Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Saat Alana berbalik hendak melangkah pergi meninggalkan kerumunan di ruang keluarga, Papanya berdiri dari sofa. Pria tua itu membetulkan letak kemeja batiknya, lalu melangkah cepat menyusul sang putri.

​"Alana, tunggu sebentar, Nak. Papa mau bicara sama kamu," panggil Papanya lembut.

​Papa Alana berjalan mengiringi putrinya menuju koridor samping rumah yang jauh lebih sepi dari lalu lalang para tamu pengajian. Pria tua itu menatap wajah Alana dengan pandangan teduh yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat mendalam.

​"Alana..." panggil Papanya lagi seraya menyentuh lembut pundak putri sekundernya. "Kamu sehat, Nak? Maafkan Mamamu ya... kamu tahu sendiri sifat Mamamu dari dulu kalau bicara suka tidak disaring."

​Alana menatap wajah sepuh papanya. Di keluarga kandungnya, hanya Papa yang selalu bersikap lembut dan netral padanya, walau pria tua itu sering kali kalah dominan dari sikap otoriter Ibunya.

​"Alana sehat, Pa," jawab Alana halus, mengulas senyum tulus yang sangat langka ia perlihatkan hari itu. "Papa tidak perlu minta maaf. Alana sudah biasa dan tidak apa-apa."

​Papa Alana menghela napas panjang, matanya tampak berkaca-kaca menahan rasa haru. "Papa sering merasa gagal jadi Papa yang baik buat kamu, Alana. Sejak kecil kamu selalu dituntut mengalah dari Kirana. Dan setelah kamu menikah sama Gema... Papa pikir kamu bisa bahagia dan punya sosok pelindung."

​Papa Alana merogoh saku batiknya, lalu menatap Alana dengan pendar penuh rasa ingin tahu. "Oh iya, Alana... soal acara selamatan Kirana di rumah minggu depan, Mamamu cerita kalau semua persiapannya sudah beres dan tempatnya sudah dipesan di restoran besar. Papa kaget waktu tahu biayanya besar sekali.

Waktu Papa tanya dapat uang dari mana, Mamamu cuma bilang dapat rezeki. Tapi Papa tahu Mamamu..."

​Papa Alana menatap mata putrinya lekat-lekat. "Alana, jujur sama Papa. Apa Mamamu minta uang sama kamu lagi untuk acara selamatan itu?"

​Alana terpaku sejenak. Ia teringat kejadian satu bulan lalu di ruang kerjanya, ketika ibunya datang menuntut uang puluhan juta rupiah sambil membisikkan kalimat kejam bahwa harusnya Alana yang meninggal, bukan Kirana. Namun, Alana memilih untuk tidak membuka luka itu di depan papanya yang sudah tua dan rentan sakit.

​"Tidak, Pa," sahut Alana berbohong dengan sangat rapi dan tenang. "Mama tidak minta uang apa-apa dari Alana. Mungkin Mama memang ada tabungan sendiri atau dapat jatah dari hal lain. Papa jangan terlalu banyak pikiran ya."

​Papa Alana menatap putrinya dengan pandangan ragu. "Beneran, Nak? Kamu jangan bohong sama Papa. Kalau Mamamu minta uang atau menyusahkan kamu, bilang sama Papa. Jangan kamu tanggung sendiri."

​"Beneran, Pa," balas Alana mantap, menepuk pelan punggung tangan papanya untuk memberikan rasa tenang. "Alana sudah dewasa, Alana bisa jaga diri sendiri. Toko kue Alana juga sangat lancar."

​Papa Alana mendesah lega, lalu mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ya sudah kalau begitu. Papa bangga sekali sama kamu, Alana. Kamu tumbuh jadi wanita yang hebat dan mandiri, melebihi ekspektasi siapa pun."

​Pujian tulus dari sang papa merembet hangat di sudut hati Alana yang sempat membeku. Tanpa mereka sadari, dari belokan koridor yang tak jauh dari sana, Gema berdiri mematung di balik pilar kayu.

​Gema telah mendengarkan seluruh percakapan itu dari awal hingga akhir.

​Dada Gema serasa dihantam oleh beban beritong-tong yang sangat berat. Satu bulan lalu, Alana memang pernah bercerita padanya bahwa ibunya datang meminta uang selamatan dan mengucapkan kalimat kejam. Saat itu Gema sempat tak habis pikir, namun menyaksikan sendiri bagaimana ibu kandung Alana merendahkan istrinya di depan para tamu hari ini, serta mendengar bagaimana Alana dengan gigih melindungi ketenangan papanya dengan berbohong... membuat Gema menyadari betapa kesepian dan sendirinya Alana selama ini.

​Gema memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia melangkah keluar dari balik pilar, berjalan mendekati Alana dan papa mertuanya.

​"Papa," sapa Gema dengan suara parau yang ditahan.

​Papa Alana menoleh. "Eh, Gema. Kenapa, Nak?"

​Gema menatap papa mertuanya, lalu beralih menatap Alana yang seketika mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan formal begitu melihat kehadiran suaminya.

​"Pa... acara doa bersama di dalam sudah mau dimulai," tutur Gema berusaha terdengar sejelas dan setenang mungkin. "Papa dipanggil Mama untuk duduk di barisan depan dekat ustadz."

​"Oh, begitu ya? Ya sudah, Papa ke dalam dulu ya," ujar Papa Alana seraya menepuk bahu Gema dan Alana bergantian. "Kalian berdua masuk juga, ya."

​Setelah Papa Alana melangkah pergi meninggalkan koridor, suasana di antara Gema dan Alana seketika kembali membeku bagaikan ruang hampa udara.

​Gema menatap Alana dengan mata yang memerah menahan keharuan dan penyesalan yang membakar jiwa.

​"Alana..." panggil Gema dengan suara bergetar. "Saya... saya dengar semuanya tadi. Pembicaraan kamu sama Papa..."

​Alana merapikan lipatan jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi. Wajahnya tidak menunjukkan riak terkejut sedikit pun karena tahu Gema berada di sana.

​"Lalu kenapa, Mas?" tanya Alana singkat, nada suaranya begitu datar hingga terasa mengiris hati.

​"Kenapa kamu tidak cerita sama Papa kalau Ibu yang minta uang itu dari kamu?" tanya Gema dengan dada menegang. "Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendiri, Alana? Kenapa kamu harus berbohong untuk melindungi orang yang sudah menyakiti kamu sedalam itu?."

​Alana menatap Gema lurus-lurus. Tatapan mata yang dulu selalu memancarkan binar cinta dan kehangatan, kini hanya menyisakan kekosongan yang amat luas.

​"Untuk apa saya cerita, Mas Gema?" sahut Alana lirih namun menghantam tepat di ulu hati Gema. "Cerita atau tidak cerita, tidak ada yang berubah. Masalah itu sudah selesai satu bulan yang lalu saat saya mengirimkan uangnya. Saya tidak butuh pembelaan dari siapa pun, dan saya tidak butuh kasihan dari siapa pun."

​"Tapi saya suami kamu, Alana!" seru Gema setengah berbisik, menahan amarah pada ketidakmampuannya sendiri. "Saya ada di sini! Kamu bisa bagi beban itu sama saya!"

​Sebuah senyuman tipis begitu tipis dan sarat akan ironi terukir di bibir Alana.

​"Mas Gema lupa?" tanya Alana pelan. "Selama hampir tujuh tahun ini, saya sudah sangat terbiasa menyelesaikan semua masalah saya sendiri. Mas tidak pernah ada untuk menjadi tempat saya berbagi beban. Jadi, kenapa sekarang Mas bertingkah seolah-olah Mas adalah tumpuan hidup saya?"

​Gema tercekat. Lidahnya kufur kata. Kalimat Alana bagaikan panah beracun yang menghantam tepat di dadanya yang paling lemah.

​"Alana, saya tahu saya salah di masa lalu... tapi tolong beri saya satu saja kesempatan untuk"

​"Acara pengajian di dalam sudah mulai, Mas," potong Alana cepat tanpa memberi ruang bagi Gema untuk memohon. "Sebaiknya Mas masuk. Mas adalah tuan rumahnya, tidak enak kalau menghilang di saat pengajian kakak saya sedang berlangsung."

​Alana memberi anggukan sopan yang amat sangat berjarak, lalu berbalik arah dan berjalan menuju area dapur katering di belakang. Ia melangkah dengan kepala tegak, meninggalkan Gema yang berdiri kaku di lorong sepi tersebut.

​Gema bersandar lemah pada dinding tembok koridor. Air mata penyesalan yang tertahan akhirnya menetes basah di pipinya. Pria pengusaha sukses itu menatap punggung istrinya yang kian menjauh dan menghilang di belokan. Di tengah lantunan ayat-ayat suci yang mulai bergema dari ruang depan, Gema menyadari sebuah kebenaran yang teramat pahit: Alana tidak lagi membencinya, Alana tidak lagi menuntut apa pun darinya, Alana hanya telah sepenuhnya berhenti menganggapnya ada. Dan penolakan yang terbungkus dalam ketenangan sempurna itulah siksaan terkejam yang harus ia pikul sepanjang sisa hidupnya.

1
Mundri Astuti
coba suruh urus Tania noh adikmu, atau ibu mertuamu, jangan cuma bisa ngejulitin Alana aja
Mundri Astuti
kamu bukan cuma mengabaikan Alana gema, kamu juga ga bisa membela dan melindungi Alana dari ibunya Alana dan keluargamu sendiri
Sri Widiyarti
terlambat gama ...
Elina thea
kalo udah melibatkan anak,pasti ujung-ujungnya balikan...
Lee Mba Young
Alana yg bucin pling ntar juga balikan.
lagi an kbur cm di situ situ saja.
kabur yg nanggung 🤣.
Chintya Ananda
aq bacanya sambil mewek🤭..lanjut thor💪💪
aku
al, bisalah ya kaburnya yg gk terdeteksi gt 😌 klo msh disitu2 aja yo sm aja 😌
sutiasih kasih
tpi smua ktulusan dN ksih sayangmu tak dihargai dan tak berrti di mata suami jga keluarganya ... jga ibumu alana...🙄🙄🙄
sutiasih kasih
kabur tuh yg jauh alana.... minimal kabur ya keluar kota... ato keluar pulau...
Lee Mba Young
Kabur cm semeter Dari rumah buat apa. ya gk move on.

kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.

sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
Lee Mba Young
kabur cm ngekost, kabur kok nanggung banget. gk niat.

kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
Mundri Astuti
kedeketan Alana ...
Lee Mba Young: kabur cm segitu, nanggung banget 😄
total 1 replies
Elina thea
next....
Sri Widiyarti
nyesek banget 😭😭😭
Sasikarin Sasikarin
kok g greget Thor 2 bab ini 🙏
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!