Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat di Balik Jas Putihmu

Suara teriakan di dalam tenda kembali terdengar, semua warga diluar terlihat panik. Aku dan kak Revan berdiri berbarengan.

"Aakk tolong bayinya udah mau keluar..."

Satu ibu keluar dari tenda, memasang wajah penuh kepanikan. Sorot matanya langsung tertuju pada kak Revan yang berdiri di sebelahku.

"Pak dokter, tolong ada yang mau melahirkan di dalam."

Kak Revan melirikku sekilas dengan memasang wajah bingungnya. Ia terlihat sangat gugup.

"Bidan desa tidak bisa datang kerena jalan yang tertutup oleh tanah longsor, tim perawat juga terjebak disana." Ujar si ibu lagi.

Kak Revan melirikku lagi, wajahnya terlihat panik. Mungkin untuk pertama kalinya ia akan menolong ibu yang akan melahirkan.

"Saya akan bantu.." suara bariton itu terdengar, memutus ketegangan pada warga.

"Terimakasih pak dokter silahkan masuk.."

Aku dan kak Revan melangkah bersamaan, dengan tangan kak Revan yang memegang bahuku.

"Temani aku..!" bisiknya lirih disamping telinga ku.

"Aku hanya menguasai materi, tapi belum pernah menangani ibu yang akan melahirkan sebelumnya." tambahnya lagi.

Aku menatap sorot mata pria yang berada disampingku, lantas mengangguk dan mengusap pelan punggungnya.

"Aku yakin kamu bisa kak.."

Terdengar lenguhan dan rintihan kesakitan, ibu yang akan melahirkan itu bersandar dengan kaki yang sudah terbuka lebar dan hanya di tutupi oleh daster tipis yang di pakainya.

"Dokter cepat..Kapala bayinya udah mau keluar.." ujar ibu itu dengan menarik nafas, menahan rasa sakit.

"Iya..iya Bu tarik nafas, lalu dorong jika kontraksinya sudah sangat kuat."

Kak Revan mulai berjongkok, di hadapan ibu yang akan melahirkan. Memakai sarung tangan, ekspresinya wajahnya terlihat tegang dan peluh mulai mengucur membasahi dahinya.

Aku duduk disebelahnya, hanya diam terpaku. Dengan jantung yang berdebar cepat, membayangkan bagaimana rasa sakitnya melahirkan dengan kondisi darurat seperti ini.

Juga para ibu-ibu yang ikut menyaksikan juga tidak luput dengan ketegangan, ada yang mengernyit dahi ada yang menggigit bibir, menampilkan wajah khawatir juga ada tampak masih bersedih.

"Dokter kontraksi hilang..." Bu Riska, ibu yang tengah berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Nafasnya sedikit tersengal.

"Tarik nafas Bu sambil menunggu kontraksi datang, ibu tenang. Kepala bayinya sudah terlihat." ujar Kaka Revan dengan sambil mendongakkan wajahnya.

"Ayok Riska, semangat...pasti bisa." Kata semakin mulai terucap.

"Bayi yang lahir akan menjadi bayi yang kuat...semangat Riska" nenek, yang duduk di sebelahku. Rambutnya hampir memutih seluruhnya.

"Arghh....." Bu Riska mulai mendorong kuat lagi.

"Satu kali dorong lagi Bu..." intruksi dari kak Revan....

"Susah dokter. Argh....." dorongan panjang, di ikuti oleh tangisan bayi yang keluar. Tangisan yang sangat kuat, menguar memenuhi tenda darurat yang di isi oleh ibu-ibu saja.

"Alhamdulillah...." semuanya mengucap syukur, ketegangan mulai menipis. Bayi merah itu kini berada dalam pangkuan kak Revan, masih merah dan berlumur darah. Meronta-ronta kecil dengan tangisan yang masih menguar.

Senyum tipis juga samar terlihat pada wajah kak Revan. Pria itu berhasil membimbing persalinan dengan baik, berhasil menciptakan ketenangan saat persalinan berlangsung. Kamu memang hebat kak Revan.

"Saya minta kain, untuk bayi..." kak Revan melirik sekitar, tidak ada barang yang di siapkan menyambut sang bayi.

"Dokter barang-barang masih di tenda ujung sana. Kami belum sempat menyiapkan barang apapun, karena kontraksi nya muncul tiba-tiba..."

"Bu RW, mari saya antar. Kasihan bayinya takut kedinginan..."

Aku melirik kembali bayi merah yang berada pada pangkuan kak Revan, bola matanya kecilnya perlahan terbuka. Terlihat manis dan lucu.

"Bayinya perempuan ya kak..?" ucapku pelan.

Kak Revan menunduk, ia tidak sadar kalau bayi yang baru lahir itu adalah perempuan. Kemudian mengangguk padaku.

Perlahan aku melepas pashmina yang masih terpasang rapi di kepala, pashmina ini berbahan lembut mungkin cocok untuk menjadi kain darurat daripada bayinya kedinginan karena lama menunggu.

"Kak aku izin buka hijab ya, kondisinya darurat dari pada bayinya kedinginan."

Kak Revan menerima kain pashmina yang aku serahkan, membersihkan bayinya kemudian membalutnya dengan kain perlahan. Bayi itu tampak terlihat tenang. Kemudian kak Revan serahkan pada Bu Riska.

"Ya Allah, pelitaku. Alhamdulillah, yang sabar ya sayang...." Bu Riska memangku bayinya kemudian mendaratkan kecupan untuk buah hatinya.

Kak Revan kembali bertugas, memastikan Bu Riska baik-baik saja. Dan mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal di dalam perut.

"Tidak ada robekan ataupun pendarahan semuanya baik..."

Kini suasana yang tadinya penuh ketegangan, kini mulai terlihat tenang dan penuh haru.

Para warga dari tenda sebelah mulai berdatangan untuk menengok keadaan Bu Riska dan bayinya. Kak Revan masih memberikan perawatan pada Bu Riska dengan cek kesehatan lanjut dan memasang selang infus, sementara aku hanya duduk di pojokan sambil memeluk lutut.

"Semuanya sudah aman Bu, jika ada apa-apa jangan segan untuk meminta tolong pada saya."

Kak Revan mulai membereskan perlengkapan medis nya. Kemudian pamit dan melangkah ke arahku.

"Pak dokter...dan Bu guru terimakasih ya. Semoga kalian juga cepat di beri momongan.." Bu Riska tersenyum hangat ke arahku dan kak Revan

Aku hanya mengangguk samar sambil tersenyum tipis sebagai respon, begitu pula dengan kak Revan. Kemudian kami sama-sama pamit untuk segera beristirahat.

🌸🌸🌸

Di luar tenda hujan gerimis mulai turun, hawa dingin semakin merasa menusuk.

"Ayok..." Kak Revan merentangkan jas putihnya, apa maksudnya. Ia menyuruhku untuk masuk kedalam dekapan jas nya.

"Hijab kamu kan di lepas, lihat disana banyak petugas laki-laki yang lalu lalang, bersembunyilah di balik jas ini."

Desiran hangat kembali memenuhi rongga dada, dengan senyum tipis yang mulai membingkai wajah. Aku mulai menelusup masuk kedalam balutan jas putih milik kak Revan, berjalan berhimpitan. beberapa kali kaki ini hampir tergelincir kerena jalan becek dan licin, namun tangan kak Revan dengan cepat menahan tubuhku.

Benar kak Revan memang menggoreskan luka yang begitu perih, tapi peria ini juga yang selalu membuatku merasa aman.

Tapi jangan sampai aku terlena dengan rasa aman dan kenyamanan yang bersifat sementara ini.

🌸🌸🌸

Kita sudah sampai pada tenda yang sudah disiapkan, tidak terlalu luas, tapi cukup untuk kami berdua.

Aku telah berganti pakaian dengan piyama hangat yang dibelikan kak Revan tadi. Bahkan sampai celana dalam pun pria itu sangat tahu ukuran yang aku pakai.

Serta beberapa hijab dan pakaian santai juga ia siapkan, pilihan pakaiannya juga bagus.

Aku melirik kak Revan yang sudah tertidur pulas di sebelahku. Terlihat wajah lelah nya, dengan nafas yang teratur dan dengkuran kecil yang mulai terdengar.

Aku mulai merebahkan tubuh disebelahnya, tenda yang kecil membuat kami harus tidur dalam keadaan berdempetan seperti ini. Sengaja aku membelai tubuh kak Revan, sampai teras lengan kokoh itu melingkar memeluk tubuhku.

Hangat tubuhnya semakin terasa, membuat kelopak mata ini semakin berat dan kami sama-sama tertidur pulas.

Bersambung

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!