—Jinan dan Alana telah menjalin hubungan selama 4 tahun. Tapi mereka terpaksa dipisahkan oleh takdir. Hal itu membuat Jinan seperti kehilangan separuh jiwanya.
—Setelah setahun berpisah, Jinan belum juga membuka hatinya untuk orang lain. Hingga suatu hari ada seseorang yang menurutnya mirip dengan Alana.
—Akankah Jinan bisa membuka hatinya dan melupakan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bluemoonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Apa yang bisa di pegang dari laki-laki?
Kata-katanya.
Jadi saat Jinan sudah berani mengatakan kepada Rio untuk memperjuangkan Alexa, itu artinya dia juga harus tanggung jawab dengan omongan nya sendiri. Ia harus berani menanggung akibatnya akibat kata-katanya sendiri.
Di sisi lain, dia mencintai Alexa. Namun di sisi lain, Rio adalah sahabatnya. Dia gak bisa mengingkari kata-kata nya sendiri kepada sahabatnya sendiri, apalagi saat sahabatnya itu memintanya.
Dan sekarang, omongannya sendiri jadi boomerang buat dirinya sendiri.
"Maafin aku Lex. Maaf karna aku selalu jadi lelaki pengecut. Aku cinta sama kamu. Jangan pergi. Jangan terima cintanya. Tunggu aku sebentar lagi." racau Jinan sambil menempelkan telepon genggam ke telinganya.
"Pak Jinan?" ucap seorang wanita dari seberang telepon yang ternyata adalah Chelsea.
"Alexa, tunggu aku."
"Pak Jinan mabuk? Pak Jinan ada di mana?"
"Kenapa? Apa kamu mau datang kesini? Kesini Lex, aku bakal nunggu kamu."
"Pak Jinan ada di mana, biar saya kesana sekarang."
Tak ada respon dari Jinan, sepertinya Jinan benar-benar mabuk hingga ia menyandarkan kepalanya di meja bar.
Seorang bartender yang memang kebetulan sedari tadi ada di depan Jinan pun meraih ponsel Jinan lalu mengatakan kepada Chelsea di club mana Jinan berada sekarang, lalu memasukkan ponsel tersebut ke saku celana Jinan.
Dengan cepat Chelsea bergegas menuju ke club tersebut menggunakan taxi, karena dia pikir pasti Jinan membawa mobil. Dia bisa mengendarai mobil Jinan nanti.
Sesampainya di tempat yang di tuju, Chelsea mencari keberadaan Jinan di antara kerumunan orang di sana. Dia pun melihat Jinan tak sadarkan diri di sebuah meja bar.
"Pak, pak Jinan bangun."
"Pak Jinan bangun, ayo kita pulang."
Jinan pun mengerjapkan matanya, lalu dia tersenyum melihat Chelsea di hadapannya.
"Alexa, kamu datang." racau Jinan mengira Chelsea adalah Alexa lalu ia tak sadarkan diri lagi.
"Mas tolong bantu saya bawa pria ini ke mobilnya." ucap Chelsea kepada salah satu bartender di sana.
"Baik mbak." ucap bartender tersebut lalu menggendong Jinan di punggungnya.
Chelsea mengikuti bartender tersebut. Sesampainya di parkiran Chelsea merogoh saku celana Jinan untuk mencari kunci mobilnya. Setelah ketemu dia membuka kunci dan membuka pintu belakang untuk Jinan. Bartender tersebut pun menidurkan Jinan di kursi panjang itu. Tak lupa Chelsea memberikan tip untuk bartender tersebut sebagai ucapan terima kasih.
Chelsea masuk dan menepuk-nepuk pipi Jinan.
"Pak Jinan bangun, rumah bapak di mana? Pak Jinan bangun pak."
Karena tak mendapat respon apapun, akhirnya Chelsea masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil Jinan menuju rumahnya.
Sesampainya di rumahnya sendiri yang tidak terlalu besar itu, Chelsea turun dan masuk ke rumah untuk memanggil sang papa.
"Papa..." teriak Chelsea.
"Ada apa Chels, kenapa kamu teriak-teriak." ucap Wahyu, papa Chelsea yang khawatir mendengar teriakan Chelsea di ikuti juga Liana, sang mama.
"Papa, bantuin Chelsea bawa masuk pria yang ada di mobil."
"Pria? Siapa Chels?"
"Udahlah pa, bantuin dulu baru tanya."
Wahyu pun berjalan ke luar untuk melihat siapa pria itu. Ia meringis karena mencium aroma alkohol di tubuh Jinan. Namun tak butuh waktu lama ia pun menggendong Jinan di punggungnya lalu membawa Jinan ke kamar Chelsea.
Chelsea merasa lega setelah melihat Jinan sudah terbaring di ranjangnya.
"Ayo sekarang jelasin dia siapa? Pacar kamu?"
"Bukan pa, dia client nya Chelsea. Kayaknya dia lagi patah hati trus salah nelpon aku tadi. Karna aku gak tau rumahnya di mana, yaudah aku bawa pulang aja."
"Padahal papa udah seneng kamu bawa pacar ke rumah."
"Papa ini ngaco, udah papa tidur di sofa ya, aku tidur sama mama malam ini."
"Lhoh kok jadi papa yang harus ngalah."
Chelsea dan sang mama tertawa melihat wajah manyun papa nya.
"Yaudah kita tidur bertiga, kayaknya papa udah lama gak ngelonin anak papa ini."
"Ya gak mau lah pa, Chelsea kan udah gede. Lagian kasurnya gak muat. Udah yuk ma kita tidur."
Chelsea pun mengajak sang mama untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan papanya di ruang tamu.
Hingga pagi harinya mereka berkumpul untuk sarapan, Jinan belum juga terlihat bangun dari tidurnya.
"Apa gak di bangunin aja Chels biar bisa sarapan bareng." ucap Liana, mama Chelsea.
"Biarin aja ma, Chelsea juga udah telat ini mau langsung berangkat kerja."
"Trus gimana sama dia."
"Kalian aja yang urus, Chelsea udah telat."
"Tapi papa juga harus kerja."
"Yaudah mama aja yang urus ya, tolong ya ma." ucap Chelsea memohon lalu mencium pipi mamanya.
Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan sang mama dan juga Jinan yang masih asik dengan tidurnya.
Jinan mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling. Dia penasaran di mana dia sekarang, karena tempat ini terlihat asing. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.
Jinan melihat foto di atas nakas. Sepertinya ia mengenali sosok wanita di dalam foto tersebut.
Bukannya ini Chelsea? Lalu apa gue lagi di rumah cewek itu? Tapi kok bisa?
Jinan pun berusaha mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Dia mengambil telepon genggamnya dan melihat panggilan terakhir. Dia menepuk dahinya setelah tau Chelsea lah ternyata yang ia hubungi terakhir kali.
Dia pun bergegas keluar dari kamar Chelsea dan ternyata sudah di sambut mamanya Chelsea yang akan membersihkan meja makan.
"Kamu sudah bangun nak, duduk sini sarapan dulu."
Jinan pun perlahan berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi di sana.
"Sarapan dulu nak, apa masih pusing kepalanya? Setelah sarapan kamu bisa minum obat ini kalau masih pusing."
"Makasih tante, apa tante ini mamanya Chelsea?"
"Iya nak, dia anak tante satu-satunya."
"Maaf ya tante, saya jadi merepotkan di sini."
"Tenang aja, kami bukan orang tua yang kolot kok. Semua teman nya Chelsea kami anggap anak kami juga."
"Chelsea dan papa nya kemana tante?"
"Mereka baru aja berangkat kerja."
Jinan menganggukkan kepalanya lalu menyantap sarapan yang tersedia di meja makan. Setelah sarapan pun ia pamit untuk pergi.
"Saya pamit ya tante, maaf sudah merepotkan keluarga tante. Makasih sudah menerima saya dengan baik di sini, padahal saya datang dalam keadaan mabuk."
"Sama-sama nak, lain kali datanglah kesini kalau kamu ada masalah. Ceritakan sama tante. Jangan mabuk-mabukan lagi ya, gak baik buat kesehatan kamu."
"Makasih banyak tante."
Sosok Liana mengingatkannya kepada sosok mamanya sendiri. Sudah lama ia gak merasakan kasih sayang seorang mama setelah mama dan papa nya pergi meninggalkannya karena sebuah kecelakaan.
Air mata Jinan menumpuk di pelupuk matanya, ia segera mengusap matanya agar air itu tak jatuh ke pipinya. Namun Liana menyadari itu, dia memeluk Jinan yang sepertinya sedang membutuhkan sebuah dukungan.