Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Setelah mendapat kabar dari Lukman, Rian buru-buru meninggalkan kantor.
Ia tidak sempat meminta izin terlebih dahulu. Hanya bilang ada urusan keluarga mendesak, lalu langsung memesan ojek online.
Sepanjang perjalanan, kepalanya penuh dengan teriakan ibunya dan adiknya di telepon. Rumah yang sudah dijual. Keluarganya diusir. Barang-barang diturunkan ke jalan. Semua terjadi begitu cepat.
Dengan menaiki ojek, ia sampai lebih awal dari biasanya. Begitu motor berhenti di depan rumah, Rian langsung turun. Helm dilepas asal, lalu ia berlari menghampiri keluarganya yang masih berdiri di depan pagar rumah yang kini sudah bukan milik mereka lagi.
Di sana, Rukmini duduk di atas koper dengan wajah pucat dan mata merah. Sonya menggendong Janu yang rewel, sementara Lukman berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya penuh kekesalan. Beberapa tetangga mulai mengintip dari kejauhan, penasaran dengan keributan siang itu.
“Kenapa, Luk? Kenapa kamu tidak mencegah mereka?” kesal Rian begitu sampai di depan adiknya. Napasnya masih tersengal karena berlari.
Lukman menatap kakaknya dengan nada sama kesalnya. “Kamu pikir aku bisa melawan mereka sendiri? Mia membawa banyak orang. Ada satpam, ada pekerja. Aku tidak mampu melawannya. Dia datang dengan dokumen, bilang rumah ini miliknya, lalu menyuruh kami keluar. Kalau aku lawan, aku yang bisa masuk penjara lagi.”
Rian menghela napas panjang. Ia menatap rumah yang dulu ia anggap rumahnya. Jendela-jendela tertutup, pintu terkunci, dan di depan sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan keluarganya di dalamnya. Semua terasa asing.
Ia mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Mia. Nada dering terdengar beberapa kali, lalu masuk ke kotak suara. Ia menelepon lagi. Masih tidak diangkat. Pesan singkat yang ia kirim juga hanya berstatus terkirim, tanpa balasan.
“Mia tidak angkat,” gumam Rian, suaranya pecah. Ia mengusap wajahnya kasar. “Kenapa sampai semenyedihkan ini…”
Rukmini yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya serak. “Ini semua salahmu, Rian. Kamu terlalu membiarkan istrimu. Sekarang kami diusir, tidak punya tempat tinggal. Janu masih kecil. Sonya menangis. Kau harus tanggung jawab!”
Rian tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tengah jalan, menatap rumah yang sudah tutup rapat. Di dadanya bercampur antara rasa bersalah, marah, dan keputusasaan. Ia tahu istrinya sudah tidak mau lagi digapai. Ia tahu tanda tangan di surat cerai kemarin adalah awal dari semua ini.
Di sekelilingnya, keluarganya menunggu. Menunggu keputusan. Menunggu tempat tinggal. Menunggu ia bertindak seperti biasa, membela mereka.
Tapi kali ini, Rian merasa kosong. Rumah itu sudah bukan miliknya. Istrinya jugasudah bukan istrinya.
Dan ia sendiri… tidak tahu harus ke mana. Dia sudah kehilangan semuanya, akibat kebodohannya sendiri.
*
*
Mia akhirnya mengangkat panggilan Rian.
Ia berada di dalam mobil sambil duduk di bangku kemudi, menatap mereka dari kejauhan deretan koper dan tas yang bertumpuk di depan rumah yang baru saja ia jual.
Rian berdiri di tengah keluarganya, wajahnya tegang, sementara Rukmini, Lukman, dan Sonya tampak panik di sekelilingnya. Nada dering yang sejak tadi terus berbunyi akhirnya ia angkat.
“Ada apa?” tanya Mia datar. Suaranya tenang, tanpa emosi, seolah sedang berbicara dengan orang asing.
Di seberang sana, Rian terdiam sejenak, seolah tidak menyangka Mia benar-benar mengangkat. “Mia… kenapa kamu menjual rumah itu? Sekarang kami harus tinggal di mana?” suaranya pecah, campur aduk antara panik dan putus asa.
Mia menatap mereka dari kejauhan. Ia bisa melihat Rukmini yang sedang mengomel, Lukman yang mondar-mandir, dan Sonya yang mencoba menenangkan Janu. Pemandangan itu tidak lagi membuatnya merasa bersalah. Yang ia rasakan hanya kelegaan yang dingin.
“Itu bukan urusanku,” jawab Mia tegas. “Mereka keluargamu, jadi kamu urus sendiri tempat tinggal untuk mereka" lanjutnya.
Rian menghela napas dalam-dalam. Ia menunduk, memegang kening, lalu suaranya berubah memohon. “Mia, tolong, berikan kami tumpangan terlebih dahulu. Hanya sementara. Sampai kami mendapatkan tempat tinggal yang baru. Ibu sudah tua, Janu masih bayi. Kami tidak punya tempat lain malam ini.”
Mia terdiam beberapa detik. Di kepalanya terlintas bayangan berbulan-bulan yang lalu, bagaimana mereka datang dengan alasan sementara, lalu betah, lalu semakin berani, lalu semakin menekan. Ia sudah pernah memberi kesempatan. Ia sudah pernah mengalah. Hasilnya hanya luka dan penyesalan.
“Maaf, Rian, aku tidak bisa” ucap Mia pelan tapi tegas.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengakhiri panggilan secara sepihak. Layar ponsel kembali gelap. Mia menggenggam ponselnya, lalu menghela napas panjang. Ia tidak akan memberikan mereka tempat tinggal untuk sementara. Karena ia tahu betul, kalau mereka sudah nyaman, mereka tidak akan mau pergi. Sama seperti sebelumnya.
Di luar, Rian menatap ponselnya yang sudah putus. Wajahnya pucat. Ia mencoba menelepon lagi, tapi hanya masuk ke kotak suara.
Rukmini yang berdiri di sampingnya langsung bertanya, “Bagaimana? Dia bilang apa?”
Rian menggeleng pelan. “Dia menolak. Tidak mau memberi tumpangan.” jawab Rian.
Rukmini meledak. “Dasar tidak tahu diri! Setelah semua yang dia lakukan, dia masih tega!”
Lukman menendang kerikil di jalan, kesal. Sonya hanya menunduk, menatap Janu yang mulai rewel karena lapar dan kepanasan. Sementara Rian berdiri diam, menatap rumah yang dulu ia anggap rumahnya. Jendela-jendela tertutup rapat. Tidak ada satu pun tanda-tanda Mia akan menolong mereka.
*
Di tempat lain, Mia baru saja tiba di rumah orang tuanya. Dia masuk kedalam rumah, duduk di ruang tamu rumahnya.
Maya menghampirinya sambil membawa segelas air hangat.“Bagaimana? Apa proses penjualannya lancar” tanya ibunya.
Mia mengangguk. “Lancar ma. Tadi Rian sempat menghubungiku, dia minta tumpangan sementara. Tapi aku tolak.” ungkap Mia.
Maya mengelus punggung putrinya. “Kamu tidak menyesal?”
“Tidak,” jawab Mia pelan. “Kalau aku kasih tumpangan, mereka akan mengulangi semuanya lagi. Aku tidak mau. Aku sudah selesai, Ma."
Ia menoleh ke arah kamar tempat Kayla tertidur. Di hati, ia tahu keputusannya kejam di mata orang lain. Tapi bagi dirinya, itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi sisa hidupnya dan masa depan putrinya.
Maya menggenggam tangan putrinya dengan lembut. “Sekarang, fokuslah pada hidupmu sendiri. Jangan biarkan mereka kembali mengacaukan ketenanganmu.”
Mia mengangguk, lalu tersenyum tipis.
Namun, belum sempat mereka melanjutkan percakapan, ponsel Mia berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.
"Kamu pikir masalahmu sudah selesai? Rian tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu"
Mia mengernyitkan dahi. Ia membaca pesan itu berulang kali, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Maya.
“Siapa yang mengirimnya?” tanya Maya khawatir.
Mia menggeleng. Tatapannya berubah dingin.
“Entahlah, Ma. Tapi sepertinya Lumkan. Kalau mereka pikir aku akan takut, mereka salah besar.”
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈