Indonesia
NovelToon NovelToon
Chase The Dream

Chase The Dream

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Sistem / Robot AI / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Halo, namaku Vi. Seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan

Namun, karena aku bukan anak orang terpandang dan seorang yatim piatu

Orang-orang mulai menertawakanku dan menanggap cita-citaku tidak akan terwujud

Sampai suatu hari, desa kami diserang oleh pasukan misterius

Aku berhasil bersembunyi di dalam tong, sampai akhirnya tidak sadarkan diri

apa yang akan terjadi dengan Vi selanjutnya?

Mampukah dia menggapai cita-citanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertamaku, bagian 10 selesai

Omong-omong, kepala desa di mana? kenapa belum kembali?

Bentar, bukannya Synthia disuruh menemui dia, setelah urusannya selesai.

"Syn, kapan kau menemui kepala desa?" tanyaku sambil menepuk pundaknya.

Synthia terlihat kesal dan sedikit terkejut.

"Iih, bikin kaget saja kamu ini," jawab Synthia yang terlihat kesal.

Aku mulai mengingatkan sesuatu kepada Synthia, dia juga menjelaskan apa yang dia pikirkan.

Ternyata, dia tidak terbiasa pindah dunia. Kukira kenapa, itu wajar sih. Synthia sendiri tidak pernah pindah dunia sebelumnya.

"Baiklah, aku akan menemui kepala desa sekarang. Dia sudah memberi tau alamatnya sebelum kita pergi," ucap Synthia dengan senyum ke arahku sebelum pergi.

Synthia mulai meninggalkan kami untuk bertemu dengan kepala desa, semoga saja tidak telat, karena matahari sebentar lagi tenggelam.

Dia meninggalkan abdinya di sini.

Selagi menunggu Synthia dan kepala desa, aku melihat Melody sedang memperhatikan rumah dengan ekspresi penasaran.

Aiko, sedang sibuk bicara dengan muridnya.

Enaknya bicara ama siapa yah?

Sepertinya dengan Melody, dari pada dia sibuk melihat rumah, mending aku ajak bicara.

"Hei Melody," ucapku sambil memanggilnya dan menghampirinya.

"Apa?" Melody merespon panggilku sambil menoleh ke arahku.

"Kenapa dari tadi melihat rumah?" tanyaku yang penasaran.

"Ooh, untuk memastikan kalau kita benar-benar kembali," jawab Melody tanpa menoleh ke arahku.

"Ha? Kita emang sudah kembali kok, buktinya rumah itu masih sama bentuk dan warnanya," ucapku sambil menunjuk rumah yang ada dibelakangnya.

Melody langsung berbalik arah dan melihat rumah itu dengan ekspresi terkejut.

"Oh, benar juga. Kukira kita nyasar di dunia alternatif," kata Melody yang terlihat lega.

"Dunia alternatif?" tanyaku yang penasaran.

"Iyah, dimana versi lain dari dunia kita berada," jawab Melody sambil menoleh ke arahku.

"Yayaya, aku mau tanya soal imaginary," ucapku sebelum bertanya sesuatu.

"Oh, apa yang ingin kau tau tentang imaginary?" tanya Melody sambil menoleh ke arahku dengan ekspresi datar.

"Selain menciptakan sesuatu, kudengar imaginary bisa bikin orang awet muda, apakah itu benar?" jawabku sambil bertanya kembali ke arah Melody.

"Iyah, itu benar. Bukan sekedar awet muda, tapi lebih dari itu," jawab Melody sambil mengangguk.

"Maksudnya gimana lebih dari itu?" tanyaku yang penasaran.

"Akan kujelaskan," jawab Melody sebelum menjelaskannya.

Melody mulai menjelaskan.

"Imaginary, membuat penggunanya tidak bisa mati secara alami dan meregenerasi organ vitalnya.

"Mudahnya, mereka bisa bertahan sambil meregenerasi organ vitalnya.

"Selain itu, imaginary bisa digunakan untuk melipatkan statistik.

"Seperti kekuatan fisik, sihir, pertahanan dan kecepatan.

"Dimana sifat kelipatannya permanen, itulah kenapa mengendalikan kekuatan adalah hal yang wajib.

"Ditambah, pure body membuat semua sihir dan ketahanannya ikut berlipat juga.

Melody selesai menjelaskan.

"Kalian sedang ngapain?" tanya Aiko yang sudah berada di dekat kami.

Tanpa kami sadari, Aiko sudah di sebelah.

"Lagi bahas imaginary," jawabku sambil menoleh ke arahnya.

"Oh," jawab Aiko sambil mengangguk mengerti.

Aneh, kemana para Magical pergi.

"Omong-omong, para Magical kemana?" tanyaku yang tidak melihat mereka.

"Mereka kusuruh libur," jawab Aiko sambil menoleh dengan datar.

"Libur kenapa?" tanya Melody yang penasaran.

"Yah... libur dari tugas menangkap penyihir," jawab Aiko yang membuat Melody terkejut.

"Penyihir!? Berapa banyak yang ditangkap?" tanyaku yang ingin mengetahuinya dengan suara keras.

"Banyak sih, beberapa dari mereka hanya korban pengendali pikiran, sisanya penyihir iseng," jawab Aiko yang terlihat tidak senang.

"Jangan-jangan," kata Melody sambil menoleh ke arahku.

"Waduh! Aku asal kirim," ucapku yang teringat sesuatu dengan suara keras.

Aiko hanya menggelengkan kepala, setelah mendengar itu.

Kemudian, Synthia, kepala desa dan yang lainnya datang menghampiri kami. Sepertinya, urusan mereka sudah selesai.

Walaupun, matahari sudah hampir tenggelam sih.

"Salam orang suci, maaf aku tidak menyambut kedatanganmu," ucap kepala desa yang terlihat meminta maaf, setelah mengetahui kedatangan Aiko.

"Salam, tidak perlu ada sambutan. Aku hanya pindah tempat saja," kata Aiko sambil menunjuk ke arahku.

Kepala desa hanya mengangguk mengerti, ternyata Aiko dan kepala desa sudah saling kenal.

Oh yah, kebetulan ada yang mau kutanyakan dengan kepala desa.

"Permisi kepala desa, bolehkah aku tanya sesuatu?" ucapku meminta izin untuk bertanya.

"Iyah, boleh," kata kepala desa yang mengizinkannya.

"Bagaimana caramu mempersiapkan senjata tanpa membawanya?" tanyaku yang mengingat kejadian itu sambil menoleh ke arah kepala desa.

"Iyah, aku juga tidak melihat kepala desa membawa panah," ucap Synthia yang juga melihatnya dengan ekspresi terkejut.

Adik kepala desa hanya menggelengkan kepala saat mendengarnya.

"Sederhana, dengan Imaginary bisa memanggil dan mengembalikan senjata yang kau pikirkan," jawab kepala desa dengan senyum.

Oh begitu, aku mengerti sekarang. Aku langsung mencobanya, dengan memikirkan panah kepala desa.

Apa yang dikatakan kepala desa benar, panahnya langsung muncul di tangan kananku.

"Bagaimana bisa? Syaratnya kan harus memiliki senjata itu," tanya kepala desa yang terkejut melihatnya.

Kemudian, adik kepala desa mulai melangkah mendekatinya.

"Tenang kakak, walaupun dia bisa memanggil panah kakak. Belum tentu, dia bisa menggunakan anak panah elf," kata adik kepala desa dengan percaya diri.

Mendengar itu, aku jadi teringat cara kepala desa menggunakan anak panah elf.

Tanpa ragu, aku langsung menarik tali yang ada di panah tersebut. Seketika, muncul anak panah berwarna hijau.

"Tidak mungkin! Selain ras elf, tidak ada yang bisa menggunakan anak panah elf," ucap adik kepala desa yang terkejut melihatnya.

Jadi begitu, anak panah berwarna hijau ini hanya muncul kalau ras elf yang menariknya. Pantas saja, adik kepala desa tidak khawatir panahnya dicuri.

"Sudahlah, seharusnya kalian sudah tahu. Magical bisa menggunakan senjata apa saja tidak peduli persyaratannya apa," kata Aiko yang terlihat tidak senang dengan keributan.

"Itu curang," ucap adik kepala desa yang tidak senang.

"Syn, antar kepala desa dan yang lain pulang. Ada yang ingin kubahas dengan mereka," Aiko mulai menyuruh Synthia dan menarik kami.

Synthia mulai melakukan perintah Aiko dengan patuh, ditambah kepala desa dan yang lainnya tidak melakukan proses.

Sebelum Aiko mengajak kami, aku langsung mengembalikan panah kepala desa.

"Ada apa Aiko? Kenapa kau membawa kami?" tanyaku yang tidak mengerti.

"Aku ingin tanya tentang tugasmu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" jawab Aiko dan bertanya kembali kepadaku.

Bagaimana bisa dia tau tentang tugasku? Oh yah, kenapa aku sampai lupa dengan tugasku.

"Soal itu, ah.... aku bingung, hehehe," jawabku dengan tertawa.

Mendengar itu, tatapan Aiko mulai berubah menjadi serius.

"Kalau gitu, Melody akan kurawat sementara," ucap Aiko yang membuat kami terkejut.

Aiko mulai melihat ke arah Melody, kelihatannya Melody bingun untuk menjawabnya.

"Akan kuajari sesuatu yang tidak diketahui Magical," ucap Aiko yang berusaha membujuk Melody.

Mendengar itu, Melody langsung mengangguk setuju dengan keputusannya.

Mudah sekali dia membujuk Melody. Kemudian, Synthia datang menghampiri kami.

"Semuanya sudah pulang," kata Synthia sambil melaporkan sesuatu dengan senyum.

Aku merasa aneh dengan tingkah Synthia yang begitu.

"Kalau begitu, ayo kita pulang," ucap Aiko sebelum melakukan sesuatu.

Aiko mulai membuka portal yang langsung menuju rumah dan memasukinya.

Tunggu, bagaimana dia bisa tau tempat tinggal kami? Yah sudahlah, nanti aku tanyakan setelah memasuki rumah.

Tanpa membuang waktu, kami juga memasuki portal tersebut.

Jika ada yang tanya soal abdi Synthia, dia sudah dipulangkan lebih dulu.

Bersambung....

1
Ververr
Terima kasih penulisnya!
Risa Koizumi
Saya tidak bisa ungkapkan betapa sayangnya saya pada cerita ini! Satu kata, amazing!😍
Alhida
Tersirat makna mendalam
Tsuyuri
Ayo, jangan bikin kami ngantuk 😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!