Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Definisi Integral dan Hal-Hal yang Tidak Terdefinisi
Dua minggu terakhir ini penuh kejadian yang, kalau ditulis ulang secara berurutan, terdengar seperti sinetron murahan yang episodenya kepanjangan.
Tugas kelompok mata kuliah Komunikasi Massa yang memaksa aku gabung ke circle pertemanan Cahaya selama tiga hari berturut-turut, di mana aku duduk di pojok sambil sesekali dilempar pertanyaan yang aku jawab seminim mungkin, sampai akhirnya Cahaya yang mengambil alih sebagian besar diskusi supaya aku tidak perlu terlalu banyak bicara. Lalu insiden "kencan" yang viral di grup chat angkatan gara-gara seseorang memfoto kami berdua duduk berdua di perpustakaan mengerjakan tugas yang sama itu, dengan caption yang jauh lebih dramatis dari kenyataan. Lalu usaha comblang Sasa yang, entah kenapa, melibatkan seorang cowok bernama Deni dari jurusan Akuntansi yang menurutku baik tapi menurut Cahaya "terlalu banyak ngomongin saham" sepanjang dua jam mereka ngobrol, dan berakhir dengan Cahaya kabur ke toilet dan tidak pernah keluar sampai Deni pulang duluan.
Aku tidak sepenuhnya paham detail-detail di baliknya. Aku cuma tahu bahwa dalam dua minggu itu, ada beberapa momen di mana Cahaya terlihat sedikit lebih pendiam dari biasa, terutama waktu aku cerita soal teman baruku dari klub anime kampus, seorang cewek bernama Wulan yang kebetulan juga suka Stellar Requiem. Aku sempat merasa bersalah karena kupikir aku terlalu sering cerita soal Wulan sampai mengganggu Cahaya, jadi aku berhenti membahasnya untuk sementara.
Sekarang, ujian tengah semester tinggal empat hari lagi, dan semua drama-drama kecil itu untuk sementara mengendap di bawah tumpukan yang jauh lebih mendesak: aku belum paham sama sekali soal integral lipat dua, dan Cahaya, berdasarkan pengakuannya sendiri, "buta total" soal teori komunikasi massa yang jadi materi ujian utamanya.
Jadi kami memutuskan belajar bareng. Ide itu datang dari Cahaya, Senin sore, lewat pesan singkat yang tidak bisa ditawar.
"Ren. Kamis kita belajar bareng. Rumahku. Enggak nego."
Rumah Cahaya, jam tiga sore hari Kamis, kamarnya berantakan dengan cara yang khas: buku catatan bertumpuk di atas meja belajar, satu laptop terbuka menampilkan slide presentasi yang belum sempat ditutup, dan bantal-bantal yang berserakan di lantai karena dipakai sebagai sandaran darurat kapan pun dia bosan duduk di kursi.
Aku datang membawa buku Kalkulus, laptop, dan satu bungkus keripik yang aku beli di minimarket dekat gang karena aku sudah tahu dari pengalaman bahwa sesi belajar bareng dengan Cahaya selalu butuh amunisi camilan yang cukup.
"Kamu bawa keripik?" tanyanya, begitu aku masuk kamar.
"Standar operasional. Kamu sendiri yang ngajarin aku itu waktu SMA."
"Iya sih." Dia mengambil bungkus keripik dari tanganku, membukanya tanpa basa-basi lebih dulu, mengambil satu, lalu menaruh bungkusnya di tengah meja belajar yang sudah penuh. "Oke, kita mulai dari mana? Kalkulus kamu apa Komunikasi Massa aku?"
"Terserah kamu."
"Kalkulus kamu dulu deh. Biar otakku belom capek pas harus bantu itung-itungan."
Aku menyusun buku dan laptop di sisi meja yang masih kosong, sementara Cahaya duduk di kursi putarnya, memutar badan sedikit ke arahku, menunggu.
"Materi utamanya integral lipat dua," kataku, membuka buku ke halaman yang sudah aku tandai dengan sticky note kuning. "Sama penerapannya buat menghitung volume benda putar."
"Itu apaan sih sebenernya. Aku denger 'integral lipat dua' aja udah pusing."
"Bayangin kamu punya permukaan, terus kamu mau ngitung volume di bawah permukaan itu, tapi dalam dua dimensi sekaligus. Jadi bukan cuma manjang, tapi juga melebar."
Cahaya menatapku dengan ekspresi yang jelas menandakan penjelasanku sama sekali tidak membantu. "Ren, aku jurusan Komunikasi. Aku enggak paham 'permukaan' dalam konteks matematika itu kayak apa."
"Oke, coba begini." Aku meraih kertas kosong, mulai menggambar sketsa sederhana, kotak tiga dimensi dengan permukaan melengkung di atasnya. "Bayangin ini kayak gunung kecil. Kalau kamu mau tau berapa banyak tanah yang ada di dalem gunung ini, kamu enggak bisa cuma ngitung panjang sama lebarnya doang, karena tingginya beda-beda di tiap titik."
"Oke, itu lebih masuk akal."
"Nah, integral lipat dua itu cara buat ngitung itu. Kamu potong-potong permukaannya jadi kotak-kotak kecil, terus kamu jumlahin volume tiap kotak itu."
Cahaya mengangguk pelan, menatap gambarku dengan ekspresi lebih serius sekarang. "Terus rumusnya gimana?"
Aku menjelaskan rumus dasar, notasi integral rangkap, batas-batas integrasi, dan bagaimana itu diterapkan ke soal-soal yang biasanya keluar di ujian. Cahaya mendengarkan dengan cukup fokus untuk ukuran dia, sesekali mengangguk, sesekali bertanya hal-hal yang sebenarnya cukup masuk akal meski terdengar sederhana, dan setelah sekitar dua puluh menit, dia mulai bisa mengikuti satu-dua contoh soal yang aku berikan.
"Coba kamu kerjain yang ini sendiri," kataku, menunjuk ke satu soal di buku latihan.
Cahaya mengambil pensil, mulai menulis, dahinya berkerut konsentrasi, lidahnya sedikit terjulir di sudut bibir, kebiasaan yang sudah dia punya sejak SD setiap kali dia benar-benar serius mengerjakan sesuatu yang sulit. Aku menunggu, memperhatikan, dan ada sesuatu dalam momen itu, dalam melihat dia berusaha keras memahami sesuatu yang sama sekali bukan dunianya, yang terasa lebih menyenangkan dari yang seharusnya untuk sekadar sesi belajar Kalkulus.
"Ini bener enggak?" tanyanya, menyerahkan kertasnya.
Aku memeriksa. Setengah benar, ada kesalahan kecil di batas integrasi yang dia tulis terbalik, tapi metodenya sudah tepat.
"Hampir. Batas atasnya harusnya di sini, bukan di sana." Aku menunjuk ke bagian yang salah, dan tanpa sadar aku mencondongkan badan lebih dekat ke kertas itu untuk menjelaskan, dan Cahaya juga mencondongkan badan dari sisi lain, sampai kepala kami hampir bersentuhan di atas kertas yang sama.
"Oh," katanya, cukup dekat sampai aku bisa mendengar napasnya berubah sedikit. "Oh iya, aku kebalik."
"Iya."
Kami berdua diam sebentar, masih dalam posisi yang sama, sampai Cahaya tiba-tiba menegakkan badan, agak cepat, dan berdeham kecil.
"Oke, aku ulang," katanya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa, dan aku tidak terlalu memikirkan kenapa, karena aku juga sedang sibuk menegakkan badan dan pura-pura fokus ke buku catatanku sendiri.
Setelah sekitar satu jam, kami beralih ke materi Cahaya, teori komunikasi massa, yang ternyata jauh lebih banyak hafalan dibanding hitung-hitungan, sesuatu yang membuat aku, secara mengejutkan, cukup kewalahan.
"Ini ada berapa teori sih yang harus dihafal?" tanyaku, menatap daftar di slide presentasinya yang panjangnya hampir dua halaman penuh.
"Sembilan teori utama. Tapi yang paling sering keluar cuma lima."
"Kamu udah hafal semua?"
"Belom. Makanya kita belajar." Dia menggeser laptopnya lebih dekat ke arahku. "Coba kamu tanya-tanya aku, kayak simulasi ujian gitu."
Aku membaca salah satu poin di layar. "Teori Agenda Setting."
"Itu... teori yang bilang media enggak nentuin apa yang orang pikirin, tapi nentuin apa yang orang pikirin tentang."
"Detailnya?"
"Media enggak bisa maksa orang percaya sesuatu, tapi media bisa nentuin topik apa yang jadi penting buat dibahas publik. Kayak, kalau berita tiap hari ngebahas soal ekonomi, orang bakal mikir ekonomi itu masalah paling penting, walaupun sebenernya ada masalah lain yang lebih urgent."
"Itu bener," kataku, agak terkejut dia bisa menjelaskan sedetail itu tanpa membaca dari slide. "Coba yang lain. Uses and Gratifications."
Cahaya menyandarkan diri ke kursi, memejamkan mata sebentar seperti mencoba mengingat, lalu menjelaskan dengan cukup lancar meski beberapa kali harus berhenti mencari kata yang tepat. Aku dengarkan sambil sesekali mengoreksi kalau ada bagian yang kurang tepat, meski jujur, materi ini sebenarnya jauh dari bidangku dan aku hanya bisa membantu berdasarkan apa yang tertulis di slidenya.
"Kamu jago juga ngapalin," kataku, setelah dia berhasil menjelaskan empat teori berturut-turut dengan cukup akurat.
"Aku emang lebih jago ngapalin dibanding kamu yang lebih jago logika."
"Itu enggak sepenuhnya bener. Aku juga bisa ngapalin."
"Coba kamu apalin sembilan teori ini."
"Itu bukan bidangku."
"Makanya. Kamu jago di bidang kamu, aku jago di bidang aku." Dia mengambil keripik lagi dari bungkus yang sudah setengah kosong, mengunyahnya sambil menatapku dengan ekspresi yang aku tidak sepenuhnya bisa baca. "Makanya enak kalo belajar bareng. Saling nutupin."
Aku tidak langsung menjawab itu, karena entah kenapa kalimat sesederhana itu terasa lebih berat dari yang seharusnya, seperti ada lapisan makna lain di bawahnya yang aku tidak sepenuhnya mengerti.
"Iya," jawabku akhirnya, karena itu jawaban paling aman yang bisa aku berikan.
Jam lima sore, ibu Cahaya mengetuk pintu kamar, membawa dua piring pisang goreng yang masih hangat, aroma minyak dan gula merah yang langsung memenuhi ruangan begitu pintu terbuka.
"Belajar kok berantakan gini," kata beliau, meletakkan piring di sela-sela buku dan kertas yang menumpuk di meja. "Rendy, kamu makan yang banyak ya, biar pinter kayak papamu."
"Mama," protes Cahaya, wajahnya sedikit merah. "Papa enggak ada hubungannya sama ini."
"Ya kan biar semangat aja," kata ibunya, tersenyum jahil, lalu keluar kamar sambil menutup pintu, meninggalkan kami berdua dengan pisang goreng dan keheningan yang sedikit canggung.
"Mamamu masih suka ngeledek soal itu," kataku, mengambil satu pisang goreng.
"Dia emang gitu dari dulu. Enggak pernah berubah." Cahaya mengambil satu juga, menggigitnya, lalu meniup-niup mulutnya karena masih terlalu panas. "Kamu inget enggak, dulu waktu kita SD, mama sering banget ngeledek kita bakal jodoh."
"Inget."
"Kamu dulu jawabannya apa waktu diledekin gitu?"
Aku mencoba mengingat, dan yang muncul di kepalaku adalah versi diriku yang jauh lebih kecil, duduk di ruang tamu rumah Cahaya, menjawab pertanyaan orang dewasa dengan keseriusan yang sekarang terasa lucu kalau diingat kembali.
"Aku jawab kita enggak bisa jodoh karena kita berdua laki-laki dan perempuan tapi statusnya temen, bukan pasangan, jadi definisinya enggak masuk."
Cahaya tertawa keras, sampai harus menutup mulutnya karena masih ada pisang goreng di dalamnya. "Itu jawaban paling literal yang pernah aku denger dari anak umur tujuh tahun."
"Aku serius waktu itu."
"Makanya lucu banget, Ren." Dia menyeka air mata kecil di sudut matanya, masih tertawa. "Kamu tuh dari kecil emang udah kayak gini. Enggak ngerti sindiran, enggak ngerti candaan yang ada maksud tersembunyinya."
"Aku ngerti candaan."
"Candaan yang literal doang. Kalo ada maksud tersirat, kamu langsung blank."
Aku ingin membantah itu, tapi dalam hati aku tahu dia mungkin benar, jadi aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan itu dan kembali ke buku Kalkulus yang masih terbuka di depanku.
Sekitar jam tujuh malam, setelah break makan malam singkat (mi instan yang dimasak Cahaya dengan hasil yang, untungnya, tidak seburuk biasanya), kami kembali ke sesi belajar, kali ini dengan energi yang mulai menurun.
"Aku udah pusing," keluh Cahaya, merebahkan kepala di atas buku catatannya, pipinya menempel di kertas.
"Baru jam tujuh."
"Tapi otakku udah kerja dari jam tiga sore."
"Ujiannya empat hari lagi. Kalau kamu berhenti sekarang, kamu bakal nyesel."
"Aku tau, tapi..." Dia mengangkat kepala sedikit, menatapku dengan mata yang terlihat lelah tapi tetap ada kilat jahil di dalamnya. "Kamu enggak capek apa? Dari tadi ngajarin aku terus."
"Aku enggak capek. Ini juga cara aku ngulang materi sendiri."
"Kamu selalu punya alesan logis buat segala hal ya."
"Itu bukan alesan. Itu emang bener."
Cahaya menghela napas, duduk lebih tegak, meregangkan kedua tangan ke atas sampai terdengar bunyi sendi yang berbunyi pelan. "Oke, kita lanjut. Tapi abis ini istirahat beneran, bukan istirahat lima menit doang kayak tadi."
"Deal."
Kami melanjutkan sesi belajar, kali ini bergantian menguji satu sama lain, aku memberi soal Kalkulus untuk dia coba, dia memberi pertanyaan teori komunikasi untukku jawab, dan pola itu berjalan dengan ritme yang cukup nyaman, diselingi candaan-candaan kecil setiap kali salah satu dari kami menjawab dengan cara yang salah atau terlalu literal.
"Coba jelasin teori Spiral of Silence," kata Cahaya, menunjuk ke slide.
Aku membaca definisinya sekilas dari catatan Cahaya, mencoba merangkumnya dengan bahasaku sendiri. "Orang cenderung diem kalau pendapat mereka beda dari mayoritas, karena takut dikucilkan."
"Bagus, itu bener."
"Aku ngalamin itu setiap hari di grup PKKMB."
Cahaya tertawa. "Kamu diem doang di grup itu, Ren, bukan karena takut dikucilkan. Kamu emang enggak pernah baca chatnya."
"Itu strategi yang berbeda tapi hasilnya sama."
"Itu bukan strategi. Itu emang kamu enggak peduli."
Aku tidak membantah itu, karena, sekali lagi, dia mungkin benar.
Jam sembilan malam, kelelahan mulai benar-benar terasa. Cahaya sudah beberapa kali menguap, matanya berkedip lebih lambat dari biasa, dan aku sendiri merasakan mataku mulai perih karena terlalu lama menatap layar laptop dan buku catatan bergantian.
"Kita istirahat bentar," kataku, menutup buku Kalkulus. "Otak kita udah enggak optimal."
"Setuju." Cahaya merebahkan diri ke lantai, menggunakan salah satu bantal yang tadi tergeletak di sudut kamar sebagai sandaran kepala, menatap ke langit-langit. "Kamu tau enggak, aku baru sadar, belajar bareng kamu tuh beda rasanya dari belajar sendiri."
Aku ikut duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjangnya, jarak sekitar satu meter dari tempat dia berbaring. "Beda gimana?"
"Enggak tau. Lebih santai aja. Kalo belajar sendiri, aku suka overthink, mikir 'aduh aku enggak bakal bisa ini', terus jadi stress sendiri. Tapi kalo sama kamu, meskipun kamu enggak selalu bener-bener bisa bantuin, tetep aja rasanya lebih... aman."
Aku menatap langit-langit juga, mencoba mencerna kalimat itu tanpa langsung merespons, karena aku merasa apa pun yang aku katakan berikutnya perlu dipilih dengan hati-hati.
"Aku juga," kataku akhirnya, sesederhana itu, karena itu memang yang aku rasakan.
Cahaya tidak menjawab langsung. Ruangan jadi sunyi sebentar, hanya suara kipas angin di sudut kamar yang berputar konstan, dan suara samar televisi dari ruang tengah yang terdengar lewat celah pintu.
"Ren," katanya, setelah beberapa saat.
"Hm?"
"Kalo misalnya kita enggak sekelas, enggak sejurusan, malah beda kampus... menurutmu kita masih bakal sedeket ini?"
Pertanyaan itu datang dengan nada yang berbeda dari biasanya, lebih pelan, lebih hati-hati, dan aku menoleh ke arahnya, mendapati dia masih menatap langit-langit, tidak menatap balik ke arahku, seolah sengaja menghindari kontak mata untuk pertanyaan ini.
Aku memikirkannya sungguh-sungguh sebelum menjawab. "Menurutku iya. Kita udah temenan dari sebelum ada kampus, sebelum ada jurusan. Itu enggak akan berubah cuma karena variabel-variabel itu beda."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
Cahaya diam lagi, lebih lama kali ini, dan aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa dia menutup matanya, entah karena mengantuk atau karena sedang memikirkan sesuatu yang cukup dalam untuk butuh mata tertutup.
"Makasih," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
"Untuk apa?"
"Buat jawabannya."
Aku tidak tahu harus merespons apa untuk itu, jadi aku diam, membiarkan keheningan itu ada, sesuatu yang terasa nyaman meski aku tidak sepenuhnya paham kenapa pertanyaan tadi terasa begitu penting untuk dia tanyakan malam ini, di tengah sesi belajar Kalkulus dan teori komunikasi massa.
Sekitar sepuluh menit kemudian, aku menoleh lagi ke arahnya karena dia tidak berbicara apa pun, dan aku menemukan Cahaya sudah tertidur, napasnya teratur dan pelan, satu tangan masih memegang ujung bantal, posisi tubuhnya agak meringkuk seperti anak kecil yang kelelahan setelah bermain seharian.
Aku duduk diam, tidak yakin harus melakukan apa. Membangunkannya terasa tidak tega, mengingat betapa lelahnya dia hari ini, tapi membiarkan dia tidur di lantai juga tidak ideal.
Aku akhirnya berdiri pelan-pelan, mengambil selimut tipis yang tergantung di sandaran kursi belajarnya, dan menyelimutinya dengan hati-hati, berusaha tidak membuat gerakan yang terlalu besar. Cahaya bergerak sedikit, mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti gumaman tidak jelas, tapi tidak terbangun.
Aku duduk kembali di lantai, bersandar ke ranjangnya, menatap wajahnya yang tertidur, tenang, jauh berbeda dari ekspresi energiknya yang biasa aku lihat siang hari. Dalam cahaya lampu kamar yang agak temaram, dia terlihat lebih muda dari biasanya, seperti versi dirinya yang lebih dekat dengan Cahaya kecil yang dulu sering tertidur di ruang tamu setelah main seharian, dan aku atau orang tuanya harus menggendongnya pulang.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana, menatapnya, memikirkan berbagai hal yang tidak sepenuhnya berbentuk jelas di kepalaku. Pertanyaannya tadi, soal apakah kami masih akan sedekat ini kalau variabel-variabel di sekitar kami berbeda. Komentar Sasa beberapa minggu lalu yang tidak pernah selesai dijelaskan. Momen di mana kepala kami hampir bersentuhan tadi sore saat aku menjelaskan batas integrasi.
Semua itu terasa seperti potongan-potongan yang, kalau disusun, mungkin membentuk gambar yang lebih besar. Tapi aku tidak sepenuhnya yakin gambar apa itu, atau apakah aku memang seharusnya mencoba menyusunnya sekarang.
Ponselku bergetar pelan di saku. Pesan dari ibuku, menanyakan apakah aku akan pulang malam ini atau menginap.
Aku melirik jam. Sepuluh lewat lima belas.
Aku mengetik balasan singkat, bilang aku akan pulang sebentar lagi, lalu menatap Cahaya sekali lagi sebelum memutuskan untuk membangunkannya, karena membiarkan dia tidur semalaman di lantai dengan posisi seperti itu bukan ide yang baik untuk lehernya besok pagi.
"Cahaya," panggilku pelan, menyentuh bahunya perlahan.
Dia bergerak, mengerang pelan, matanya terbuka setengah, bingung sesaat sebelum akhirnya sadar di mana dia berada.
"Aku ketiduran?" tanyanya, suaranya masih serak.
"Iya. Sekitar dua puluh menit."
Dia duduk, menggosok matanya, rambutnya sedikit berantakan di satu sisi. "Kok kamu enggak bangunin dari tadi?"
"Kamu keliatan capek banget."
Cahaya menatapku, ekspresinya masih setengah mengantuk tapi ada sesuatu yang lembut di sana, sesuatu yang tidak biasa muncul di wajahnya yang biasanya penuh energi. "Makasih," katanya lagi, kali ini lebih jelas dari yang tadi.
"Sama-sama. Aku pulang dulu ya, udah malem."
"Oke." Dia berdiri, sedikit sempoyongan, menyusun buku-buku yang berserakan di meja dengan gerakan yang masih setengah otomatis karena mengantuk. "Besok lanjut lagi? Masih ada dua hari sebelum ujian."
"Boleh. Di rumahku aja gantian, biar mamamu enggak repot masak terus."
"Setuju." Dia mengantarku sampai depan pintu rumah, malam sudah cukup larut dan gang sudah sepi, hanya suara jangkrik dan lampu jalan yang redup menerangi jalan pulangku.
"Hati-hati," katanya, dari ambang pintu.
"Iya. Tidur yang bener, jangan lanjut belajar lagi."
"Enggak janji."
Aku menggeleng, tersenyum kecil, lalu berjalan pulang, melewati gang yang sudah aku hapal setiap detailnya sejak kecil, pikiranku masih sedikit melayang ke sesi belajar tadi, ke pertanyaan yang dia ajukan, ke momen dia tertidur dengan tenang di lantai kamarnya.
Sampai rumah, aku langsung ke kamar, merebahkan diri di kasur tanpa sempat ganti baju dulu, terlalu lelah untuk melakukan hal lain selain menatap langit-langit.
Ujian tinggal empat hari lagi. Aku sudah cukup paham materi Kalkulus, dan Cahaya, meski masih perlu banyak latihan, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya soal teori-teori komunikasi massa.
Tapi yang paling menempel di kepalaku malam itu bukan materi ujian.
Yang menempel adalah pertanyaannya. Kalo misalnya kita enggak sekelas, enggak sejurusan, malah beda kampus, menurutmu kita masih bakal sedeket ini?
Aku sudah menjawabnya dengan yakin, dan aku masih yakin dengan jawaban itu. Tapi ada sesuatu di cara dia bertanya, di nada suaranya yang berbeda dari biasa, yang membuatku bertanya-tanya kenapa pertanyaan itu penting untuk ditanyakan malam ini, di tengah sesi belajar yang seharusnya cuma soal integral lipat dua dan teori Agenda Setting.
Aku meraih ponsel, membuka aplikasi pesan, mengetik sesuatu untuk Cahaya, lalu menghapusnya lagi, tidak yakin apa yang ingin aku katakan atau apakah ada yang perlu dikatakan sama sekali.
Akhirnya aku hanya mengetik satu kalimat sederhana.
"Makasih buat hari ini. Belajar bareng kamu emang lebih enak."
Balasannya datang cukup cepat, meski aku pikir dia sudah kembali tidur.
"Sama-sama, Ren. Besok di rumahmu ya. Jangan lupa siapin keripik lagi."
Aku tersenyum kecil, membalas dengan janji akan menyiapkan camilan lebih banyak dari hari ini, dan setelah itu percakapan berhenti di sana, sesederhana biasanya, tanpa drama tambahan.
Aku meletakkan ponsel, menutup mata, dan mencoba tidur, meski pikiranku masih sedikit berputar di sekitar hari ini, di sekitar integral lipat dua yang akhirnya mulai masuk akal, teori-teori komunikasi yang sekarang sudah lebih familiar, dan satu pertanyaan yang, entah kenapa, terasa lebih besar dari sekadar pertanyaan biasa di tengah sesi belajar.
Empat hari lagi ujian.
Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal lain di luar itu untuk sekarang, dan perlahan, kelelahan hari ini akhirnya membawaku tidur.