Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 27 Menginap Dirumah Utama

Adrian masih menatap Arunika dengan tatapan yang membuat perempuan itu tiba-tiba kehilangan keberanian untuk membalas. Arunika mengalihkan pandangan lebih dulu.

"Jangan lihat aku seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seperti..." Arunika terdiam mencari kata yang tepat.

"Seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat luar biasa."

"Memang luar biasa."

Arunika langsung menoleh.

"Adrian."

"Aku baru resmi punya pacar."

"Kamu menyebalkan."

Adrian tertawa kecil Arunika hendak menarik tangannya, tetapi pria itu justru menggenggamnya lebih erat.

"Sudah malam."

"Aku tahu."

"Kamu menginap."

Arunika membeku.

"Apa?"

"Kamu menginap malam ini."

Arunika menatap Adrian seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

"Di sini?"

"Iya."

"Rumah ini?"

Adrian mengangkat alis.

"Memangnya mau di rumah mana ?"

"Adrian!"

Pria itu kembali tertawa kecil Arunika melirik ke arah rumah besar di belakang mereka. Tiba-tiba rasa gugup yang tadi sudah hilang kembali muncul.

"Tapi aku tidak membawa baju."

"Sudah disiapkan."

Arunika langsung menoleh.

"Siapa yang menyiapkan?"

"Ibu."

"Kenapa ibumu menyiapkan baju?"

Adrian terdiam sesaat.

"Mungkin karena ibu lebih cepat memahami keadaan daripada kamu."

Arunika menyipitkan mata.

"Keadaan apa?"

Adrian tidak menjawab.

"Adrian."

"Hm?"

"Kamu sudah merencanakan aku menginap?"

"Tidak."

"Terus?"

"Ibu."

Arunika langsung memejamkan mata.

"Ya Tuhan..."

Seolah sengaja menunggu saat yang tepat, suara ibunya Adrian terdengar dari arah pintu teras.

"Kalian masih di sana?"

Arunika spontan melepaskan tangannya dari Adrian Wanita itu tersenyum melihat mereka.

"Arunika, kamar tamu sudah disiapkan. Kamu bisa menginap malam ini."

Arunika langsung membungkuk kecil.

"Terima kasih, Tante, tapi sebenarnya saya bisa pulang."

"Sudah malam."

"Tapi—"

"Dan hujan sebentar lagi turun."

Arunika menoleh ke langit Memang terlihat mendung, Ibunya Adrian tersenyum semakin lebar.

"Besok pagi baru pulang."

Arunika membuka mulut, tetapi tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk menolak.

Terlebih lagi Adrian berdiri di sampingnya dengan ekspresi tenang seperti orang yang sejak awal sudah mengetahui hasil akhirnya Arunika meliriknya tajam.

"menyebalkan."

Ibunya Adrian tertawa kecil.

"Adrian, jangan ganggu Arunika."

"Aku tidak mengganggu."

"Kamu berdiri di sampingnya saja sudah cukup membuat dia gugup."

Arunika langsung menunduk.

"Tante..."

"Sudah, masuk. Kalian pasti belum makan."

Baru beberapa langkah berjalan, Arunika tiba-tiba berhenti.

"Tante."

Ibunya Adrian menoleh.

"Kalau saya menginap..."

"Iya?"

"Kamarnya..."

Wanita itu tersenyum penuh arti.

"Tenang. Kamar kalian terpisah."

Wajah Arunika langsung memerah, Adrian menahan tawa di sampingnya Arunika langsung menyikut lengannya.

"Jangan ketawa!"

"aku tidak tertawa."

"Bibir kamu jelas begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Sudah!"

Ibunya Adrian hanya tertawa sebelum berjalan lebih dulu. Arunika menatap punggung wanita itu, lalu berbisik kepada Adrian.

"Ibumu ternyata lebih berbahaya daripada kamu."

Adrian mengangguk santai.

"Sudah kubilang."

"Sejak kapan?"

"Sejak kamu bertemu beliau."

Arunika memutar bola mata Malam itu mereka kembali ke ruang makan. Suasana yang sebelumnya terasa formal perlahan berubah lebih hangat.

Ayah Adrian bahkan beberapa kali bertanya kepada Arunika tentang hal-hal sederhana, membuat perempuan itu akhirnya bisa berbicara tanpa terlalu banyak memikirkan setiap kata. Namun setelah makan malam selesai Arunika kembali merasa gugup ketika Adrian mengantarnya menuju kamar tamu.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu Adrian membuka pintunya.

"Ini kamarmu."

Arunika masuk perlahan Ruangan itu luas, tetapi terasa nyaman. Ada tempat tidur besar, sofa kecil di dekat jendela, meja, dan kamar mandi pribadi. Arunika menatap sekeliling.

"Ini kamar tamu?"

"Iya."

"Kenapa kamar tamu di rumahmu lebih bagus daripada kamar tidurku?"

Adrian bersandar di kusen pintu.

"Karena kamu tamu penting."

Arunika menoleh.

"Kamu mulai lagi."

"Aku serius."

Arunika tidak menjawab Di atas tempat tidur sudah ada beberapa pakaian yang masih terbungkus rapi. Arunika mendekat.

"Ini..."

"Ibu yang menyiapkan."

Arunika mengangkat salah satu pakaian.

"Ukurannya pas."

Arunika perlahan menoleh.

"Kok diam?"

"Karena aku tidak ikut memilih."

"Adrian."

"Benar."

"Jangan sampai aku berpikir aneh-aneh."

"Kenapa kamu yang berpikir aneh-aneh?"

Arunika melempar bantal kecil ke arahnya, Adrian menangkapnya dengan mudah.

"Keluar."

"Kenapa?"

"Aku mau ganti baju."

Adrian mengangguk.

"Baik."

Ia hendak pergi, tetapi tiba-tiba Arunika memanggil.

"Adrian."

Pria itu berhenti dan menoleh Arunika menggenggam ujung bajunya.

"Terima kasih."

Adrian memandangnya.

"Untuk?"

"Untuk hari ini."

Senyum Adrian muncul perlahan.

"Sama-sama."

Arunika tersenyum kecil Adrian kemudian berbalik, Namun sebelum pintu tertutup, Arunika kembali memanggil.

"Adrian."

"Hm?"

"Selamat malam."

Adrian menatapnya beberapa detik.

"Selamat malam, pacarku."

Pintu langsung tertutup Arunika berdiri kaku, Wajahnya perlahan memerah.

"Pacarku..."

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

"Kenapa dia harus ngomong gitu?"

Di balik pintu, Adrian yang masih berdiri di koridor justru tersenyum puas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah besar yang biasanya terasa terlalu sunyi baginya malam itu terasa berbeda.

Karena ada seseorang yang tinggal di dalamnya, Seseorang yang sekarang sudah berani menyebut dirinya sebagai pacar.

Namun sekitar satu jam kemudian, ketika Arunika sudah berganti pakaian dan bersiap tidur, terdengar ketukan pelan di pintunya.

Tok. Tok.

Arunika langsung bangkit.

"Siapa?"

"Ini aku."

Arunika mengenali suara Adrian Ia membuka pintu sedikit, Adrian berdiri di luar sambil membawa segelas air.

"Ada apa?"

"Minum."

Arunika menatap gelas itu.

"Aku tidak haus."

"Bagus."

Adrian menyerahkannya.

"Berarti untuk nanti."

Arunika menerima gelas itu dengan wajah bingung.

"Kamu datang ke sini cuma untuk memberikan air?"

"Iya."

"Kamu aneh."

"Aku tahu."

Adrian hendak pergi Namun kali ini Arunika yang menahannya.

"Adrian."

Pria itu menoleh.

"Kenapa?"

Arunika ragu beberapa detik.

"Besok..."

"Hm?"

"Kamu masih jadi pacarku, kan?"

Adrian terdiam Kemudian sudut bibirnya terangkat.

"Arunika."

"Apa?"

"Kamu baru resmi jadi pacarku beberapa jam dan sudah takut putus?"

"Aku cuma memastikan!"

Adrian menahan senyum.

"Lihat aku."

Arunika mendongak.

"Aku masih di sini."

Tatapan Adrian melembut.

"Dan besok aku masih akan ada."

Arunika terdiam.

"Begitu juga lusa."

Adrian mundur satu langkah.

"Jadi berhenti khawatir."

Arunika mengangguk pelan.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Adrian pergi Arunika menutup pintu lalu bersandar di belakangnya. Namun belum sempat ia berjalan menuju tempat tidur, ponselnya bergetar Satu pesan masuk Dari Adrian.

Adrian: Jangan tidur terlalu larut.

Arunika mengerutkan kening.

Ia membalas.

Arunika: Kamu juga.

Beberapa detik kemudian.

Adrian: Aku akan tidur kalau kamu sudah tidur.

Arunika menatap layar.

Arunika: Kenapa?

Balasan datang cepat.

Adrian: Karena sekarang aku punya pacar. Aku harus memastikan dia baik-baik saja.

Arunika langsung tersenyum tanpa sadar Ia mengetik sesuatu, menghapusnya, mengetik lagi, lalu akhirnya mengirim pesan sederhana.

Arunika: Aku baik-baik saja. Selamat malam, Adrian.

Layar kembali menyala.

Adrian: Selamat malam, Arunika.

Arunika meletakkan ponselnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidur di rumah besar milik Adrian dengan perasaan yang berbeda.

Bukan sebagai tamu, Bukan sebagai perempuan yang sedang mencoba memahami perasaannya.

Melainkan sebagai seseorang yang baru saja mengambil satu langkah besar dalam hidupnya.

1
Kiara Maulida Aizaaa
kak kita saling support yuk
Winna Yun: iya ka💪🤗
total 1 replies
the virtuso
semangat kak bikin novelnya kalau mau boleh mampir buat baca sama like novel aku GK kak
the virtuso: ok kak
total 2 replies
nischa
hai,kak aku mampir ceritanya bagus semangat kak😍mampir juga ya ke ceritaku
Winna Yun: siap kakak terimakasih kunjungan nya🤗
total 1 replies
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!