Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Air Ketiga Dan Perahu Pertama
..."Ketika air ketiga datang, kami tidak punya rumah, tapi kami punya perahu, dan ketika kami tidak punya jalan, kami membuat jalan di atas air."...
Malam hari di Desa Majia datang tanpa bintang, langit tertutup awan hitam yang tebal seperti kain yang dibasahi tinta, dan angin bertiup dari arah Sungai Min dengan suara yang rendah dan panjang seperti orang yang menahan napas sebelum berteriak, sehingga ketika Jing yue terbangun karena anjing-anjing desa melolong bersamaan, dia sudah tahu bahwa ini bukan hujan biasa dan ini bukan malam biasa.
Dia keluar dari tenda dengan jubah yang langsung basah karena gerimis yang mulai turun, dan dari kejauhan dia bisa mendengar suara air yang bukan lagi suara sungai yang mengalir, melainkan suara dinding air yang bergerak, suara pohon yang patah, dan suara lonceng darurat yang dipukul oleh Tetua Pertama dari atas rumah panggung dengan tangan yang gemetar tapi tidak berhenti. "Banjir ketiga datang," teriak Tetua Pertama dengan suara yang pecah, "lebih cepat dari ramalan, lebih tinggi dari kemarin, semua orang ke tempat tinggi, bawa anak, bawa orang tua, tinggalkan barang."
Dalam waktu kurang dari setengah teh, seluruh desa berubah menjadi kekacauan yang teratur, karena selama tiga minggu terakhir mereka sudah berlatih, ibu-ibu menggendong anak di punggung dan di tangan, laki-laki mengangkat orang tua di atas tandu bambu, dan anak-anak yang biasanya menangis kini berlari sambil membawa obor kecil dan tali.
Jing yue berlari ke tepi sungai dan jantungnya jatuh ke perut ketika dia melihat bahwa air sudah setinggi dada orang dewasa dan terus naik dengan cepat, warnanya hitam dan membawa batang pohon besar, atap rumah, bahkan bangkai hewan, dan jembatan bambu yang mereka perbaiki minggu lalu sudah hilang terseret dalam sekali hantam.
Masalahnya, rumah panggung yang mereka bangun hanya cukup untuk setengah warga Majia, dan desa-desa lain di sekitar, Qinghe, Lijia, Shuanghe, dan Hekou, semuanya mengirim utusan dengan perahu kecil semalam untuk meminta bantuan karena tanggul mereka jebol lebih dulu.
Di titik inilah semua kerja keras tiga minggu membuat perahu menjadi penting, karena di tepi lapangan ada tiga puluh perahu dan rakit yang mereka buat dari papan, bambu, dan tali ijuk, ada yang besar bisa muat sepuluh orang, ada yang kecil untuk dua orang, dan semuanya sudah diikat rapi dan diberi nama dengan arang.
Jing yue tidak berteriak panjang, dia hanya menunjuk dan membagi, "Lei Feng bawa sepuluh orang ke Qinghe, Bai Ling bawa lima perahu ke Lijia, Tetua Kedua bawa sisanya ke Shuanghe dan Hekou, aku tetap di Majia untuk evakuasi terakhir."
Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang ragu, karena mereka tahu bahwa kalau terlambat sedetik maka orang akan hanyut, dan dalam waktu kurang dari satu jam perahu-perahu itu sudah turun ke air dengan obor di depan dan dayung di tangan orang-orang yang tangannya masih kapalan karena memaku papan.
Jing yue sendiri naik ke perahu terbesar bersama enam murid, dan mereka mulai menyusuri gang-gang desa yang kini sudah menjadi sungai, masuk ke rumah-rumah panggung yang airnya sudah mencapai lantai, dan mengetuk pintu sambil berteriak agar orang keluar dan naik.
Nenek Sun adalah orang pertama yang mereka jemput, dan nenek itu menolak naik dengan alasan bahwa dia sudah tua dan biarlah dia mati di rumahnya, tapi Jing yue mengikatkan tali di tubuhnya dan menggendongnya ke perahu sambil berkata bahwa kalau nenek mati maka siapa yang akan menceritakan kepada cucu-cucunya bahwa mereka pernah selamat karena keras kepala.
Anak-anak menangis, orang tua berdoa, dan di beberapa titik air terlalu deras sehingga perahu hampir terbalik, sehingga Jing yue dan muridnya harus melompat ke air dan mendorong dari belakang sambil berpegangan pada tali yang diikat di pinggang.
Di tengah evakuasi, datang seorang pemuda dari Lijia dengan perahu yang bocor, dan dia berteriak bahwa di sana ada dua puluh orang terjebak di atas atap balai desa karena air naik terlalu cepat dan mereka tidak punya perahu lagi.
Jing yue langsung memerintahkan tiga perahu berbalik, dan mereka mendayung melawan arus selama setengah jam yang terasa seperti seharian, dan ketika sampai mereka melihat pemandangan yang membuat dada sesak, yaitu dua puluh orang, kebanyakan perempuan dan anak, duduk berdesakan di atas genting yang licin dengan air sudah mencapai lutut mereka.
Tidak ada waktu untuk mengikat, Jing yue menyuruh semua orang naik satu per satu, dan ketika perahu sudah penuh dan masih ada lima orang tersisa, dia menyuruh muridnya pergi dulu dan dia tetap tinggal dengan dua murid untuk menunggu perahu berikutnya kembali.
Mereka bertahan di atas atap selama hampir satu jam, dengan air terus naik dan angin yang mendorong genting, dan ketika perahu kedua datang, Jing yue adalah orang terakhir yang naik setelah memastikan tidak ada yang tertinggal.
Sementara itu di sisi lain desa, Lei Feng memimpin evakuasi di Qinghe dengan cara yang sama, dia berteriak, memukul perahu dengan dayung agar orang cepat, dan bahkan melompat ke air untuk menarik seorang anak yang terlepas dari genggaman ibunya.
Bai Ling di Lijia menangis sambil mendayung karena dia melihat rumah yang dia bantu bangun hanyut, tapi dia tidak berhenti, dia terus bolak-balik sampai semua orang diangkut ke bukit.
Tetua Kedua di Shuanghe dan Hekou bekerja sepanjang malam, dan di satu titik perahunya hampir pecah karena menabrak batang pohon, tapi dia mengikatnya dengan ikat pinggangnya sendiri agar bisa terus dipakai.
Fajar datang dengan cara yang mengerikan, langit masih gelap tapi air sudah setinggi atap rumah panggung, dan dari atas bukit tempat semua orang berkumpul, mereka bisa melihat seluruh dataran berubah menjadi danau besar yang coklat dan bergelombang.
Tidak ada rumah yang tersisa utuh, tidak ada sawah, tidak ada jalan, yang ada hanya ujung-ujung atap yang muncul di permukaan air seperti paku karat, dan di atas air itu terlihat perahu-perahu kecil yang masih bergerak seperti titik-titik hitam mencari orang yang mungkin tertinggal.
Jing yue berdiri di tepi bukit dengan jubah yang sudah kering di beberapa bagian dan basah di bagian lain, tangannya memegang dayung yang patah, dan dia menghitung satu per satu orang yang datang, memastikan tidak ada yang hilang dari lima desa.
Butuh waktu sampai tengah hari untuk memastikan, dan ketika nama terakhir disebut dan tidak ada yang menjawab "tidak hadir", seluruh bukit menangis, bukan karena sedih, tapi karena lega, karena untuk pertama kalinya sejak banjir pertama datang, tidak ada satu pun nyawa yang hilang di malam banjir.
Paman Chen datang dan memeluk Jing yue tanpa berkata apa-apa, dan Nenek Sun menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya sambil berkata bahwa ini adalah keajaiban.
Lei Feng duduk di atas batu dengan luka di lengan karena terkena serpihan kayu, dan dia berkata bahwa ini pertama kalinya dia melihat perahu yang dibuat dari perintah kejam menjadi alat yang menyelamatkan seribu orang.
Bai Ling membagikan nasi yang tersisa, meskipun hanya segenggam untuk setiap orang, dan tidak ada yang mengeluh, karena mereka tahu bahwa hidup lebih penting daripada kenyang.
Siang itu, Jing yue mengumpulkan semua kepala desa dan Tetua, dan dia berkata bahwa air akan surut dalam beberapa hari, dan ketika surut mereka harus mulai lagi dari nol, tapi kali ini mereka tidak mulai dengan tangan kosong, karena mereka punya perahu, punya pengalaman, dan punya orang yang sudah tahu cara menyelamatkan diri.
Dia juga berkata bahwa surat istana yang menyuruh mereka membuat perahu adalah surat yang paling menyakitkan, tapi juga surat yang paling benar, karena tanpa perahu itu malam ini mereka semua akan mati.
Malamnya, di atas bukit yang dingin, orang-orang tidur berdesakan di bawah terpal, dan Jing yue tidak tidur, dia duduk di tepi sambil memperbaiki dayung yang patah dengan pisau dan tali, karena dia tahu bahwa besok mereka harus mulai mengangkut makanan, mengangkut orang sakit, dan mulai membangun lagi.
Dia menulis di bukunya dengan tinta yang bercampur air hujan, dan tulisannya berantakan tapi dia tetap menulis bahwa hari ini air ketiga datang, dan hari ini perahu pertama membuktikan gunanya.
Dia menulis bahwa dia takut, sangat takut ketika melihat air setinggi itu, tapi dia juga menulis bahwa dia bangga, bangga karena tidak ada satu pun orang yang dia tinggalkan, bangga karena murid-muridnya tidak ada yang lari, dan bangga karena desa-desa ini sekarang tahu cara berenang di atas bencana.
Sebelum fajar, dia berjalan ke tepi bukit, menatap air yang masih bergelombang di bawah cahaya bulan, dan dia berbisik kepada sungai itu bahwa dia tidak membencinya, karena sungai hanya melakukan apa yang sungai lakukan, dan tugas manusia adalah belajar hidup bersama sungai.
Lalu dia kembali, membangunkan dua murid, dan menyuruh mereka mempersiapkan perahu untuk besok pagi, karena setelah banjir pasti ada lumpur, setelah lumpur pasti ada penyakit, dan setelah penyakit pasti ada pekerjaan.
Dan ketika matahari akhirnya muncul, meskipun redup dan tertutup awan, orang-orang di bukit melihat bahwa di bawah sana, di antara air, ada tiga puluh perahu yang terikat satu sama lain dan tidak hanyut, dan itu adalah bukti bahwa kerja keras mereka tidak sia-sia.