Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 27

Jauh dari kemegahan lantai sepuluh PT Mahardika Group dan ketenangan baru yang mulai dirajut Zivana di Yogyakarta, suasana di rumah mewah Aidil justru berubah menjadi neraka jahanam.

Setelah Zivana pergi dari rumah, dia benar-benar kehilangan arah. Kedua anaknya juga mogok bicara dan sangat marah karena Bundanya pergi. Berkali-kali Aidil menciba menghuungi Zivana namun tidak bisa, gadis itu sudah memblokir nomornya. Sedangkan surat gugatan perceraian mereka sudah ada di pengadilan. Papa Bagas tak main-main dengan ucapannya, walau Aidil memohon pada mereka. Apalagi dia juga sudah tak menghubungi Stela. Sehingga kedua orang tuanya hanya mengizinkan Aidil membawa kembali kedua anaknya. Namun perceraiannya dengan Zivana tetap di proses.

"Astaga Aidil, apa yang terjadi padamu hah?"

Di hadapannya, Stela berdiri dengan napas memburu, kedua tangan melipat di dada, namun senyum kemenangan terukir tipis di bibirnya yang dipoles gincu merah menyala.

"Kamu gila, Stela! Ngapain kamu datan lagi kesini? Keluar dari rumah ini sekarang juga!" bentak Aidil dengan suara serak, menggebrak meja kopi di depannya hingga cangkir teh bergetar.

"Sudah kubilang, hubungan kita sudah selesai malam itu! Jangan pernah injakkan kakimu lagi di sini!"

Stela justru tertawa sumbang, suara tawanya terdengar nyaring dan menyebalkan. Ia melangkah mendekati Aidil, lalu dengan sengaja menjatuhkan sebuah testpack ke pangkuan pria itu. Benda plastik kecil dengan dua garis merah terang itu tergeletak tepat di atas paha Aidil, seolah menjadi vonis mati bagi sisa kewarasannya.

Aidil menatap benda itu dengan mata membelalak lebar. Darahnya seolah berhenti mengalir, dan napasnya tertahan di tenggorokan.

"Ini... ini apa?" bisiknya gemetar, menolak percaya pada apa yang ia lihat.

"Itu adalah masa depanmu, Aidil," kata Stela dengan suara manja namun penuh ancaman terselubung. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Aidil, jemarinya dengan lancang menyentuh dada pria itu.

"Aku hamil, Sayang. Anak kita. Kita kan segera punya anak lagi!"

Aidil menepis tangan Stela dengan kasar, melompat berdiri dari sofa seolah baru saja tersengat aliran listrik.

"Bohong!" teriak Aidil histeris, menjambak rambutnya sendiri. "Kamu pasti memalsukannya! Kamu cuma mau menjebakku supaya aku tidak bisa melepaskanmu! Kita baru sekali melakukannya malam itu, bahkan kamu tahu sendiri aku tak sampai keluar... tidak mungkin langsung..."

"Tidak mungkin?" potong Stela tajam, suaranya naik beberapa oktaf. Ia bangkit berdiri, menatap Aidil dengan sorot mata penuh kelicikan yang mengerikan.

"Kau pikir aku wanita bodoh yang tidak tahu cara menjaga diri? Atau kau lupa desahanmu sendiri saat memanggil namaku di atas ranjang istrimu yang malang itu?"

"TUTUP MULUTMU!" bentak Aidil murka, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Ia merasa jijik setengah mati pada dirinya sendiri, pada wanita di hadapannya, dan pada kebodohan fatal yang telah menghancurkan hidupnya.

"Dengar, Aidil," bujuk Stela dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba mendekat dan meraih lengan pria itu kembali.

"Kenapa kamu harus menolak kenyataan? Kita saling mencintai. Kalau anak ini lahir, kita bisa membangun keluarga yang sempurna. Tanpa bayang-bayang Zivana, tanpa ada yang menghalangi kita. Dan Khaisar juga Amora akan senang mendapatkan adik bayi!"

Aidil menepis tangan Stela dengan penuh rasa jijik, mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding.

"Aku tidak mencintaimu lagi, Stela! Aku benci kamu! Aku cuma terpedaya malam itu! Anak ini... anak ini bukan anakku! Kamu pasti bermain-main di belakangku!"

"Demi Tuhan, ini anakmu, Aidil!" seru Stela dengan mata membelalak, mencoba meyakinkan dengan suara yang ditekan penuh penekanan.

"Percaya sama aku! Aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun selain kamu! Kalau kamu tidak percaya, nanti setelah lahir kita bisa lakukan tes DNA! Tapi kumohon, jangan usir aku... aku butuh kamu, anak kita butuh kamu. Kita harus segera menikah, Aidil,"

Stela terus merangsek maju, mencoba memeluk tubuh Aidil yang gemetar hebat akibat keputusasaan. Namun, sebelum Aidil sempat mendorong wanita itu lebih jauh, suara derap kaki kecil dan suara pintu depan yang terbuka menggema ke dalam rumah.

Ceklek.

"Bunda... Apa bunda sudah kembali..." Teriak Khiasar dan Amora dengan suara riang.

Suasana di ruang tamu seketika membeku.

Langkah Khaisar dan Amora terhenti di ambang pintu ruang tamu. Kedua anak itu mematung, mendapati pemandangan yang membuat darah mereka mendadak dingin. Di hadapan mereka, sang ayah, Aidil, berdiri dengan pakaian kusut dan mata sembab, sementara Stela, wanita asing yang mereka kenal sebagai penyebab hancurnya keluarga dan kebahagiaan mereka berdiri sangat dekat di samping ayahnya.

Amora yang masih kecil mengerjap, menatap bingung ke arah pecahan vas bunga di lantai dan wajah pucat ayahnya.

"Papa... kok ada Tante itu lagi? Bunda mana? Katanya Papa akan membawa Bunda pulang?" tanya Amora polos, suaranya mencicit kecil penuh rasa takut.

Khaisar tidak bersuara. Bocah itu langsung menjatuhkan tas sekolahnya ke lantai marmer. Kepalan tangan kecilnya bergetar hebat. Tatapan matanya yang tajam bagai silet menghujam lurus ke arah Stela, lalu beralih menatap Aidil dengan kebencian yang telak tanpa ditutupi lagi.

"Khaisar... Amora..." panggil Aidil dengan suara tercekat di tenggorokan, melangkah maju hendak mendekati anak-anaknya.

"Masuklah ke kamar, nak... Biar Papa bicara sama..."

"Jangan sentuh Amora!" teriak Khaisar dengan suara melengking penuh kemurkaan yang menggetarkan seluruh ruangan. Bocah itu langsung merentangkan kedua tangannya, memeluk dan melindungi adiknya di belakang punggungnya.

Amora yang ketakutan mulai menangis sesenggukan di balik tubuh sang kakak.

"Khaisar..." lirih Aidil, merasa dadanya dihancurkan oleh tatapan jijik dari darah dagingnya sendiri.

Stela mendengus pelan, mencoba memasang wajah manis di hadapan anak-anak itu.

"Khaisar! Kenapa dengan kamu, Nak? Kamu memangnya tidak ingin kita berkumpul lagi bersama seperti dulu bersama dengan Mama dan Papa. Kita akan hidup bahagia setelah ini. Apalagi di dalam perut mama juga sudah ada dedek bayi, calon adik kalian!"

"DIAM KAU, PEREMPUAN IBLIS!" bentak Khaisar membabi buta, air mata kemarahan akhirnya tumpah melintasi pipinya. Bocah itu maju beberapa langkah, menunjuk tepat ke wajah Stela tanpa gentar sedikit pun.

"Keluar dari rumah kami! Pergi! Gara-gara kamu, Bunda pergi! Gara-gara kamu, keluarga kami hancur! Aku tak mau punya ibu seperti kamu! Kamu datang dan pergi seenak hatimu! Dan kamu yang membuat Bunda kami pergi!" Khaisar membawa adiknya ke dalam kamar.

Stela terperanjat kaget mendapati keberanian anaknya bicara seperti itu,

"Lihat, Mas! Perempuan itu rupanya selama ini bukan mengurus anak-anakku! Tapi dia malah meracuni anakku sendiri agar benci pada ibunya!"

"Diam! Kau yang harusnya sadar! Selama ini tak pernah memberikan kasih sayang seorang ibu kepada Khaisar. Apalagi Amora yang saat itu masih sangat kecil. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu!"

"Masa bodohlah dengan masa lalu. Sekarang kamu harus cepat menikahiku, Mas! Jangan sampai perutku semakin membesar!"

"Aku tak mau menikah denganmu, Stela!"

1
nely_48
pst curiga lah semua org jg,, OG tiba-tiba jd staf khusus pemasaran,, coba dr awal ngelamar bkn d posisi OG mh ga akan rameh
Ma Em
Zivana kamu hrs berani melawan orang2 yg iri pada Zivana jgn takut karena kalau Zivana diam dan takut mereka akan semakin berani untuk merendahkan Zivana .
nely_48
astagfirullah Thor,, jgn libatkan anak² dong kak, please 🙏🙏🙏
ga tega ak sm khaisar terutama Amora 😭😭😭😭
kpn s strla kena azab jatuh tisoledat nya, biar dia keguguran n lumpuh, bayi itu lahir jg kan bkn anak aidil ini,, dr pd stela hidup hanya menyiksa khaisar n Amora lbh baik buat lumpuh az sih
Elina thea
pembelaan Melvin terhadap ziva masih kurang...harusnya jelaskan juga riwayat pendidikannya dan awal gimana ziva naik pangkat.
sunaryati jarum
Dimanapun orang iri dengki tidak mau menerimanya.kekalahan,dan tidak suka akan keberhasilan orang lain itu banyak.Zivana kamu sudah mengalami banyak hal,pasti bisa melampaui
Elina thea
si Aidil ini gak guna jadi laki ...kurang tegas dan plin plan,pdhl dia bisa kok laporin istri sirinya ke polisi atas penelantaran dan penyekapan anak,tapi dia malah nangis gak guna...kamu tuh dah gagal jadi suami, setidaknya jangan sampai gagal jadi ayah.
Oma Gavin
kirim anakmu ke ortu mu aidil sebelum mereka berdua mati ditangan stela laporkan perbuatan stela ke polisi biar dia mendekatkan dipenjara, sekarang kamu baru nyesel setelah kere dan ditinggal siva, mantan istri tercinta mu ternyata iblis
Lee Mba Young
akhir nya miskin juga aidil.
mama
biadap emang ini org,setan macam itu dibawa pulang..
sunaryati jarum
Itu ibu atau iblis kok bunting lagi,itu benar anak Aidil atau hasil dari pria lain lalu njebak Aidil yang imannya dan kesetiaannya setipis tisu
Inarrr Ulfah
aidil nunggu sampe kaisar sama amora mampus dulu di tangan ibu kandung nya baru sadar
Talnis Marsy
masak pembantu nya gak punya hp apa ya,kan bisa tlpn Aidil
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!