Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : RUANG BAWAH TANAH CROWN TOWER

Brak!

Pintu besi tebal di lantai minus tiga itu membentur dinding beton dengan suara nyaring yang memantul liar di sepanjang lorong sempit. Bau lembap, semen basah, dan karat besi langsung menusuk hidung begitu udara pengap di dalam ruangan interogasi bergolak. Dua pengawal berbadan tegap menyeret tubuh Zhang Wei masuk, lalu melemparkannya begitu saja hingga tersungkur di atas lantai semen yang dingin.

Pria paruh baya itu terkapar dengan napas memburu. Kemeja putihnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin, melekat erat di punggungnya yang bergetar hebat. Tidak ada lagi sisa-sisa penampilan rapi seorang staf korporat yang biasa duduk di balik meja kantor ber-AC. Yang tersisa hanyalah keputusasaan murni seorang buronan yang tahu dirinya telah masuk ke dalam kandang singa tanpa jalan keluar.

Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung kuning temaram, sebuah kursi besi menanti.

Shen Mo melangkah masuk tanpa mengenakan jas formalnya. Kemeja hitam yang lengannya digulung sampai ke siku memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan garis rahang yang mengetat kaku. Pria itu tidak membuang waktu. Ia menarik kursi besi di hadapan Zhang Wei, lalu menjatuhkan bokongnya dengan gerakan tenang namun penuh ancaman mutlak.

"T-Tuan Shen! Ampuni saya!"

Zhang Wei langsung merangkak maju dengan sisa tenaganya, mencoba menggapai ujung sepatu kulit Shen Mo. Air matanya tumpah ruah, bercampur dengan keringat di pipinya yang kotor.

"Saya khilaf! Saya bersumpah tidak berniat mengkhianati organisasi! Tolong... beri saya satu kesempatan lagi!"

Shen Mo bergeming.

Pria itu sama sekali tidak bergeming atau menunjukkan rasa jijik. Tatapannya menembus mata Zhang Wei seperti sebilah pisau bedah yang siap merobek dada korbannya. Perlahan, tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun, Shen Mo merogoh saku bagian dalam celananya. Sebuah pistol semi-otomatis berwarna hitam legam ditarik keluar, lalu diletakkan begitu saja di atas meja besi di antara mereka.

Clank.

Logam dingin itu berdenting nyaring menghantam permukaan meja. Suara itu jauh lebih mematikan daripada bentakan atau ancaman lisan apa pun. Zhang Wei langsung menelan ludah mentah-mentah, tenggorokannya tercekat seketika.

"Staf lapangan rendahan sepertimu," suara Shen Mo keluar sangat rendah, nyaris berbisik, namun setiap suku kotanya terasa menghujam ulu hati, "tidak punya wewenang sebesar itu. Membelokkan alur dana yayasan amal selama tujuh tahun penuh tanpa terdeteksi oleh sistem internal... itu bukan kerjaan satu orang. Pasti ada restu dari seseorang yang duduk di kursi petinggi lantai atas."

Shen Mo memajukan sedikit tubuhnya. Matanya menyipit tajam.

"Siapa di balikmu?"

Zhang Wei menggeleng panik sekuat tenaga. Tangannya mencengkeram lantai semen dengan jari-jaringannya yang kotor. "S-Saya sendirian, Tuan! Sumpah! Tidak ada orang lain! Saya yang melakukannya sendiri!"

"Masih mau berbohong?"

Sebuah suara dingin memotong udara ruangan yang menegang.

Dari balik bayangan di belakang punggung Shen Mo, sebuah sosok kecil melangkah maju. Langkah kakinya pelan, hampir tidak bersuara di atas lantai semen.

Luo Chen berhenti tepat satu langkah di hadapan Zhang Wei. Jaket hoodie hitam berukuran sedikit kebesaran yang ia kenakan membuat tubuh kurusnya tampak semakin kecil, tetapi ada aura ketenangan yang mengerikan terpancar dari sorot matanya. Bocah sepuluh tahun itu menatap lurus ke bawah, tanpa ada rasa takut, tanpa ada keraguan.

Zhang Wei mendongak perlahan. Saat ia melihat wajah pucat namun tajam di hadapannya, darah di sekujur tubuhnya terasa berhenti mengalir. Matanya melotot lebar.

"K-Kamu... anak semalem...?" bisik Zhang Wei terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan.

"Tujuh tahun lalu," suara Chen memecah kesunyian ruangan itu. Serak, parau akibat sisa radang tenggorokan, namun setiap kata terdengar sangat jernih dan menusuk. "Kamu datang ke kantor yayasan di gedung tua distrik barat. Kamu menyuruh ibuku menandatangani selembar kertas kosong. Kamu bilang itu syarat mutlak untuk memperbaiki kesalahan data administrasi."

Zhang Wei gemetar hebat. Ingatannya terseret mundur ke masa lalu—ke lorong-lorong kantor tua tempat ia pertama kali memulai aksi kotornya.

"Aku adalah anak dari wanita yang mati kelaparan di gang sempit Jalan Anyelir Nomor 7A," lanjut Chen tanpa berkedip, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Sementara kamu menggunakan uang yang seharusnya menjadi hak kami untuk membelikan rumah mewah bagi kerabatmu di Nomor 7."

"A-Anak sialan... jangan asal bicara—"

Chen tidak terpancing. Ia tidak berteriak atau memukul. Bocah itu dengan tenang memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jaket, lalu menarik keluar sebuah flashdisk hitam berukuran kecil. Benda itu dilemparkannya begitu saja ke pangkuan Zhang Wei.

Plak.

"Semua rekaman transfer bank, bukti pemalsuan tanda tangan, hingga log panggilan telepon antara nomor pribadimu dan salah satu direktur di lantai eksekutif Crown Tower tersimpan rapi di dalam sana," kata Chen sambil mengangkat tangan kirinya, melirik layar jam digital di pergelangan tangannya. "Aku hitung sampai lima. Kalau kau masih menolak menyebutkan namanya, file itu akan terbuka otomatis dan dikirim ke seluruh jaringan eksternal."

Wajah Zhang Wei berubah pucat pasi. Tidak ada lagi warna merah atau sisa tenaga di tubuhnya. Ancaman digital itu jauh lebih menakutkan daripada moncong pistol Shen Mo di atas meja, karena itu berarti seluruh jaringannya akan dihancurkan tanpa sisa.

"Jangan... jangan kirim itu!" jerit Zhang Wei histeris, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

"Lima..."

Suara Chen mulai menghitung. Datar. Tanpa ampun. Tanpa jeda emosi.

"Tunggu! Jangan!"

"Empat..."

"BAIK! AKU NGAKU!" Zhang Wei berteriak sejadi-jadinya, air matanya tumpah ruah membasahi lantai. Pertahanan mentalnya runtuh total di hadapan bocah yang usianya bahkan belum sepertiga usianya sendiri. "Aku ngaku! Jangan kirim filenya!"

Shen Mo memberi gestur kecil dengan tangannya, menyuruh Chen berhenti menghitung.

Di hadapan mereka, Zhang Wei mengambil napas tersenggal-senggal, dadanya naik turun dengan liar. Pria itu menatap Shen Mo dengan teror yang teramat sangat, lalu menjatuhkan keningnya ke lantai sebelum berbisik dengan suara tercekat:

"Petinggi itu... orang yang memegang kendali penuh atas divisi keuangan lantai eksekutif..." Zhang Wei menutup matanya rapat-rapat. "...Direktur Wang."

Nama itu meluncur keluar dari bibirnya seperti racun yang mencemari udara ruangan.

Di seberangnya, rahang Shen Mo mengeras seketika. Otot di pipinya berkedut keras. Matanya menyipit, memancarkan amarah dingin yang jauh lebih berbahaya daripada letusan peluru. Direktur Wang bukan sekadar karyawan biasa; pria tua itu adalah salah satu tangan kanan tertua yang telah mengabdi di Crown Tower selama lebih dari dua dekade. Orang yang selama ini ia percaya untuk menjaga pilar-pilar keuangan sindikat.

Chen menatap Zhang Wei datar, lalu menarik kembali tangannya ke dalam saku jaket.

Permainan petak umpet telah usai. Tikus-tikus di dalam istana kini tahu bahwa singa telah terbangun, dan anak harimau yang berdiri di sampingnya tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos dari hukuman mati.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!