Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Derap langkah sepatu kulit Hayden bergema tegas di atas lantai pualam kediaman Mahendra. Langkahnya tenang, kepalanya tegak dengan raut wajah yang dingin tanpa ekspresi, seolah intimidasi ruang tamu megah itu tidak memberi pengaruh apa pun padanya.
Di ruang tamu berarsitektur klasik tersebut, Haris Mahendra duduk di kursi utama dengan aura kepemimpinan yang kaku. Di sampingnya, Dania Mahendra—ibu tiri Hayden—duduk anggun seraya menyesap teh, menyembunyikan senyum kepuasan di balik cangkirnya. Sementara itu, Valerie Pricilia berdiri gelisah di dekat meja kayu ukir, tangannya meremas amplop cokelat tebal dengan raut wajah menahan murka.
"Akhirnya kamu pulang, Hayden," suara Haris memecah keheningan, berat dan sarat akan kekecewaan.
Hayden menghentikan langkahnya beberapa meter dari hadapan mereka, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. "Ada apa sampai Papa menyuruh Rendra memanggilku malam-malam begini?"
Valerie melangkah maju, melempar amplop cokelat di atas meja hingga restsletingnya terbuka dan beberapa lembar foto berserakan. "Masih sempat bertanya ada apa, Hayden?!" bentak Valerie dengan suara melengking. "Seluruh media sosial membicarakan kamu menggendong wanita murah itu di rumah sakit! Dan kamu pikir aku tidak tahu siapa dia?"
Hayden melirik dingin pada foto-foto yang berserakan di atas meja. Foto-foto itu diambil secara diam-diam di area ruang tamu dan lorong kamar pribadinya, memperlihatkan kebersamaannya dengan Aluna.
Valerie mendekat, menatap Hayden dengan tatapan tajam dan penuh hinaan. "Aku ingat betul wajah wanita itu! Dia gadis yang waktu itu datang ke mansion mu, bukan. Dia model mu yang murahan itu. Kamu pasti sudah tidur dengan wanita itu, Hayden! Jangan kira aku tidak tahu seberapa liar kamu menyembunyikan model murah itu di mansionmu!"
Mata Hayden berkilat berbahaya. Tatapan dinginnya tidak lagi mengarah pada tuduhan Valerie, melainkan pada bukti keberadaan foto-foto dari dalam mansion pribadinya. Ada orang dalam yang berkhianat dan membocorkan privasinya kepada Valerie.
"Siapa orang di mansionku yang menerima uangmu, Valerie?" tanya Hayden rendah, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang mematikan. "Kamu berani menyusupkan mata-mata ke dalam rumahku?"
"Hayden!" bentak Haris Mahendra seraya memukul lengan kursi kayu hingga menimbulkan dentuman keras.
Haris berdiri tegap, menatap putra tunggalnya itu dengan sorot mata murka. "Jaga bicaramu! Valerie melakukan ini karena dia calon istrimu! Dia peduli pada nama baik keluarga kita!"
"Aku tidak pernah menyetujui perjodohan ini, Papa," balas Hayden datar, sama sekali tidak gentar menghadapi kemarahan ayahnya.
"Cukup!" Haris melangkah mendekati Hayden, menunjuk dada putranya dengan telunjuk bergetar. "Sejak awal aku sudah tidak suka kamu memilih jalur sampah ini! Menjadi seorang seniman, melukis, dan membuang-buang waktumu alih-alih meneruskan bisnis Mahendra Group! Dan sekarang apa? Kamu malah mengotori nama keluarga ini hanya demi seorang model lukis yang tidak jelas asal-usulnya!"
Dania berpura-pura menghela napas prihatin, menimpali dengan nada halus namun beracun. "Mas Haris, tenang dulu... Hayden mungkin hanya khilaf. Anak muda dan seniman memang terkadang sulit mengontrol gairah dan imajinasinya..."
"Tidak ada alasan khilaf untuk hal semenyijikkan ini!" pangkas Haris tegas. Beliau menatap Hayden dengan garis wajah mengeras. "Putuskan hubunganmu dengan wanita itu detik ini juga, bereskan kekacauan di media, dan persiapkan pernikahanmu dengan Valerie bulan depan. Ini perintah mutlak."
Hayden tidak langsung menjawab. Ia menatap Haris, Dania, dan Valerie satu per satu dengan senyum tipis yang amat dingin—sebuah senyuman penuh keangkuhan yang menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang bisa mengatur jalannya hidup seorang Hayden Mahendra.
Hayden melangkah satu tingkat mendekati ayahnya, memangkas jarak tanpa menyembunyikan intimidasi di matanya. "Perintah mutlak?" bisik Hayden rendah. "Sejak kapan Papa berpikir bisa memerintahku?"
Haris membelalakkan mata, tidak menyangka putranya akan membalas seberani itu di hadapan Dania dan Valerie. "Hayden! Aku ini papamu! Semua aset, koneksi, dan nama besar yang kamu pakai—"
"Semua kekayaan Mahendra Group yang Papa banggakan itu tidak pernah menyentuh satu pun karya lukisku," potong Hayden dingin, memangkas ucapan Haris tanpa ragu. "Aku membangun namaku sendiri tanpa sepeser pun uang dari Papa. Jadi jangan pernah bermimpi bisa mendikte hidupku, apalagi mengatur dengan siapa aku harus menikah."
Valerie gemetar mendengar ucapan itu. Wajah cantiknya memerah akibat rasa malu dan amarah yang bergejolak. Ia melangkah maju, menunjuk dada Hayden dengan jarinya yang gemetar.
"Kamu melindunginya, Hayden?!" jerit Valerie, suaranya pecah menahan tangis kehormatan. "Wanita itu cuma model murahan! Dia cuma sampah yang kamu pakai untuk melampiaskan nafsumu! Apa yang dia punya sampai kamu berani menentang keluargamu sendiri?!"
Hayden memalingkan wajahnya perlahan, menatap Valerie dengan iris mata yang serapi es, namun memancarkan aura membunuh yang pekat.
"Jaga mulutmu, Valerie," ancam Hayden pelan, begitu pelan hingga terasa bagai gesekan pisau di leher. "Satu kata hinaan lagi keluar dari bibirmu tentang Aluna, aku pastikan kau akan hancur besok pagi. Dan jangan pikir aku tidak tahu cara membalas perbuatan mata-matamu di mansionku."
Valerie membeku seketika. Ancaman itu bukan gertakan sambal; ia tahu betul betapa dingin dan kejamnya Hayden jika sudah menyangkut kekuasaan yang ia genggam di balik layar.
"Hayden! Kamu sudah gila?!" bentak Haris, mukanya memerah padam. "Kamu mengancam calon istrimu sendiri demi wanita pemuas gairahmu itu?!"
"Dia bukan pemuas gairahku," pangkas Hayden datar. Ia merapikan lengan jasnya yang agak kusut, lalu menatap Haris dan Dania secara bergantian. "Dia milikku. Dan tidak ada seorang pun di rumah ini yang berhak menyentuhnya."
Tanpa menunggu balasan lagi, Hayden memutar tubuhnya, melangkah lebar meninggalkan ruang tamu megah yang penuh ketegangan tersebut.
"Hayden! Kembali kamu! Hayden!" teriak Haris bergema di lorong, namun Hayden tidak sedikit pun menoleh.
*
Derap langkah kaki Hayden menuruni anak tangga pualam dengan tergesa. Di pelataran kediaman Mahendra yang megah, mobil SUV hitam sudah bersiaga. Rendra yang duduk di balik kemudi seketika mematikan rokoknya dan merapikan posisi begitu melihat sang atasan melangkah keluar dengan pancaran aura yang luar biasa pekat dan berbahaya.
"Cari tahu siapa pelayan atau pengawal di mansion yang menerima uang dari Valerie," perintah Hayden dingin saat membanting pintu penumpang belakang. "Pecat malam ini juga, dan pastikan dia diblacklist dari semua instansi di kota ini."
"Baik, Tuan. Segera saya selesaikan," sahut Rendra tegas, memutar kemudi dan menancap gas membelah kegelapan malam.
Di kursi belakang, Hayden menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Perasaan gelisah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya mendadak merayapi seluruh rongga dadanya, menyisakan kecemasan kental yang sukar ia tepuk keluar.
Tiba-tiba, ponsel Rendra di dashboard bergetar hebat. Panggilan dari salah satu pengawal yang ditugaskan menjaga pintu kamar VIP rumah sakit.
Rendra menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara. "Ada apa?"
"Tuan Rendra! Gawat!" suara pengawal di seberang sana terdengar sangat tegang dan panik. "Kami mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar Nona Aluna! Karena curiga, kami mendobrak pintu—"
"Apa yang terjadi pada Aluna?!" potong Hayden cepat, memajukan tubuhnya ke depan dengan rahang mengeras.
"Nona Aluna mencabut infusnya dan menyayat pergelangan tangannya dengan pisau buah, Tuan!"
Jantung Hayden seakan berhenti berdetak detik itu juga. "Rendra, cepat! Lajukan mobilnya!" bentaknya dengan suara bergetar.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mobil itu untuk berhenti mendadak di depan Lobby Gawat Darurat. Hayden melompat keluar, menerobos pintu kaca rumah sakit dengan langkah lebar dan napas memburu.
Di koridor, dokter utama yang baru keluar dari kamar VIP langsung menyambutnya. "Tuan Hayden, tenanglah. Beruntung pengawal Anda mendobrak pintu tepat waktu. Sayatannya dalam, namun belum sempat memotong pembuluh darah utama. Kami sudah menjahit lukanya dan melakukan transfusi darah. Dia sudah aman, tapi belum sadarkan diri."
Hayden menghembuskan napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam kamar VIP. Keheningan langsung menyambutnya, diiringi aroma antiseptik yang pekat.
Di atas ranjang, Aluna terbaring kaku dengan wajah pucat pasi. Pergelangan tangan kirinya terbungkus perban putih tebal.
Hayden berjalan lambat mendekati sisi tempat tidur, lalu perlahan berlutut di samping ranjang Aluna. Jemarinya yang gemetar terulur, mengusap pipi Aluna yang dingin.
"Kenapa kamu melakukan ini, Aluna...?" bisik Hayden dengan suara pecah, merapatkan keningnya pada kening gadis itu.
Hayden menggenggam jemari Aluna yang bebas infus dengan erat. Keangkuhan dan sifat dominannya hancur berkeping-keping di hadapan tubuh rapuh yang nyaris kehilangan nyawa akibat perbuatannya sendiri.
"Buka matamu, Aluna..." gumam Hayden lirih, matanya berkilat oleh rasa takut kehilangan yang teramat sangat. "Caci aku sesukamu, tapi jangan pernah coba-coba pergi dariku lagi."
*
*
*