Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak punya hati
Sepulangnya dari bidan aku langsung istirahat dikamar. Anehnya meskipun dirumah, mereka juga masih pada cuek. Cuma bapak mertua saja yang lebih perhatian. Bapak kelihatan bahagia punya cucu. Beda dengan ibu mertua yang mukanya cemberut saja.
Tapi bagiku nggak masalah, terserah mau suka atau nggak sama bayiku. Orang kok aneh banget, memangnya bisa memilih apa. Kalau lahiran pasti perempuan. Heran sih tapi aku biarkan saja. Aku hanya fokus pada bayiku dan pemulihan pasca melahirkan.
Banyak acara yang mereka siapkan. Jadi mereka pada sibuk sendiri-sendiri. Suamiku juga sibuk entah kemana dia pergi. Aku cuma tiduran dikamar sama bayiku. Ternyata perlakuan mereka masih sama saja, nggak ada sedikitpun rasa kasihan padaku.
Aku harus mengangkat air panas memakai timba sendiri. Mandi juga tidak dibantu suami. Sampai pakai stagen pun sendiri juga. Memang sedikit susah sih tapi masih bisa aku lakukan sendiri. Caranya aku ikatkan stagen di gagang pintu trus ujung satunya aku lingkarkan di pinggang trus muter sampai ke depan pintu.
Makan juga aku ambil sendiri. Anak nangis aku sendiri juga yang nenangin. Kalau popoknya basah atau kotor aku sendiri juga yang menggantikan. Bagiku tidak ada yang berat atau sulit, asal mau berusaha saja. Aku masih harus bersabar paling tidak sebulan lagi. Itupun kalau aku masih mampu untuk bersabar.
Dihari kedua aku mengerjakan semuanya sendiri. Bahkan aku disuruh menyapu, mengepel, mencuri piring, mencuci baju, dan menyapu halaman. Cuma masak saja yang tidak aku lakukan. Katanya jadi orang jangan manja dan banyak alasan. Aku sih asal masih bisa dan kuat aku kerjakan semua. Daripada berantem nggak jelas mending aku mengalah saja.
Jangan ditanya bagaimana rasanya badanku saat itu. Kalau orang Jawa bilang tuh badan rasanya kayak remuk bobrok. Tetangga saja yang melihat pada kasihan dan banyak yang bergosip. Kalau orang rumah mah cuek aja, mungkin mereka semua pada nggak punya hati. Sebenarnya sih selain badan yang sakit, hatiku juga sakit tapi mau gimana lagi. Nggak ada yang bisa aku lakukan selain bersabar sebentar.
Tepat dihari ke empat setelah melahirkan, suamiku tumben mau tidur dikamar. Biasanya dia juga tidur di ruang tamu sama bapak-bapak. Yah karena banyak acara jadi rumah ramai, meskipun begitu tetap saja aku tersiksa. Aku pikir suamiku mau tidur eh ternyata aku salah besar. Dia datang ke kamarku karena mau minta jatah.
Dimana coba pikirannya, benar-benar tidak punya hati kan. Padahal aku masih merasakan sakitnya pasca melahirkan. Nifas juga belum selesai, ini datang-datang minta jatah. Suami macam apa itu. Tapi memang dia tidak mau terima penolakan akhirnya ya tetap memaksa. Dia melakukan kekerasan padaku, aku ditampar berkali-kali dan harus nurut sama dia. Kalau aku nggak nurut, dia akan berbuat kasar juga pada bayiku.
Dengan terpaksa aku menuruti kemauannya. Itu dia lakukan dilantai samping tempat tidur. Banyak darah yang berceceran dilantai. Aku cuma pasrah dan menangis tapi tidak berani bersuara. Suamiku benar-benar seorang yang tidak punya hati dan perasaan.
Sungguh aku merasa jijik dan sangat benci melihat mukanya. Sebagai seorang istri dan perempuan aku merasa sangat terhina. Aku nggak nyangka dia bisa setega itu padaku. Dan aku bertambah yakin untuk bercerai dengannya.
Malam itu setelah dia puas menyiksaku. Kemudian dia pergi begitu saja. Aku membersihkan darah yang berceceran dilantai sambil menangis. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi berada dalam kondisi seperti itu. Aku tidak bisa hidup dengan orang gil* seperti suamiku itu. Aku menyerah dan tidak mau mempertahankan rumahtanggaku.
* Sebuah perceraian memang sesuatu yang halal tapi dibenci Allah SWT. Tetapi jika pernikahan tidak membawa kita pada Jannah nya untuk apa dipertahankan. Kebahagiaan itu juga harus diusahakan. Hanya kita sendiri yang bisa memutuskan.