Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Di sebuah ruangan pusat analisis data intelijen taktis siang ini, terasa tegang dengan hawa dingin dari pendingin ruangan.

Siang ini diam-diam ada rasa yang menggelayuti benak Mayor Angga Pratama.

Di dalam ruangan ini suasana terasa semi-formal, ruangan yang di dominasi panel kayu modern dan beberapa komputer berspesifikasi tinggi nampak berderet di atas meja panjang.

Di dinding utama ada sebuah layar monitor raksasa yang menampilkan peta digital satelit, gambarnya sangat detail di sertai berbagai koordinat yang berkedip perlahan.

Monitor raksasa itu bersanding dengan Sang Saka Merah putih yang berdiri tegak di sisi kiri, dan bendera kesatuan di sisi kanan.

Nampak, dua orang perwira menengah muda tengah berbincang.

Angga duduk di salah satu kursi kerja beroda, tubuhnya mengenakan seragam dinas lapangan (PDL) TNI loreng Malvinas lengkap dengan emblem kesatuan di lengan kirinya.

Di hadapannya terlihat setumpuk dokumen laporan resmi, dan sebuah laptop yang menyala.

Tepat di sampingnya duduk, Letnan satu Rizki----anak buah terpercaya sekaligus teman dekat untuk Angga.

"Izin Mayor," lapor Letnan Rizki dengan nada suara rendah.

Angga menatap anak buahnya, seolah dirinya siap mendengar laporan dari Letnan Rizki.

"Sesuai perintah saya sudah melakukan pelacakan mendalam pada jejak digital, dengan menyinkronkan data profil instagram pribadinya berbasis kependudukan," jelasnya.

"Apa ada lagi?" tanya Angga berusaha bersikap profesional.

"Siap izin Mayor, saya juga mendapati dari alamat IP yang aktif, hasilnya presisi," lanjutnya.

Letnan Rizki memencet tombol enter di keyboard, dan layar monitor besar di belakangnya nampak sedang melakukan pembaharuan tampilan.

Layar itu kini menampilkan tajuk besar: “ASRI - Generated Digital Profile”, lengkap dengan foto wajah manis Asri Devantara, koordinat satelit rumah tinggalnya, hingga nomor ponsel aktif yang terdaftar secara resmi.

"Izin Mayor, saya juga mendapatkan dari data ini jika Asri akan pergi ke luar negeri. Untuk menetap selamanya," ungkapnya.

Mendengar itu wajah Angga langsung pucat, dirinya amat tak percaya mendengar itu.

"Makasih ya, Letnan Rizki, udah mau bantu saya melacak data ini secara rahasia," ucap Angga tulus, mengulas senyum tipis di bibirnya sembari menatap lekat-lekat baris nomor telepon Asri yang tertera di layar.

"Siap, sudah menjadi kewajiban saya, Mayor. Informasi ini sepenuhnya aman dan tidak akan bocor ke sistem pengawasan kesatuan luar," jawab Letnan Rizki sembari mengangguk hormat.

Sebelum Angga sempat mencatat nomor telepon Asri, terdengar derap langkah sepatu pantofel mendekati meja kerja mereka.

Bima Adiyatma

Sosok perwira menengah dengan postur tubuh yang tak kalah gagah dari Angga, pria itu mendekati Angga dan anak buahnya.

Mayor Bima Adiyatma mengenakan seragam PDL loreng yang senada, lengkap dengan nametag yang tersemat rapi di dada kanannya.

Bima gesturnya sangat akrab layaknya sahabat karib sejak masa pendidikan taruna, Bima berdiri di samping Angga.

"Woyy sibuk nih," ucap Bima.

Bima meletakkan telapak tangan kanannya di atas pundak kiri sahabatnya, ikut menatap layar monitor raksasa itu.

Letnan Rizki menyadari kehadiran rekan kerja atasannya itu, segera berdiri dan memberikan penghormatan militer yang sopan kepada Bima.

"Duduk kau! Duduk saja," ucap Bima menyuruh Letnan Rizki duduk.

"Siap Mayor," sahutnya, lalu kembali duduk di kursi putarnya.

Bima lalu meledek Angga.

"Romannya udah nemu Asri nih, cantik sih. Peneliti lagi," ledek Bima dengan nada suara yang berbisik.

Tangannya masih menepuk pundak Angga sekali lagi, refleks Angga menoleh ke arahnya.

"Shuttt, jangan berisik Bim. Kalo sampai Jendral Hussen tahu abis kita," tegur Angga menatap sahabat karibnya itu.

Bima terkekeh pelan, lalu melipat kedua tangannya sembari menyandarkan tubuhnya sedikit pada tepi meja kerja Angga.

"Sensitif kali lah kau," ucap Bima.

Angga menghela napas panjang, mematikan laptopnya dan menutupnya perlahan----seolah dirinya risih akan ledekan Bima, sahabatnya.

"Asri akan keluar negeri Bim, setelah kemarin aku ke rumah dia buat minta maaf," ucap Angga.

Mendengar itu, senyum di wajah Bima perlahan-lahan memudar di gantikan wajah yang serius.

Bima dan Angga orangtuanya menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta, dan Bima tahu benar akan seberapa tinggi taruhan yang sedang Angga lakukan.

"Aku ke rumah dia, karena dia selalu terbayang-bayang di pikiran aku," lanjutnya.

Bima menatap sekeliling agar tak ada yang mendengar ucapan mereka, di dalam ruangan komando ini.

"Kau bertemu Asri...memberikan bantuan atau ganti rugi?" tanyanya lagi.

"Yah...berdamai, dan anggap dia adekku," jawabnya singkat.

Bima mengerutkan keningnya dengan heran, dan langsung berbisik pelan.

"Realistis aja ya, terus Alina gimana?" tanya Bima dengan rasa ingin tahu.

Pertanyaan singkat dari Bima, seketika bagai beban yang di pukul menghantam hati Angga dengan kencang.

Dadanya kini terasa di himpit dua batu besar, "Alina itu tunangan resmi kau, jangan lupa ayahnya itu Mayor Jenderal Fadhil Barenyah—pria paling berkuasa di lingkungan kesatuan upacara kementerian dan markas besar."

Terlihat kini wajah Bima nampak panik ketakutan, harusnya yang panik ketakutan adalah Angga---tapi kenapa malah Bima yang ketakutan dan panik.

"Kau tahu sendiri seberapa besar ambisi Jenderal Fadhil untuk menyatukan keluarga kau dan Alina demi prestise militer. Pertunangan kalian bulan depan sudah masuk ke dalam protokol kesatuan," ucapnya.

Angga terdiam membisu, pandangan matanya menatap kosong ke arah dokumen di hadapannya ini.

"Tapi aku liat Alina sejak awal sampai sekarang tak cinta ama aku, Bim. Apa benar Alina sudah punya kekasih?" tanya Angga,

Mendengar itu Bima dan Rizki saling pandang satu sama lain, keduanya merasa heran dengan sikap Angga.

Padahal yang awalnya sangat bersemangat atas pertunangan ini adalah Angga, namun kenapa Angga nampak berbeda.

Angga sendiri untuk nurani kecilnya berontak dan mengatakan jika pertunangannya dengan Alina adalah paksaan, di sisi lain hatinya merasakan hal asing saat membayangkan bersama Asri.

"Ah aku nggak mau ikut-ikut lah, urusannya ama kau saja." Bima pergi meninggalkan Angga, karena ini adalah posisi yang membingungkan.

Pikiran Angga masih terbayang soal dirinya mendekap Asri, namun di sisi lain bayang-bayang kehancuran militernya dan nama baik orangtuanya di Yogyakarta adalah ketakutan terbesarnya.

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!