Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Ke London
Menjelang siang di Manhattan, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan.
Setelah beberapa hari terakhir berjalan cukup tenang, hari itu Williams memanggil para kepala divisi dan beberapa karyawan terbaik ke ruang rapat utama.
Williams duduk di ujung meja.
Sebagai salah satu pimpinan perusahaan, pria itu dikenal tegas dan tidak suka membuang waktu.
Roman duduk beberapa kursi dari Ella.
Keduanya sama-sama membuka berkas yang telah diberikan.
Williams menyalakan layar di belakangnya.
"Kita mendapatkan permintaan dari cabang perusahaan di London."
Beberapa orang mulai memperhatikan.
"Mereka sedang mempersiapkan proyek baru dan membutuhkan dua orang dari New York untuk membantu melakukan evaluasi sekaligus memastikan sistem operasional berjalan sesuai standar."
Williams berhenti sejenak.
"Durasi tugas satu minggu."
Salah seorang kepala divisi mengangguk.
"Siapa kandidatnya, bos?"
Williams membuka sebuah berkas.
"Kita sudah melakukan penilaian."
Tatapannya beralih kepada dua orang di meja.
"Emma Taylor."
Ella mengangkat wajah.
"Dan Roman."
Roman hanya mengangkat alis.
Beberapa orang langsung saling melirik.
Keputusan itu sebenarnya tidak mengejutkan.
Keduanya memang termasuk karyawan paling kompeten di perusahaan.
Namun yang membuat beberapa orang sedikit terkejut adalah...
Mereka akan dikirim bersama.
Williams menyandarkan tubuhnya.
"Kalian berdua memiliki kemampuan yang saya butuhkan untuk tugas ini."
Roman mengangguk.
"Saya siap."
Ella juga menjawab tenang.
"Baik."
Williams memperhatikan keduanya beberapa detik.
"Dulu saya tidak akan pernah memasukkan kalian dalam satu tim."
Beberapa orang menahan senyum.
Ella menoleh kepada Roman.
Roman juga meliriknya.
Mereka sama-sama tahu maksud Williams.
Selama bertahun-tahun, hubungan mereka di kantor seperti perang tanpa akhir.
Saling menantang.
Saling mengoreksi.
Bahkan sesekali saling menjatuhkan dalam persaingan pekerjaan.
Namun beberapa minggu terakhir semuanya berubah.
Mereka sudah beberapa kali makan siang bersama.
Bekerja dalam satu ruangan tanpa bertengkar.
Bahkan sekarang bisa berbicara seperti dua orang normal.
Williams mengangkat sebelah alis.
"Tapi kalian tampaknya sudah berhenti mencoba membunuh satu sama lain."
Beberapa orang di ruangan itu tertawa kecil.
Roman hanya menghela napas.
"Kami sudah dewasa, Paman."
Williams menatap keponakannya.
"Syukurlah."
Ella menahan senyum.
Williams kemudian kembali serius.
"Pesawat kalian lusa pagi."
Ella sedikit terkejut.
"Lusa?"
"Ya."
"Kalian akan berada di London selama satu minggu."
Williams menutup berkas.
"Saya ingin laporan pertama masuk dua puluh empat jam setelah kalian tiba."
"Dan jangan menganggap ini perjalanan bisnis biasa."
"Kalian membawa nama perusahaan."
Roman mengangguk.
"Dimengerti."
Ella juga mengangguk.
"Baik."
Rapat pun berakhir.
Ella keluar dari ruang rapat sambil membawa berkas.
Roman menyusul beberapa langkah di belakangnya.
"Jadi..."
Ella menoleh.
"Kita ke London."
"Iya."
Roman memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Sepertinya kita akan menghabiskan banyak waktu bersama."
Ella tersenyum kecil.
"Jangan khawatir."
"Aku tidak akan mengganggumu."
Roman menatapnya.
"Justru itu yang membuatku khawatir."
Ella mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Dulu kau selalu menggangguku."
"Aku?"
Roman mengangguk.
"Setiap hari."
Ella tertawa kecil.
"Sebaiknya tidak usah membahas yang sudah berlalu."
"Karena sekarang kau sudah berubah."
Ella terdiam sebentar.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa...
Tatapan Roman membuat dadanya kembali terasa aneh.
Ia segera mengalihkan pandangan.
"Mungkin kau juga berubah."
Roman tersenyum tipis.
"Mungkin."
Mereka kembali berjalan berdampingan.
Beberapa karyawan yang melihat mereka langsung saling berbisik.
"Serius mereka akan pergi bersama?"
"Sepertinya."
"Padahal dulu kalau satu ruangan saja sudah seperti perang."
"Dan sekarang lihat."
Seorang karyawan lain terkekeh.
"Mereka bahkan bisa berjalan berdampingan tanpa bertengkar."
Ella mendengar bisikan itu.
Ia hanya menghela napas.
Memang benar.
Hubungannya dengan Roman sudah jauh berbeda.
Namun ia sendiri belum tahu mengapa.
Setiap kali Roman berada terlalu dekat...
Ada sesuatu yang terasa menggelitik di dalam dadanya.
Terutama sejak kejadian di kantin beberapa waktu lalu.
Ketika lantai licin membuatnya hampir jatuh dan Roman menangkapnya.
Pelukan singkat itu seharusnya sudah dilupakan.
Namun ternyata tidak.
Ella masih mengingat bagaimana jantungnya berdetak begitu keras saat berada dalam pelukan pria itu.
Dan sekarang...
Mereka akan pergi ke London bersama selama satu minggu.
Ella menelan ludah pelan.
Ia belum pernah jatuh cinta.
Bahkan tidak pernah benar-benar memikirkan hubungan romantis.
Karena itu, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya.
Sementara Roman berjalan di sampingnya dengan ekspresi tenang.
Namun sesekali...
Tatapannya jatuh kepada Ella.
Ia pun merasakan sesuatu yang sama.
Dan perjalanan ke London yang awalnya hanya sebuah tugas perusahaan...
perlahan mulai terasa seperti sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi hati mereka berdua.
Setelah pembicaraan singkat itu Ella kembali ke tempat duduknya.
Ia meletakkan berkas di atas meja dan menarik kursinya.
Roman juga kembali ke mejanya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya.
Suasana kantor kembali seperti biasa.
Para karyawan mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Namun Ella masih memikirkan pengumuman Williams tadi.
Lusa.
London.
Satu minggu.
Ia menghela napas pelan.
Kemudian mengambil ponselnya.
Ada satu orang yang harus segera diberitahunya.
Ella membuka percakapan dengan Emma.
Jarinya mulai mengetik.
"Aku baru selesai rapat dengan Williams."
Ia berhenti sebentar.
Kemudian melanjutkan.
"Aku dan Roman terpilih ditugaskan ke London lusa. Kami akan berada di sana selama satu minggu untuk pekerjaan perusahaan."
Ella mengirimkannya.
Tidak sampai satu menit...
Pesan terbaca.
Namun belum ada balasan.
Ella melirik jam di sudut layar komputernya.
Ia tahu sekarang London sudah memasuki sore.
Emma mungkin masih sibuk.
Ia kembali menatap layar ponselnya.
Tak lama kemudian, balasan muncul.
"London?"
Ella tersenyum kecil.
"Iya."
"Kau dan pria menyebalkan itu pergi bersama?
"Ya. Ini murni pekerjaan."
Balasan Emma tidak langsung muncul.
Ella dapat membayangkan ekspresi saudari kembarnya.
Mungkin sedang menyipitkan mata seperti biasanya.
Kemudian ponselnya bergetar.
"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Entah apa pikiran Williams memasangkan kami ke luar negeri bersama."
Ella tertawa kecil.
"Kau pasti marah bukan?"
"Tidak."
"Aku yakin kau pasti marah."
Ella baru hendak mengetik lagi ketika ponselnya kembali bergetar.
"Tapi ada masalah."
Ella mengerutkan kening.
"Apa?"
Beberapa detik kemudian..
"Kau akan berada di London."
"Ya."
"Dan aku juga. Yang artinya kita dalam bahaya besar jika semua jadi berantakan."
Ella langsung terdiam.
Ia baru menyadari betapa besar kemungkinan mereka bertemu secara tidak sengaja.
Bukan hanya karena London adalah kota yang luas.
Melainkan karena Ella akan bekerja di cabang perusahaan yang mungkin saja memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan Ralph.
Dan selama satu minggu...
Ia akan berada sangat dekat dengan kehidupan yang sekarang dijalani Emma sebagai dirinya.
"Astaga..."
"Itu sebabnya kita harus lebih berhati-hati."
"Kau benar."
"Kita tidak boleh membuat kesalahan."
Ella menatap pesan itu.
Kemudian mengetik perlahan.
"Aku punya firasat perjalanan ini akan membawa banyak masalah."
Emma membalas cepat.
"Kau terlalu banyak berpikir yang penting harus hati-hati."
"Semoga semua terkendali."
Ella memasukkan ponselnya kembali ke meja.
Namun senyum kecil masih tersisa di wajahnya.
Ia tidak tahu...
Perjalanan itu bukan sekadar membuat mereka berada di kota yang sama.
Perjalanan itu berpotensi membuat dua kehidupan yang selama ini mereka pisahkan mulai saling bertabrakan.
Sementara itu, di London...
Emma masih berada di ruang CEO Alexander Corporation.
Ia baru saja memasukkan kembali hadiah Lord Ashcroft ke dalam tas setelah Ralph membukanya dan melihat jam tangan yang diberikan ayah tirinya.
Namun suasana di antara mereka masih terasa berbeda.
Terutama setelah godaan Ralph beberapa menit sebelumnya.
Emma berdiri.
"Aku pulang."
Ralph yang berada di belakang meja mengangkat wajah.
"Kenapa terburu-buru?"
"Iya karna tugasku sudah selesai disini."
Emma mengambil tasnya.
"Aku masih punya urusan."
Ralph menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Atau kau ingin menghindariku?"
Emma langsung menatapnya.
"Aku tidak menghindar."
"Benarkah?"
"Benar."
Ralph tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kenapa wajahmu masih merah?"
Emma refleks menyentuh pipinya.
Ia langsung menyadari kesalahannya.
Ralph terkekeh pelan.
"Kau masih mudah sekali dipancing."
Emma menatapnya tajam.
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Aku tahu."
Emma berbalik menuju pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Ralph kembali terdengar.
"Ella."
Emma berhenti.
"Apa?"
"Jangan terlalu sering cemburu."
Emma menutup matanya sesaat.
"Siapa yang cemburu?"
Ralph hanya tersenyum.
"Baiklah kalau kau bilang begitu."
Emma mendengus.
Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh lagi.
Namun begitu pintu tertutup...
Ia baru menyadari ponselnya bergetar di dalam tas.
Pesan dari Ella.
Emma berhenti di lorong dan membukanya.
Ia membaca kembali percakapan mereka.
Lusa.
Ella akan datang ke London.
Selama satu minggu.
Emma menatap layar cukup lama.
Kemudian matanya perlahan membesar.
"Ini akan jadi masalah..."
Ia tahu kehidupan mereka selama ini selalu membutuhkan kehati-hatian.
Namun kali ini berbeda.
Mereka akan berada di kota yang sama.
Dan lebih buruk lagi...
Emma sekarang semakin dekat dengan Ralph.
Sedangkan Ella akan datang bersama Roman.
Dua kehidupan yang seharusnya tetap terpisah memainkan peran...
sebentar lagi akan berada di tempat yang sama.