alan tidak memberikan sahutan vokal lagi, ritme embusan napasnya yang mulai teratur menjadi indikator valid bahwa pria itu telah kembali terlelap masuk ke dalam pelukan tidur.

Ethan yang menyaksikan hal tersebut menjadi semakin dongkol. Ia menarik ujung selimut wol dengan satu sentakan kecil, membalikkan posisi badannya memunggungi Alan dengan gurat wajah cemberut.

"Tanpa perlu kamu suruh pun aku bersumpah akan tertidur sendiri. Puas kau sekarang! Dasar tukang tidur!" gumamnya teramat pelan sebelum akhirnya keheningan malam yang sunyi sepenuhnya kembali menyelimuti atmosfer kamar tamu tersebut.

****

"Urusan ini benar-benar terasa sangat merepotkan dan juga bermuatan berat sekali! Kalau dipikir-pikir lagi, posisiku saat ini sudah persis seperti layaknya seorang kuli panggul pasar saja. Mungkin jika ada Ayah di sisiku, aku bersumpah tidak akan pernah mengalami kesusahan hebat seperti ini hanya untuk membawa semua barang-barang pribadiku keluar!"

White Emerson menggerutu lirih dengan nada suara yang sarat akan kelelahan. Butiran keringat tipis mulai mengalir membasahi permukaan dahinya yang mulus saat kedua belah tangannya mengangkat koper kanvas terakhirnya dengan susah payah.

Ia terpaksa harus melakukan setiap pergerakan fisik dengan tingkat kehati-hatian yang ekstra tinggi; ia sama sekali tidak berani menarik tuas koper itu karena suara gesekan bagian bawah koper dengan permukaan lantai papan kayu rumah bisa dipastikan akan langsung membangunkan ibunya yang teramat sensitif terhadap distorsi suara malam.

Fajar subuh mulai menyingsing di luar ruangan, suasananya masih berada dalam kondisi yang teramat remang-remang, diselimuti oleh hamparan kabut fajar tipis yang memancarkan suhu dingin menusuk kulit.

White tercatat sudah melakukan pergerakan bolak-balik sebanyak beberapa kali memindahkan barang dari dalam kamarnya menuju ke area halaman depan rumah.

Brukk!

White menjatuhkan koper kanvas berat tersebut tepat di atas hamparan rumput hijau halaman yang kondisinya masih tampak basah oleh limpahan titik-titik embun pagi. Ia mengembuskan seulas napas panjang yang lega, lalu menggunakan telapak tangan untuk menepuk-nepuk debu samar yang menempel di bahu setelan pakaian olahraga barunya.

Pakaian olahraga berbahan katun tebal itu melekat pas dan proporsional membungkus postur tubuhnya yang ramping, memberikan impresi visual yang teramat aktif, lincah, dan tomboi.

Karena berdasarkan jadwal akademik, jam pelajaran pertama di hari pertamanya bersekolah di akademi barunya adalah mata pelajaran olahraga, White mengambil keputusan praktis untuk langsung mengenakannya sejak subuh agar tidak perlu repot-repot lagi berganti pakaian di toilet akademi nanti.

"Fyuhh... Akhirnya seluruh proses pengemasan ini selesai juga!"

White berdiri tegak dengan kedua belah tangan berkacak pinggang di atas pinggulnya, menatap lurus ke arah tumpukan koper di dekat kakinya dengan sebaris rasa bangga yang membakar dada. Ia merogoh saku pakaian olahraganya, mengambil selembar sapu tangan kain kecil untuk mengusap sisa-sisa tetesan keringat di wajah cantiknya yang tampak bersih murni tanpa adanya sedikit pun polesan riasan.

"Sekarang langkah selanjutnya aku hanya perlu tinggal duduk manis menunggu Ayah pulang berkendara dari kota," gumam White penuh harap sembari mendudukkan dirinya di atas salah satu koper besarnya.

Gadis itu tidak tahu bahwa di lantai atas rumahnya, sang pemilik aroma mawar dan sitrus yang mengacaukan batin Ethan sejak malam tadi, juga mulai bersiap menghadapi fajar yang menyingkap tabir takdir mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!