Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Peringatan Proyek Bisnis

Udara sejuk pendingin ruangan di kedai kopi kawasan Jakarta Selatan itu sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang mendadak menghantam Lisa Larasati. Tangan kirinya masih agak bergetar di atas meja. Di hadapannya, amplop cokelat tebal berisi uang tunai lima puluh juta rupiah tergeletak utuh. Uang yang pernah ia sodorkan dengan penuh rasa superioritas dan belas kasihan beberapa hari lalu, kini dikembalikan tanpa berkurang sepeser pun oleh pemuda yang mengenakan jaket kusam di depannya.

Namun, kejutan dari sikap teguh Dirga baru saja permulaan. Sentuhan singkat yang tidak disengaja antara jemari mereka saat Dirga hendak menegakkan cangkir kopi Lisa yang hampir terguling, rupanya menjadi pemantik bagi kilatan penglihatan yang jauh lebih mengerikan.

Mata Dirga yang semula jernih mendadak berkilat tajam, memancarkan kedalaman yang sulit diukur dengan akal sehat. Pemuda itu menarik tangannya perlahan, menggenggam jemarinya sendiri di atas meja, lalu menatap Lisa dengan intonasi suara yang mendadak berubah, begitu berat, dingin, dan penuh bobot tekanan yang tak terbantahkan.

"Mbak Lisa," panggil Dirga. Suaranya tidak lagi mencerminkan seorang pemuda biasa yang kerap dipandang sebelah mata di jalanan. Ada kewibawaan alami yang terpancar kuat dari tatapannya.

Lisa mengerutkan dahi, mencoba menata kembali ketenangannya yang sempat goyah. "Ada apa, Dirga? Wajahmu mendadak pucat sekali. Apakah kamu merasa kurang sehat?"

"Saya sehat," jawab Dirga singkat. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, menatap lurus ke dalam bola mata wanita di hadapannya. "Tetapi perusahaan Anda sedang berada di tepi jurang kehancuran yang sangat besar jika Anda meneruskan rencana akuisisi minggu ini."

Napas Lisa tertahan sejenak. Kerutan di dahinya makin dalam. "Akuisisi? Bagaimana kamu..."

"PT Arisandra Karya," potong Dirga cepat, menyebutkan nama perusahaan vendor manufaktur yang sedang menjadi target akuisisi utama Larasati Group. "Kalian sedang memfinalisasi proses uji kelayakan dan akuisisi aset mereka senilai ratusan miliar rupiah, bukan?"

Lisa terbelalak. Tatapannya mendadak membeku. Rencana akuisisi PT Arisandra Karya adalah proyek rahasia tingkat tinggi yang hanya diketahui oleh jajaran direksi inti Larasati Group dan tim legal internal. Informasi tersebut bahkan belum tersentuh oleh media massa maupun lantai bursa.

"Bagaimana kamu bisa tahu nama perusahaan itu, Dirga?" suara Lisa tertahan di tenggorokan, berubah menjadi bisikan yang sarat akan rasa terkejut. "Ini rahasia internal korporasi kami. Dari mana kamu mendapatkan informasi ini?"

"Dari mana saya tahu, itu tidak penting saat ini, Mbak Lisa," sahut Dirga tenang, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan penekanan yang mengintimidasi. "Yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa proses akuisisi itu adalah perangkap yang dirancang sangat rapi untuk menghancurkan arus kas Larasati Group dari dalam."

Lisa menggelengkan kepala, mencoba mengendalikan rasa panik yang mulai menjalar ke dada. Sisi profesionalnya sebagai Director of Corporate Strategy berusaha mengambil alih. "Itu tidak mungkin. Tim auditor independen kami telah bekerja selama tiga bulan untuk memeriksa seluruh neraca keuangan dan aset PT Arisandra Karya. Semuanya bersih. Angka-angkanya sangat sehat."

"Angka-angka di atas kertas bisa dimanipulasi dengan sangat mudah jika ada pengkhianat yang membukakan pintu dari dalam rumah Anda sendiri," ujar Dirga dengan nada bicara tanpa ragu sedikit pun.

"Pengkhianat?" Lisa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap Dirga dengan campuran rasa tidak percaya dan kemarahan yang mulai menyulut. "Tolong jaga bicaramu, Dirga. Kami bekerja dengan profesional berdedikasi tinggi."

"Kalau begitu, periksa kembali Direktur Keuangan Anda sendiri," balas Dirga tanpa berkedip.

Kata-kata itu menghantam Lisa seperti hantaman benda tumpul. Seluruh persendian tubuhnya terasa kaku. "Apa yang baru saja kamu katakan?"

"Direktur Keuangan Larasati Group," ulang Dirga dengan intonasi yang makin dingin dan teratur. "Pria yang sangat Anda percayai untuk memimpin audit keuangan proyek ini. Dia telah menerima dana taktis dan komitmen saham tertutup dari pihak pemilik PT Arisandra Karya. Laporan keuangan vendor tersebut sebenarnya sudah digelembungkan hingga tiga ratus persen dari nilai aslinya, dan perusahaan itu memiliki utang tersembunyi berupa kewajiban obligasi bermasalah yang tidak tercatat di neraca utama."

Lisa tertawa kecil, sebuah tawa cemas yang dipaksakan untuk menutupi gemetar di badannya. "Ini sungguh tidak masuk akal. Pak Surya, maksud saya, Direktur Keuangan kami, adalah orang yang telah mengabdi pada keluarga Larasati selama lebih dari dua belas tahun! Dia adalah orang kepercayaan ayah saya. Tidak ada alasan sedikit pun baginya untuk melakukan tindakan jahat semacam itu!"

"Pengabdian belasan tahun bisa runtuh dalam sekejap ketika keserakahan dan utang pribadi mengambil alih, Mbak Lisa," sela Dirga penuh ketegasan. "Dalam dua minggu ke depan, setelah dokumen akuisisi ditandatangani dan dana transfer dari Larasati Group cair ke rekening PT Arisandra Karya, obligasi jahat itu akan dilepas ke publik. Larasati Group akan diseret ke pengadilan atas tuduhan penampungan aset bermasalah, dan Direktur Keuangan Anda akan mengundurkan diri dengan alasan kesehatan sebelum melarikan diri ke luar negeri."

"Cukup, Dirga!" pangkas Lisa dengan nada suara yang sedikit meninggi, membuat beberapa pengunjung di sudut kedai kopi sempat menoleh ke arah mereka. Lisa dengan cepat mengendalikan volume suaranya, namun napasnya tampak memburu. "Tuduhanmu ini sangat berat! Kamu membicarakan reputasi seorang eksekutif senior dan nasib transaksi bernilai ratusan miliar rupiah! Kamu tidak bisa hanya datang, memegang cangkir kopi, lalu melemparkan tuduhan sabotase tanpa bukti fisik yang jelas!"

Dirga tidak terpancing oleh emosi Lisa. Ia tetap duduk tegak, memancarkan aura ketenangan yang luar biasa seolah-olah seluruh kekacauan dunia tidak mampu menggoyahkan pendiriannya.

"Saya tidak meminta Anda untuk percaya begitu saja pada tuduhan saya, Mbak Lisa," ucap Dirga pelan namun sangat tajam. "Saya hanya memberikan peringatan. Jika Anda meneruskan penandatanganan dokumen akuisisi itu pada hari Jumat besok tanpa memeriksa pembukuan sekunder yang disembunyikan di dalam akun penampung luar negeri atas nama anak perusahaan PT Arisandra Karya, maka kehancuran Larasati Group berada sepenuhnya di tangan Anda."

Lisa tertegun. Informasi yang diucapkan Dirga makin spesifik dan terperinci hingga detail teknis yang tidak mungkin dipikirkan oleh seorang awam.

"Akun penampung luar negeri?" tanya Lisa, suaranya kini bergetar hebat. "Bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui istilah-istilah itu? Bagaimana bisa kamu membicarakan alur audit keuangan kompleks seperti ini?"

"Saya mantan petugas kebersihan di PT Kantor Investasi, Mbak Lisa," jawab Dirga dengan senyum tipis yang sarat akan kepahitan masa lalu. "Saya menghabiskan berbulan-bulan membersihkan ruang arsip, mendengar percakapan para analis saham, dan memperhatikan bagaimana kejahatan korporasi bekerja di balik meja-meja mewah. Namun apa yang saya katakan barusan bukan sekadar analisis biasa. Ini adalah kepastian yang akan terjadi jika Anda tidak bertindak."

"Ini gila..." gumam Lisa sambil memegang pelipisnya yang mulai terasa pening. "Semua ini terdengar sangat gila dan mustahil."

"Apakah prediksi saya mengenai perselingkuhan mantan kekasih Anda di Kamar 808 Hotel Grand Paramita dua hari lalu juga terdengar gila saat pertama kali saya ucapkan?" tanya Dirga menohok tepat di sasaran paling rentan.

Lisa seketika bungkam. Mulutnya terkatup rapat. Bayangan insiden tragis di hotel mewah itu kembali berputar di ingatannya. Dua hari lalu, ia juga menganggap Dirga sebagai orang gila yang bicaranya sembarangan. Namun fakta di lapangan membuktikan bahwa setiap detail kalimat yang diucapkan pemuda ini terjadi seratus persen presisi tanpa meleset sedikit pun.

"Setiap kata yang saya ucapkan mengenai Kamar 808 terbukti kebenarannya, bukan?" lanjut Dirga, menatap Lisa dengan pandangan yang membuat wanita anggun itu merasa telanjang di hadapan kebenaran. "Hari ini, saya memberikan peringatan yang sama. Perbedaaannya, kali ini yang dipertaruhkan bukan sekadar perasaan pribadi Anda yang terluka, melainkan kelangsungan hidup perusahaan keluarga Anda dan nasib ribuan karyawan yang bergantung di dalamnya."

Dirga kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkannya, dan meletakkan sebuah pulpen sederhana di samping amplop cokelat berisi uang lima puluh juta rupiah tadi.

"Jika Anda ingin menyelamatkan Larasati Group," kata Dirga penuh penekanan, "malam ini juga, mintalah akses data log transaksi internal dari server pusat tanpa sepengetahuan Direktur Keuangan Anda. Cari transaksi transfer tersembunyi dengan kode enkripsi akun khusus menuju rekening penampung di Bank Swasta Singapura atas nama PT Arisandra Mega Pratama. Jika Anda tidak menemukan transaksi itu malam ini, Anda boleh menganggap seluruh ucapan saya hari ini adalah bualan kosong seorang pengemudi ojol."

Lisa menatap pulpen di atas meja, lalu beralih menatap wajah Dirga. Ketenangan, ketegasan, dan kejujuran di mata pemuda itu begitu nyata. Tidak ada sedikit pun raut kebohongan, keraguan, atau niat jahat yang tersirat di sana.

"Mengapa kamu melakukan ini, Dirga?" suara Lisa terdengar begitu lirih, hampir seperti bisikan menuntut jawaban. "Mengapa kamu memberitahukan hal sebesarnya ini kepadaku? Apa keuntungan yang kamu cari dari Larasati Group?"

Dirga berdiri dari kursinya. Ia merapikan letak jaket ojolnya yang sederhana namun bersih, lalu menatap Lisa dari ketinggian posisinya.

"Saya melakukan ini bukan untuk mencari keuntungan atau imbalan uang dari Anda, Mbak Lisa," tegas Dirga dengan intonasi yang sangat dingin dan berharga diri tinggi. "Saya mengembalikan uang ganti rugi Anda secara utuh karena saya tidak menjual harga diri saya. Dan saya memberitahukan ancaman ini karena saya tahu bagaimana rasanya dihancurkan dari dalam oleh orang yang sangat kita percayai. Jangan biarkan pengkhianat di sekitar Anda tertawa di atas penderitaan Anda."

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Dirga menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Saya permisi dulu. Ingat pesan saya, periksa server pusat malam ini juga sebelum dokumen utama ditandatangani besok siang."

Tanpa menunggu balasan lagi, Dirga berbalik dan melangkah mantap keluar dari kedai kopi. Langkah kakinya begitu tenang, memancarkan percaya diri seorang pria yang telah melampaui berbagai penderitaan hidup dan kini memegang kendali atas takdirnya sendiri.

Sementara itu, Lisa Larasati tetap terduduk kaku di kursinya. Pandangannya menatap lurus ke arah punggung Dirga yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kedai kopi, menyatu dengan hiruk-pikuk jalanan kota Jakarta.

Di dalam dada Lisa, badai keraguan dan keheranan berkecamuk hebat. Pikirannya melayang membayangkan struktur organisasi Larasati Group yang sangat tertutup. Nama PT Arisandra Karya, sosok Direktur Keuangan, kode enkripsi server internal, hingga akun penampung di Singapura, semua detail itu adalah informasi yang bahkan memerlukan waktu berminggu-minggu bagi seorang detektif independen untuk membongkarnya.

Lisa mengarahkan pandangannya penuh keheranan dan keraguan yang membuncah tinggi, dari mana pemuda pengemudi ojek online ini bisa mengetahui struktur direksi, alur transaksi rahasia, hingga intrik paling kelam di tingkat tertinggi korporasinya?

1
Meee
semangat Dirga 💪💪💪
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!