Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Zhang Li berdiri tepat di hadapan mereka. Rasa syukur membuncah dari celah bibirnya yang menghembuskan napas panjang. Ketegangan di rahangnya yang keras perlahan luluh.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Zhang Li pada kedua selir.
"Ya, Yang Mulia."
"Kami baik-baik saja," ucap selir Lan.
"Syukurlah." Ekor mata Zhang Li melirik pada gaun Xiao Yu yang seperti ada bercak darah. "Apakah ada yang terluka? Katakan padaku." Meski tidak punya rasa cinta apapun pada para selir, Zhang Li perlu memperhatikan keselamatan mereka.
Xiao yu tersadar bahwa pangeran Zhang Li sedang memperhatikan dirinya. makanya dia siap dengan jawaban.
"Hamba... hamba tidak apa-apa, Yang Mulia," sahut Xiao Yu. "Hanya sedikit terkejut dan lelah..."
Zhang Li terdiam sejenak. Karena tidak ada tanda Xiao Yu menyembunyikan rasa sakit, dia akhirnya mengabaikan becak darah di gaun perempuan itu. Dalam pengamatan Zhang Li, selir semacam Xiao Yu takkan sanggup menyembunyikan rasa sakit jika dirinya memang terluka. Dia pasti langsung mengadu.
Feng Chuan menyarungkan pedangnya dan menghela napas lega yang sangat dalam. "Amankan area! Mereka berdua selamat!" serunya tegas kepada para prajurit. pengawal pribadi lalu menoleh pada kedua selir. "Silakan ikut para prajurit, Yang Mulia."
Di belakangnya, Tabib Shen Mo memejamkan mata sejenak. Dia menghembuskan napas panjang untuk meredam haru. Nyaris rasa cemasnya membongkar sebuah rahasia.
Tanpa membuang waktu di hutan yang dingin dan rawan ancaman, Zhang Li langsung menginstruksikan pengawalan. "Feng Chuan, siapkan kuda pendamping! Kita kembali ke perkemahan utama sekarang juga. Tabib Shen, periksa mereka begitu kita tiba di tenda."
"Siap, Yang Mulia!"
Rombongan segera membawa Selir Lan dan Xiao Yu kembali ke tenda perkemahan utama.
Sekelompok pengawal senior bersama Tabib Shen Mo telah ditugaskan untuk mengawal Selir Lan dan Xiao Yu bergegas kembali ke tenda perkemahan demi keselamatan dan pemeriksaan medis.
Sementara itu, Pangeran Zhang Li dan Feng Chuan masih bertahan di lokasi penemuan bersama beberapa prajurit pilihan untuk menyisir sisa area.
Tak jauh dari ceruk batu tempat kedua selir tadi bersembunyi, seorang prajurit pembersih jalur melangkah menembus rimbunnya semak berduri. Asap obornya membiaskan bayangan aneh di atas tanah. Tiba-tiba, matanya menangkap ceceran darah segar yang menggenang di atas dedaunan kering.
"Tunggu..." gumam prajurit itu, menghentikan langkahnya. Bau amis darah yang menyengat dan masih hangat memenuhi udara malam.
Ia merendahkan obornya, menyapu kegelapan di balik rimbunnya semak. Seketika itu pula matanya membelalak lebar, napasnya tersengal.
Di sana, ada bangkai raksasa Serigala Perbatasan tergeletak kaku. Darah pekat masih mengalir perlahan dari luka-lukanya, menandakan hewan buas ini baru saja tewas.
Ukurannya membuat prajurit itu merinding.
"P-Prajurit! Cepat panggil Panglima Feng! Cepat!" seru prajurit itu gemetar.
Feng Chuan bergegas melangkah menembus semak-semak. Begitu obor di tangannya menyingkap sosok bangkai raksasa itu, raut wajah sang pengawal pribadi mendadak mengeras. Ia berlutut di tanah yang basah oleh darah, menganalisis tiga anak panah yang menancap presisi di tubuh hewan buas tersebut.
"Dua panah dilepaskan bersamaan di leher... Teknik Ganda Saraf," gumam Feng Chuan dengan rahang mengencang.
Menyadari betapa penting dan bertahannya bukti ini, Feng Chuan segera berdiri, berbalik melangkah cepat menghampiri Pangeran Zhang Li yang masih berdiri di jalur utama.
"Yang Mulia, ikut hamba. Ada sesuatu yang harus Anda lihat langsung," ujar Feng Chuan rendah namun penuh penekanan.
Zhang Li mengerutkan keningnya, menangkap keseriusan tak biasa dari pengawal kepercayaannya. Tanpa bertanya lebih lanjut, sang Pangeran melangkah menyibak semak belukar mengikuti Feng Chuan menuju ceruk batu di balik dinding tua tersebut.
"Lihat ini, Yang Mulia," menunjuk ke arah bangkai serigala raksasa yang bersimbah darah segar.
Langkah Zhang Li terhenti seketika. Binar mata sang Pangeran membelalak. Di sana, ada bangkai Serigala Perbatasan tergeletak kaku bersimbah darah.
Zhang Li melangkah mendekat, matanya membelalak dan tubuhnya meremang menatap taring dan ukuran serigala itu.
Rasa lega yang baru saja ia rasakan mendadak lenyap.
"Bagaimana mungkin hewan buas perbatasan berada di sini?" gumam Zhang Li heran. Namun pandangannya langsung terkunci pada tiga bilah anak panah kayu kasar yang menancap di tubuh hewan itu.
Zhang Li berlutut, mengusap bulu panah yang menancap presisi di mata dan leher serigala.
"Satu panah di mata... dan dua panah ini menancap bersamaan di leher," bisik Zhang Li. "Teknik Ganda Saraf... Hanya pemanah tingkat tinggi yang sanggup melepaskan dua panah sekaligus dengan ketepatan membunuh seperti ini."
"Benar Yang Mulia." Feng Chuan setuju.
Bibir pangeran Zhang Li tersenyum juga merinding. "Kamu menyadarinya, Feng?" Zhang Li menoleh pada Feng Chuan. "Jejak presisi mematikan ini terlalu identik dengan gaya bertarung penyusup di arena panah semalam."
Feng Chuan baru menyadari itu.
Zhang Li berdiri perlahan. "Siapa pun dia, dia berada di hutan ini bersama mereka tidak lama. Mungkin sebentar lagi aku akan menemukannya."
*
*
*
Tenda Selir Kui tampak tegang. Berulang kali wanita itu mendesah kesal seraya melangkah bolak-balik di atas permadani sutra.
"Dasar Selir Lan. Masuk ke hutan sebentar saja sudah tersesat!" cibir Selir Kui dengan nada tajam dan wajah bersungut-sungut. "Seharusnya dia sudah kembali sebelum acara jamuan dimulai! Kalau begini, perhatian Pangeran justru makin tertuju padanya!"
Mei Lin ikut mendengus licik seraya mengipasi tuannya. "Benar, Yang Mulia. Selir Lan selalu saja bertingkah sok lemah untuk mencari simpati Pangeran. Sangat menyebalkan!"
Namun, saat keheningan malam kian pekat dan obor jamuan mulai dipadamkan, wajah Mei Lin mendadak menyiratkan ketakutan. Kerincingan perhiasan di tangannya gemetar.
"Tapi... Nona, bagaimana kalau mereka benar-benar diterkam binatang buas dan tewas?" bisik Mei Lin ragu, memajukan tubuhnya dengan cemas. "Tujuan kita kan hanya membuat Selir Lan dipermalukan dan kelelahan, bukan membunuhnya. Kalau sampai Pangeran tahu kita yang memicu mereka terpisah... kita berdua bisa digantung!"
"Tutup mulutmu!" potong Selir Kui. Matanya mendelik tajam. "Siapa yang menyuruh mereka berjalan sampai ke hutan dalam?!"
Tiba-tiba, dari arah jalur belakang perkemahan yang sepi, terdengar samar derap halus langkah kaki kuda dan gemerincing zirah prajurit. Suasana samar itu menandakan ada rombongan kecil yang baru saja kembali secara senyap tanpa melewati gerbang utama perkemahan.
Seketika Mei Lin berjinjit mendekati celah tirai tenda dan mengintip ke luar dengan hati-hati. Matanya menajam menerobos remang malam.
"Nona... lihat!" bisik Mei Lin tergesa-gesa seraya menunjuk ke luar celah tirai. "Itu rombongan Pangeran! Mereka baru saja kembali menembus jalur belakang perkemahan."
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄