Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lorenzo yang masih bersandar di dinding merasakan sakit di punggungnya. Dia juga mendengar semua isi pikiran Alina dengan jelas.
CIUMAN PERTAMAKU SUDAH DIREBUT OLEH LORENZO!
Kenapa harus dia?! Kenapa bukan pria tampan yang selama ini aku impikan?!
Wajah Lorenzo yang semula masih menahan rasa sakit perlahan berubah. Dia merasa tidak percaya kalau Alina baru pertama kali dicium.
Alina yang melihat perubahan ekspresi itu semakin gugup.
Lorenzo mengusap punggungnya yang masih terasa nyeri. "Kau ...." katanya pelan.
Alina menatapnya bingung. "Apa?"
Lorenzo mengangkat wajah dan menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Setelah aku menciummu, yang kamu pikirkan malah pria lain?"
Alina langsung membeku. Matanya membesar. Dia menatap Lorenzo seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
Bagaimana dia tahu aku memikirkan pria lain?
Lorenzo menahan napas. Dia hampir saja tersenyum getir. Tentu saja dia tahu. Bahkan sebelum Alina mengucapkan satu kata pun, dia sudah mendengar semuanya dengan jelas. Namun, Alina tidak boleh tahu.
"Aku..." Alina menggigit bibir. "Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Kamu tidak perlu mengatakannya," balas Lorenzo membuat Alina semakin bingung.
"Terus, dari mana kamu tahu?"
Lorenzo terdiam sesaat..Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bisa mendengar suara di dalam kepala istrinya. Akhirnya, dia mengalihkan pandangan sambil mengusap tengkuknya.
"Dari ekspresimu."
Alina berkedip. "Ekspresiku?"
"Iya." Lorenzo menunjuk wajah Alina.."Setelah aku menciummu, wajahmu langsung seperti orang yang baru kehilangan sesuatu."
Alina terdiam.
Memangnya ekspresiku separah itu? Sampai bisa menunjukkan isi hatiku.
Lorenzo hampir tertawa mendengar pertanyaan dalam hati istrinya. Namun, dia segera menahannya.
Alina semakin memeluk kimono handuknya. Wajahnya masih merah. Dia merasa malu, kesal, sekaligus bingung.
Sementara itu, Lorenzo justru merasa sedikit tersinggung. Dia baru saja mencium istrinya karena benar-benar terpesona oleh wanita itu. Namun, hal pertama yang muncul dalam pikiran Alina justru tentang pria tampan lain.
Pria macam apa yang selama ini dia impikan?
Pertanyaan itu membuat Lorenzo semakin tidak nyaman.
Alina sendiri masih sibuk dengan pikirannya. Dia menundukkan wajah.
Ya ampun, memalukan sekali. Kenapa aku malah memikirkan pria lain setelah dicium suamiku sendiri? Terlebih itu ciuman pertamaku. Seharusnya aku senang karena pria itu Lorenzo, suamiku sendiri.
Lorenzo mendengarnya dengan jelas. Untuk sesaat, rasa kesalnya sedikit mereda. Setidaknya Alina juga merasa malu.
Namun, pria itu tetap tidak bisa melupakan satu hal. Kalau istrinya punya bayangan tentang pria ideal yang bahkan bukan dirinya.
Lorenzo mengembuskan napas panjang. "Sudahlah."
Alina mengangkat wajah. "Apa?"
"Pergilah ganti pakaian. Nanti masuk angin." Nada suara Lorenzo terdengar lebih tenang.
Alina mengangguk cepat. Dia berbalik menuju pintu dengan langkah terburu-buru. Namun, baru dua langkah, dia berhenti dan menoleh.
"Lorenzo."
"Hmm?"
Alina menunjuk punggungnya. "Masih sakit?"
"Menurutmu?" Lorenzo melotot karena tidak perlu ditanyakan.
Alina langsung merasa bersalah. "Maaf. Aku tadi terlalu kuat mendorongnya."
Lorenzo mengusap punggungnya sambil mendengus. "Memangnya kamu kira aku itu apa?"
Alina menunduk. "Maaf."
Lorenzo melihat wajah istrinya yang benar-benar merasa bersalah. Dia akhirnya menghela napas.
"Pergilah. Cepat ganti pakaianmu!"
Alina mengangguk dan segera keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Lorenzo berdiri sendirian. Tangannya masih berada di punggung yang terasa nyeri. Namun, pikirannya justru kembali pada satu hal. Pria tampan yang selama ini Alina impikan?
Lorenzo mengusap wajahnya. "Siapa sebenarnya pria itu?"
Di kamar sebelah, Alina mengganti pakaian sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Astaga! Kenapa malam ini kacau sekali? Apa malam ini kita akan melakukan malam pertama?!
Pikirannya justru melayang pada sesuatu yang jauh lebih membuatnya gugup. Malam pertama.
Alina langsung menelan ludah. Selama tiga tahun menikah dengan Lorenzo, mereka tidak pernah menjalani malam pertama seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Tetapi sekarang keadaan mulai berubah. Lorenzo sudah tidak lagi bersikap seperti pria yang ingin segera menceraikannya. Mereka mulai makan bersama, bekerja bersama, bahkan sekarang tinggal serumah dengan jarak yang semakin sulit dipertahankan. Dan barusan, Lorenzo menciumnya.
Alina menutup wajah dengan kedua tangan.
"Kalau tadi saja aku sudah gugup seperti itu, bagaimana kalau suatu hari kami benar-benar menjalani malam pertama?"
Pipinya semakin merah. Dia buru-buru mengambil piyama.
"Astaga, Alina! Kenapa malah memikirkan itu?"
Namun pertanyaan itu sudah terlanjur muncul di kepalanya. Bagaimana rasanya jika suatu hari Lorenzo benar-benar mendekatinya sebagai seorang suami, bukan sekadar pria yang kebetulan terikat pernikahan dengannya?
Alina menggigit bibir. "Aku pasti gugup setengah mati."
Dia menarik napas panjang, kemudian menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Jangan berkhayal macam-macam. Kami bahkan belum benar-benar saling mencintai."
Alina akhirnya berganti pakaian dan duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri tanpa sadar.
Beberapa detik kemudian, dia langsung menarik tangannya seolah baru tersadar. "Kenapa aku masih mengingat ciuman itu?"
Alina di lawan
pasti membekas di hati
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏