Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~27
Di area sekitar tempat pembuangan sampah yang terletak tidak jauh dari jalan, suasana mendadak ramai oleh tawa yang pecah.
Zizan, Dafa, Ares, dan Andi sedang asyik berkumpul beristirahat sambil menghabiskan jajan dan minuman yang Ares dan Andi bawa.
Namun, di antara keempatnya, wajah Zizan tampak paling merah padam menahan malu karena menjadi sasaran empuk ledekan dari teman-temannya.
"Eh, Zan. Mukanya jangan kayak udang rebus gitu dong. Biasa aja kalau memang nggak ada rasa," ejek Ares semakin menjadi-jadi. Kali ini nadanya sengaja dinaikkan, membuat suasana makin panas.
"Diam, Ares! Nanti orang lain pada dengar. Jangan kencang-kencang!" sergah Zizan panik, langsung menyikut lengan Ares agar sahabatnya itu mengecilkan volume suara.
Tawa Dafa dan Ares langsung meledak melihat kepanikan Zizan. Bahkan Andi, walau agak telat menangkap maksud obrolan tersebut, tetap ikut terkekeh melihat wajah Zizan yang makin salah tingkah.
Namun, di tengah tawa mereka yang sedang pecah, tiba-tiba suasana berubah drastis. Keheningan mencekam langsung menyergap ketika sesosok lelaki bertubuh tinggi dan penuh karisma berjalan melewati area pembuangan sampah tersebut. Pria itu adalah Mas Charis.
Seketika itu juga, tawa mereka langsung terputus. Semua mendadak diam membisu dengan tatapan yang dipenuhi rasa takut. Nyali mereka menciut, khawatir setengah mati jika Mas Charis sempat mendengar seluruh percakapan mereka dari awal.
"Mampus kamu, Zan. Kalau Mas Charis dengar semuanya, habis kita," ancam Ares dengan nada tegang yang tertahan di tenggorokan.
Mata mereka semua kompak melirik sedikit ke arah lelaki tinggi tersebut melalui sudut mata, sebelum akhirnya buru-buru menunduk dalam-dalam dan mengalihkan pandangan ke tanah.
"Iya, nih, Zan. Kayaknya kali ini kamu nggak bakal selamat," Dafa menimpali, sengaja menakut-nakuti Zizan yang sudah mulai berkeringat dingin.
"Kalian bisa diam nggak, sih?! Ini semua gara-gara kelakuan kalian!" bisik Zizan lirih dengan suara bergetar. Ia membuang muka ke arah lain, berpura-pura sibuk melihat pemandangan di depannya agar tidak kelihatan mencurigakan.
Di sisi lain, Andi yang sejak awal pembahasan sama sekali tidak paham dengan maksud ejekan Ares dan Dafa, mendadak mengalami keajaiban. Otaknya yang tadinya lambat, tiba-tiba langsung terhubung dengan koneksi yang sangat kuat. Pikiran Andi mendadak jernih dan menyambung secara cepat.
Melihat situasi tersebut, Andi yang tadinya kebingungan kini mulai paham. Ia meneliti tatapan mata teman-temannya dan memperhatikan setiap langkah kaki Mas Charis yang semakin mendekat.
Tepat di sela-sela ketegangan yang memuncak, di saat Mas Charis sudah sangat dekat dengan posisi mereka, tiba-tiba tanpa aba-aba Andi berteriak.
"OH, AKU TAHUUUU!" teriak Andi dengan wajah tanpa dosa.
Sontak saja, Zizan, Dafa, dan Ares langsung menoleh ke arah Andi. Mata mereka melotot tajam, memberikan kode keras penuh penekanan agar Andi segera menutup mulutnya.
Akibat suara Andi yang begitu keras memecah keheningan, Mas Charis langsung menghentikan langkahnya dan menoleh tajam ke arah mereka.
"Andi!!!!" desis teman-temannya kompak dengan nada mengancam.
Andi langsung terlonjak kaget. Ia baru sadar kalau teman-temannya sudah sangat kompak memberikan isyarat agar dirinya diam.
"Haduh, diam nggak kamu, Ndi!" Dafa menyenggol lengan Andi dengan keras, mencoba menyadarkan temannya yang polos itu.
Saat Mas Charis memalingkan wajah dan menatap lurus ke arah mereka, keempat remaja itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka sama sekali tidak berani menoleh atau sekadar bertatapan mata dengan pria tersebut.
"Gara-gara Andi nih! Ah, kalau sampai kita disamperin gimana?" ancam Zizan yang sudah pasrah campur aduk antara kesal dan takut.
"Ya elah, aku kan tadi beneran nggak tahu!" jelas Andi membela diri, tidak mau disalahkan sepenuhnya atas kegaduhan yang ia buat.
Setelah melewati drama beberapa detik yang sangat menegangkan di antara mereka, ketakutan itu akhirnya mereda. Mas Charis tidak berbalik arah ia hanya terus berjalan melewati mereka hingga sosoknya menjauh.
Embusan napas lega pun serentak terdengar dari mulut keempatnya setelah situasi kembali aman.
***
Malam semakin larut. Zia sengaja menunggu Zizan di ujung jalan dekat masjid selepas salat Isya. Ia ingin mengabarkan bahwa agenda belajar malam ini terpaksa diliburkan karena ia ada urusan mendesak dengan Mbak Salsa.
Namun, hingga jamaah mulai bubar, bayang-bayang Zizan tak kunjung bersua.
Langkah kaki Zia mulai gelisah. Beruntung, dari bayangan lampu teras masjid, ia melihat Dafa yang berjalan keluar.
Zia bergegas memanggilnya dengan suara setengah berbisik sembari melambaikan tangan. "Daf, Dafa. Sini sebentar," panggil Zia lirih, khawatir memecah keheningan malam.
Dafa yang menyadari panggilan tersebut segera mengayunkan langkah mendekat. Ia berhenti dalam jarak aman, tetap menjaga adab dengan menundukkan pandangannya ke arah bawah.
"Ada apa, Zi?" tanya Dafa tenang.
"Tolong sampaikan kepada Zizan, ya. Malam ini belajarnya libur dulu. Aku ada urusan penting," ucap Zia, mencoba menyembunyikan kecamuk di dadanya.
Dafa mengangguk takzim. "Oh, baik. Nanti takzim aku sampaikan kepada Zizan."
"Terima kasih banyak, Daf."
"Sama-sama, Zi."
Setelah urusan itu selesai, keduanya berbalik arah menuju tujuan masing-masing.
Zia melangkah cepat menuju kamar.
Sesampainya di depan kamar, suasana tampak sibuk. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Sinta yang tengah menjinjing kantong sampah.
Sinta sontak menghentikan langkah. "Dari mana, Zi?
"Habis mencari Zizan di dekat masjid. Mau membatalkan belajar malam ini," jawab Zia sambil menghela napas pendek.
Sinta mengernyitkan dahi, didera rasa penasaran. "Oh, begitu. Mengapa mendadak dibatalkan, Zi? Ada kendala?"
"Aku ada urusan penting dengan Mbak Salsa malam ini."
Rona wajah Sinta seketika berubah. Kerutan di dahinya semakin dalam, menyiratkan kekhawatiran yang membuncah. "Hah? Ada urusan apa kamu dengan Mbak Salsa? Kok mendadak sekali?"
Zia sempat ragu, namun akhirnya ia memilih jujur pada sahabatnya. "Aku kurang tahu pasti. Katanya ada hal yang harus dibicarakan secara empat mata. Sepertinya... ini ada sangkut pautnya dengan Mas Charis."
Mendengar nama itu disebut, dada Sinta seolah mencelos. Ia tahu betul bagaimana rasa hancur yang sedang dihadapi sahabatnya.
"Kamu... benar-benar siap, Zi?" tanya Sinta dengan suara yang bergetar penuh keibaan.
Zia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya, lalu mengembuskannya perlahan. "Insyaallah, Sin. Bismillah. Aku sudah memantapkan mental sejak sore tadi. Aku tidak mau terus-menerus menerka dalam ketidakpastian. Daripada aku memelihara suuzon yang berlarut-larut, lebih baik aku mendengar langsung dari pihak yang bersangkutan. Biar semuanya jelas."
Sinta menyentuh pundak Zia, menyalurkan kekuatan penawar gundah. "Jika kamu merasa sanggup, tidak apa-apa. Aku akan selalu mendukung jalan apa pun yang kamu pilih, asalkan itu bisa membuat hatimu kembali damai dan tenang"
"Terima kasih banyak, Sin," bisik Zia haru.Kedua sahabat itu pun saling mendekap. Sebuah pelukan hangat yang menjadi saksi bisu atas rapuhnya hati yang sedang dipaksa kuat.
Namun, momen syahdu tersebut seketika terhenti. Salsa muncul dari sana dengan wajah datar tanpa ekspresi. Matanya langsung tertuju pada Zia. "Oh, Zia. Jadi jam berapa kita mengobrol?" tanya Salsa memecah keheningan.
Zia mengurai pelukannya dari Sinta, lalu menoleh. "Sekarang saja, Mbak. Di koridor lantai atas sepertinya sepi."
"Oh, ya sudah. Aku ambil jaket dulu di dalam," sahut Salsa pendek seraya melangkah masuk ke kamar.
Zia terpaku di tempatnya, menanti dengan dada yang kian berdegup kencang.
"Ayo, Zi," ajak Salsa yang kini sudah keluar kembali dengan jaket membalut tubuhnya.
Saat Zia hendak mengayunkan kaki mengikuti langkah Salsa, sebuah tarikan lembut di pergelangan tangannya membuat ia menoleh. Sinta menahan langkahnya sejenak. Sahabatnya itu tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya menatap Zia lekat-lekat, lalu mengedipkan mata perlahan sebuah isyarat lambang doa dan basmallah demi menenangkan sekeping hati yang sedang bertaruh dengan kenyataan.
Zia tersenyum getir. Ia membalas kedipan mata itu dengan anggukan samar, tanda bahwa ia menangkap seluruh kekhawatiran dan kasih sayang sang sahabat. Dengan keteguhan yang tersisa, Zia pun melangkah menuju koridor bersama Salsa.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca