Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Di gedung pencakar langit berarsitektur modern yang berdiri megah di pusat distrik finansial kota, lantai teratas menjadi jantung dari seluruh operasi legal dan ilegal milik Moretti Dynasty. Ruang kerja utama sang Don dirancang dengan dinding kaca tembus pandang setinggi lima meter yang menyajikan pemandangan lanskap kota secara vertikal.

Aroma tembakau mahal dari cerutu Cuban dan kayu jati tua memenuhi ruangan berpendingin udara tersebut.

Gabriel Moretti duduk bersandar di kursi kulit hitam berukuran besar di balik meja kerjanya. Jas mewahnya sudah ia tanggalkan dan disampirkan di sandaran kursi, meninggalkan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, mengekspos otot pergelangan tangan dan tatonya yang pekat. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan jejak kelelahan sekaligus kepuasan dari hari-hari yang panjang.

Rapat maraton selama empat jam bersama para manajer eksekutif dan petinggi faksi baru saja usai sepuluh menit yang lalu. Semua berkas negosiasi, peta distribusi perbatasan utara, hingga persetujuan akuisisi saham telah ditandatangani dengan ketegasan dingin tanpa celah.

Di sudut ruangan, Marco berdiri di dekat meja konsol kayu oak, memutar botol kristal berisi wiski pekat berusia tiga puluh tahun, lalu menuangkannya ke dalam dua gelas berat bertakar tepat.

"Semua petinggi faksi selatan puas dengan keputusan Anda mengenai pembagian deviden kuartal ini, Tuan," ujar Marco seraya melangkah mendekat dan meletakkan salah satu gelas kristal di atas meja kerja Gabriel. "Aset faksi utara juga sudah sepenuhnya bersih dan terintegrasi."

Gabriel tidak langsung menyentuh gelas wiskinya. Matanya yang kelam menatap kosong ke arah deretan gedung bertingkat di luar jendela kaca, memandangi awan siang yang bergerak lambat.

Tidak ada ketegangan bisnis di raut wajahnya saat ini. Yang ada hanyalah sebuah ekspresi asing sebuah tatapan menerawang yang sangat jarang, atau bahkan belum pernah dilihat oleh Marco selama sepuluh tahun mengabdi sebagai tangan kanan paling setia sang Don.

"Marco," panggil Gabriel tiba-tiba. Suaranya berbariton rendah, datar, namun memotong keheningan ruangan dengan bobot yang tak biasa.

Marco menghentikan gerakannya yang hendak menyesap wiski, mendongak sigap. "Ya, Tuan?"

Gabriel menyilangkan jemari tangannya di atas meja, lalu sedikit memiringkan posisinya. Pandangannya beralih dari jendela luar, mengunci wajah Marco dengan tatapan yang sangat serius, namun membingungkan.

"Cinta itu... sebenarnya apa?"

Klek.

Gelas kristal di tangan Marco hampir saja terlepas dari genggamannya. Tangan kanan yang dikenal berdarah dingin dan tak pernah gentar menghadapi todongan senjata api itu mendadak kaku seketika. Matanya terbelalak lebar, memandangi tuannya dengan raut wajah yang sepenuhnya tak percaya.

Selama belasan tahun mengenal Gabriel Moretti pria yang dibesarkan di tengah dentuman peluru, darah musuh, dan konspirasi kekuasaan mafia kata 'cinta' adalah sebuah kosakata asing yang haram dan mustahil terlontar dari bibir sang penguasa. Bagi keluarga Moretti, wanita adalah transaksi politik, pemuas kebutuhan biologis, atau alat negosiasi.

"Maafkan saya, Tuan?" bisik Marco ragu, memastikan bahwa telinganya tidak sedang memanipulasinya akibat kelelahan bekerja. "Anda... bertanya tentang apa?"

"Kau tidak tuli, Marco," pangkas Gabriel dingin, namun tak ada nada amarah di sana. Pria itu menyandarkan punggungnya kembali, mengambil gelas wiski dan memutar-mutarnya pelan hingga es batu di dalamnya berdenting halus. "Aku bertanya padamu. Sebagai pria yang memiliki istri dan keluarga... bagaimana kau mendefinisikan apa itu cinta?"

Marco menarik napas panjang, mencoba menguasai rasa keterkejutannya. Ia berjalan pelan menuju sofa kulit di depan meja kerja, lalu menunduk hormat sebelum duduk setelah mendapat gestur izin dari Gabriel.

"Pertanyaan Anda sangat tidak biasa, Tuan," puji Marco hati-hati, memilih setiap kata dengan sangat presisi agar tidak menyinggung sensitivitas sang Don. "Bagi pria di dunia kita... cinta sering kali dianggap sebagai kelemahan yang mematikan. Sebuah celah di dalam baju zirah yang bisa dimanfaatkan oleh musuh untuk menghancurkan kita."

Gabriel diam, mendengarkan seraya menyesap wiskinya pelan.

"Namun..." lanjut Marco, menatap tuannya dengan pandangan yang lebih terbuka. "Jika Anda bertanya tentang definisinya secara pribadi... bagi saya, cinta bukanlah kata-kata manis atau perasaan romantis yang dangkal. Cinta adalah sebuah ketundukan tanpa syarat."

"Ketundukan?" Gabriel menaikkan sebelah alisnya yang tebal.

"Ya, Tuan," jawab Marco mantap. "Cinta adalah ketika seorang pria yang paling dominan dan tak tersentuh di luar sana... secara sukarela menyerahkan seluruh pertahanannya saat ia berada di depan satu wanita. Ketika keberadaan wanita itu membuat Anda merasa tenang sekaligus cemas di saat yang bersamaan. Anda takut menyakiti fisiknya, Anda takut kehilangan sosoknya, dan Anda rela membuang seluruh ego kepemimpinan Anda hanya untuk melihatnya tersenyum atau berada di dalam pelukan Anda."

Kata-kata Marco bagaikan sebuah cermin raksasa yang langsung dihantamkan tepat di depan wajah Gabriel.

Sang Don terpaku. Jemarinya yang menggenggam gelas wiski makin mengetat.

Bayangan Aurora seketika membanjiri seluruh sudut pikirannya.

Ia mengingat bagaimana kemarin pagi ia menolak keluar dari kamar, mengabaikan rapat penting bernilai jutaan dolar, hanya demi bergelayut manja dan menyembunyikan wajahnya di perut Aurora. Ia mengingat bagaimana hatinya bergetar hebat saat mendengar tawa renyah Aurora, dan bagaimana rasa haus gila yang menyiksanya selama berminggu-minggu di negara sebelah seketika sirna hanya dengan menghirup aroma vanila dari leher wanita itu.

Ia, seorang Gabriel Moretti yang tak pernah tunduk pada siapapun bahkan pada ancaman kematian sekalipun telah secara sukarela menjadi kekanak-kanakan, lembut, dan pasrah di hadapan gadis yang dulu pernah disiksanya.

"Apakah..." Gabriel jeda sejenak, suaranya terdengar agak berat, "Apakah cinta membuat seorang pria menjadi gila dan posesif?"

Marco tersenyum tipis sebuah senyuman penuh pemahaman yang jarang ia perlihatkan.

"Bagi pria seperti Anda, Tuan... cinta tidak pernah hadir dalam bentuk yang tenang," jelas Marco pelan. "Cinta bagi seorang penguasa seperti Anda akan selalu mewujud menjadi sebuah obsesi mutlak. Anda tidak hanya ingin memilikinya hari ini, Anda ingin mengunci takdirnya selamanya. Anda ingin menanamkan darah Anda di dalam dirinya agar ia tidak pernah bisa berpaling atau melangkah pergi dari hidup Anda."

Gabriel tertegun. Kata-kata Marco barusan adalah refleksi sempurna dari apa yang ia lakukan kemarin siang keinginannya yang mendesak untuk menanamkan benih pewaris di dalam rahim Aurora.

Kemarin, ia berpikir bahwa keinginannya memiliki anak dari Aurora hanyalah sekadar strategi dinasti untuk mengamankan keturunan Moretti dari wanita paling cantik yang berhasil dijinakkannya. Namun kini, di balik penjelasan Marco, Gabriel menyadari sebuah kenyataan yang jauh lebih dalam dan menakutkan:

Ia menginginkan anak itu bukan hanya demi takhta... melainkan karena ia terlalu takut kehilangan Aurora.

Anak itu adalah rantai tak kasat mata yang ingin ia pasang pada Aurora, agar wanita itu terikat abadi bersamanya hingga napas terakhir mereka.

"Jadi..." gumam Gabriel lirih pada dirinya sendiri, matanya menatap tajam ke cairan amber di dalam gelasnya. "Perasaan yang meremas dadaku setiap kali melihatnya... rasa ingin menyelimutinya sekaligus menguasainya sepenuhnya... ini adalah cinta?"

"Jika wanita yang Anda maksud adalah Nona Aurora..." Marco memotong dengan nada bicara yang sangat lembut dan penuh rasa hormat, "maka jawabannya adalah ya, Tuan. Anda telah jatuh cinta padanya sejak lama. Hanya saja ego dan dominasi Anda selama ini menolak untuk mengakuinya."

Ruang kerja yang megah itu kembali diselimuti keheningan yang pekat.

Gabriel tidak membantah ucapan tangan kanannya. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penguasa mafia mengakui sebuah kenyataan di dalam batinnya yang paling dalam: ia telah bertekuk lutut sepenuhnya.

Gadis yang dulu dianggabnya hanya sebagai piala kemenangan, kini telah menjadi pusat dari seluruh alam semesta dan jiwanya. Ia tidak lagi peduli pada selir-selir di luar sana. Ia tidak lagi peduli pada tahta atau darah yang telah ia tumpahkan. Seluruh dunianya kini berporos pada satu nama: Aurora.

"Marco," panggil Gabriel lagi tanpa membuka matanya.

"Ya, Tuan?"

"Perketat keamanan di sekitar puri. Pastikan tidak ada satu pun orang asing atau ancaman sekecil apa pun yang bisa mendekatinya," perintah Gabriel dengan nada suara yang kini dipenuhi oleh proteksi yang teramat posesif dan pekat. "Dan siapkan perhiasan berlian terbaik serta gaun terindah minggu ini. Aku ingin memberinya segalanya."

"Baik, Tuan. Perintah Anda akan segera dilaksanakan," jawab Marco seraya membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan perlahan, meninggalkan sang majikan yang tenggelam dalam pusaran perasaannya sendiri.

Di dalam ruangan yang sepi itu, Gabriel membuka matanya kembali. Ia menatap ke luar jendela gedung, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat dalam dan sarat akan tekad mutlak.

"Kau sudah menguasai hatiku sepenuhnya, Cara mia..." bisik Gabriel lirih pada bayangan kota di bawah sana. "Dan aku akan memastikan bahwa rahimmu, tubuhmu, dan seluruh sisa hidupmu... akan menjadi milikku selamanya."

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!