Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Membuatku Takut Kehilangan

Naik tingkat dari kelas 7 menjadi kelas 8 seharusnya menjadi salah satu hal yang paling membanggakan bagiku. Aku berhasil melewati satu tahun sekolah dengan baik, bahkan mendapatkan juara tiga di kelas. Rasanya ada kebahagiaan kecil ketika mengingat hasil itu, karena aku tahu semua yang kudapatkan bukan hanya keberuntungan, melainkan hasil dari usaha yang selama ini kulakukan.

Namun, di balik kebanggaan itu, ada sesuatu yang membuat hatiku tidak benar-benar tenang. Aku masih harus melihat Mama yang semakin sering sakit-sakitan. Penyakitnya seperti tidak kunjung membaik, bahkan berbagai macam pengobatan sudah pernah dicoba. Obat dari rumah sakit, obat dari klinik, sampai obat gunung, semuanya sudah pernah Mama rasakan, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu membuatnya kembali seperti dulu. Mama tetap lebih banyak terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang semakin lemah.

Suatu hari, setelah pulang dari rumah sakit karena sebelumnya sempat dirawat, Mama kembali dibawa ke rumah. Kali ini Mama ditempatkan di kamar Kakak karena letaknya lebih dekat dengan WC sehingga akan lebih mudah baginya jika ingin ke sana. Kamar Mama sendiri cukup jauh dari WC, sementara kondisi tubuhnya sudah tidak sekuat sebelumnya. Sejak saat itu, kamar Kakak menjadi tempat Mama beristirahat selama sakit.

Tetapi hari itu terasa berbeda.

Mama tiba-tiba meminta kami untuk memindahkannya kembali ke kamar miliknya sendiri. Entah mengapa, permintaan sederhana itu justru membuat perasaanku tidak karuan. Belakangan ini Mama memang mulai sering mengatakan hal-hal yang membuatku takut, seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia rasakan tetapi tidak mampu kami mengerti.

“Nak, Mama mau pindah di kamar Mama. Tolong, ya. Bantuin Mama. Mama mau tidurnya di kamar Mama saja.”

Suara Mama terdengar sangat lembut dan pelan, seperti hampir tidak memiliki tenaga untuk berbicara. Aku hanya bisa memandang wajahnya yang semakin pucat. Mama juga sudah jarang makan. Kalau pun makan, biasanya hanya bubur, itu pun sering kali tidak dihabiskannya.

Aku dan saudara-saudaraku kemudian membantu memindahkan Mama ke kamarnya. Saat melihat tubuhnya yang begitu lemah, ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadaku. Aku ingin percaya bahwa Mama hanya sedang sakit dan suatu hari nanti akan kembali sehat seperti sebelumnya, tetapi keadaan yang kulihat di depan mata membuat keyakinan itu semakin sulit dipertahankan.

Malam itu menjadi salah satu malam yang sampai sekarang tidak pernah bisa kulupakan.

Kampung kami sedang mati lampu sehingga seluruh rumah menjadi gelap. Kami hanya mengandalkan cahaya lilin yang membuat bayangan benda-benda di dalam kamar terlihat samar. Suasana malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, terlebih karena Mama sedang terbaring lemah di tempat tidurnya.

“Hitas, tolong bawa lilin ke kamar Mama, ya. Sekalian temani Mama.”

Aku dan Kak Ucaluna segera menuju kamar Mama. Aku duduk di samping tempat tidurnya dan memperhatikan Mama yang sudah terlelap. Wajahnya terlihat begitu tenang ketika tidur, tetapi justru ketenangan itu membuat pikiranku semakin dipenuhi rasa takut. Aku tidak tahu mengapa malam itu perasaanku begitu berbeda, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menungguku.

Tidak lama kemudian, Kak Ucaluna masuk ke kamar Mama. Aku segera memberi kode dengan jari telunjuk di depan bibir.

“Ssssttt... Mama sedang tidur.”

Kak Ucaluna langsung mengangguk dan berjalan perlahan agar langkahnya tidak membuat Mama terbangun. Kami kemudian duduk sambil berbincang pelan di dekat tempat tidur Mama, sesekali melihat ke arah beliau untuk memastikan tidurnya tetap tenang.

Beberapa menit berlalu, tetapi listrik belum juga menyala.

“Aduh, lampunya lama sekali nyalanya. Lilinnya mau habis lagi,” ucapku sambil melihat nyala api yang semakin kecil.

“Iya. Kenapa, ya? Mungkin ada gangguan sama listriknya,” jawab Kak Ucaluna.

“Mungkin.”

Kami kembali berbincang sambil menunggu listrik menyala. Cahaya lilin yang semakin redup membuat kamar terasa semakin sunyi. Aku beberapa kali memandang Mama yang masih terbaring, kemudian kembali melihat lilin yang hampir habis. Entah mengapa, malam itu aku tidak ingin meninggalkan Mama sedikit pun.

Tiba-tiba Mama bergerak dan membuka matanya.

Aku dan Kak Ucaluna langsung menghentikan pembicaraan. Kami segera menghampiri tempat tidurnya.

“Iya, Ma?”

Mama memandang kami berdua. Wajahnya terlihat lemah, tetapi tatapannya membuatku diam menunggu apa yang ingin dikatakannya.

“Nak...” suara Mama terdengar sangat pelan. “Kalau Mama sudah tidak ada, jaga Bapak, ya.”

Aku langsung terdiam.

Seolah-olah ada sesuatu yang menghantam dadaku begitu mendengar kalimat itu. Aku menatap Mama dengan mata yang mulai terasa panas, sementara Kak Ucaluna juga tidak mampu berkata apa-apa.

“Mama jangan bicara begitu,” ucapku akhirnya, berusaha menahan suara yang mulai bergetar. “Mama pasti sembuh. Mama tidak mungkin pergi. Mama jangan bicara begitu, Mama pasti sehat.”

Aku ingin sekali percaya dengan perkataanku sendiri. Aku ingin meyakinkan Mama bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi jauh di dalam hati, ada ketakutan yang tidak bisa lagi kusembunyikan. Aku pernah kehilangan Bapak, dan aku tahu bagaimana rasanya ketika seseorang yang kita sayangi tiba-tiba tidak lagi berada di rumah.

Malam itu, ketakutan yang sama kembali muncul di dalam pikiranku.

Mataku semakin panas dan aku sudah tidak sanggup menahannya. Aku menunduk agar Mama tidak melihat air mata yang mulai menggenang, sementara Kak Ucaluna hanya terdiam di sampingku. Kami sama-sama seperti kehilangan kata-kata.

Aku ingin mengatakan banyak hal kepada Mama. Aku ingin memintanya untuk tidak berpikir tentang kepergian, ingin mengatakan bahwa aku masih membutuhkan beliau, dan ingin meyakinkannya bahwa aku belum siap untuk kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya dalam hidupku.

Namun, semua kata itu hanya berhenti di dalam hati.

Malam itu, di bawah cahaya lilin yang perlahan semakin redup, untuk pertama kalinya aku benar-benar takut bahwa seseorang yang selama ini menjadi tempatku pulang mungkin saja akan pergi meninggalkanku.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!