GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerbuan Segara Anakan, Revo Amfibi, dan Peluncuran Silo Sel Nomor 99
Hujan deras mengguyur perairan Segara Anakan di pesisir Cilacap. Lautan malam yang hitam pekat dan berombak ganas itu tampak mengerikan di bawah kilatan petir yang menyambar-nyambar. Di kejauhan, siluet Pulau Nusa Kambangan berdiri kokoh bagaikan benteng raksasa di tengah kegelapan, dilindungi oleh menara pengawas berlampu sorot dan sistem pertahanan otomatis tingkat tinggi.
Namun, di tepi dermaga nelayan yang sepi, sebuah fenomena rekayasa militer paling absurd sedang terjadi.
“Pak… ini beneran aman, kan?” tanya Gala dengan wajah pucat pasi. Ia memegangi setang Honda Revo-nya yang kini tidak lagi menginjak tanah.
Sersan Broto baru saja memasangkan dua tabung pelampung hydrofoil komposit militer di sisi kiri-kanan motor bebek itu, lengkap dengan baling-baling rakitan berbahan bakar sisa minyak jelantah yang dipasang di roda belakang.
“Aman sepuluh persen, Gal!” jawab Sersan Broto mantap sambil mengepulkan asap rokok kreteknya di bawah guyuran hujan. “Sembilan puluh persen sisanya tergantung doa ibu dan nasib baikmu!”
Siska memutar matanya, merapikan rompi anti-peluru kedap airnya. “Secara kalkulasi taktis, peluang kita terdeteksi sonar angkatan laut adalah 85%. Namun, karena bentuk motor ini lebih mirip sampah hanyut daripada wahana tempur, ada kemungkinan radar musuh mengira kita adalah batang pohon kelapa.”
“Penjelasan yang sangat membesarkan hati, Sis,” gumam Gala sarkastik.
Tanpa membuang waktu, Senja dan Vanya melompat naik ke atas boncengan yang sudah dimodifikasi bertingkat. Gala memutar kunci kontak.
Bremm… BRRRR-BYURRR!
Motor Honda Revo amfibi itu meledak suaranya, meluncur turun dari dermaga dan langsung menghantam permukaan air laut! Alih-alih tenggelam, baling-baling belakangnya berputar kencang, membelah ombak Segara Anakan dengan kecepatan lima puluh knot per jam!
“Bocah edan! Ngebut, Gal!” teriak Sersan Broto yang membuntuti dari atas menggunakan helikopter Blackhawk tanpa lampu navigasi (mode siluman).
Di tengah hempasan ombak dan guyuran hujan, Siska mengetik cepat di tabletnya, mengacak frekuensi sensor menara pengawas pulau. “Lampu sorot sektor empat padam dalam tiga… dua… satu!”
SHUUT!
Satu blok lampu sorot menara Nusa Kambangan mendadak mati total. Gala memanfaatkan celah itu untuk membanting setang motor, menerobos celah karang tajam, dan mendaratkan motor bebek amfibi tersebut di tebing batu belakang pulau—area terlarang yang dipenuhi ranjau tekanan dan sensor gerak.
KREK!
Baling-baling motor tersangkut karang, dan pelampungnya meletus. Mereka bertiga melompat ke daratan tepat saat motor Revo itu tersangkut aman di celah batu tebing.
“Selamat datang di Nusa Kambangan,” desis Vanya sambil mencabut dua belati taktisnya. “Fasilitas tahanan berkeamanan paling ekstrem di Asia.”
Dengan bimbingan peta hologram dari Siska, tim penyusup itu merayap menembus jaringan pipa ventilasi bawah tanah. Senja memimpin di depan, melumpuhkan penjaga internal menggunakan teknik kuncian leher tanpa suara, sementara Siska meretas setiap pintu baja berlapisan elektromagnetik.
Dalam waktu lima belas menit, mereka berhasil menembus Blok Karanganyar—area isolasi khusus untuk tahanan level Super Maximum Security.
Di ujung koridor lorong beton tebal berpintu baja tanpa jendela, berdiri sebuah pintu sel raksasa bertuliskan: SEL NOMOR 99.
“Ini dia,” bisik Senja sambil menodongkan senjatanya ke arah celah pengintai pintu. “Pak Joko ada di dalam.”
Siska menempelkan alat peretas biometrik ke panel pintu.
BIP-BIP-BIP… KLAK!
Gerendel besi seberat seratus kilogram bergeser terbuka. Pintu baja perlahan-lahan mengayun terbuka, memperlihatkan isi ruangan sel yang temaram.
Di dalam sel beton seluas empat kali empat meter itu, tidak ada rantai besi atau siksaan berat. Di atas sebuah sofa kulit empuk, duduk Pak Joko. Pria tua berambut belah tengah itu sedang santai mengenakan sarung tenun motif kotak-kotak, berkacamata minus diplester selotip, sambil menikmati semangkuk mi instan kuah rasa soto yang asapnya masih mengepul manis.
Pak Joko menyeruput kuah mi-nya dengan nikmat, lalu menoleh menatap Gala, Senja, Siska, dan Vanya yang berdiri terpaku di ambang pintu.
“Lho, Gala?” sapa Pak Joko santai tanpa terkejut sedikit pun. “Kok baru sampai? Saya sudah nungguin dari jam delapan tadi. Ini mi instan saya sampai hampir lembek.”
Gala menatap mantan bosnya itu dengan mata melotot. “PAKK JOKO?! Bapak di dalam penjara paling ketat sedunia malah santai-santai makan mi instan komplit pakai telur setengah matang?!”
“Ya harus pakai telur, Gal. Nutrisi itu penting,” jawab Pak Joko bijak sambil meletakkan mangkuknya di meja.
Siska melangkah maju dengan wajah dingin, mengeluarkan pemindai retina portabel. “Cukup basa-basinya. Tempelkan mata dan masukkan kode suara Anda sekarang, Pak Joko. Uang lima miliar dolar di rekening Cayman harus segera ditarik sebelum Interpol membekukannya.”
Pak Joko tersenyum—sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Senja mendadak berdiri.
“Tentu saja, Siska. Itu memang alasannya saya menunggu kalian di sini,” ujar Pak Joko pelan.
Pak Joko mendekatkan mata kanannya ke lensa pemindai, lalu berbisik tegas:
“Vanguard Alpha-Zero: Othelo Reset.”
BIP-BIP!
IDENTIFIKASI RETINA DITERIMA.
OTENTIKASI SUARA TERKONFIRMASI.
AKSES UTAMA DIBUKA.
Layar tablet Siska seketika berubah warna dari hijau menjadi ungu pekat. Namun, alih-alih menampilkan notifikasi penarikan uang lima miliar dolar, layar itu justru menampilkan peta satelit global dengan angka hitung mundur raksasa: 00:05:00... 00:04:59...
Gala menyipitkan mata. “Lho... kok bukan gambar saldo rekening? Kok malah ada timer lagi? Pak Joko, bapak salah tekan tombol, ya?!”
Pak Joko terkekeh pelan, berdiri dari sofanya dan merapikan sarung tenunnya.
“Kalian benar-benar polos,” kata Pak Joko dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan berat—aura Grand Master yang sesungguhnya akhirnya terpancar penuh. “Kalian kira rekening lima miliar dolar itu adalah tabungan uang tunai?”
Senja mengepalkan tangannya, memajukan pipa besinya. “Apa maksudmu, Joko?!”
“Lima miliar dolar itu... adalah biaya bahan bakar cair untuk meluncurkan Stasiun Satelit Perang Othelo II ke orbit bumi!” seru Pak Joko dengan nada penuh kemenangan.
KRUK-KRUK-KRUK!
Tiba-tiba, seluruh lantai beton Sel Nomor 99 bergetar hebat. Dinding-dinding sel mulai bergeser terbelah dua! Dinding beton tahan ledakan berganti menjadi dinding baja perak raksasa.
Ruangan yang tadinya disangka sel penjara sederhana itu ternyata adalah bagian atas dari sebuah Silo Peluncuran Roket Sub-Orbital raksasa yang tersembunyi jauh di bawah perut Pulau Nusa Kambangan!
“Apa-apaan ini?!” jerit Vanya panik saat melihat tanah di balik jendela sel mulai turun dengan kecepatan tinggi seperti lift raksasa menuruni jurang tanpa dasar.
Dari balik pengeras suara laboratorium bawah tanah, suara tawa wanita yang sangat familiar kembali menggema keras.
“Terima kasih telah membawakan kunci biometriknya ke sini, anakku Siska,” suara Madam Elena terdengar sangat jernih dari pengeras suara silo. “Joko dan aku sudah merencanakan peluncuran ini sejak lima tahun lalu. Dan kalian bertiga... akan menjadi penumpang pertama yang kami terbangkan ke luar angkasa sebagai bahan uji coba!”
Gala memegang tiang baja erat-erat saat ruangan lift silo meluncur semakin dalam ke bawah tanah, menuju roket raksasa yang sudah siap meledak meluncur ke atas.
“Bapak Joko! Madam Elena! Kalian ini beneran teroris internasional apa pengusaha travel antariksa ilegal sih?!” teriak Gala histeris, suaranya tenggelam di antara deru mesin roket yang mulai menyala di dasar silo.
00:03:00... 00:02:59...
Di atas tebing pantai, Sersan Broto yang memantau dari helikopter Blackhawk melihat seluruh daratan pulau Nusa Kambangan mulai terbelah dua, memancarkan api membara dari dalam tanah!