Indonesia
NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Di sudut area resepsi, tak jauh dari panggung pelaminan yang dihiasi ribuan bunga mawar putih segar, dua sosok berdiri dengan gestur yang sengaja dibuat-buat.

Galang dan Sarah hadir dengan wajah tanpa tahu malu. Mereka berdiri begitu dekat dengan area pelaminan, seolah-olah ruangan luas ini tidak cukup bagi mereka.

Sarah sengaja menggelayutkan tangannya di lengan Galang, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil tertawa manja yang terdengar dipaksakan.

Mereka mencoba memamerkan kemesraan mereka di dekat panggung pelaminan untuk memprovokasi Langit.

Galang sesekali melirik ke arah panggung dengan senyum sinis yang merendahkan, seolah ingin menegaskan bahwa dialah pria yang berhasil lolos dari cengkeraman Langit, dan kini hidup bahagia bersama wanita pilihannya.

Tidak jauh dari pasangan yang memuakkan itu, suasana tegang juga terpancar dari sosok pria paruh baya bertubuh tegap.

Hendra Dewanta, paman Langit yang selama ini berlagak bagai pelindung namun menyimpan belati di balik punggungnya, pun berdiri tak jauh dari sana dengan tatapan geram yang menyala.

Hendra menggenggam gelas sampanyenya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Rencananya untuk menguasai aset keluarga Langit melalui manipulasi pernikahan berantakan total malam ini.

Kehadiran pria di samping Langit telah merusak semua skenario licik yang telah ia susun bertahun-tahun.

Langit bisa merasakan dadanya bergemuruh. Amarah, rasa terhina, dan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh bergolak menjadi satu.

Tangannya yang memegang buket bunga mulai bergetar halus.

Kilasan pengkhianatan Galang yang berselingkuh dengan Sarah, serta kelicikan Paman Hendra yang mencoba merebut perusahaan, berputar layaknya film hitam-putih yang menyakitkan di kepalanya.

Mereka ada di sini bukan untuk merayakan, melainkan untuk melihatnya hancur dan goyah di hari yang seharusnya menjadi miliknya.

Namun, Langit tidak sendirian malam ini.

Melihat kilatan amarah di mata mantan tunangannya yang mencoba merusak momen bahagia istrinya, pria yang berdiri di samping Langit tidak tinggal diam.

Bumi, dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya tampak begitu gagah dan berwibawa, menyadari perubahan atmosfer pada wanita di sebelahnya.

Tatapan matanya yang semula tenang langsung menajam saat menangkap basah provokasi murah ant dari Galang dan Sarah, serta tatapan penuh kebencian dari Hendra.

Bumi tahu persis konspirasi dan luka yang telah ditorehkan orang-orang itu pada hidup Langit.

Dan sebagai suami, meskipun hubungan mereka berawal dari sebuah kesepakatan tertulis, Bumi memiliki harga diri yang tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya.

Dengan gerakan yang tenang namun penuh proteksi, Bumi merapatkan tubuhnya pada Langit.

Bahu lebar Bumi bersentuhan dengan bahu Langit, menghalangi pandangan beracun dari sudut ruangan tersebut.

Ia menggenggam erat tangan Langit, memberikan kekuatan melalui kehangatan telapak tangannya.

Sentuhan itu seketika mengirimkan sinyal ketenangan ke dalam hati Langit yang sedang bergemuruh, membuat getaran di tangannya perlahan mereda.

Langit mendongak, menatap rahang tegas Bumi yang mengeras, menyadari bahwa pria ini sedang bersiap untuk memasang badan baginya.

Di detik berikutnya, sebelum Langit sempat mencerna apa yang akan terjadi, Bumi membalikkan tubuhnya sedikit hingga mereka kini saling berhadapan sepenuhnya.

Di hadapan sorot kamera yang terus menyala dari para jurnalis dan fotografer yang memenuhi area depan pelaminan, serta tepat di depan mata Galang, Sarah, dan Hendra, Bumi mengambil tindakan yang tak terduga.

Bumi menundukkan kepalanya lalu mencium bibir Langit dengan sangat lembut dan penuh penjiwaan.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Langit. Sentuhan hangat bibir Bumi mendarat dengan begitu pas di atas bibirnya. Itu bukan sekadar kecupan formalitas di pipi atau kening seperti yang mereka sepakati dalam gladi bersih.

Ini adalah ciuman yang nyata, dalam, dan dipenuhi dengan intensitas yang mengejutkan.

Bumi melingkarkan satu tangannya di pinggang Langit, menarik tubuh wanita itu semakin merapat ke dadanya, mempertegas kepemilikan di hadapan dunia.

Langit sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Bumi. Matanya sempat terbelalak selama beberapa detik, jantungnya berpacu begitu cepat hingga dentumannya seolah bergema di telinganya sendiri.

Tubuhnya sempat menegang karena syok, menahan napas di tengah ciuman yang tiba-tiba memabukkan itu.

Saat tautan bibir mereka terlepas perlahan, Bumi tidak langsung menjauhkan wajahnya.

Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat Bumi menerpa permukaan kulit wajah Langit.

Bumi menatap langsung ke dalam manik mata Langit yang masih dipenuhi keterkejutan, lalu Bumi segera mengatakan maaf dengan bisikan yang sangat rendah, hampir tak terdengar oleh orang lain.

"Maaf, untuk Galang, Sarah dan paman mu Hendra"

bisik Bumi dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas, memberikan alasan logis di balik tindakan impulsif nya.

Bumi ingin memberikan pukulan telak yang meruntuhkan harga diri para musuh mereka tanpa perlu mengeluarkan satu patah kata pun.

Langit terpaku mendengarnya. Matanya melirik sekilas ke arah sudut ballroom. Rencana Bumi berhasil sepenuhnya. Wajah Galang kini berubah merah padam karena cemburu dan harga dirinya yang terluka hebat, ia tidak menyangka Langit bisa mendapatkan pria yang jauh lebih segalanya dibanding dirinya.

Di sebelahnya, wajah Sarah tampak pias dan dipenuhi rasa iri yang tak bisa disembunyikan melihat kemewahan dan keserasian pasangan di pelaminan.

Sementara itu, Paman Hendra tampak bagai singa tua yang frustrasi, menyadari bahwa ciuman di depan publik dan media itu mengukuhkan posisi Bumi dan Langit sebagai pasangan yang tak tergoyahkan, sekaligus menutup rapat celah baginya untuk mengacaukan legalitas pernikahan ini.

Kendati demikian, di balik semua alasan sandiwara dan pembalasan dendam yang diucapkan Bumi, ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri Langit sendiri.

Didalam hati terdalam Langit juga menginginkan, menginginkan ciuman dari bibir hangat Bumi, dan mungkin yang lebih intens lagi.

Bohong jika Langit mengatakan dia tidak menikmatinya. Sentuhan bibir Bumi seolah membangunkan sisi lain dalam dirinya yang selama ini tertidur dan mati rasa akibat pengkhianatan.

Kehangatan pria itu, aroma maskulin yang menguar dari tubuh Bumi, dan cara pria itu mendekapnya dengan begitu protektif, memicu sebuah kerinduan yang mendalam di sanubarinya.

Langit menyadari, jauh di lubuk hatinya, dia tidak ingin ciuman ini berakhir dengan cepat. Ada keinginan egois yang mulai tumbuh, keinginan untuk merasakan lebih banyak kehangatan dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya.

Suara gemuruh tepuk tangan dan teriakan bahagia dari para tamu undangan seketika pecah memenuhi gedung mewah tersebut.

Tepuk tangan riuh merendah dari ratusan orang yang menganggap momen itu sebagai puncak romansa sejati dari sepasang kekasih yang saling mencintai.

Kilatan lampu flash dari puluhan kamera wartawan berkedip bergantian, mengabadikan momen magis yang besok dipastikan akan memuncaki berita utama seluruh media bisnis dan hiburan nasional.

Di tengah kebisingan dan kemeriahan yang memekakkan telinga itu, Langit memejamkan matanya, dan Saat dia membuka matanya kembali dan menatap senyum tipis namun tulus di wajah Bumi, sebuah kesadaran baru menghantamnya dengan lembut.

Malam ini, di tengah kemarahan para musuh mereka yang terbakar cemburu, Langit tahu bahwa keputusannya memilih Bumi bukan lagi sekadar kontrak bisnis, melainkan awal dari kebahagiaan sejati yang menghangatkan jiwanya.

Kontrak di atas kertas mungkin yang mempertemukan mereka, namun getaran di dadanya malam ini adalah bukti nyata bahwa takdir sedang menuliskan cerita yang jauh lebih indah dari sekadar kesepakatan di atas meja kerja.

Langit membalas genggaman tangan Bumi dengan tak kalah erat.

Yang sudah puas, yuk mana komennya?, jangan lupa kasih LIKE dan HADIAH nya.

1
Nurhartiningsih
fix bumi ketua mafia yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
jadi penasaran siapakah bumi?
Akhila Davina
semangat kak💪❤️
Akhila Davina
mudah" tidak ada lagi hambatan
Nurhartiningsih
jangan2 bumi adl CEO yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
seperti biasa...pengkhianatnya adl orang dekat
Nurhartiningsih
apakah ini juga ada kaitannya dg keluarga Nugraha????
Akhila Davina
good job Rian❤️
Akhila Davina
semangat 💪❤️
Siti Aisah
oh"sebenernya masih kurang karena penasaran menunggu besok.. tapi apalah daya jadi" terimakasih thor 🤣
Siti Aisah
bang bumi dan rian the best lah.. walaupun bergadang sampai pagi demi langit yg bisa tidur nyenyak😜
Siti Aisah
syukur lah bumi sudah memberikan ide untuk menyelesaikan masalah langit.. walaupun dgn ide yg nyeleneh😁
Kaa
sungguh tak sabar ingin tahu besok gimana Hendra ngadapin itu semua
Kaa
seru Thor aku suka gaya bicara bumi👍
Siti Aisah
thor kukira cuman satu bab 🤭penasaran akan kah langit dan bumi bisa mengatasi masalah yg terjadi??tpi yg penting mah langit bisa tidur sambil di peyuk bumi🤗
Kaa
bumi sungguh menghanyutkan
Akhila Davina
ditunggu
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Akhila Davina
semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!