**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Petaka
Belum sempat ia menarik tangannya, Kevin kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terdorong ke arah Haselyn. Dalam keadaan setengah sadar, ia memeluk Haselyn dengan erat, seolah sedang berusaha mempertahankan dirinya agar tidak jatuh.
Haselyn membeku sesaat karena syok. “Lepaskan aku!” Ia mendorong dada Kevin sekuat tenaga, tetapi pria itu justru mencengkeramnya semakin erat. “Apa-apaan kamu?!” bentaknya panik.
Kevin tidak tampak benar-benar sadar. Bibirnya bergerak pelan, napasnya memburu, dan tubuhnya terasa panas.
Haselyn berusaha melepaskan diri, memukul bahu dan punggung Kevin berkali-kali. “Lepaskan! Aku tidak kenal kamu!”
Kevin terhuyung beberapa langkah, menyeret Haselyn tanpa arah menuju bagian taman yang lebih dalam. Di sana, pepohonan besar menjulang rapat, dan cahaya lampu taman hampir tidak menjangkau area tersebut.
Rasa takut mulai merayapi dada Haselyn. Ia memberontak semakin keras. “Berani sekali kamu!” Pukulan demi pukulan mendarat di punggung Kevin, tetapi pria itu seolah tidak merasakan apa pun. Tiba-tiba langkah Kevin melemah.
Ia nyaris roboh. Dengan suara yang kacau dan nyaris tidak terdengar, Kevin berbisik, “Tolong… bantu aku…” Kalimat itu membuat Haselyn terdiam sesaat.
Amarahnya belum hilang. Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pria di hadapannya mungkin bukan sedang menyerangnya dengan sadar. Melainkan sedang berjuang melawan sesuatu yang menghancurkan kesadarannya.
Haselyn terus berteriak meminta dilepaskan. Suaranya menggema di antara pepohonan, tetapi taman yang sepi dan malam yang semakin larut seolah menelan setiap teriakannya.
“Lepaskan aku!”
Ia meronta sekuat tenaga, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Kevin. Namun pria itu terus menyeretnya hingga ke bagian taman yang jauh lebih dalam. Pepohonan besar menjulang rapat, sementara cahaya lampu taman hampir tidak lagi menjangkau area itu.
Setelah berhenti di dekat sebuah pohon besar, Kevin melepaskan cengkeramannya. Haselyn segera menjauh beberapa langkah sambil mengatur napas yang memburu.
Ia menatap Kevin dengan amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. “Dasar gila!” bentaknya. Tanpa berpikir panjang, Haselyn berbalik dan berusaha berlari. Namun baru beberapa langkah, Kevin kembali meraih pergelangan tangannya.
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?” suara Kevin terdengar berat dan tidak stabil.
Haselyn berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku!”
Ia mendorong Kevin sekuat tenaga, tetapi pria itu justru menariknya hingga tubuh mereka nyaris bertabrakan. Dalam kondisi kesadarannya yang kacau, Kevin mencengkeram bahu Haselyn erat, lalu mencoba mendekat.
Haselyn memalingkan wajahnya dan berusaha menghindar. Ia memukul dada Kevin berkali-kali, mendorongnya, dan memberontak sekuat tenaga.
“Jangan sentuh aku!”
Pukulannya terus menghantam dada dan bahu Kevin, tetapi pria itu tampak tidak sepenuhnya menyadari apa yang sedang dilakukannya. Tatapannya kosong, napasnya tidak teratur, dan tubuhnya gemetar hebat.
Haselyn mulai panik. Ia sadar bahwa pria di hadapannya sedang kehilangan kendali. Dan jika ia tidak berhasil melepaskan diri malam itu, sesuatu yang jauh lebih buruk bisa terjadi.
Tangan Haselyn mulai gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung ketika Kevin, yang sudah kehilangan kendali atas dirinya, terus memaksakan kedekatan yang tidak ia inginkan. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia belum pernah sedekat itu dengan seorang pria, apalagi dengan orang asing yang baru dikenalnya beberapa menit lalu. Yang ia rasakan bukanlah kebingungan semata, melainkan kepanikan yang perlahan berubah menjadi teror.
“Lepaskan aku…” Suaranya pecah oleh tangis.
Kevin mundur sesaat. Napasnya memburu, wajahnya dipenuhi penderitaan, seolah sedang bertarung dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Tatapannya yang kabur berusaha fokus pada wajah Haselyn. “Aku mohon… bantu aku,” ucapnya lirih, suaranya terdengar putus asa.
Haselyn menggeleng cepat. Air matanya semakin deras mengalir. “Aku tidak mau,” jawabnya dengan suara bergetar.
Kevin menutup matanya sejenak, seolah berusaha mempertahankan sisa-sisa kesadarannya. Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya kembali kehilangan kendali. Ia mencoba mendekat lagi.
“Maaf…” gumamnya. “Aku tidak bermaksud…” Kalimat itu terdengar kacau, tidak utuh.
Haselyn segera mendorong dada Kevin sekuat tenaga. “Jangan sentuh aku!”
Ia memberontak, memukul bahu dan dada Kevin, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun perbedaan tenaga di antara mereka membuat usahanya terasa sia-sia.
Tangis Haselyn pecah. Rasa takut menguasai dirinya sepenuhnya.
Sementara Kevin tampak semakin kehilangan kesadaran, Haselyn menyadari bahwa ia harus mencari cara untuk melarikan diri sebelum keadaan menjadi semakin berbahaya.
Haselyn berusaha melepaskan diri sekuat tenaga. Tangannya mendorong dada Kevin, kukunya mencengkeram lengan pria itu, dan suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi mampu ia tahan. Namun Kevin, yang kesadarannya telah hancur oleh pengaruh obat, tidak lagi mampu membedakan benar dan salah.
“Jangan… tolong jangan…” Permohonan itu berulang kali keluar dari bibir Haselyn.
Malam yang sunyi seolah menelan setiap tangisnya.
Di bawah bayang-bayang pepohonan, Haselyn merasakan ketakutan yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia terus melawan, tetapi tenaganya perlahan habis. Tubuhnya gemetar hebat, sementara pikirannya dipenuhi kepanikan.
Ketika semuanya akhirnya berhenti, dunia terasa begitu sunyi. Kevin terjatuh ke tanah dengan napas yang berat, sementara kesadarannya mulai runtuh sepenuhnya.
Haselyn tetap membeku di tempatnya. Air matanya mengalir tanpa suara.
Dengan tangan yang gemetar, ia meraih jas Kevin yang tergeletak tidak jauh darinya. Kain itu ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, seolah berusaha mengumpulkan kembali harga diri yang baru saja direnggut darinya.
Ia memeluk jas itu erat-erat. Sesenggukannya terdengar lirih, nyaris tak terdengar di tengah hembusan angin malam. Haselyn menatap langit yang gelap dengan pandangan kosong.
Malam itu bukan hanya meninggalkan luka pada tubuhnya. Malam itu merenggut rasa aman yang selama ini ia miliki, dan mengubah hidupnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Di sampingnya, Kevin terbaring tak sadarkan diri, tidak mengetahui betapa besar kehancuran yang telah ditinggalkannya. Sementara Haselyn hanya bisa menangis dalam diam, memeluk dirinya sendiri di tengah taman yang sunyi, berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia membuka mata.
Kevin menatap langit yang dipenuhi bintang. Napasnya masih tidak teratur ketika kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya berdenyut hebat, dan ingatan tentang apa yang baru saja terjadi datang menghantamnya tanpa ampun.
Ia membeku. Tangannya terangkat, mengusap wajahnya dengan kasar, seolah ingin menghapus kenyataan yang baru saja ia lakukan. “Ya Tuhan…” Suara itu keluar begitu lirih hingga nyaris tak terdengar.
Tatapannya jatuh pada Haselyn yang terduduk beberapa langkah darinya. Gadis itu memeluk jas yang menutupi tubuhnya, bahunya bergetar hebat, dan air matanya terus mengalir tanpa henti.
Pemandangan itu membuat dada Kevin terasa sesak. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
“Maafkan aku…” Suaranya pecah. “Aku benar-benar minta maaf.”
Haselyn tidak menjawab. Tangisnya justru semakin menjadi. Bagaimana mungkin ia bisa memaafkan pria yang telah menghancurkan hidupnya, padahal mereka bahkan baru bertemu malam itu?
Kevin menundukkan kepala. Rasa bersalah menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit. “Aku akan bertanggung jawab,” ucapnya dengan suara berat. “Aku akan menanggung semua akibat dari perbuatanku.”
Haselyn perlahan menoleh. Matanya yang merah dan dipenuhi kebencian menatap Kevin tanpa sedikit pun rasa iba. “Bertanggung jawab?” Ia tertawa lirih, tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Bagaimana caranya kau bertanggung jawab?” Suaranya bergetar, dipenuhi luka yang terlalu dalam untuk diucapkan. “Bisakah kau menghapus apa yang sudah terjadi?”
Kevin terdiam. Tidak ada jawaban. Tidak ada pembelaan.
Karena ia tahu, tidak ada kata maaf, uang, atau bentuk tanggung jawab apa pun yang dapat mengembalikan keadaan seperti semula.
Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Kevin akhirnya berkata, “Katakan apa yang bisa kulakukan.”
Haselyn menatapnya tajam. “Yang hilang dariku bukan sesuatu yang bisa kau ganti dengan apa pun.” Kalimat itu menghantam Kevin lebih keras daripada pukulan apa pun.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memahami bahwa penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat.