Indonesia
NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas / Penyesalan Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Clarissa Semakin Merasa Terancam

.

Clarissa meletakkan cangkir tehnya dengan kasar ketika mendengar Marissa berbicara melalui telepon di ruang keluarga. Sejak Darma dirawat di rumah sakit, ibu mertuanya itu semakin getol ingin membuat Keira kembali menjadi menantu keluarga Wijaya.

“Kamu tenang saja, kalau Keira bersedia bertemu, Ibu akan bicara yang manis dan minta maaf baik-baik,” ujar Marissa sebelum mengakhiri panggilan. “Duku dia kan bucin sekali sama kamu. pasti dia senang melihat Ibu datang.”

Clarissa segera menghampirinya. “Ibu benar-benar akan pergi menemui Keira?”

Marissa menoleh. “Tentu saja. Kamu tidak dengar? Kemarin Arsen bilang kondisi perusahaan semakin gawat. Hanya Keira yang mampu menyelamatkan kita.”

“Kenapa kita tidak berusaha menyelesaikan masalah kita sendiri? Kalau semua bergantung pada Keira, apakah itu artinya selama ini sebenarnya Arsen itu hanya CEO palsu yang tak mampu apa-apa?”

“Jaga mulut kamu!” Marissa tidak terima dengan ucapan Clarissa. “Kalau memang bisa diselesaikan sendiri, Ibu tidak akan ngeyel untuk menemuinya. Kamu itu sudah tahu perusahaan krisis bukan membantu malah banyak protes. Kalau kamu bisa membantu, kenapa tidak bilang sama Ayah kamu untuk membantu kami? Toh nanti kalau perusahaan kembali sukses kamu juga yang akan ikut menikmati.”

Clarissa mengepalkan tangan di balik tubuhnya. Baginya, persoalan itu bukan sekadar urusan perusahaan. Sejak mengetahui bahwa Keira adalah pemilik KA Grup, ia merasa kedudukannya sebagai istri Arsen semakin terancam.

“Memangnya Ibu tidak malu? Dulu Ibu yang paling keras ingin memisahkan Arsen dari Keira, Ibu bahkan memperlakukan dia seperti pembantu, lalu sekarang tiba-tiba saja Ibu ingin dia kembali? Apa Ibu tidak merasa jijik menjilat ludah sendiri?”

Marisa melotot mendengar perkataan Clarissa yang begitu kurang ajar. Namun, wanita paruh baya itu seakan tidak mempedulikan.

“Biar saja!” sahutnya acuh. “Yang penting perusahaan selamat, dan nama keluarga Wijaya akan semakin terkenal dan disegani di antara kalangan pengusaha. Lagipula dengan Keira kembali menjadi menantu di rumah ini, Ibu yakin kehidupan Ibu akan lebih makmur. Keira itu punya banyak uang. Ibu bisa minta apa saja karena sejak dulu Keira itu menantu yang penurut."

*

Saat ibu mertuanya masuk ke dalam kamar setelah berdebat dengannya, Clarissa tiba-tiba saja berpikir untuk menemui Keira sebelum Marissa bertindak lebih dulu. Ia meminta sopir mengantarnya ke gedung KA Grup tanpa memberi tahu siapapun karena jika terdengar oleh Arsen atau Marisa mereka pasti akan melarangnya.

Begitu sampai di depan gedung KA Grup dan memasuki lobi, Clarissa langsung menyadari bahwa tempat itu jauh berbeda dari kantor perusahaan yang biasa dikunjunginya. Perusahaan itu jauh lebih megah dari perusahaan Wijaya maupun Halim. Para pegawai bergerak dengan teratur, sementara beberapa tamu menunggu giliran di area penerimaan. Tidak ada kesan berlebihan, tetapi setiap sudut menunjukkan profesionalisme dan kendali yang kuat.

Clarissa mendekati meja resepsionis dengan dagu terangkat. “Saya ingin bertemu dengan Keira Anindita,” ucapnya angkuh.

Resepsionis itu menatap datar. “Anda baru saja menyerobot antrian. Apakah Anda sudah memiliki janji temu?”

“Tidak,” jawab Clarissa. “Katakan saja Clarissa Halim ingin bertemu dengannya.”

Resepsionis memeriksa jadwal sebelum kembali menatapnya. “Mohon maaf, Ibu Clarissa. Bu Keira sedang memiliki agenda kerja. Kami tidak bisa menerima tamu tanpa janji temu.”

Wajah Clarissa mengeras. Ia terbiasa mendapatkan akses karena nama keluarga Halim, tetapi di tempat itu, nama tersebut tampaknya tidak memiliki pengaruh apa pun.

“Saya istrinya Arsen Wijaya. Keira pasti mengenal saya.”

“Baik, Bu. Saya akan menyampaikan permintaan Ibu kepada sekretaris beliau.” Resepsionis itu segera meraih telepon yang berada di atas mejanya.

Clarissa terpaksa menunggu. Beberapa menit kemudian, resepsionis itu kembali menatapnya dan menyampaikan bahwa Keira tidak dapat menemuinya hari itu.

“Dia menolak saya?” Clarissa bertanya dengan nada tidak percaya.

“Bu Keira meminta agar setiap pertemuan dijadwalkan sesuai prosedur perusahaan,” jawab resepsionis lalu dengan telapak tangannya menunjuk ke arah orang-orang yang duduk di kursi tunggu. "Mereka yang sedang duduk di sana adalah orang yang sudah memiliki janji temu dan sedang menunggu giliran. Jadi tidak bisa seenaknya seperti yng Anda mau."

Clarissa merasa dipermalukan. Ia datang untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut menghadapi Keira, tetapi justru diperlakukan seperti tamu biasa yang bahkan tidak cukup penting untuk mendapatkan waktu beberapa menit.

“Kalau begitu, sampaikan kepadanya bahwa saya akan datang lagi.”

Resepsionis itu mengangguk sopan, tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap ancamannya.

Clarissa berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, sebelum mencapai lobi, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah foto besar di dinding dekat ruang penerima tamu. Foto itu menampilkan Keira bersama sejumlah eksekutif dalam sebuah acara bisnis, dengan keterangan mengenai keberhasilan KA Grup menyelesaikan proyek berskala nasional.

Clarissa menatap foto tersebut cukup lama. Selama ini, ia mengira Keira hanya perempuan biasa, yatim piatu yang pernah menikah dengan Arsen dan kemudian tersingkir dari kehidupan keluarga Wijaya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan itu memiliki kekuasaan sebesar ini, apalagi mampu membuat orang-orang penting datang untuk bekerja sama dengannya.

Rasa takut yang selama ini berusaha disangkalnya perlahan berubah menjadi kecemasan nyata. Jika Arsen kembali mengejar Keira, apa yang bisa ia lakukan untuk menandingi perempuan itu?

 

Sementara itu, Keira baru saja menerima laporan dari Darren.

“Clarissa tadi datang tanpa janji temu,” lapor Darren. “Dia meminta bertemu dengan Bos, tetapi sudah langsung saya tolak.

Keira tidak menunjukkan keterkejutan. “Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan.”

Daren mengangguk lalu menarik kursi di hadapan Keira lalu duduk dengan santai. “Menurut Bos, untuk apa dia datang ke sini?”

Keira mengangkat kedua bahunya acuh. “Mana aku tahu? Aku bukan cenayang."

Darren menghela napas pendek Keira memang secuek itu jika menyangkut orang yang dianggap tidak penting.

"Apa Bos sama sekali tidak ingin menebaknya? Bagaimana kalau ternyata dia…”

Keira mengangkat wajahnya dan menatap datar membuat Daren menghentikan ucapannya. "Apa kamu sedang senggang? Kalau senggang…"

“Tidak, Bos." Seketika itu juga Daren berdiri dari duduk santainya. “Masih ada laporan yang harus saya kerjakan. Permisi." Secepat kilat pria itu berlari keluar dari ruangan Keira.

* 

Di ruang kerjanya, Arsen menerima telepon dari ibunya mengenai Clarissa ketika ia baru saja menyelesaikan laporan yang menguras otak. Arsen segera menghubungi Clarissa.

“Kamu pergi ke mana tadi?” tanyanya setelah mendengar laporan bahwa istrinya pergi tanpa pamit.

“Aku hanya ingin pergi jalan-jalan,” jawab Clarissa enteng.

“Tanpa memberitahuku?”

Clarissa mengeraskan rahangnya sebelum menjawab, “Aku bukan tawanan yang harus selalu melapor setiap kali ingin pergi. Jangan samakan aku dengan Keira, karena bahkan Keira sekalipun, sekarang tak kan bisa kau perlakukan seperti itu.”

Arsen mengepalkan tangannya mendengar jawaban Clarissa. Wanita itu benar-benar jauh berbeda dari Keira yang dulu begitu penurut. Tapi ia juga tidak berani bersikap terlalu keras pada istri keduanya itu. Dia masih ingin mengambil keuntungan dari keluarga Halim yang sama sekali belum ia dapatkan. “Sayang, bukan begitu.”

“Lalu apa?” Suara Clarissa mulai meninggi. “Sejak kita tahu dia pemilik KA Grup, kamu dan Ibu terus membicarakannya. Kamu pikir aku ini manusia tidak punya hati? Tidak tersinggung, tidak merasa sakit? Sekarang bahkan untuk keluar supaya otakku tidak panas saja aku harus laporan dulu. Apa kamu ingin menjadikan aku sebagai wanita rumah tangga seperti Keira mu yang dulu? Jangan harap!”

Arsen terdiam mendengar semua ucapan Clarissa, seakan ia baru menyadari bahwa selama ini terlalu tidak peduli pada perasaan wanita itu. Ada sebersit rasa bersalah bercokol dalam benaknya. Tapi keinginan untuk kembali menjadikan Keira sebagai istrinya juga tak surut. Apalagi sekarang Keira tidak seperti dulu yang begitu sederhana. Wanita itu semakin cantik dan berkelas. Sangat cocok untuk dipamerkan pada kolega. Dan yang utama, Keira kaya raya.

“Aku istrimu, Arsen.” Suara Clarissa yang lirih membuyarkan lamunan Arsen. “Kamu dan ibumu yang dulu begitu getol merayu agar aku mau menjadi menantu keluarga Wijaya. Apa sekarang kamu menyesali hanya karena melihat mantan istrimu yang ternyata konglomerat kelas atas?”

Arsen menghembuskan napas. “Jangan berbicara seperti itu, Clarissa. Aku mau menuruti kata-kata ibuku juga demi perusahaan. Percayalah, kamu yang paling aku cintai saat ini. Aku ingin Keira kembali hanya demi perusahaan. Sama sekali tidak ada yang lain.”

Clarissa menutup panggilan tanpa menjawab. Ia tak tahu apakah bisa mempercayai kata-kata Arsen atau tidak. Ia menatap layar ponselnya, dan ada foto pernikahannya dengan Arsen sebagai wallpaper. Senyum yang terpampang di wajahnya dan Arsen, kini seperti bayangan semu. Entah setelah ini ia akan tetap bisa tersenyum atau tidak.

1
Lily
keira terlalu baik di masalalu . membantu tnpa spngthuan kluarga Arsen
Noey Aprilia
Mnimal orng2 trdekatmu ikut bhgia y kei....kl dlu km mnjauh krna sng mntan,skrng saatnya mnikmti kbrsmaan dgn shbatmu dn orng2 yg syng sm km....apa lg ada abang el yg pdkt..🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
ga Papa Kei berarti Darren jg perhatian sama km dia sengaja mendekatkan km dgn elvano
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
bukan yg pertama 😌
vania larasati
lanjut
Noey Aprilia
Keira mngkn mau mmafkn kslhn mreka d msa lalu,tp untk kmbli lg....
Soryyyy yeee......😛😛😛
Aditya hp/ bunda Lia
tidak akan bisa soalnya kamu tuh udah terbiasa terima beres ...tanpa kerja keras dulu
〈⎳ FT. Zira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Widiyarti
menyesalpun tiada guna Arsen...
Ilfa Yarni
tidak Ada Jln lain untukmu slain menerima nasib itulah karma yg hrs kau jalani karena kesombonganmu arsen
Lee Mba Young
nnti di kluarga santoso Clarissa di jadikan babu
Aditya hp/ bunda Lia: setuju semoga ajah ... kita mohon sama othor 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
oalah tibak e podo bangkrut e🤣🤣
Nurhartiningsih
gila sih ini
Lily
keluarga gila
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
inilah contohl orang2 yg tamak Akan harta dikira mereka beruntung tp malah buntung penasaran apa yg Akan dikatakan papa Clarissa ya perusahaanya jg mau bangkrut dia menikahkan anknya dgn arsen berharap bisa dimanfaatin ternyata arsen malah bankrupt duluan
Ayuk Witanto
Keira udah gak Sudi mungut sampah
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan pada mau enak mau senang tanpa berjuang ...
juwita
Arsen menghela nafas pendek.
juwita
yg penting tidak menceraikan carissa. mgkn itu yg di maksudnya ya mam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!