Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
****
Lilin-lilin beraroma white lily berpendar redup di tengah meja makan marmer hitam yang membentang luas di mansion keluarga Wiliam. Alunan musik klasik ber-volum rendah memenuhi ruang makan bernuansa old money yang megah namun dingin. Sajian tenderloin steak dengan saus simpel yang ditata sempurna bersama piring porselen buatan Eropa tampak tak tersentuh.
Siska duduk di sisi kiri meja dengan gaun malam bernuansa marun yang anggun, mencoba memamerkan senyum paling menawan dari wajah cantiknya. Di seberangnya, Clara bolak-balik menatap pintu masuk dengan raut cemas dan kecewa.
"Mami... Lyn baru saja kirim pesan," gumam Clara pelan, suaranya bergetar menahan kesedihan. "Dia tiba-tiba mendadak pusing dan tidak bisa datang malam ini. Padahal aku sangat berharap dia ada di sini..."
"Sudah, Sayang... tidak apa-apa," bisik Siska seraya mengusap lembut jemari Clara, walau matanya berkilat penuh kecurigaan. Gadis itu sengaja menghindar? Atau Wiliam yang melarangnya datang?
Derap langkah kaki yang teratur dan tegas memutus percakapan mereka. Wiliam melangkah masuk ke ruang makan. Pria paruh baya itu masih mengenakan kemeja formal bergaris tegas tanpa jas, memancarkan wibawa dan ketampanan matang yang tak tersentuh.
"Papa!" Clara seketika berdiri, mencoba mengumbar senyum paling manis. "Papa sudah pulang... Ayo Papa duduk, aku dan Mami sudah siapkan makan malam istimewa untuk Papa."
Wiliam tidak segera duduk. Mata sehitam jelaga miliknya menyapu meja makan—menatap susunan bunga white lily dan sajian daging yang ditata persis sesuai selera pribadinya. Pria tua itu tahu betul, Clara tidak akan pernah tahu detail selera makan dan dekorasinya sedalam ini tanpa ada arahan dari seseorang yang sangat mengenalnya luar dalam. Evelyn...
"Papa... cobalah sedikit steak-nya," bujuk Clara halus, menarikkan kursi utama untuk sang ayah. "Mami juga bantu menata semuanya... Kita bertiga bisa makan malam bersama lagi seperti dulu."
Siska tersenyum manis, memegang pisau dan garpunya dengan anggun. "Wiliam... terima kasih sudah mau menyempatkan waktu—"
"Aku duduk di sini hanya menghargai usaha Clara," potong Wiliam dingin, nada suaranya seketika membekukan atmosfer hangat yang berusaha dibangun.
Siska menegang, tangannya terhenti di udara. Clara menggaruk tangannya yang canggung, mencoba tertawa kecil. "P-Papa... jangan begitu dong. Mami kan beneran mau minta maaf dan memperbaiki semuanya..."
Wiliam meletakkan serbet kainnya di atas meja tanpa sedikit pun menyentuh alat makan. Pandangannya yang tajam dan menusuk terkunci lurus pada Siska.
"Batasanku sudah sangat jelas, Siska," ujar Wiliam datar, suara beratnya bergaung penuh intimidasi mutlak. "Tidak ada makan malam keluarga, tidak ada kesempatan kedua, dan tidak ada tempat untukmu di rumah ini lagi. Jangan pernah menggunakan Clara untuk memaksakan permainan konyol ini."
"Papa!" jerit Clara terkejut, matanya seketika berkaca-kaca.
Siska mengepalkan tangannya di balik meja, bibirnya gemetar menahan malu dan amarah yang meluap. "Wiliam! Di depan anakmu kamu sekejam ini?!"
"Aku tidak pernah berpura-pura, Siska," balas Wiliam dingin seraya berdiri dari kursinya. Tinggi badannya yang menjulang seketika mengurung dua wanita itu dalam bayang-bayang otoritasnya. "Clara, Papa menghargai niatmu. Tapi rumah ini memiliki aturan yang tidak bisa diubah oleh siapa pun."
Tanpa menyentuh makanan sedikit pun, Wiliam memutar tubuhnya dan melangkah pergi keluar dari ruang makan.
Clara tertunduk lesu di atas meja, tangisnya pecah seketika di balik usapan lembut sang ibu yang menggigit bibirnya dalam amarah dan keputusasaan yang tertahan.
**
KLIK.
Gagang pintu unit apartemen terdorong kaku. Lyn yang sedang duduk meringkuk di sofa ruang tengah—memeluk lututnya dalam keremangan lampu malam—seketika tersentak bangkit saat aroma sandalwood yang pekat mendadak memenuhi ruangan.
Wiliam berdiri di ambang pintu. Pria itu menanggalkan kemejanya asar, memperlihatkan kaus dalam tebal yang membingkai dada bidangnya yang kokoh. Matanya yang sehitam jelaga memancarkan ketegangan, amarah, dan pendar posesif yang teramat liar.
"W-Wiliam...?" bisik Lyn gemetar, melangkah mundur satu tapak. "Anda... kenapa ke sini? Bukankah malam ini ada makan malam bersama Clara dan—"
Sebelum Lyn sempat menyelesaikan kalimatnya, Wiliam melangkah lebar, menutup habis jarak di antara mereka. Tangan besar dan hangat pria paruh baya itu menyambar pinggang ramping Lyn, menarik tubuh mulusnya rapat ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu tidak datang, Little Lady?" bisik Wiliam serak di depan wajah Lyn, napas hangatnya yang memburu menyapu bibir manis sang gadis. "Kamu sengaja membatalkannya untuk menghindariku? Atau kamu pikir aku benar-benar akan duduk menikmati makan malam kepalsuan bersama wanita itu?!"
"Wiliam... lepas..." rintih Lyn, dadanya naik turun menahan gumpalan air mata. "Saya... saya tidak bisa berada di sana! Saya orang luar, Wiliam!"
"Kamu milikku!" potong Wiliam dengan nada berat yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Tapi Tante Siska adalah istri Anda!" jerit Lyn pelan dengan keputusasaan yang meluap dari dalam dadanya. Gadis itu menatap lurus mata sehitam jelaga sang tuan dengan raut wajah hancur. "Lihat mereka, Wiliam! Tante Siska adalah wanita berkelas dari kalangan Anda... dan Clara adalah putri yang sangat mencintai Papanya! Mereka berdua sangat serasi di rumah megah itu! Dibandingkan dengan orang luar seperti saya... saya ini tidak ada apa apanya! Saya cuma pengganggu yang masuk ke dalam hidup kalian!"
Kata-kata Lyn yang sarat akan rasa tahu diri dan kepasrahan justru menjadi pemantik yang membakar habis sisa kesabaran Wiliam. Pria tua yang berkuasa itu tidak tahan lagi mendengar wanitanya merendahkan diri dan mencoba mendorongnya kembali pada masa lalu.
"Cukup, Evelyn!" erang Wiliam rendah dan berbahaya.
Tanpa memberi ruang sanggah sedikit pun, Wiliam mengangkat tubuh ramping Lyn ke dalam gendongannya, melangkah lebar menuju kamar utama dan membanting tubuh lembut gadis itu di atas ranjang king size yang empuk.
"Wiliam... A-ah!" jerit Lyn tertahan saat tubuh tegap Wiliam langsung memanjat dan menaungi tubuhnya, mengurungnya rapat di bawah kungkungan dada bidang yang hangat.
"Aku tidak butuh keserasian di mata publik, Lyn," bisik Wiliam serak tepat di telinga Lyn, jemari besarnya menanggalkan gaun tidur tipis milik Lyn dengan kelihaian pria dewasa yang sangat berpengalaman. "Yang aku butuhkan adalah kamu... pengabdianmu... dan kepatuhanmu di bawah kekuasaanku!"
Bibir hangat Wiliam menyergap bibir manis Lyn dalam sebuah pagutan yang pekat, panas, dan amat mendominasi. Lidah lihai sang tuan menginvasi rongga mulut Lyn tanpa ampun, menyerap seluruh hela desah napas dan jeritan protes sang gadis hingga berubah menjadi rintihan pasrah yang memabukkan.
"Mmph... W-Wiliam... ngg..." Lyn melenguh pasrah, jemari lentiknya refleks meremas otot bahu kokoh Wiliam saat bibir hangat pria tua itu turun menyusuri leher jenjangnya, menyesap dan menggigit kecil kulit mulusnya hingga meninggalkan jejak kemerahan baru.
Wiliam menanggalkan sisa halangan di antara mereka, membiarkan kulit tubuh mereka yang memanas saling beradu sempurna. Pria berkuasa itu memosisikan dirinya di antara dua paha mulus Lyn yang terbuka pasrah di bawah pendar redup lampu kamar.
"Tatap mataku, Little Lady. Malam ini... kamu akan menerima hukuman atas kebohongan dan larimu dariku," ujar Wiliam dengan nada berat yang memancarkan pendar gairah dan keposesifan yang tak tertahan.
Tanpa jeda, Wiliam mendorong dirinya masuk secara utuh dan dalam ke dalam kehangatan intim Lyn dalam satu dorongan yang mantap dan berkuasa.
"A-AHH...! WILIAM...!" jerit nikmat Lyn yang melengking tinggi, matanya terpejam rapat seraya meremas kain sprai di bawah tubuhnya saat penuhan yang tajam, dalam, dan menghentak seketika memenuhi seluruh rongga tubuhnya.
Wiliam menggeram rendah, napas beratnya memburu kencang di leher Lyn. Pria paruh baya itu tidak memberi jeda sedikit pun, langsung menggerakkan tubuhnya dalam tempo yang mantap, dalam, dan sarat akan dominasi yang menghujam titik terpeka di dalam diri Lyn.
"Ngggh... a-hhn... W-Wiliam... pelan-pelan... ahh... terlalu dalam..." desah Lyn tergagap di sela-sela hentakan berkuasa sang tuan, tubuh mulusnya gemetar hebat menerima setiap luapan gairah pria tua yang sedang melampiaskan kepenatannya.
"Dengarkan desahanmu sendiri, Lyn... katakan padaku siapa pemilik tubuh dan jiwamu ini?" bisik Wiliam serak di telinga Lyn, mempercepat ritme pergerakannya secara intens dan memabukkan, membuat kerapatan intim Lyn mengulumnya rapat. "Ah-h... kamu begitu sempit dan hangat, Little Lady..."
"Hah... ahh! Wiliam... A-Anda... Cuma milik Anda... ahh! Wiliam... A-AHH!" jerit manis Lyn yang mengalun pasrah di udara kamar, melingkarkan kedua kaki mulusnya rapat di pinggang kokoh Wiliam, menyerahkan seluruh kepemilikan dirinya tanpa sisa di bawah buaian gairah yang membakar.
Desahan nikmat yang pasrah dari Lyn beradu dengan erangan berat dan posesif dari Wiliam, membakar keheningan malam di dalam apartemen tersebut hingga puncak pelepasan bersama menghantam keduanya dalam satu helaan napas panjang yang amat pekat, hangat, dan memabukkan.
Lyn terkulai lemas dalam pelukan dada bidang Wiliam yang berkeringat dan memburu kencang. Pria tua itu memeluk tubuh polos wanitanya erat-erat, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di dahi dan bibir Lyn yang basah. Di dalam sangkar emas ini, Lyn menyadari bahwa tak peduli seberapa keras ia mencoba lari, ia telah terkunci selamanya dalam kepemilikan mutlak sang tuan.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻