Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Panggung Para Boneka

Alunan musik wals dari orkestra kerajaan mengalun lembut, mengisi setiap sudut aula istana yang berlapis emas. Aroma parfum mahal dan anggur kualitas terbaik menguar di udara. Namun, saat kakiku melangkah membelah lautan manusia berseragam sutra itu, suasana mendadak terasa seperti pemakaman.

Para bangsawan yang tadinya sibuk tertawa dan bergosip, kini terdiam. Mereka membuka jalan secara refleks, menatapku dan ayahku, Duke Gaius, dengan campuran antara rasa segan dan penasaran yang membakar.

Di ujung karpet merah, Pangeran Julian berdiri kaku. Wajahnya yang biasa memancarkan keadilan kini terlihat seperti topeng porselen yang retak. Di sebelahnya, Leon mencengkeram tongkat penyangganya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menyorotkan kebencian murni ke arahku.

Aku tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sangat sopan namun mematikan. Kuhentikan langkahku tepat satu meter di depan sang Putra Mahkota.

"Selamat malam, Yang Mulia Pangeran Julian," sapaku dengan nada yang sangat bersahabat, membungkuk pelan dengan gestur bangsawan yang sempurna. "Malam yang sangat indah untuk merayakan kejayaan Kekaisaran, bukan?"

Julian menelan ludah. Jakunnya naik turun. Ia melirik ke arah saku dalam jasku, tempat di mana ia yakin salinan Buku Kas ilegal miliknya berada.

"S-Selamat malam, Tuan Pendelton," balas Julian terbata-bata, memaksakan senyum yang terlihat lebih mirip seringai kesakitan. "Senang melihat Anda... dan Duke Gaius hadir malam ini."

"Tutup mulutmu, Arthur!"

Leon yang berdiri di sebelah Julian tidak bisa lagi menahan emosinya. Pahlawan berambut merah itu maju selangkah dengan susah payah, tongkat peraknya berderak menekan lantai marmer. "Jangan berlagak seolah kau orang suci di sini. Aku tahu kau merencanakan sesuatu yang busuk! Kehadiranmu saja sudah menodai perayaan ini!"

Suara Leon cukup keras untuk membuat beberapa bangsawan di dekat kami menoleh. Udara mendadak tegang.

Aku memiringkan kepalaku, menatap Leon dari atas ke bawah dengan pandangan iba yang sangat merendahkan.

"Leon... Leon," desahku pelan, menggelengkan kepala. "Aku sungguh bersimpati pada kondisimu. Tabib bilang tulang rusukmu butuh waktu lama untuk pulih, tapi sepertinya benturan di arena kemarin juga merusak sopan santunmu. Apakah ini cara seorang pahlawan berbicara pada sesama bangsawan di hadapan keluarga kerajaan?"

Wajah Leon memerah padam. "Kau—!"

"Leon, cukup!" potong Julian cepat, suaranya sedikit bergetar. Sang Pangeran buru-buru menarik lengan Leon, menatapnya dengan panik. "Jaga bicaramu. Tuan Pendelton adalah tamu kehormatan."

Leon menoleh pada Julian dengan tatapan tidak percaya. Pangeran Keadilan yang selama ini selalu membelanya, yang selalu berdiri di garis depan menentang keluarga Pendelton, kini justru menegurnya dan membela si Tuan Muda Sampah?

Aku terkekeh dalam hati. Menyenangkan sekali melihat wajah kebingungan sang protagonis.

Mata Kausalitas: Aktif.

Aku melirik Leon. Teks transparan berkedip di atas kepalanya.

[Status Pikiran: Kebingungan akut, amarah tak terkendali, krisis kepercayaan diri 40%]

Sebelum Leon sempat membalas, suara terompet istana berbunyi nyaring tiga kali. Kaisar belum tiba, namun ini adalah waktunya bagi para kepala keluarga bangsawan untuk memberikan pidato loyalitas tahunan mereka.

Duke Gaius, yang sedari tadi hanya diam mengamati pertunjukanku, kini melangkah maju menaiki panggung kecil di tengah aula. Kehadirannya langsung menyedot seluruh perhatian. Posturnya yang masif dan aura petir hitam yang samar-samar menguar dari tubuhnya membuat seluruh ruangan hening seketika.

"Rekan-rekan bangsawan, dan Yang Mulia Putra Mahkota," suara bariton Gaius bergema ke seluruh aula. "Malam ini, keluarga Pendelton berdiri lebih kuat dari sebelumnya."

Gaius menoleh ke arahku, tatapannya memancarkan kebanggaan yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.

"Banyak rumor yang beredar di luar sana. Rumor tentang kelemahan, tentang penyakit, dan tentang penerus yang tidak layak," lanjut Gaius, suaranya menegas. "Malam ini, aku akan membakar habis semua rumor itu. Dengan ini, aku, Duke Gaius Pendelton, mendeklarasikan secara resmi di hadapan hukum Kekaisaran: Arthur Pendelton adalah Pewaris Tunggal dan Penerus Mutlak dari seluruh kekuasaan, militer, dan kekayaan keluarga Pendelton!"

Boom.

Ledakan kejut melanda seluruh aula. Terdengar pekikan tertahan dari para bangsawan. Pewaris mutlak? Arthur si Tuan Muda Sampah? Pemuda yang tidak punya Mana Core yang jelas itu kini resmi memegang kendali atas militer terkuat di utara?!

Mata Pangeran Julian terbelalak ngeri. Jika Arthur menjadi Duke, maka ancaman Buku Kas itu bukan lagi sekadar gertakan kosong, melainkan senjata pemusnah massal politik.

"Dan sebagai bentuk loyalitas pewarisku pada Kekaisaran," Gaius tersenyum buas. "Putraku memiliki sebuah 'hadiah' kecil untuk membersihkan hama di dalam istana."

Semua mata kini beralih padaku.

Aku tersenyum, melangkah maju dengan anggun. Dari balik bayangan pilar, Kael—komandan Pasukan Bayanganku yang kini menyamar sebagai pelayan istana—berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah kotak beludru merah kepadaku.

"Terima kasih, Ayah," ucapku, mengambil kotak itu. Aku menatap berkeliling, memastikan semua orang memperhatikanku, lalu pandanganku berhenti pada seorang pria paruh baya berambut pirang klimis yang berdiri tak jauh dari Pangeran Julian.

Baron Vance. Ayah dari Cedric, dan kebetulan... penyandang dana terbesar kedua untuk operasi kotor Pangeran Julian.

"Yang Mulia Pangeran Julian sangat menjunjung tinggi keadilan," kataku dengan suara yang mengalun lembut. "Karena itu, sebagai pewaris Pendelton, aku merasa terpanggil untuk membantu beliau menyingkirkan lintah yang menggerogoti kas negara."

Aku membuka kotak beludru itu dan mengeluarkan setumpuk dokumen yang disegel dengan lilin hitam.

"Ini adalah bukti transaksi rahasia, penggelapan dana Akademi Solaria, dan penjualan slot murid kelas unggulan yang dilakukan oleh Baron Vance selama lima tahun terakhir," umumku, melemparkan dokumen itu ke atas meja perjamuan hingga berserakan.

Wajah Baron Vance seketika pucat pasi, sama persis dengan ekspresi Cedric saat kuancam di lorong akademi. "F-Fitnah! Itu fitnah! Pangeran Julian, tolong saya! Dokumen itu palsu!"

Aku menoleh pada Julian, memberikan tatapan yang menyiratkan pesan mematikan: Bela dia, dan aku akan mengeluarkan dokumen besimu.

Julian gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia menatap Baron Vance, lalu menatapku, dan akhirnya menundukkan pandangannya.

"Ksatria Istana," suara Julian terdengar parau dan dipaksakan. "Tahan Baron Vance. Bawa dokumen itu ke ruang interogasi. Jika terbukti benar... sita seluruh hartanya."

"Yang Mulia! Anda tidak bisa melakukan ini! Saya telah mendanai—Mmph!" Mulut Baron Vance langsung dibungkam oleh Ksatria yang menyeretnya keluar dari aula, meninggalkan putranya, Cedric, yang jatuh terduduk di lantai sambil menangis gemetar.

Keheningan yang mengerikan mencekik seluruh aula.

Dalam satu malam, aku tidak hanya resmi menjadi penguasa masa depan, tapi aku juga baru saja memotong tangan kanan ekonomi sang Putra Mahkota tepat di depan matanya, memaksanya untuk menghukum sekutunya sendiri.

"Keadilan yang sangat memukau, Yang Mulia," bisikku pada Julian saat aku berjalan melewatinya.

Leon, yang menyaksikan semua itu, menatapku dengan mata yang memancarkan horor murni. Ia akhirnya menyadari bahwa monster yang ia hadapi bukanlah seseorang yang bisa dikalahkan dengan pedang atau api. Monster ini bermain dengan takdir, pikiran, dan kekuasaan absolut.

Aku mengambil segelas anggur merah dari nampan pelayan yang lewat, menyesapnya pelan sambil menikmati pemandangan pahlawan dan pangeran yang hancur mentalnya.

"Pukulan yang luar biasa elegan, Administrator," suara Nox bergema di kepalaku, diiringi kekehan puas. "Lalu, siapa boneka berikutnya yang akan kau putus talinya?"

Aku menatap pantulan diriku di gelas anggur, tersenyum pada bayangan iblis yang kini sepenuhnya menguasai panggung kekaisaran.

1
ZAHRANI
upnya lama banget,padahal cuman buat 1 novel doang😮‍💨
Nappzz: di usahakan up secepatnya ya ka🙏🏻
total 1 replies
ZAHRANI
5 bab lah thor😭
Nappzz: segera ditunggu ya ka
total 1 replies
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!