Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Burung Pos Terbang
Kantor Guild Penengah masih menyala terang meski hampir tengah malam, dan Ketua Guild Penengah sendiri—wanita tenang yang telah memimpin pertemuan tiga hari lalu—menyambut mereka dengan wajah serius begitu mendengar tentang serangan di gudang penyimpanan.
"Kalian melakukan hal yang benar membawanya langsung ke sini," katanya, membuka tabung kayu kecil untuk memeriksa segel surat masih utuh sebelum menutupnya kembali dengan hati-hati. "Burung pos kami disiapkan khusus dengan formasi pelindung kecil, dirancang untuk menghindari gangguan di udara. Begitu terbang, hampir mustahil untuk dicegat tanpa menimbulkan insiden besar yang akan terlihat oleh terlalu banyak saksi."
Mereka menyaksikan dari balkon kantor saat seekor burung besar berbulu putih keperakan—jelas bukan burung biasa, melainkan makhluk yang telah dilatih khusus generasi demi generasi oleh Guild Penengah untuk tugas semacam ini—dilepaskan ke langit malam, tabung kecil berisi surat resmi terikat aman di kakinya.
Ji Ming menyaksikan burung itu terbang semakin tinggi hingga menghilang di antara bintang-bintang, merasakan beban berat yang selama ini menekan dadanya sedikit berkurang—bukan sepenuhnya hilang, tapi setidaknya kini ada harapan nyata yang sedang terbang menuju kebenaran.
"Berapa lama sampai kita dapat balasan?" ia bertanya.
"Tergantung seberapa cepat Dewan Aliansi Sekte merespons," Ketua Guild Penengah menjawab. "Bisa tiga hari, bisa dua minggu, tergantung seberapa serius mereka menanggapi permintaan investigasi independen dari enam guild sekaligus."
Hari-hari berikutnya berlalu dengan kewaspadaan yang perlahan melunak menjadi rutinitas yang hampir terasa normal—Wakil Tetua Sun tidak muncul lagi, mungkin menyadari bahwa tindakan lebih jauh hanya akan memperkuat kecurigaan terhadapnya, dan rombongan akhirnya bisa beristirahat sejenak di kota yang ramai itu, menikmati momen-momen tenang yang jarang mereka miliki sejak perjalanan panjang ini dimulai.
Old Bo menghabiskan waktu mengunjungi rekan-rekan sesama pengrajin, bertukar teknik dan cerita, sementara Su Mei dan Tetua Kang, meski hubungan mereka masih canggung, mulai menemukan titik temu dalam diskusi panjang tentang bagaimana membangun kembali kepercayaan antara seni pengukiran jiwa dan dunia kultivasi yang lebih luas.
Yun Xia, pada suatu sore yang tenang, mengajak Ji Ming berjalan-jalan di pasar kota, jauh dari ketegangan yang selama ini mewarnai hari-hari mereka.
"Kau sudah jauh berubah," katanya, menatap Ji Ming yang kini berjalan dengan langkah lebih tegap dibanding pemuda ketakutan yang ia temukan di jurang berbulan-bulan lalu—meski sebenarnya baru beberapa minggu, terasa seperti waktu yang jauh lebih panjang. "Dari buronan ketakutan jadi seseorang yang berani berdiri di hadapan enam guild besar dan bicara tentang kebenaran."
"Aku tidak akan sampai di sini tanpa kalian semua," Ji Ming menjawab jujur, menatap Xiao Mu dan Xiao Yu yang berjalan di sisinya. "Tanpamu yang menolongku di jurang itu, aku mungkin sudah mati atau tertangkap sebelum sempat memahami apa pun tentang warisan ini."
Yun Xia tersenyum, senyum yang kini terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari awal perjalanan mereka. "Itulah gunanya perjalanan bersama, bukan? Tak seorang pun seharusnya menghadapi dunia sendirian."
Pada hari kelima, saat mereka sedang sarapan bersama di penginapan, seorang utusan Guild Penengah datang tergesa dengan wajah campuran serius dan bersemangat, membawa sebuah gulungan resmi bersegel lambang Dewan Aliansi Sekte.
"Balasan sudah tiba," utusan itu berkata, menyerahkan gulungan itu pada Ketua Guild Penengah yang turut hadir pagi itu.
Ruangan itu hening sepenuhnya saat segel dibuka, semua mata tertuju pada gulungan yang perlahan terbentang.
"Dewan Aliansi Sekte," Ketua Guild Penengah membaca dengan suara yang bergetar antara resmi dan tegang, "menyetujui permintaan investigasi independen, dan memerintahkan diadakannya Sidang Terbuka di Aula Utama Aliansi, sepuluh hari dari sekarang—dihadiri seluruh tetua sekte besar, termasuk perwakilan Puncak Elang Hitam secara penuh."
Tetua Kang menghela napas panjang, wajahnya campuran lega dan ketakutan yang mendalam. "Sidang terbuka. Itu artinya semuanya akan terungkap di hadapan seluruh dunia kultivasi, bukan hanya di kalangan guild yang sudah percaya pada kita."
"Itu juga berarti kita akan pergi langsung ke sarang harimau," Yun Xia menambahkan, matanya menyipit memikirkan risiko yang menanti. "Aula Utama Aliansi berada di wilayah yang jauh lebih dikuasai sekte-sekte besar, termasuk kemungkinan pengaruh Wakil Tetua Sun dan sekutunya."
Ji Ming menatap Xiao Mu yang duduk tenang di pangkuannya, merasakan campuran ketakutan dan tekad yang telah menjadi teman setianya sejak gerbang Makam Terlarang pertama kali terbuka berbulan-bulan lalu.
"Kalau begitu," ia berkata, suaranya mantap meski jantungnya berdebar kencang, "kita punya sepuluh hari untuk bersiap menghadapi sidang terbesar dalam hidup kita."