Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Malam yang semakin larut. Hening menyelimuti kamar kecil Maxy, hanya bunyi detak jam dinding yang berirama pelan, "tik..tik.." seolah ikut memikirkan segala sesuatu yang terjadi. Dia duduk di tepi tempat tidur, punggung membungkuk, kedua tangan bertaut di antara lutut, menatap lantai yang remang.

Tiga hari. Tiga hari menjauh. Tiga hari kesepian yang terasa makin panjang dari biasanya. Segala sesuatu terasa berubah — suasana kantor, cara pandang Shella, bahkan cara dia melihat dirinya sendiri.

"Huuuuft" Aku menghela napas panjang, lalu berbicara pelan ke ruangan kosong.

"Sistem... muncul."

Tak butuh waktu lama. Udara di depannya bergetar lembut, cahaya pucat menyala, membentuk tulisan yang melayang jelas di hadapannya.

DING!

SISTEM AKTIF — LAPORAN KONDISI TERKINI

Identitas: MAXY

Tingkat kedekatan Shella: 50%

Kondisi: Tertekan, bingung, rindu, merasa tidak berdaya

Identitas: ROXY

Tingkat kedekatan Shella: 51%

Kondisi: Stabil, tidak ada aktivitas langsung dalam 3 hari terakhir

Catatan Sistem: Perasaan Shella terhadap Maxy menurun bukan karena berkurang, melainkan karena ditahan dan dijauhkan. Perasaan asli tetap ada, bahkan menguat di balik kepura-puraan menjaga jarak.

Aku menatap baris-baris itu, lalu tersenyum tipis yang terasa pahit.

"Jadi..." suaranya pelan, bergetar, "aku sedang bersaing dengan diriku sendiri?"

"Trap" Aku berdiri perlahan, berjalan mendekat ke jendela yang terbuka sedikit, angin malam menyisir rambutnya.

"Maxy... Roxy... bukankah itu aku? Satu jiwa. Satu hati. Satu orang yang sama. Kenapa harus dipertandingkan? Kenapa salah satu harus menang dan yang lain kalah? Kalau aku yang menang, aku tetap aku. Kalau Roxy yang menang... itu juga aku. Bukankah sama saja?"

Dia berhenti sebentar, menelan ludah yang terasa kering.

"Tujuan sistem ini supaya aku mendapatkan cinta yang tulus — cinta yang menerima aku apa adanya, bukan karena tampang atau harta. Aku sudah paham itu. Tapi setelah itu apa? Kalau Maxy kalah... apa aku hilang? Kalau Roxy yang dipilih... apakah aku yang sederhana ini akan lenyap? Atau sebaliknya? Apa yang terjadi setelah salah satu mencapai seratus persen?"

Keheningan menyambut pertanyaannya, sebelum tulisan itu berubah pelan.

DING!

JAWABAN SISTEM

Pertanyaan di luar lingkup informasi yang dapat dibagikan saat ini.

Hal tersebut merupakan RAHASIA SISTEM.

Host hanya diberikan misi untuk diselesaikan. Segala hal yang terjadi setelah tingkat kesukaan mencapai 100% akan diketahui pada saat itu tiba.

Lanjutkan perjuangan.

"Hahaha" aku tertawa kecil, pahit dan pelan. "Rahasia... lagi-lagi rahasia."

Dan kembali duduk, merenung dalam-dalam. Pikiran itu berputar terus, tak kunjung reda.

Kenapa harus begini? Kenapa cinta harus jadi perlombaan? Kenapa aku harus memilih antara diriku yang satu dan diriku yang lain? Padahal setiap kata yang diucapkan, setiap perhatian yang diberikan, setiap harapan yang tumbuh... semuanya berasal dari hati yang sama.

Aku teringat tatapan Shella tiga hari lalu — mata yang berkaca-kaca, bibir yang gemetar, saat dia menyuruhnya menjauh. Bukan kebencian. Bukan kenyamanan. Itu ketakutan. Kasih sayang yang menyakiti diri sendiri demi orang lain.

Dan di saat itu, sesuatu berubah di dalam dirinya. Keraguan perlahan berganti kepastian.

Apa bedanya Maxy atau Roxy? Yang penting... dia dicintai. Dia dijaga. Dia tidak kesepian. Apapun nama yang dipakai, wajah yang terlihat... itu tetap aku. Yang mencintainya, tetap aku. Maxy....!

Aku mengangkat kepala, "Haah..huff" mengatur napas agar teratur, pandangan tetap tenang.

"Baiklah... aku tidak peduli lagi siapa yang menang. Tidak peduli lagi yang dipilih Maxy atau Roxy. Yang aku tahu, siapapun nanti pilihannya, itu tetap aku. Dan aku akan tetap mencintainya, melindunginya, bahagia untuknya — apapun wujudku nanti."

---Keputusan itu terasa ringan. Beban yang menindih dadanya berminggu-minggu seolah luruh perlahan. Dia tidak perlu membuktikan siapa yang lebih baik. Dia hanya perlu ada di sana.

 

Sementara itu, di kamar yang tidak jauh, Shella berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit yang remang. Lampu sudah dimatikan, tapi matanya tak bisa terpejam.

Tiga hari. Tiga hari menghindar. Dan setiap hari terasa makin berat.

Dia memeluk bantal erat-erat, seolah itu satu-satunya sandaran yang tersisa.

Kenapa aku begini... kenapa makin dijauhkan, makin dirindukan?

Dia teringat wajah Maxy saat bekerja — lelah, namun tekun. Tangan yang gemetar tapi tak berhenti. Senyum yang dipaksakan setiap kali mereka tak sengaja berpapasan. Semua itu karena dia. Semua penderitaan itu namanya.

"Maafkan aku..." bisiknya pelan ke ruangan kosong, air mata mulai menggenang lagi. "Aku pikir menjauh akan melindungimu... tapi ternyata aku hanya menyakiti kita berdua."

----Rasa kangen itu bukan sekadar rindu bertemu. Ia tumbuh setiap kali melihat punggungnya yang sendirian. Setiap kali mendengar namanya dipanggil orang lain. Setiap kali menyadari, di ruangan yang sama, ada seseorang yang berjuang diam-diam untuknya, dan dia yang berbalik pergi.

Rasa cinta itu sudah ada, kuat dan nyata, meski dia belum berani mengakuinya bahkan pada dirinya sendiri. Dia membandingkan, dia menimbang, dan semakin hari semakin jelas — sosok yang membuatnya merasa aman, dihargai, dan diterima apa adanya bukanlah bayangan kemewahan yang lewat. Melainkan sosok sederhana yang tetap berdiri meski dihina, tetap lembut meski disakiti, tetap ada meski dijauhi.

Maxy. Hanya Maxy.

Tapi dia takut. Takut mengakui. Takut melangkah. Takut Arif menghancurkan sisa kebahagiaan yang masih ada.

Dia membalikkan badan, menatap dinding, memeluk lutut.

Kalau aku pergi ke dia sekarang... kalau aku bilang aku tidak peduli siapa yang marah... apakah semuanya akan baik-baik saja? Atau malah makin hancur?

 

Kembali ke kamar Maxy. Dia berdiri tegak, keputusan sudah bulat.

"Cukup sudah membiarkannya menangis sendirian. Cukup sudah membiarkannya takut sendirian. Kalau dia sedih sekarang, kalau dia butuh seseorang, Aku akan datang. Tanpa ragu. Tanpa menunggu." gumam Maxy penuh keyakinan.

Dia memejamkan mata, membiarkan perubahan itu terjadi — halus, cepat, tanpa keraguan. Saat membuka mata kembali, di hadapan cermin berdiri Roxy. Wajah tampan, tatapan tegas, aura percaya diri. Tapi di balik semua itu, hatinya sama — lembut, cemas, dan penuh kasih sayang.

Bukan untuk menipu. Bukan untuk menyembunyikan kebenaran. Tapi karena saat ini, dengan wajah ini, dia bisa datang tanpa dicurigai, bisa berbicara tanpa dihalangi, bisa menjangkau dia yang sedang kesepian itu.

Dia mengambil ponsel, jari-jarinya bergerak cepat mencari nomor yang sudah tersimpan sejak lama. Napasnya dalam, tenang.

Panggilan berdering. Sekali. Dua kali.

"Halo..." suara Shella terdengar lemah, serak, seolah baru saja menangis.

"Shella..." suaranya tenang, hangat, penuh perhatian.

Di seberang telepon, ada keheningan sejenak, lalu tarikan napas pendek.

"Roxy...?"

"Iya, aku. Maaf menghubungimu malam-malam begini." Roxy duduk di tepi jendela, menatap jalanan sepi di bawah. "Aku tahu sudah larut. Tapi aku merasakan... kamu sedang sedih, kan?"

Keheningan lagi, lebih lama dari sebelumnya. Lalu suara itu bergetar pelan.

"Bagaimana kamu tahu..."

"Aku tahu. Karena aku memikirkannya." Roxy melunakkan nada bicaranya. "Kamu sendirian di kamar, kan? Menangis?"

Isak tertahan terdengar samar. "Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa, Roxy. Semuanya jadi berantakan."

"Cerita padaku. Atau bertemu denganku. Aku di sini sekarang. Aku bisa datang ke tempatmu dalam sepuluh menit."

"Jangan..." suaranya cemas. "Kalau dilihat orang..."

"Kita tidak perlu ke mana-mana. Cuma duduk sebentar. Mengobrol. Kamu butuh didengar, Shella. Dan aku ingin mendengarkan." Roxy bicara pelan tapi tegas. "Tidak ada yang akan tahu. Aku janji. Aku hanya ingin kamu tidak kesepian malam ini."

Shella diam. Napasnya terdengar tidak teratur.

"Kenapa... kenapa kamu baik padaku?" tanyanya pelan.

"Karena kamu berharga, Shella. Dan tidak seharusnya kamu menanggung semuanya sendirian." Roxy berdiri, sudah siap berangkat. "Aku tunggu di tempat yang sepi dekat rumahmu, di bangku taman kecil di ujung jalan. Tidak ada orang. Cuma kita berdua. Kalau kamu mau datang, aku di sana. Kalau tidak, aku tetap pergi, dan kamu bisa istirahat tenang."

"Roxy..."

"Aku tunggu. Sampai kamu siap."

Panggilan berakhir.

Roxy memasukkan ponsel ke saku, melangkah keluar pintu. Langkahnya cepat, mantap. Malam ini bukan tentang menang atau kalah. Bukan tentang persentase. Bukan tentang siapa yang dipilih.

Hanya satu hal yang penting — dia ada di sana. Untuknya. Apapun namanya, apapun wajahnya, apapun identitasnya. Itu tidak penting lagi.

Angin malam berhembus lebih kencang, membawa kabut tipis. Di kejauhan, lampu taman kecil mulai terlihat. Dan di sana, di tempat yang sepi, satu orang akan menunggu. Sementara di balik jendela yang remang, satu orang lain sedang merapikan rambutnya, menyeka sisa air mata, dan perlahan mengambil keputusan untuk melangkah keluar.

 

1
Salwina Riyani
Marni datang lagi..😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!