Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: TERLALU RAME!
Dengan selesainya masalah akun yang dibajak, mereka berempat pun pulang ke rumah masing-masing. Dimas dan Raka pulang mengendarai sepeda motor mereka, sementara Aira dijemput oleh ayahnya menggunakan mobil.
Sesampainya di rumah, Raka bergegas menuju kamar mandi. Ia harus cepat-cepat mandi sebelum kena semprot ibunya.
"Huh... dingin bet, gila! Ini suhu derajatnya yang lagi turun apa airnya yang kebangetan dingin, ya? Ah, taulah! Mending cepetan aja mandi," racau Raka sendirian, melakukan basa-basi tak jelas di dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Raka melangkah masuk ke kamarnya lalu mengenakan pakaian santai. Setelah mengembalikan handuk ke gantungannya, ia langsung meluncur menghempaskan diri ke atas kasur dan meraih ponselnya.
"Hmm... enaknya main apa, ya?" gumamnya sambil menatap layar HP.
"Aha! Main Minecraft aja lah. Belum tamat-tamat soalnya!"
Raka menekan ikon game tersebut dan melanjutkan progress dunianya. Begitu masuk ke dalam permainan, suasana di dunia blok itu rupanya sudah menjelang malam. Raka pun bergegas mempercepat waktu dengan menyuruh karakternya tidur di atas kasur pikselnya.
"Hmm, gue cari Lapis Lazuli dulu deh buat enchant," celetuk Raka pada diri sendiri.
Ia mulai menggerakkan karakternya menuju goa terdekat. Kebetulan, mulut goa tersebut berada tak jauh dari area rumahnya, jadi ia hanya perlu turun menggunakan teknik MLG water bucket atau sekadar jalan kaki santai.
Raka memilih cara cepat: pamer aksi MLG water bucket untuk meluncur ke dasar goa.
Setelah mendarat mulus, Raka mulai menyusuri goa yang gelap untuk mencari bijih Lapis Lazuli. Cukup lama mengubrak-abrik isi goa, matanya akhirnya menangkap kilauan biru yang dicari. Tanpa membuang waktu, ia langsung menambangnya menggunakan pickaxe.
Sayangnya, karena terlalu asyik menambang, Raka tak menyadari ada sosok makhluk hijau bertubuh panjang yang merayap diam-diam mendekatinya dari belakang.
Sssss... BOOM!
Karakternya tewas seketika. Dan itu adalah kali ke-50 lebih Raka tewas di world yang sama!
"ASTAGA! MAKHLUK HIJAU ITU LAGI! GANGGU MULU!" teriak Raka frustrasi sambil menepuk jidatnya.
Karakter Raka respawn di titik awal dalam keadaan kosongan—tanpa item sama sekali.
"Haaah... gini amat dah. Tiap kali main ada aja masalahnya," keluh Raka pasrah.
Ia melempar ponselnya ke atas kasur lalu merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar.
"Hmm, enaknya ngapain ya? Oh iya, mending gue bantuin Kakak aja kali ya? Kasihan dia."
Raka bangkit dari kasurnya, turun menyusuri tangga dari lantai dua. Begitu sampai di depan kamar sang kakak, ia menggedor pintunya pelan.
TOK TOK TOK!
"Kak, jangan sampai kelelahan. Istirahat dulu!"
"Kak?"
"Kak Reina?"
Karena tak kunjung ada sahutan, Raka memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Begitu melangkah masuk, matanya menangkap sosok kakaknya yang sudah tertidur pulas dengan kepala tersandar di atas meja kerja.
"Lah, ternyata tidur toh. Mending gue bantu Kak Reina pindah ke kasur deh."
Raka menghampiri Kak Reina lalu perlahan menopang tubuhnya. "Duh... berat juga ternyata..."
Dengan sedikit perjuangan, Raka berhasil membaringkan kakaknya di atas tempat tidur.
"Nice, tinggal diselimutin." Ia menarik selimut tebal dan menutupi tubuh kakaknya hingga dada.
Raka menatap wajah lelah kakaknya sejenak. "Hmm... Kakak jangan terlalu banyak pikiran. Kalau ada apa-apa kan bisa curhat sama Raka, okay?" gumamnya pelan. "Haaah... Raka mau ke kamar dulu ya."
Raka berjalan mundur menuju pintu lalu menutupnya perlahan agar tak menimbulkan suara.
"Hadeh... udah dikasih tahu tapi ngeyel. Taulah, mending gue tidur juga!"
Ia setengah berlari kembali ke lantai dua, melompat ke atas kasur, dan dalam hitungan detik langsung tertidur pulas.
Keesokan harinya...
KRINGGGGG! KRINGGGGG!
"Apalah... alarm nih bikin berisik aja," umpat Raka setengah sadar. Ia mengusap layar HP-nya ke atas untuk mematikan alarm.
Namun sedetik kemudian, "alarm kedua" yang jauh lebih mematikan berbunyi dan sukses bikin jantungnya mau copot.
"RAKA! AYO BANGUN! UDAH MAU TELAT!"
Raka terkesiap dan langsung meloncat bangun sampai hampir terpeleset sprei kasurnya sendiri. Tanpa pikir panjang, ia melesat ke kamar mandi, mandi super kilat, menyambar sepotong roti dari mesin panggangan, lalu meluncur keluar rumah mengendarai motornya.
Setibanya di sekolah, Raka memarkirkan motornya terburu-buru. Sambil mengunyah sisa roti, ia berlari kencang menyusuri koridor berharap gerbang belum dikunci.
Brak!
Raka sampai di depan kelas. Ruangan sudah dipenuhi siswa-siswi yang riuh, tapi tak ada guru di sana. Ia selamat!
"Haaah... syukurlah, belum telat..." desah Raka terengah-engah sambil memegangi lututnya.
Melihat kawannya megap-megap di depan pintu, Dimas menghampiri. "Oi, Rak! Kenapa telat lu? Ada masalah?"
"Gak usah bahas, Mas. Gue mau tiduran dulu," balas Raka lemas.
"Deh, pelit amat cerita doang."
Raka berjalan lemas ke bangkunya dan langsung menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Dimas menggeleng-gelengkan kepala lalu ikut duduk.
Tepat saat Dimas duduk, guru pengajar masuk dan pelajaran pertama pun dimulai.
Dua jam berlalu hingga bel istirahat akhirnya berbunyi! Para siswa-siswi langsung berhamburan lari ke arah kantin demi berburu menu baru yang lagi viral.
Namun, ada empat orang di kelas itu yang sama sekali tak tertarik ikut antrean kantin: Dimas, Aira, Alya, dan Raka.
Raka mulai mencoret-coret bukunya, menggambar outline untuk menenangkan diri. Aira sibuk bergosip ria bersama Alya di sudut lain. Sementara Dimas yang kebingungan mau ngapain, akhirnya berjalan mendekati meja Raka.
"Rak, ke ruang klub yuk," ajak Dimas.
Raka menghentikan goresan pensilnya lalu menoleh. "Mau ngapain?"
"Ya bikin kerjaan lagi lah daripada bosan. Lagian kalau di ruang klub, kita bisa beli makanan kantin juga. Apalagi dekat banget, cuma 10 meter saja!"
Raka berpikir sejenak. "Hmm... boleh juga. Nanti gue lanjutin gambar gue di sana aja."
"Gimana? Mau sekarang?"
"Yuklah!"
Mereka berempat melangkah keluar dari kelas dan berjalan menyusuri koridor menuju ruang klub. Sesampainya di dalam, Dimas langsung mendaratkan badannya di kursi depan meja panjang—meja utama yang biasa mereka pakai untuk merancang komik.
"Hmm, enaknya ngapain dulu nih, Rak?" tanya Dimas sambil meregangkan tangannya.
Raka menaikkan sebelah alisnya. "Lah, katanya tadi lu mau bikin desain baru?"
"Oh iya! Lupa gue," sahut Dimas menepuk jidatnya.
Mereka berdua mulai membongkar tumpukan kertas di atas meja, mencari dokumen draf ide yang sebelumnya disimpan. Namun, mau dicari sampai ke bawah meja pun, lembaran itu sama sekali tak ditemukan. Raka dan Dimas mulai panik, mengira dokumen penting itu hilang atau tersapu sampah.
Tepat saat itu, Aira dan Alya masuk ke dalam ruangan. Melihat Raka dan Dimas yang sibuk mengacak-acak ruangan, Aira tertawa kecil. Ia menjelaskan kalau dokumen draf tersebut sengaja ia foto dan simpan di dalam ponsel agar lebih praktis dan tidak gampang hilang.
"Ohhh... jadi gitu? Kenapa gak Bilang-bilang dari tadi, sih?!" seru Dimas mengelus dada.
"Hehe, lupa!" jawab Aira dengan wajah sok polos tanpa dosa.
Sebelum Dimas sempat mengomel lebih jauh, Alya yang sedang memegang ponselnya mendadak menepuk pelan meja. Matanya membelalak menatap layar.
"Teman-teman, lihat deh! Ada banyak banget komentar di postingan promosi kita... dan banyak banget permintaan!" seru Alya.
Raka, Dimas, dan Aira langsung mengerubungi ponsel Alya. Benar saja, kolom komentar dan pesan masuk membludak hebat! Ribuan notifikasi bermunculan tanpa henti—mulai dari pujian, kritikan, pertanyaan alur, sampai deretan request aneh-aneh dari netizen yang ingin karakter favorit mereka dimasukkan ke dalam cerita.
Melihat tumpukan pesan yang seperti antrean sembako itu, rasa pusing langsung menghantam kepala mereka seketika.
"ADUH! KENAPA BANYAK BANGETTT?!" teriak Dimas histeris sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Masalah peretasan memang sudah selesai, tapi penderitaan baru untuk klub komik ini resmi dimulai: mereka harus menyaring, membalas satu per satu komentar netizen, dan memilah request mana yang masuk akal untuk dikerjakan!