Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Gemuk Sang Mafioso

Pengantin Gemuk Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: AUTORAATENA

Isabella Moretti tahu betul hidup bukan dongeng. Sebagai putri seorang prajurit Cosa Nostra, ia tumbuh di pinggiran dunia berdasi dan berdarah — gadis gemuk berlidah tajam yang tak pernah sudi menundukkan kepala pada siapa pun, sekejam apa pun kata-kata yang dilemparkan padanya. Ia punya senyum yang menolak padam, dapur sebagai kerajaannya, dan satu prinsip: tak ada yang boleh membuatnya merasa kecil.

Lalu satu perintah mengubah segalanya.

Sang Don menikahkannya dengan Leon Ravelli — Caporegime termuda dan paling ditakuti dalam sejarah keluarga, si "Hantu" yang konon membunuh istrinya sendiri, lelaki dingin bagai marmer yang tak menanggung rasa bersalah. Pernikahan tanpa cinta, tanpa pilihan, antara monster tak berperasaan dan perempuan yang menolak diperlakukan sebagai barang dagangan.

Isabella tak berniat jadi istri pajangan yang penurut. Dan Leon tak pernah menyangka bahwa perempuan yang diremehkan seluruh dunia justru satu-satunya yang berani menatap matanya tanpa gentar — lalu perlahan menyeret cahaya ke dalam kegelapan yang ia kira permanen.

Tapi di dunia tempat pengkhianatan dibayar dengan nyawa, ada bayang-bayang dari masa lalu Isabella yang mengintai dari kegelapan. Seseorang yang selama ini mengawasi. Seseorang yang percaya bahwa jika ia tak bisa memilikinya, tak seorang pun boleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AUTORAATENA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 — LEON

Dosier itu

Aku tak tidur.

Bahkan tak mencoba.

Kuambil dosier itu, langsung menuju ruang kerja, kubuka sebotol wiski dari laci dan duduk seperti saat mengerjakan sesuatu. Seolah ini tak ada hubungannya dengan wanita yang pergi dari sini tanpa menoleh ke belakang.

Bohong.

Segala yang ada di sana adalah tentang dia.

Dosier itu rapi sempurna. Damian tak pernah mengerjakan apa pun setengah-setengah. Foto-foto tersusun per tahun, laporan, catatan, nama-nama. Seluruh hidup Isabella Moretti diringkas menjadi kertas dan tinta.

Kumulai dari awal.

Masa kecil.

Ibunya. Meninggal saat ia berusia sebelas tahun.

Aku berhenti pada foto itu lebih lama dari seharusnya. Ia terlalu kecil untuk mengenakan pakaian hitam, dengan tatapan orang yang sudah memahami hal yang tak seharusnya dipahami anak mana pun.

Kulanjutkan.

Ayah yang absen. Tahun-tahun tumbuh separuh di dalam, separuh di luar dunia itu. Tak pernah sepenuhnya menjadi bagian dari tempat mana pun. Tidak mafia, tidak pula dunia luar.

Teman-temannya. Sedikit. Selalu yang itu-itu saja. Luiza muncul di beberapa foto, menempel padanya, seolah menjadi penyeimbang.

Kubalik halaman demi halaman perlahan.

Kursus kuliner. Patisseri. Sertifikat. Foto-foto di kelas, acara, presentasi. Di sana ia tampak… utuh. Fokus. Seolah itulah satu-satunya tempat di mana dunia masuk akal.

Kuhafal tiap detail tanpa sadar.

Lalu datang acara-acara di kediaman. Pesta, pertemuan, kesempatan di mana ia selalu… berada di pinggir. Hadir, tapi tak pernah di tengah.

Sampai sesuatu membuatku berhenti.

Kubalik kembali satu halaman.

Foto kelulusan SMA.

Isabella di tengah, ijazah di tangan, senyum lebar. Senyum yang bukan hasil pura-pura. Rambut terurai, ringan. Hidup.

Dan di sebuah sudut, hampir keluar dari bingkai—

Dia.

Tinggi, kurus, pirang. Terlalu rapi untuk disebut kelalaian, terlalu tersamar untuk disebut kebetulan.

Ia tak menatap kamera.

Ia menatapnya.

Aku menatap foto itu beberapa detik.

Itu bukan tatapan biasa. Bukan rasa ingin tahu. Bukan pula minat sesaat.

Itu… terpaku.

Seolah sisa pemandangan itu tak ada.

Kulanjutkan.

Foto lain. Setahun sebelumnya. Presentasi sekolah. Isabella tekun di meja.

Dan dia di sana.

Lebih ke belakang.

Menatap.

Kubalik beberapa halaman lagi.

Kutemukan lagi.

Dan lagi.

Selalu di luar pusat. Selalu terposisikan. Selalu dengan sudut terukur yang sama, sudut orang yang ingin melihat tanpa terlihat.

Pengulangan itu mulai mengganggu.

Itu bukan kebetulan.

Itu pola.

Kucondongkan tubuh di kursi, mendekatkan wajah ke foto.

Garis wajahnya tipis, terawat baik. Pakaian bagus. Tak mencolok—mahal. Tersamar dengan cara yang disukai uang lama.

Familiar.

Kukerutkan kening.

Aku pernah melihat wajah ini.

Atau sesuatu padanya.

Aku tak ingat dari mana, dan itu membuatku kesal lebih dari seharusnya.

Kuambil map lain di dalam dosier. Catatan yang lebih baru.

Tak ada yang langsung.

Tapi ada satu hal.

Tanggal.

Acara-acara yang dihadiri Isabella… dan kejadian-kejadian kecil di sekitarnya. Tak ada yang mencolok. Seorang pegawai yang tiba-tiba mengundurkan diri. Seorang pemasok yang diganti tanpa penjelasan. Sebuah insiden kecil di sini, satu lagi di sana.

Penyimpangan-penyimpangan kecil.

Semuanya terlalu berdekatan.

Terlalu tertata.

Seseorang membersihkan jejaknya sendiri dengan hati-hati.

Kukembali ke foto.

Si pirang masih di sana, membeku dalam waktu, menatapnya seolah sudah tahu sesuatu yang tak diketahui siapa pun.

Kuambil ponsel dan kupotret gambar itu.

Kukirim ke Enzo.

Aku mau nama orang ini. Besok pagi.

Tanpa penjelasan. Ia tak membutuhkannya.

Kututup dosier perlahan.

Gelas wiski tinggal separuh di meja.

Aku menuju jendela.

Milan menyala di luar sana, cahaya oranye itu terperangkap di antara gedung-gedung, gerak yang tak pernah benar-benar berhenti. Sebuah keheningan yang tak pernah utuh.

Isabella ada di rumah Damian.

Mungkin masih terjaga.

Berpikir.

Dingin dengan cara yang ia lakukan ketika memutuskan untuk tak menunjukkan perasaan di depan siapa pun.

Ia akan pulang besok. Aku tahu. Bukan demi aku.

Demi dirinya.

Tapi ia akan pulang dalam keadaan berbeda.

Dan aku akan menelannya.

Hanya saja bukan itu yang memenuhi kepalaku sekarang.

Melainkan dia.

Bocah dari foto-foto itu yang tumbuh di luar radarku.

Pola di catatan-catatan itu.

Cara yang terlalu bersih dalam menyentuh… dan menghapus segala yang ada di sekitarnya.

Itu bukan kebetulan.

Itu seseorang yang sabar.

Seseorang yang menunggu.

Seseorang yang belajar bertahan di dalam bayangan.

Mawar hitam itu.

Pelayan itu.

Jejak-jejak yang tak pernah mengarah ke mana pun.

Semua mulai sejajar dengan cara yang terlalu kukenal.

Kusandarkan kening ke kaca dingin sesaat, memejamkan mata.

Ketika kubuka lagi, aku sudah tak ragu.

Siapa pun anak bayangan itu… ia sudah terlalu dekat.

Dan ia telah memilih orang yang salah.

Karena Isabella bukan sekadar bidak di duniaku.

Ia satu-satunya hal yang tak kunegosiasikan.

Dan siapa yang menyentuh apa yang menjadi milikku…

tak keluar dalam keadaan utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!