Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Malam makin larut, tetapi gerimis halus yang turun sejak petang kini berubah menjadi hujan deras yang mengguyur kaca-kaca jendela penthouse lantai paling atas gedung pencakar langit itu.

Di dalam kamar utama yang temaram, Sienna tidak bisa memejamkan mata. Rasa cemas menggerogoti dadanya, setiap kali kilat menyambar di luar, bayangan wajah Claudia Ophelia dan kilatan mata kelabu Nicolas Vance bergantian menghantui benaknya.

Klek.

Bunyi halus dari arah luar kamar membuat Sienna tersentak kaku. Ia menoleh ke arah pintu kayu jati yang kokoh. Maya biasanya tidak pernah mengetuk atau memasuki kamar pada jam dua pagi.

Sienna bangkit dari tepi ranjang, melangkah perlahan dengan telapak kaki bertelanjang menapak lantai kayu yang dingin. "Suster Maya?" cicitnya pelan, menempelkan telinganya di pintu.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang janggal, disusul oleh suara desisan halus yang aneh dari balik celah bawah pintu.

Sienna mengerutkan dahi, menunduk untuk meneliti asal suara itu. Bau sangit yang tajam dan menusuk hidung seketika menyeruak masuk, asap hitam pekat mulai bertiup tipis melalui celah pintu kamar utama.

"Kebakaran?" bisik Sienna panik. Ia bergegas memutar gagang pintu dan memukul pintu kayu itu dari dalam.

"Suster Maya, pengawal, ada asap di luar!"

Namun, gagang pintu itu terkunci mati dari luar.

Di luar kamar utama, ruang tamu mewah yang luas telah berubah menjadi neraka merah. Asap hitam membumbung tinggi dari deretan sofa kulit dan karpet yang disiram bahan bakar oleh dua pria berpakaian serba hitam.

Sistem alarm kebakaran dan penyiram air otomatis (sprinkler) penthouse mendadak mati total, kabel utamanya telah dipotong secara profesional oleh suruhan Claudia Ophelia sebelum mereka menyusup melalui pintu akses servis.

Dua pengawal Nico di luar lorong telah tergeletak pingsan akibat serangan mendadak menggunakan gas bius.

"Pastikan api membakar seluruh area kamar utama," seru salah satu pria bertopeng serba hitam seraya melemparkan pemantik api ke arah tumpukan tirai yang sudah tersiram bensin.

"Nyonya Claudia ingin gadis di dalam sana mati terbakar tanpa menyisakan bukti dokumen apa pun."

Lidah api menjilat dinding kayu dengan ganas. Dalam hitungan menit, kobaran api membumbung tinggi, menutup akses menuju pintu keluar utama dan merambat cepat ke arah pintu kamar Sienna.

Czzzztt!

Di dalam kabin jet pribadi yang melaju menembus awan badai, sistem komunikasi khusus Nico berbunyi nyaring.

Matteo yang duduk di kursi sebelah langsung meraih tablet keamanannya. Wajahnya seketika pucat pasi tatkala melihat indikator merah menyala berkedip-kedip di layar monitornya.

"Tuan Nicolas!" panggil Matteo dengan suara bergetar keras.

"Sistem sinyal darurat independen di penthouse terputus secara tidak wajar. Sensor suhu di unit lantai 45 melonjak drastis hingga 300 derajat Celsius."

Nico yang sedang menatap dokumen di meja lipat mendongak seketika. Sepasang mata kelabunya memancarkan kilatan tajam yang membekukan. "Apa maksudmu?"

"Penthouse Anda terbakar, Tuan!" seru Matteo panik, jemarinya menari liar di atas papan ketik.

"Pengawas area gedung melaporkan adanya kobaran api besar dari lantai penthouse, dan sistem penyiram air dipadamkan secara manual dari panel kontrol servis."

Nico berdiri dari kursinya dengan sentakan yang membuat gelas di mejanya terguling. Jantungnya berdenyut kencang, sebuah sensasi rasa takut yang tak pernah ia rasakan sejak malam kematian ibunya sebelas tahun lalu.

bukan karena penthouse miliaran rupiah itu yang terbakar, melainkan karena bayangan Sienna Sinclair yang masih terkurung di dalam kamar utama gedung tersebut.

"Berapa lama lagi kita mendarat?!" bentak Nico dengan nada bersuara berat yang dipenuhi kepanikan liar.

"Sepuluh menit lagi kita mendarat di Halim, Tuan." jawab pilot dari balik pintu kokpit.

Nico meremas tepian kursi penerbangan hingga buku-buku jarinya memutih. Jangan berani-berani mati sebelum kebenaran ini kuungkap, Sienna," batin Nico penuh amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.

Brak! Brak!

Sienna terus menggedor pintu kamar utama yang kini terasa panas tatkala disentuh. Asap hitam tebal telah memenuhi seluruh sudut plafon kamar, membuat matanya perih dan napasnya makin sesak.

"Tolong! Tolong saya!" jerit Sienna seraya terbatuk-batuk parah.

Dari balik celah bawah pintu, ia bisa melihat lidah api merah menyala siap menerobos masuk. Suara retakan kayu yang terbakar dan bau bensin yang menyengat menyadarkan Sienna bahwa ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah eksekusi pembunuhan yang dirancang khusus oleh Claudia Ophelia.

Sienna berbalik tergesa-gesa, meraih kain handuk di kamar mandi, membasahinya dengan sisa air di wastafel, lalu melilitkannya di sekitar hidung dan mulutnya.

"Aku tidak boleh mati di sini..." bisik Sienna pada dirinya sendiri, air matanya menetas menembus rasa perih asap.

"Aku harus menyampaikan bukti itu pada Nico... Aku harus membersihkan nama Ayah."

Sienna melihat ke arah jendela kaca tebal yang menghadap ke balkon luar. Namun jendela itu terkunci oleh sistem elektronik Nico.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Sienna mengangkat sebuah kursi besi kecil dari sudut meja rias, lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah kaca jendela!

Pranngg!

Kaca tebal itu pecah berantakan, udara malam yang dingin menyapu masuk, sedikit mengusir asap tebal di dalam kamar. Sienna memanjat celah jendela yang hancur dengan tangan yang terluka tergores pecahan kaca, merangkak keluar menuju area balkon luar yang diterpa hujan deras.

Namun, di dalam ruangan utama penthouse, api sudah membesar bagaikan raksasa merah yang siap menelan seluruh isi lantai 45.

Dua mobil SUV hitam milik Nicolas Vance berhenti mendadak di depan pelataran gedung apartemen mewah yang kini telah dikerumuni oleh tiga mobil pemadam kebakaran dan sirine polisi yang meraung-raung di tengah hujan deras.

Petugas pemadam kebakaran berusaha menahan kerumunan, tetapi Nico melompat keluar dari mobil bahkan sebelum kendaraannya berhenti sempurna.

Pria itu menatap ke atas, lantai puncak gedungnya mengepulkan asap hitam pekat dengan lidah api yang menjilat-jilat dari balik jendela.

"Tuan Nicolas, area atas terlalu berbahaya. Petugas sedang berusaha memadamkan api melalui heliped!" panggil Perwira Polisi di lokasi.

Nico tidak memedulikan seruan itu. Pria itu menyambar jaket pemadam kebakaran milik salah satu petugas dan membasahinya dengan selang air.

"Tuan Nicolas, jangan. Ini intoksikasi asap tingkat tinggi!" jerit Matteo berusaha menahan lengan bosnya.

"Lepaskan aku, Matteo!" bentak Nico seraya menghempaskan tangan Matteo. Pendar mata kelabunya berkilat penuh kegilaan dan ketakutan murni. "Dia ada di dalam sana."

Tanpa menunggu lift yang telah dimatikan, Nico menerobos barisan petugas pemadam, berlari menaiki tangga darurat menuju lantai 45 dengan kecepatan yang didorong oleh keputusasaan mendalam. Setiap anak tangga yang dipijaknya bagaikan hitungan mundur menuju penyesalan seumur hidup.

Di lantai 45.

Pintu darurat terdobrak kasar. Nico menerobos masuk ke dalam lorong yang dipenuhi asap hitam tebal dan hawa panas yang membakar kulit. Dengan sapu tangan basah melilit mulutnya, Nico menendang sisa-sisa pintu penthouse yang telah hancur terbakar.

"Sienna!" berteriak Nico dengan suara parau di tengah dentuman kayu yang tumbang dan kobaran api.

Matanya yang perih menyapu seluruh penjuru ruang tamu yang telah hancur menjadi puing-puing membara. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Sienna, jawab aku!" jerit Nico lagi, melangkah menembus kobaran api menuju koridor kamar utama.

Pintu kayu kamar utama telah roboh dimakan api. Nico menendang puing-puing membara itu, menerobos masuk ke dalam kamar yang porak-poranda.

Di sana, di ujung balkon luar yang diterpa angin kencang, Nico melihat sosok mungil itu.

Sienna tergeletak telungkup di atas marmer balkon yang basah. Wajah dan tangannya dipenuhi noda hitam, telapak tangannya berdarah akibat pecahan kaca, dan napasnya sangat lemah tersengal-sengal.

Jantung Nico serasa berhenti berdetak.

"Sienna!"

Nico berlari menerobos pecahan kaca jendela yang hancur, menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai balkon yang basah, lalu merengkuh tubuh mungil Sienna ke dalam dekapannya. Tangan kokohnya gemetar hebat saat meraba leher Sienna, mencari denyut nadi yang kian meredup.

"Sienna... buka matamu. Cepat buka matamu!" panggil Nico seraya memeluk erat tubuh gadis itu, tidak memedulikan angin deras yang menerpa mereka berdua.

Sienna perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Iris cokelatnya yang redup menatap wajah tegap Nico yang kini tampak begitu panik dan ketakutan, sebuah ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada pria yang selalu bersikap bagaikan iblis dingin itu.

"Tu-Tuan... Vance..." cicit Sienna sangat halus, suaranya parau dan hampir tenggelam oleh suara hujan.

"Jangan banyak bicara," bisik Nico kaku, jemarinya yang gemetar menyapu jelaga dan helai rambut basah dari wajah pucat Sienna. "Aku akan membawamu keluar dari sini."

Nico bersiap mengangkat tubuh Sienna, tetapi jemari mungil Sienna yang berdarah mendadak meremas ujung kemeja basah Nico dengan sisa-sisa tenaganya.

"Tuan... dengarkan saya..." isak Sienna lemah, air matanya menyatu dengan bulir-bulir air hujan di pipinya. "Bukan... bukan Ayahku yang membunuh... Ibu Anda..."

Nico membeku. Sepasang mata kelabunya menatap Sienna dengan pendar yang terguncang hebat.

"Nyonya Christina... diracuni arsenik... sebelum malam itu..." bisik Sienna seraya terbatuk-batuk parah, napasnya makin sesak. "Claudia Ophelia... dialah... dialah pembunuh sebenarnya..."

Nico menegang kaku bagaikan disambar petir di tengah hujan deras. Kata-kata yang keluar dari bibir Sienna bergema berulang kali di dalam kepalanya, meruntuhkan fondasi dendam yang telah ia bangun selama sebelas tahun terakhir.

"Apa yang kau katakan...?" desis Nico dengan suara bergetar.

"Sofia... memegang dokumen resepnya..." cicit Sienna sebelum matanya perlahan terpejam rapat, dan jemarinya yang meremas kemeja Nico terlepas terkulai lemas di atas marmer basah.

"Sienna! Sienna!" jerit Nico penuh kepanikan liar seraya menepuk pipi Sienna. "Buka matamu, jangan berani-berani mati sekarang, Sienna!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Nico merengkuh tubuh lemah Sienna ke dalam garapannya, bangkit berdiri di tengah kecamuk api dan hujan, lalu berlari menerobos neraka membara itu untuk menyelamatkan satu-satunya wanita yang kini memegang kebenaran atas hidup dan dendamnya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!