"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 27 Kakek Meninggal
Bandara tampak lengang, jarum jam baru saja melewati pukul satu dini hari ketika Kaia melangkah keluar dari area kedatangan internasional.
Rambutnya yang kini telah panjang tergerai menutupi bahu. Sebuah topi hitam menutupi sebagian dahinya, sementara masker senada menutupi hampir seluruh wajahnya.
Di tangan kanannya, sebuah koper kabin berwarna abu-abu ia tarik perlahan. Ia tidak berniat tinggal lama di Indonesia.
Begitu memastikan kondisi Hardja membaik, ia akan segera kembali ke Slovenia. Bukan karena ia tega meninggalkan kakeknya...
Melainkan karena di negara inilah semua luka itu bermula. Dan kini ada dua nyawa kecil yang harus ia lindungi, apa pun risikonya. Bahkan jika ancaman itu datang dari ayah kandung mereka sendiri.
Begitu melewati pintu keluar, sebuah sedan hitam telah menunggu di area penjemputan VIP. Plat nomornya berbeda dari kendaraan biasa.
Semua pengamanan malam itu telah diatur Fadlan. Pria itu memastikan tidak ada satu celah pun yang bisa mengarah pada kepulangan putrinya.
Dari Jalur kedatangan, kendaraan, hingga orang-orang yang menjemput Kaia berasal dari lingkaran kepercayaannya.
Tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan hitam segera menghampiri. "Selamat malam, Non." Ia menerima koper Kaia dengan hormat, lalu membukakan pintu belakang mobil.
"Terima kasih." Kaia masuk tanpa banyak bicara.
Pintu segera ditutup kembali. Di kursi depan, seorang pengemudi dan satu pengawal lain telah bersiap.
"Langsung ke rumah sakit," ucap Kaia pelan.
"Baik, Non."
Mesin mobil menyala. Sedan hitam itu melaju meninggalkan bandara. Tak jauh di belakangnya, sebuah Jeep hitam mengikuti dengan jarak yang terukur.
Mereka bergerak tanpa sirene, tanpa pengawalan mencolok. Namun cukup untuk memastikan tidak ada siapa pun yang mendekati Kaia.
Hujan baru saja berhenti. Jalanan ibu kota masih basah memantulkan cahaya lampu-lampu jalan.
Kaia menoleh ke luar jendela. Perlahan ia menurunkan sedikit kaca mobil. Udara malam yang lembap langsung menyentuh wajahnya.
Ia memejamkan mata sejenak.Sudah empat tahun ia tidak menghirup udara negeri tempat ia dilahirkan, namun juga tempat yang menyimpan kenangan terindah... Sekaligus luka paling dalam.
"Non..." Suara pengawal di kursi depan membuyarkan lamunannya. "Jangan terlalu lama membuka jendela."
Kaia membuka mata. "Kenapa?"
"Di sepanjang jalur menuju pusat kota terdapat banyak kamera CCTV." Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Jika wajah Non terekam, lalu ada orang yang meminta akses rekamannya... keberadaan Non bisa diketahui."
Kaia langsung menaikkan kembali kaca mobil. Dadanya kembali dipenuhi kecemasan. "Apa... Meganthara masih mencariku?"
Pengawal itu mengangguk pelan. "Selama empat tahun terakhir, Tuan Elio belum pernah menghentikan pencarian."Jantung Kaia seperti diremas.
Empat tahun berlalu, Pria itu masih mencarinya? Untuk apa?Bukankah pria itu membencinya? Bukankah yang diinginkan Elio adalah dirinya lenyap dari kehidupannya secepat mungkin.Atau apakah dendam atas kematian Kiara masih belum selesai?
Jemarinya perlahan mengepal di atas pangkuan. Tidak, apa pun alasannya, ia tidak boleh ditemukan.
Kini Ocean dan Sea adalah segalanya. Ia tidak akan membiarkan kedua anaknya tumbuh dalam ancaman yang sama seperti yang pernah menghancurkan hidupnya, seperti dirinya dulu.
Empat puluh lima menit kemudian... Mobil memasuki halaman sebuah rumah sakit swasta. Northcrest Medical Center.
Fadlan sengaja memilih rumah sakit itu. Bukan Rumah Sakit Meganthara. Ia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan Kaia dengan membawa Hardja ke rumah sakit milik keluarga besannya sendiri.
Mobil berhenti tepat di depan lobi. Kaia mengembuskan napas panjang. Tangannya terasa dingin.
Meski tidak akan lama berada di Indonesia, tapi tetap saja... Ia merasa seperti sedang kembali ke medan perang yang pernah menghancurkan hidupnya.
Perlahan ia mengenakan kembali maskernya. Topinya ditarik sedikit lebih rendah hingga menutupi sebagian mata.
Pintu mobil terbuka. Dua pengawal turun lebih dulu, mengamati keadaan sekitar dengan waspada.
Setelah memastikan situasi aman, barulah Kaia melangkah keluar. Ia berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
Sementara dua pengawal itu mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Tidak terlalu dekat tapi cukup untuk menjadi tameng... Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Kaia melangkah masuk ke dalam lift. Jari-jarinya saling menggenggam erat sejak pintu lift menutup. Angka digital terus berganti.
Semakin mendekati lantai sepuluh, napasnya semakin pendek. Ia tetap menundukkan kepala. Sementara masker menutupi hampir seluruh wajahnya. Jaket panjang yang dikenakannya membuat sosoknya semakin sulit dikenali.
Tring...
Pintu lift terbuka, Kaia hampir berlari keluar. Koridor ICU tampak sunyi dini hari itu dengan aroma antiseptik yang begitu khas.
Seorang dokter dan dua perawat telah menunggu sesuai permintaan Fadlan. "Silakan ikut kami, Nona."
Tanpa banyak bicara Kaia mengikuti mereka. Ia berganti pakaian steril, mengenakan gaun pelindung, penutup kepala, lalu masker baru.
Begitu pintu ICU dibuka...
Langkah Kaia langsung terhenti.Dadanya sesak.Tubuh Hardja yang dulu selalu tampak gagah kini terbaring lemah di atas ranjang.
Berbagai selang dan kabel memenuhi tubuh renta itu.Monitor jantung terus berbunyi pelan. Air mata Kaia langsung memenuhi pelupuk matanya.
"Kakek..." Suara itu nyaris tak terdengar. Ia berjalan perlahan, semakin dekat, semakin terasa dadanya seperti diremas.
Tangannya yang dingin perlahan menggenggam tangan Hardja yang mulai dipenuhi keriput. Hangatnya hampir hilang.
Kelopak mata Hardja bergerak pelan. Pria tua itu membuka matanya sedikit demi sedikit. Begitu melihat sosok di sampingnya... Senyum tipis langsung terukir.
"Kaia..." Suara itu begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara monitor. "Kamu... datang, Nak..."
Kaia langsung mengangguk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Iya, Kek... Kaia datang, Kaia kangen sama Kakek..."
Ia menempelkan punggung tangan Hardja ke pipinya. "Kakek sembuh ya... Jangan tinggalin Kaia, Please... Nanti siapa yang ngajarin Ocean sama Sea main catur..." Suara Kaia pecah. Tangisnya semakin menjadi.
Hardja tersenyum sangat pelan. Bayangan kedua cicitnya seakan muncul di pelupuk matanya. "Mereka semakin pintar," gumamnya lirih.
Kaia mengangguk berkali-kali. "Iya... Mereka nunggu Kakek sembuh. Nunggu Kakek berkunjung ke Slovenia lagi."
Hardja menggeleng sangat pelan. Napasnya mulai terdengar berat. "Kaia... Pulanglah ke Indonesia."
Kalimat itu membuat Kaia membeku. Apakah itu pesan terakhir Hardja? Bayangan Kiara di ruang ICU kembali terngiang.
"Kakek..." Kaia menggenggam tangan itu semakin erat. "Kaia nggak bisa... Kaia takut..." Air matanya menetes di sela-sela jemari Hardja.
"Kaia takut kehilangan anak-anak..."
"Tidak akan terjadi.Pulanglah, Nak." Hardja memandang cucunya lama.
Sorot matanya penuh kasih sayang. "Kalau... Kakek pergi...Nenekmu... sendiri."
Belum sempat Kaia menjawab... Monitor jantung tiba-tiba berbunyi lebih cepat.Napas Hardja memburu.Dadanya naik turun tidak beraturan.
"Kakek!" Kaia panik, tanpa sadar berteriak. "Kakek!" Ia menoleh ke arah pintu. "Dokter! Tolong! Dokter!"
Pintu ICU langsung terbuka. Tim medis berlari masuk. "Code Blue! Please move back!"
Seorang perawat segera menarik Kaia menjauh. "Silakan keluar dulu."
"Tapi Kakek saya__"
"Please! Biar kami bekerja dahulu."
Kaia mundur beberapa langkah.Tubuhnya gemetar hebat. Dari balik kaca ia melihat dokter mulai melakukan tindakan penyelamatan. Perawat memasang alat kejut.
"Charging."
"Clear!"
Buk!
Tubuh Hardja sedikit terangkat.
Monitor masih menunjukkan garis yang tidak stabil. Dokter mencoba sekali lagi.
"Charging!"
"Clear!"
Buk!
Kaia menutup mulutnya. Air mata terus mengalir. "Ya Allah... Jangan. Jangan ambil Kakek..."Dari arah samping, Farida dan Fadlan berlari di sepanjang koridor.
"Kaia!" Farida langsung memeluk cucunya yang sudah hampir kehilangan tenaga.
"Nek... Kakek..." Kaia tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mampu menangis dalam pelukan wanita yang telah membesarkannya sejak kecil.
Fadlan berdiri membatu di depan kaca ICU. Tatapannya tak berkedip. Rahangnya mengeras, kedua tangannya perlahan mengepal.
Kali ini pria yang selalu terlihat kuat itu benar-benar merasa takut kehilangan ayahnya.
Beberapa menit kemudian... Pintu ICU terbuka. Dokter melepas maskernya perlahan.
Sorot matanya penuh penyesalan.
"Pak Fadlan... Kami mohon maaf. Kami sudah melakukan semua tindakan yang kami bisa..." Ia menarik napas pelan. "...namun Tuhan berkehendak lain. Pak Hardja telah berpulang."
Dunia Kaia seakan berhenti berputar. "Enggak..." Ia menggeleng berulang kali.
"Enggak... Kakek jangan tinggalin Kaia..." Tangisnya pecah.
Farida langsung memeluk cucunya erat, kini ia tampak lebih ikhlas. Air mata wanita tua itu akhirnya jatuh juga.
"Sayang... Kakek sudah tidak sakit lagi..."
Satu tahun terakhir kondisi Hardja memang menurun. Dan Farida harus berlapang dada apapun yang terjadi.
Di sisi lain... Fadlan masih berdiri mematung.
Perlahan, ia menundukkan kepala. Satu tetes air mata jatuh ke lantai.
Setelah kehilangan istri dan putri sulungnya, kali ini ia harus menerima kenyataan pahit lagi, sang ayah tercinta telah pergi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara