Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ctar.
Suara pemantik api berbunyi pelan di dalam mobil sedan sewaan yang mewah itu.
Jiang Ming menatap nyala api kecil di tangannya sebelum mematikannya kembali.
Dia tidak merokok, dia hanya menyukai suara mekanis yang menenangkan pikirannya.
Hari ini dia mengenakan setelan jas hitam pekat yang potongannya sangat pas dengan postur tubuhnya.
Pakaian ini dibelinya seharga puluhan ribu yuan di butik ternama pusat kota Jinhai.
Penampilannya tidak lagi terlihat seperti pemuda miskin yang kebingungan mencari pekerjaan.
Dia terlihat seperti seorang eksekutif muda yang siap menelan dunia.
"Dulu aku selalu bertanya pada diriku sendiri tentang apa yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup," gumam Jiang Ming menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil.
"Tapi hari ini, pertanyaannya telah berubah total."
"Sekarang yang penting adalah, apa yang ingin aku lakukan pada mereka yang menghalangiku?"
Mobil sedan itu melaju membelah jalanan kota dan akhirnya berbelok memasuki area proyek perumahan di wilayah selatan.
Pemandangan di luar jendela sungguh ironis bagi Jiang Ming.
Tempat yang dulunya merupakan kawasan kontrakan kumuh tempat dia tinggal, kini telah diratakan seluruhnya dengan tanah.
Sebagai gantinya, tenda-tenda mewah berwarna merah dan putih didirikan berjejer menyambut acara peletakan batu pertama Grup Tianyu.
Mobil berhenti tepat di depan karpet merah panjang yang membentang menuju panggung utama.
Brak.
Pintu mobil dibuka oleh supir sewaan, dan Jiang Ming melangkah keluar dengan keanggunan yang dingin.
Puluhan tamu undangan dari kalangan pengusaha dan pejabat sudah memenuhi area tersebut.
Namun suasana di tempat itu sama sekali tidak terasa seperti sebuah perayaan yang meriah.
Wajah para pekerja proyek dan staf manajemen Grup Tianyu terlihat tegang dan dipenuhi rasa takut.
"Tuan Jiang Ming, di sebelah sini."
Sebuah suara merdu memanggilnya dari arah samping tenda VIP.
Su Qingxue berjalan menghampirinya dengan balutan gaun formal berwarna putih yang sangat anggun.
Mata wanita itu sedikit membesar saat melihat perubahan drastis pada penampilan Jiang Ming hari ini.
"Jas itu sangat cocok untukmu. Kau hampir tidak bisa dikenali sebagai perantara seni biasa," puji Su Qingxue dengan nada jujur.
"Pakaian hanyalah cangkang luar, Nona Su. Yang penting adalah siapa yang mengendalikannya dari dalam," jawab Jiang Ming tenang.
"Ketua Zhao sudah menunggumu di dekat altar utama. Suasana hatinya sangat buruk pagi ini," bisik Su Qingxue memperingatkan.
Jiang Ming hanya tersenyum tipis dan berjalan mengikuti wanita itu menuju pusat acara.
Di tengah-tengah panggung raksasa itu, terdapat sebuah altar persembahan yang dipenuhi oleh dupa dan buah-buahan.
Dan tepat di belakang altar tersebut, berdiri tegak lukisan Naga Hitam Penelan Nadi Bumi karya Jiang Ming.
Lukisan itu memancarkan kilauan emas yang sangat menyilaukan di bawah sinar matahari pagi.
"Tuan Jiang! Syukurlah perwakilan Tuan Wu Ming akhirnya datang!" sambut Zhao Tianhua dengan suara lantang namun terdengar putus asa.
Bos besar Grup Tianyu itu terlihat sangat kacau.
Kantung matanya menghitam dan jas abunya terlihat sedikit kusut, tanda bahwa dia tidak tidur semalaman.
"Selamat pagi, Ketua Zhao. Sepertinya lukisan guruku sudah ditempatkan di posisi yang paling sempurna," sapa Jiang Ming santai.
"Master Yan yang mengatur posisinya tepat di titik pusat aliran energi tanah ini," jawab Zhao Tianhua sambil menunjuk ahli fengshui di sebelahnya.
Master Yan menganggukkan kepalanya dengan penuh hormat ke arah Jiang Ming.
"Energi naga emas dari lukisan ini sangat luar biasa, Tuan Jiang. Aku bisa merasakan hawa suci menekan energi jahat di tanah ini," ucap Master Yan penuh kekaguman.
Jiang Ming memusatkan pikirannya dan memanggil sedikit energi elemen petir ke pupil matanya untuk membuka pandangan spiritualnya.
Wush.
Pemandangan di depan mata Jiang Ming langsung berubah drastis.
Dia tidak melihat hawa suci berwarna emas seperti yang dibayangkan oleh Master Yan.
Jiang Ming melihat kabut hitam yang sangat pekat dan beracun mengalir deras dari dalam lukisan naga itu.
Kabut hitam itu merambat turun seperti akar pohon raksasa, menusuk langsung ke dalam tanah dan menghisap habis energi kehidupan di wilayah proyek tersebut.
Lukisan itu secara aktif sedang membunuh keberuntungan Grup Tianyu detik demi detik.
"Tuan Wu Ming menitipkan pesan khusus untuk Anda hari ini, Ketua Zhao," ucap Jiang Ming memecah keheningan.
Zhao Tianhua langsung menegakkan punggungnya dengan mata berbinar penuh harapan.
"Pesan apa itu, Tuan Jiang? Tolong katakan padaku, proyek ini sudah menelan korban jiwa kemarin malam!" desak Zhao Tianhua panik.
"Guruku mengatakan bahwa naga penjaga ini sangat kuat, tetapi dia menolak untuk bekerja maksimal jika masih ada parasit di dalam rumah Anda."
Dahi Zhao Tianhua berkerut dalam mendengar istilah parasit tersebut.
"Parasit? Siapa yang Anda maksud dengan parasit di perusahaanku?"
Jiang Ming tidak langsung menjawab, matanya dengan sengaja menyapu ke arah barisan staf manajemen yang berdiri agak jauh.
Di sana, Wang Hao sedang berdiri dengan wajah pucat pasi sambil memegang papan klip laporan acara.
Wang Hao terlihat sangat ketakutan saat pandangannya beradu dengan mata tajam Jiang Ming.
"Aku tidak suka menuduh orang sembarangan, Ketua Zhao."
Jiang Ming berjalan selangkah lebih dekat ke arah bos besar itu dan menurunkan volume suaranya.
"Tapi guruku melihat ada seorang manajer proyek yang membawa aura kesialan yang sangat pekat."
"Manajer itu menggunakan cara-cara kotor dan menindas warga lemah saat pembebasan lahan, mengundang kutukan darah ke tanah Anda ini."
Napas Zhao Tianhua seketika tercekat di tenggorokan.
Dia langsung menoleh ke arah barisan stafnya dengan tatapan mata yang menyala penuh amarah.
"Wang Hao! Kemari kau sekarang juga, brengsek!" raung Zhao Tianhua menggelegar ke seluruh penjuru tenda.