Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Bulan Untuk Bertahan
Pintu kayu kamar Lily tak berdaya menahan amarah yang meletup-letup. Ketukan keras Owen bertubi-tubi membuat ketegangan di dalam ruang berukuran empat kali empat meter itu makin mencekik.
"APA-APAAN INI?!"
Suara tegas Owen menembus pintu, sarat akan rasa curiga dan kemarahan yang tertahan. Sebelum sempat Rafa atau Lily bergerak untuk memutar kunci, gagang pintu mendadak diputar dari luar.
"Ada apa ini? Kok ramai-ramai begini sampai terdengar ke kamar papi?"
Suara Jaya memecah ketegangan. Pria paruh baya itu langsung menerobos masuk begitu menyadari pintu ternyata tak terkunci sepenuhnya, disusul Owen yang melangkah lebar di belakangnya dengan raut wajah kaku.
Rafa refleks memblokir pemandangan ke arah Lily yang masih terisak di atas kasur. Sorot matanya panik, mendadak beradu pandang dengan Wafa yang berdiri tak jauh dari sudut meja.
Melalui Isyarat mata dan napas yang tertahan, Wafa menggeleng pelan sebuah permohonan agar rahasianya tidak dibongkar.
"Nggak ada apa-apa kok, Pih," bohong Rafa dengan nada suara yang sengaja dibuat sesantai mungkin, meski getaran di ujung kalimatnya tak bisa ia sembunyikan.
"Kakak nggak percaya!" potong Owen cepat, menatap Rafa dan Wafa bergantian dengan tatapan menelisik yang tajam.
"Ell tadi bilang di bawah kalau Wafa ngomong mau pergi jauh. Sekarang Lily nangis histeris kayak gini. Sebenarnya ada apa? Wafa... kamu sakit?"
Atmosfer kamar mendadak membeku. Jaya yang menyadari kejanggalan itu beralih menatap putri satu-satunya. Ia berjalan mendekat, berlutut di samping kasur Lily, mengabaikan Rafa yang masih mencoba menghalangi.
"Lily... coba cerita sama Papi, Sayang. Apa yang sebenarnya terjadi? Wafa sakit?" tanya Jaya. Suaranya melembut, namun ada nada desakan yang sarat akan kekhawatiran seorang ayah.
Jaya tahu, di antara anak-anaknya, Lily adalah satu-satunya harapan untuk menyuarakan kejujuran.
Lily menengadah, matanya yang sembap dan memerah menatap wajah Papinya yang dipenuhi garis kelelahan. Bibirnya gemetar, hendak menyuarakan kebenaran yang membebani dadanya. "Jadi... sebenarnya Wafa sa—"
"Ini pada kenapa sih?!" potong Wafa dengan suara meninggi, memangkas ucapan Lily secara kasar. Laki-laki itu melangkah ke tengah ruangan, menyunggingkan senyum remeh seraya merentangkan kedua tangannya.
"Lihat gue! Gue baik-baik aja, kan? Enggak ada yang perlu dikhawatirin. Lily tuh cuma cengeng aja gara-gara gue ledekin!"
"Wafa, kamu diam!" bentak Jaya tegas, memberi gestur agar anak laki-lakinya itu menahan diri. "Papi lagi bicara sama kakak kamu. Ayo, Ly, ceritain ke Papi."
Lily menatap Wafa yang membatu, lalu menatap Papi dan Owen yang menanti jawaban. Ia tak sanggup lagi menyimpan beban ini sendirian. Namun sebelum Lily sempat bersuara, Rafa yang tak sanggup lagi melihat kebohongan itu akhirnya mengambil alih.
"Sebenarnya Wafa sakit, Pih," potong Rafa parau. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, meruntuhkan seketika seluruh benteng pertahanan yang dibangun Wafa.
Owen tersentak, sementara Jaya terpaku di tempatnya. "Sakit... apa?" bisik Jaya, suaranya mendadak terdengar begitu rapuh.
"Wafa sakit bronkitis kronis, Pih... Kondisinya udah parah," lanjut Rafa, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menetes menelusuri pipinya. "Kata dokter tadi siang... Wafa cuma punya waktu sekitar satu bulan lagi."
"Papi... Papi harus cari pengobatan terbaik buat Wafa!" jerit Lily histeris. Ia melompat dari kasur dan langsung menggenggam erat jemari Papinya yang mendadak dingin.
"Kata dokter di rumah sakit tadi, masih ada jalan buat sembuh kalau dibawa ke Singapura, Pih! Papi punya uang kan? Kita bawa Wafa ke Singapura ya, Pih... Please..."
"Hah..." Owen menganga. Tubuhnya mundur satu langkah seolah baru saja dihantam hantaman tak terlihat. "Satu bulan...? Singapura...?"
Owen mengacak-acak rambutnya sendiri secara frustrasi, menggeram dalam keputusasaan yang meluap.
"Kenapa... KENAPA KALIAN SEMBUNYIKAN HAL SEBESAR INI DARI KAKAK SAMA PAPI?!" teriak Owen meluapkan amarahnya yang bercampur aduk dengan rasa bersalah dan ketakutan yang membakar.
"Awalnya kita mau langsung bilang ke Papi sama kamu Bang," jawab Rafa membela diri dengan suara gemetar. "Tapi Wafa yang ngelarang! Kita juga baru tahu tadi"
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Jaya merogoh saku celananya dengan jemari yang gemetar hebat. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi relasi medis dan kenalan dokternya untuk mencari penanganan tercepat malam ini juga.
Namun, sebelum jemari Jaya sempat menekan tombol panggil, sebuah tangan berukuran lebih kecil mendadak menggenggam pergelangan tangannya, menahannya dengan sisa tenaga yang ada.
Itu Wafa.
"Wafa nggak pengin berobat, Pih," ujar Wafa datar. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya ada kepasrahan yang teramat dingin.
"Kamu nggak pengin sembuh, Waf?!" bentak Owen emosi, melangkah maju mendekati adiknya. "Kamu pikir hidup kamu itu mainan?!"
Wafa menatap abang tertuanya itu tanpa berkedip. "Wafa mau sembuh, Bang... Wafa mau banget!" teriak Wafa, suaranya akhirnya pecah meluapkan seluruh kekesalan yang mengendap di dadanya selama ini.
"Tapi Wafa capek! Setiap hari Wafa harus minum obat yang jumlahnya nggak manusiawi! Dada Wafa sakit tiap malam, Kalau Wafa pergi ikut Mami... Wafa nggak bakal ngerasain sakit yang nyiksa ini lagi!"
"Jangan ngomong gitu, Wafa!!" Jaya mencengkeram kedua pundak putra ketiganya itu, menyatukan kening mereka.
Air mata pria tua itu akhirnya meluncur deras. "Jangan pernah ngomong mau ikut Mami! Papi bakal cari rumah sakit terbaik di mana pun itu. Singapura, Jepang, Amerika... kita berangkat. Papi bakal usahain semuanya buat kamu!"
"Wafa nggak mau, Pih!" Wafa menepis cengkeraman Jaya, matanya memerah menahan keperihan. "Wafa cuma mau di rumah sama kalian... Jalanin sisa hari-hari Wafa kayak orang biasa tanpa harus dirawat di rumah sakit!"
"Kalau kamu mau sama kita terus, kamu HARUS berobat, Waf! Kamu harus sembuh!" tegas Owen seraya memegang lengan adiknya, mencoba meyakinkan dengan segala daya.
"Wafa bilang enggak ya enggak! Wafa cuma mau di rumah!" kesal Wafa seraya melepaskan diri dari jangkauan mereka. Tanpa memedulikan tatapan hancur seisi ruangan, laki-laki itu berbalik dan melangkah keluar dari kamar Lily.
Namun di ambang pintu, Wafa menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menoleh ke belakang, ia bergumam dingin, "Oh iya... jangan sampai Ell tahu soal ini. Kalau kalian sampai kasih tahu Ell... gue bakal beneran pergi saat ini juga."
Setelah melemparkan ancaman terakhirnya, Wafa melanjutkan langkahnya yang terseret menuju kamarnya sendiri di ujung lorong.
Klek...
Wafa menutup pintu kamarnya rapat-rapat, memutar kunci dua kali. Begitu tubrukannya menyentuh daun pintu, pertahanannya runtuh seketika. Kedua tangannya meremas dada kirinya yang mendadak mencengkeram hebat. Rasa sakit yang familiar itu datang lagi—bagaikan ditusuk ribuan jarum tajam yang membakar paru-parunya.
"Argh... kenapa harus sakit sekarang sih!" kesal Wafa merintih seraya tersungkur berlutut di atas karpet.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak menuju meja belajarnya. Jemarinya yang gemetar membuka laci paling bawah. Di dalam sana, tergeletak puluhan botol obat dan strip pil yang tak pernah lagi ia sentuh selama hampir satu tahun terakhir—sejak ia merasa frustrasi karena tak ada satu pun dari racikan kimia itu yang mampu menyembuhkannya.
Di antara tumpukan obat bronkitis dan antibiotik tebal, pandangan Wafa tertuju pada sebuah botol kecil berlabel putih. Obat tidur dose tinggi yang dulu pernah diresepkan untuk membantu meredakan penyesatan napasnya di malam hari.
Tangan Wafa meraih botol tersebut, membukanya dengan terburu-buru.
"Kemarin gue minum tiga pil tapi tetap nggak ngaruh... dada gue tetap sakit," gumam Wafa lirih pada keheningan kamar.
"Sekarang gue coba minum empat deh."
Tanpa menggunakan air, Wafa memasukkan empat butir pil sekaligus ke dalam tenggorokannya, menelannya dengan paksa hingga kerongkongannya terasa pahit dan menyiksa.
Setelah melempar botol itu kembali ke dalam laci dan menutupnya rapat, Wafa menggeret tubuhnya yang kian berat menuju atas tempat tidur. Ia merebahkan dirinya telentang, memandangi langit-langit kamar yang temaram.
Perlahan, kelopak matanya mulai berat akibat reaksi kimia yang merayapi aliran darahnya.
"Tunggu Wafa ya, Mih..." bisik Wafa, suaranya kian menghilang ditelan kantuk yang membius. "Wafa udah capek... Wafa udah berusaha buat sembuh. Selama satu tahun awal Wafa terus rajin minum obat, tapi hasilnya tetap nihil... Kondisi Wafa malah makin memburuk. Wafa cuma mau istirahat..."
Klek...
Gagang pintu bergerak. Seseorang di luar menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Wafa.
Wafa yang belum sepenuhnya kehilangan kesadaran langsung memejamkan matanya rapat-rapat, berpura-pura telah tertidur pulas.
Langkah kaki halus melangkah mendekat. Sosok itu adalah Lily. Dengan mata yang masih bengkak dan napas yang sesekali terisak, Lily melangkah pelan agar tak menimbulkan suara. Ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Wafa, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengelus rambut adiknya dengan penuh kehangatan.
Tak lama kemudian, sebuah bayangan tinggi menyusul di ambang pintu. Rafa berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dengan raut wajah hampa.
"Wafa keras kepala banget ya, Ly..." ujar Rafa pelan dari ambang pintu, menatap tubuh adiknya yang terbaring kaku.
Lily menoleh ke arah Rafa, lalu mengangguk pelan setuju. Pandangannya beralih kembali pada wajah tenang Wafa yang terpejam. Jemarinya dengan lembut merapikan poni yang menutupi dahi adiknya.
"Bertahan lebih lama ya, Waf..." bulir air mata Lily kembali menetes, jatuh tepat di sudut pipi Wafa.
Di balik pejaman matanya, dada Wafa terasa sesak luar biasa—bukan lagi karena penyakitnya, melainkan karena keperihan dari ucapan kakaknya.
'Gue pengin, Ly... Gue pengin bisa sama kalian terus. Tapi Mami udah nunggu Wafa... Jaga diri Lo baik-baik ya,' batin Wafa menjerit dalam diam. Tanpa bisa ditahan, sebaris air mata menetas dari sudut matanya yang terpejam, membasahi bantal di bawah kepalanya.
Lily yang melihat lelehan air mata itu mengira adiknya sedang bermimpi buruk. Ia makin intens mengusap kepala Wafa, menyalurkan kasih sayang yang tersisa. "Mami di sana pasti juga kesepian, Waf... Tapi Mami juga pasti nggak mau kamu menyerah sama keadaan kayak gini."
Rafa menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri di depan dada. rasa bersalah dan kesedihan seolah menghimpit dadanya hingga rata.
"Udah, ayo keluar, Ly. Biar Wafa istirahat dulu. Kasihan dia capek," ajak Rafa lembut.
Lily mengusap pipi Wafa untuk terakhir kalinya, mencium dahi adiknya pelan, lalu bangkit berdiri.
"Tidur yang nyenyak ya, Adik Kecil..." bisiknya sebelum melangkah keluar mengikuti Rafa dan mengunci pintu dari luar.
Sementara perdebatan berat berlangsung di lantai atas, suasana di ruang tengah lantai bawah terasa sangat kontras. Owen dan Jaya telah turun beberapa saat lalu. Meski riak kepanikan dan keputusasaan masih membakar benak mereka, keduanya harus memaksakan diri memasang topeng ketenangan di hadapan si bungsu.
Owen mendudukkan dirinya di atas karpet, persis di sebelah Ell yang masih sibuk menyusun balok-balok Lego menjadi sebuah benteng yang megah. Di sofa belakang mereka, Jaya terduduk membisu, memegangi kepalanya dengan kedua tangan seraya menatap kosong ke arah lantai.
Ell yang menyadari kehadiran abang tertuanya mendongak polos. "Kalian kenapa sih? Kok mukanya pada lipat gitu?" tanya Ell dengan jemari yang masih memegang balok Lego warna merah.
Owen memaksa bibirnya membentuk senyuman tipis, walau matanya yang memerah tak sanggup menyembunyikan duka. Ia mengulurkan tangan, mengelus pelan kepala adik bontotnya itu.
"Nggak apa-apa kok, Ell. Kak Owen cuma... rada capek aja habis kuliah seharian," jawab Owen berbohong, menelan bulat-bulat kebenaran pahit yang hampir saja meledak di dada.
Ell memiringkan kepalanya, menatap Owen penuh selidik. "Beneran? Tapi kok Papi dari tadi diam aja? Terus Kak Lily tadi nangis kenapa? Bang Wafa beneran mau pergi jauh?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari anak sepuluh tahun itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Owen. Owen menghela napas berat, mencoba menata suaranya agar tidak bergetar.
"Bang Wafa cuma asal ngomong tadi, Ell. Dia enggak bakal ke mana-mana kok. Dia tetap di rumah sama kita," dusta Owen, hatinya menjerit menolak fakta bahwa adiknya mungkin hanya punya waktu tiga puluh hari lagi di dunia ini.
"Bang Wafa cuma mau fokus belajar buat naik kelas, makanya dia bilang mau 'pergi jauh' dari mainan-mainan kayak gini."
Ell mengutak-atik Legonya lagi, tampaknya menerima penjelasan itu meski masih ada keraguan di wajah kecilnya.
"Oh... gitu. Ell kira Bang Wafa mau pindah sekolah kayak Kino. Ya udah deh, tapi Bang Wafa janji kan mau ngajarin Ell main game lagi?"
"Iya... janji kok," bisik Owen parau, tak sanggup lagi menatap mata jernih adiknya. Ia berbalik melirik Papinya yang masih membisu di sofa.
Jaya mengangguk pelan ke arah Owen—sebuah gestur tanpa suara yang mengisyaratkan bahwa mereka harus segera menyusun rencana pengobatan Wafa secara diam-diam tanpa sepengetahuan anak itu maupun Ell.
Di koridor lantai dua, suasana hening malam terasa kian menekan. Lily berjalan mendahului Rafa menuju kamarnya sendiri. Langkah kakinya gontai, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis oleh derai air mata sejak sore tadi.
Saat Lily baru saja hendak memutar gagang pintu kamarnya, Rafa menahan pergelangan tangannya.
"Ly... tunggu bentar," panggil Rafa pelan.
Lily tidak membalikkan badan, namun ia menghentikan gerakannya. "Apa lagi, Bang? Lily capek... mau tidur."
Rafa melepaskan genggamannya perlahan, lalu melangkah memutar hingga ia berdiri tepat di hadapan adik perempuannya. Rafa menunduk, menatap wajah Lily yang pucat dengan sudut mata yang membengkak hebat. Rasa bersalah yang tertimbun sejak beberapa hari lalu mendadak membumbung tinggi, menindih kepahitannya soal kondisi Wafa.
"Abang... mau minta maaf," tutur Rafa, suaranya terdengar begitu tulus dan sarat akan penyesalan.
Lily mengerutkan alisnya bingung, menyapu sisa air mata di pipinya. "Minta maaf buat apa? Soal Wafa? Kan Abang juga baru tahu kemarin..."
"Bukan... bukan cuma soal Wafa," potong Rafa cepat. Ia mengusap tengkuknya dengan raut wajah serba salah. "Abang mau minta maaf soal kejadian kemarin... Soal Abang yang bentak kamu, yang tuduh Julian bukan anak baik-baik, dan soal Abang yang emosi sampai bikin hubungan kita canggung."
Lily membeku. Ia tidak menyangka Rafa akan mengangkat topik itu di tengah situasi rumah yang sedang hancur lebur seperti ini.
Rafa menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Lily. "Waktu itu Abang cuma... Abang cuma terlalu protektif sama kamu, Ly. Abang dengar cerita-cerita enggak jelas dari luar soal Julian, dan Abang langsung kemakan emosi tanpa dengar penjelasan kamu dulu. Abang salah udah main hakim sendiri dan ngomong kasar soal cowok yang kamu suka."
Lily menatap abangnya tanpa bersuara. Kemarahan dan kekesalan yang sempat mengendap di dadanya akibat perselisihan mereka kemarin mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang haru.
"Abang sadar, Abang bukan abang yang sempurna buat kamu," lanjut Rafa dengan bibir gemetar. "Apalagi dengan kondisi Wafa yang kayak gini... Abang makin sadar kalau Abang harusnya lebih bisa jaga kalian, bukan malah nambahin beban pikiran kamu dengan ego Abang sendiri. Maafin Abang ya, Dek?"
Airmata yang baru saja mengering di pipi Lily kembali meluncur pelan. Namun kali ini, bukan air mata keputusasaan, melainkan kelonggaran di dalam dadanya. Lily melangkah maju satu langkah, merentangkan kedua tangannya dan memeluk pinggang Rafa erat-erat.
"Lily udah maafin Abang dari kemarin-kemarin kok..." bisik Lily di dada Rafa. "Lily cuma kaget aja Abang bisa seemosi itu. Tapi Lily tahu... Abang cuma mau ngelindungin Lily. Lily juga minta maaf ya bang."
Rafa membalas pelukan itu dengan erat, mengusap-usap rambut adik perempuannya dengan penuh kasih sayang seorang kakak. Ia mengecup puncak kepala Lily lama.
"Makasih ya, Dek..." bisik Rafa parau. "Soal Julian... Abang percaya sama pilihan kamu. Nanti kalau ada waktu, ajak dia makan di rumah. Abang mau minta maaf langsung juga sama dia."
Lily mendongak dari dada Rafa, mengulas senyum tipis di tengah wajahnya yang sembap. "Beneran?"
"Iya, beneran," janji Rafa tersenyum tulus, meski ada pendar duka yang tak bisa hilang dari matanya. "Sekarang kamu masuk kamar, cuci muka, terus tidur ya. Jangan dipikirin terus soal Wafa... Kita semua bakal usahain yang terbaik buat dia. Abang, Bang Owen, sama Papi enggak bakal tinggal diam gitu aja."
Lily mengangguk manut. "Abang juga istirahat ya."
"Iya."
Setelah memastikan Lily masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, Rafa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Senyum yang tadi ia paksakan seketika sirna. Ia berbalik menatap pintu kamar Wafa yang tertutup rapat di ujung lorong.
Di dalam sana, seorang adik sedang tertidur pulas akibat pengaruh obat, mengarungi malam dalam bayang-bayang batas waktu yang kian menipis. Sementara di luar, sebuah keluarga sedang bersiap bertaruh dengan takdir, berjuang melawan waktu demi menggenggam kembali harapan yang tersisa.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat