"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: RANAH AWAKENED AWAL DAN HUKUM CHAOS
BOOOOOOMMM!!!
Hantaman petir kedua meremukkan pertahanan Mo Xie dengan daya hancur yang tak terbayangkan. Tekanan dahsyat dari langit memaksa tubuh fananya terdorong semakin dalam, hingga kedua lututnya menghantam batu es hingga hancur berkeping-keping.
Lengan kanannya yang menyambut hantaman guruh secara langsung melepuh hebat. Dagingnya mengelupas, membakar jaringan kulit hingga menghitam dan memperlihatkan retakan tulang yang membara di balik luka. Uap panas membumbung tinggi dari tubuh Mo Xie, bercampur dengan aroma amis darah dan daging yang terbakar.
"AKKHHHHHHHH!"
Rasa sakit yang membakar seluruh sarafnya membuat raungan Mo Xie pecah, membelah gemuruh badai yang mengamuk. Namun, alih-alih menyerah atau memohon belas kasihan pada hukum alam, sepasang matanya justru memancarkan kegilaan dan dendam yang kian menyala-nyala.
"Apa kau sedendam itu padaku, HAH?!" teriak Mo Xie histeris ke arah langit yang kelam, menyeka aliran darah kental yang mengalir deras dari hidung dan mulutnya. "DATANGLAH LEBIH BANYAK LAGI!"
Di udara, Mu Bingyun yang melayang mengawasi dari kejauhan membelalakkan matanya yang sewarna batu safir.
Anak ini... dia malah menantang Bencana Langit? batin Mu Bingyun dengan dada bergetar.
Secara normal, ujian penerobosan dari ranah Mortal menuju Awakened hanya memanggil dua kali hantaman petir surgawi. Dua sambaran itu saja sudah cukup untuk menguji apakah fondasi seorang praktisi layak melangkah ke jenjang spiritual. Namun, melihat gejolak Awan Bencana di atas puncak yang tidak kunjung memudar, Mu Bingyun sadar bahwa langit sama sekali belum selesai.
Mo Xie benar-benar berada di ambang batas kemampuannya. Pandangannya mulai memburam, seluruh tulangnya meremang parah, namun dengan ketahanan mental yang mengerikan, ia memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak menahan sisa sambaran guruh.
Di kedalaman dadanya, Dantian fana milik Mo Xie berdenyut sangat kencang. Dantian yang tadinya rapat dan rapuh kini mulai meluas, merekah, dan bertransformasi secara radikal menjadi wadah spiritual murni ranah Awakened.
Mo Xie menggertakkan giginya rapat-rapat hingga gusi dan bibirnya berdarah.
Namun, langit tidak memberikan jeda sedikit pun.
JDHAAAAAAAARRRRRR!!!
Petir ketiga—jauh lebih besar, pekat, dan memancarkan hawa pembunuhan mutlak—melesat turun membelah pusaran awan hitam tanpa menunggu Mo Xie memulihkan napasnya!
"Jangan harap kau bisa menghancurkanku!" geram Mo Xie.
Ia tidak tinggal diam menyerahkan nyawanya pada murka surgawi. Simbol pedang hitam di pergelangan tangan kanannya mendadak berdenyut hebat.
WUUUUUSH!
Manifestasi Pedang Kehampaan meledak keluar, memadat menjadi bilah pedang hitam pekat di genggaman tangan kanannya yang melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga dan seluruh ketahanan jiwanya, Mo Xie mengacungkan bilah pedang hitam itu tegak lurus mengangkasa!
DHUAAARRRRRR!!!
Pilar petir raksasa itu menghantam tepat di ujung bilah Pedang Kehampaan! Benturan dua kekuatan destruktif itu menciptakan gelombang kejut maha dahsyat yang meratakan seluruh permukaan puncak es.
Tubuh Mo Xie terpental keras dan terkapar tak berdaya di atas tumpukan batu es yang hancur. Pedang Kehampaan terlepas, menancap miring beberapa senti di samping tubuhnya yang terkulai lemah. Pakaiannya telah habis terbakar, menyisakan luka bakar dan genangan darah yang membasahi salju di sekelilingnya.
Di tengah kesadaran yang nyaris padam, mata kiri Mo Xie mendadak berpendar menyilaukan.
Inti Es Abadi di dalam mata kirinya meledak secara pasif. Hawa Hukum Es murni membeku dengan cepat, menyelimuti tubuh Mo Xie yang melepuh untuk menahan guncangan organ dalam. Tak berhenti di situ, gelombang hawa beku nirwana itu terus menjalar, merayap ganas ke arah Pedang Kehampaan yang sedang mendesis panas di atas tanah.
Qi Kegelapan dari Pedang Kehampaan dan Hukum Es dari Inti Es Abadi saling bertabrakan. Dua energi yang bertolak belakang tersebut bergejolak liar, saling membelit, menekan, dan mencoba melahap satu sama lain di atas raga Mo Xie.
Di dalam kedalaman Aula Agung yang sunyi, Ketua Agung Han Wuyan memejamkan matanya sejenak, persepsi spiritualnya menembus dinding benteng dan menyaksikan benturan ekstrem tersebut.
"Siapakah yang akan menang di antara dua kekuatan itu?" gumam Han Wuyan pelan, suaranya dipenuhi beban sejarah. "Mo Xie... takdirmu kini akan ditentukan detik ini."
Pendar cahaya biru terang dari Inti Es Abadi dan kegelapan pekat dari Pedang Kehampaan yang saling melumat itu mendadak berhenti bergejolak. Kedua warna tersebut melebur, menyatu secara mengerikan menjadi semburat warna kelabu pekat yang memancarkan pendar misterius.
Sebuah fluktuasi kekuatan yang teramat sangat mengerikan tercipta—sebuah entitas energi yang seolah membawa keheningan dan kehancuran masa lalu secara bersamaan.
Hukum Chaos.
Seluruh Qi spiritual di sekitar tubuh Mo Xie sepenuhnya berubah, terdistorsi menjadi materi esensi baru yang belum pernah disaksikan oleh praktisi di era sekarang.
Perlahan, Mo Xie membuka kedua matanya.
Rasa sakit yang melumpuhkan raganya sirna secara ajaib, digantikan oleh gelombang kekuatan baru yang jauh lebih liar, pekat, dan tak bertepi. Dantian di dalam tubuhnya telah sepenuhnya bertransformasi, memadamkan fondasi fana dan melahirkan wadah spiritual di ranah Awakened awal.
"Aku... berhasil..." bisik Mo Xie rendah.
Bilah pedang di sampingnya yang telah bertransformasi menjadi Pedang Chaos bergetar halus. Dalam sekejap mata, pedang tersebut meleleh menjadi benang-benang energi kelabu pekat, melesat cepat dan menyerap masuk ke dalam pergelangan tangan kanannya.
Di ketinggian langit, Ketua Sekte Mu Bingyun menyaksikan seluruh proses tak masuk akal itu dari balik kabut.
Mata safirnya menyipit tajam saat ia merasakan aura keberadaan Mo Xie yang kini secara sah telah menginjakkan kaki di ranah Awakened. Tanpa mengumbar kata-kata atau menunjukkan riak emosi lebih jauh, Mu Bingyun perlahan berbalik, tubuh anggunnya melebur menjadi bayangan es yang menghilang kembali ke arah Istana Utama.
Tidak lama setelah badai dan Awan Bencana surut sepenuhnya, sebuah bayangan perak-biru melesat cepat mendarat di batas puncak.
Xue Qingyue yang baru saja kembali mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak lebar menyaksikan puncak es pribadinya yang kini telah luluh lantak. Gua tempat Berkulivasi runtuh rata dengan tanah, batu-batu kristal es hancur menjadi debu, dan vegetasi es di sekelilingnya hangus terbakar.
"MO XIEEEEE...! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Xue Qingyue, suaranya yang biasanya dingin kini terangkat tinggi oleh kejengkelan yang tak tertahankan.
Dari balik gumpalan asap dan debu es yang menguap perlahan menipis, sosok Mo Xie melangkah keluar dengan santai. Jubah hitam yang sebelumnya ia kenakan telah hancur menjadi debu akibat sambaran petir, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang kini bertelanjang dada.
Kulit dada dan perawakannya yang tadinya penuh luka melepuh kini telah teregenerasi sepenuhnya, tampak kokoh bagai ukiran porselen murni dengan urat-urat Qi kelabu yang samar di bawah kulitnya.
Niat Xue Qingyue untuk meluapkan amarahnya seketika tertahan di tenggorokan. Ia terkesiap, mundur setengah depak secara insting.
Dari jarak sedekat ini, Xue Qingyue dapat merasakan tekanan aura keberadaan yang menguar dari tubuh Mo Xie. Meski secara tingkatan Mo Xie baru saja menembus ranah Awakened awal, tekanan intensitas spiritual yang dipancarkan oleh Hukum Chaos di dalam raganya terasa begitu padat dan berat—setara dan sanggup menandingi tekanan miliknya yang berada di puncak ranah Awakened!
Anak ini... dia benar-benar seorang monster, batin Xue Qingyue dengan dada berdebar kencang.
Mo Xie yang sadar akan pandangan terkejut Xue Qingyue, mengedarkan pandangannya ke sekeliling puncak yang sudah berubah menjadi kawah hancur berantakan.
Dengan canggung, Mo Xie mengangkat tangan kirinya, menggaruk bagian belakang kepalanya sembari memamerkan cengiran polos yang tak berdosa.
"Ah... hehe... Maaf, Xue Qingyue," ucap Mo Xie dengan nada bersalah yang canggung. "Aku benar-benar tidak bermaksud menghancurkan puncakmu."
Xue Qingyue menyipitkan mata biru esnya, memandangi Mo Xie dari atas ke bawah sebelum akhirnya membuang napas panjang yang menguap di udara beku.
Ia tidak bisa menyalahkan atau mempertanyakan kehancuran ini lebih jauh, sebab ia sendiri yang secara sukarela mengizinkan Mo Xie menggunakan puncak pribadinya sebagai tempat penerobosan.
"Pakai pakaianmu," ujar Xue Qingyue dingin sembari mengibaskan lengannya, melemparkan selembar jubah hitam baru dari cincin ruangnya ke arah Mo Xie.
"Perjalananmu baru saja dimulai, Mo Xie. Dan kau sudah membuat seluruh sekte ini geger."