Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Batuk Asti 10

Mama mengeluarkan jubah berwana hitam, karena Lira tak bisa lagi menggunakan syal, itu hanya bisa menutupi lehernya yang terus mengeluarkan aroma dari residu Sila yang mengalir di darah Lira. Sekarang Lira butuh jubah untuk menutupi semua tubuhnya dengan mantra wewangi.

Jubah itu adalah jubah lama mama saat dia masih remaja, pasti masih kebesaran jika digunakan oleh Lira sekarang, itu jauh lebih baik karena dengan begitu jubah bisa menutupi semua tubuh Lira, dari kepala hingga kaki.

Mama menggelar jubah itu dan membawa 2 botol penuh cairan yang sudah dimantrai wewangi. Mama menyiprat jubah itu dengan seksama hingga tak satu pun benang yang tidak basah.

Bagi manusia biasa, tak tercium wangi apapun, tapi bagi Dekekuoi, Lira sangatlah wangi, dengan wangi asing bagi Jagabaya Kasipin, wangi yang menutupi aroma Asli Lira.

Setelah jubah siap, mama lalu menyiprat bajunya dengan cairan yang sama, kemarin itu dia menggunakan sihir tipis untuk menidurkan orang tua Asti di rumahnya dan belum sempat menetralkan diri di laut, maka dia menggunakan cara yang sama untuk menutup silanya.

Ini juga jadi salah satu alasan kenapa mama tidak boleh menggunakan lagi sihirnya, karena aromanya akan semakin kuat dan sekarang untuk berjaga dia juga selalu menyipratkan cairan dengan mantra wewangi untuk menutupi aromanya.

“Baiklah Lira, pakai dulu jubahnya, papa akan buka pintu belakang dengan cara konvensional, kau tahu kan, kita punya lelaki yang sangat kuat untuk menghancurkan pintu itu.” Mama memuji suaminya sendiri, karena jelas mereka takkan bisa menggunakan sihir hanya untuk membuka pintu, itu terlalu mubazir.

Papa memang sangat kuat karena terbiasa latihan ilmu bela diri dari berbagai negara, latihan itu membuat tubuhnya kuat bahkan tanpa sihir.

“Bagus sekali ma, jubahnya. Aku suka.”

“Pakailah nak, itu juga tak muat ke mama, ditaruh di gudang lama sekali.”

“Makasih ma.”

Papa menendang pintu dan seketika pintu yang digembok dari luar terbuka, bukan pintu depan tentunya karena akan mencolok, para tetangga juga pasti akan memusuhi mereka, makanya mereka memilih pintu belakang.

Begitu pintu terbuka, Lira yang sudah memakai jubah, mama dan papa juga yang sudah menutupi wajah, mereka sudah siap dengan berbagai kemungkinan.

Jam malam memang dibelakukan di sana, tapi isu wabah penyakit sepertinya membuat kampung itu menjadi sepi dan tak ada yang berpatroli, rupanya wabah penyakit lebih ditakuti dibanding anggota PKI.

Begitu sampaI di rumah Asti, mereka berlari ke kandang binatang yang Lira curigai, papa bersiap dengan 1 botol cairan yang sudah dimantrai wewangi, Lira sudah memakai jubah, di titik ini mungkin Lira belum butuh cairan itu, maka mama meminta Lira mulai membaca mantra untuk membuka sihirnya.

“Otvori ochite.”Lira memejamkan mata.

“Razkrii skritoto.” Tongkat keluar secara ajaib dari tangannya yang teruka seolah memang tongkat selalu siap di sana, tongkat dihunuskan ke arah depan dan membentuk pola ananta tapi beberapa orang mengenalnya pola infinity atau simbol yang tak putus, tanda kalau seorang penyihir telah mengeluarkan sihirnya.

“Neka svetlinata pokaže istinata.”

Seketika mata Lira berubah menjadi keperakan, tongkatnya bersinar dan seketika aroma tubuhnya menyeruak membuat jubahnya terkibas dan seketika itu juga jubahnya menangkap aroma itu dan menahannya.

Mama dan papa Yelak menarik napas lega karena jubahnya mengikuti perintah mantra untuk tak membiarkan aroma Lira keluar, meski mungkin harus terus diciprat cairan mantra wewangi agar wanginya menjadi padat dan aroma asli Lira tidak keluar sama sekali.

“Apa yang kau lihat, nak?” Mama bertanya.

“Di sini, abu hitam beterbangan ma, di sini, tidak, di seluruh tempat ini.”

“Abu hitam berterbangan, baiklah, ikuti jejak abunya.” Mama memerintahkan.

Mereka berjalan di belakang Lira, sesekali papa Yelak menyipratkan cairan pada jubah Lira.

“Masih ada? Semakin menebal atau tipis?” Mama bertanya.

“Semakin menebal, ma.”

“Bagus, berarti arah kita tepat, karena abu ini pasti ada yang bawa, apapun itu, pasti tadinya berkumpul di kandang, saat di kandang rumah Asti itu, abunya tipis kan, nak?” Mama bertanya lagi.

“Iya betul ma, abu tebalnya, di sana mah!” Lira menunjuk pada rumah seseorang yang berada cukup jauh, beda gang dengan rumah Lira, malam itu sepi sekali, seolah memberi mereka waktu untuk melakukan ritual.

Terdengar suara batuk dari dalam rumah, tentus aja, abunya sudah sampai sini.

Lira berlari, mama dan papa mengikuti, saat mereka sudah sampai belakang rumah seseoarang entah siapa, mama dan papa terkejut, seekor musang!

“Musang ini mengeluarkan abu hitam ma, abu yang semua memenuhi semua jalanan di ini.” Lira berbicara cukup lantang, mama langsung menutup mulutnya Lira dan papa menangkapnya, musang itu terlihat ketakutan dan … kelaparan.

“Binatang yang ditiupan sihir?” Mama bertanya pada papa.

“Ya, kalau Lira bilang dia mengeluarkan abu hitam di seluruh tubuh, artinya kau benar ma, mereka semua batuk, atau sakit seperti Asti, adalah karena menghirup abu yang dikeluarkan musang ini.”

“Dekekuoi?”

“Ya, Dekekuoi, kita cari masalahnya nanti, yang penting musang ini sudah diamankan, pertama, kita harus kurung dulu musang ini di rumah, Lira harus menutupi musang ini dengan jubahnya, agar abunya tidak lagi mengotori udara, karena jubah ini bisa menghalau debunya juga.

Setelah itu, baru kita ke rumah Rani untuk memberikannya pengobatan yang sudah mama siapkan.

“Ayo sini, Lira gendong ya.” Lira mengeluarkan permen dari kantungnya, permen yang sudah dia persiapkan, karena dia tahu akan ada binatang yang mereka tangkap, kan sudah sejak awal Lira curiga pada kandang di rumah Asti. Kandang kecil itu.

Musang itu segera meloncat pada lira dan mengambil permennya, meski secara alamiah Musang tak suka permen, musang lebih suka makanan yang manis dan beraroma kuat, terutama buah-buahan matang, namun permen bisa saja menjadi umpan karena memiliki aroma buah yang kuat.

Tak heran musang itu langsung meloncat pada Lira, Lira senang dan menggendongnya, memasukkannya ke dalam jubah dan mereka berlari pulang ke rumah dulu untuk menaruhnya di tempat yang tepat dan tidak lagi menyebar penyakit.

Setelah sampai rumah, musang itu ditaruh di sebuah kotak yang sudah dimantrai oleh Lira, lagi-lagi hanya Lira yang boleh pakai mantra di rumah itu.

Lira membuat kotak itu kedap debu dan udara secara sihir, tapi musang tetap dapat bernapas dengan baik. Tak Lupa mama memberinya makanan, pisang yang sangat matang, kebetulan mama ada.

Urusan musang selesai, dia sedang makan, setidaknya sumber penyakit sudah diketemukan.

Sekarang waktunya ke rumah Rani, karena sudah tahu penyebabnya, maka pengobatan sudah pasti dapat dilakukan meski perkiraan mama benar, kecurigaan dia pada binatang sihir muncul setela Lira bilang ada kandang kosong yang mencurigakan.

Mereka semua keluar lagi dari pintu belakang dan berlari di gelap malam yang sunyi untuk ke rumah Rani, pertanyaannya, apakah masuk rumah Rani akan semudah masuk rumah Asti tempo hari? Apakah tugas Lira sebagai penyihir cilik bisa dilakukan dengan baik dan berhasil? Ataukah, Rani akan jadi korban musang sihir selanjutnya?

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!