Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 — Ibu Sudah Tahu

Nara mengganti sarung bantal sebelum ibunya datang.

Ia tahu ibunya tidak akan memeriksa tempat tidur. Tetap saja ia merapikan selimut, menutup pintu ruang belakang, lalu membuka jendela agar ruangan tidak terasa pengap. Ia ingin ada sesuatu yang bisa dipandang ibunya selain kesalahan anaknya.

Ponselnya berbunyi ketika ia sedang mengelap meja.

Pembayaran dari galeri sudah masuk, sesuai jumlah setelah komisi yang diberitahukan lewat email. Nara mengecek rekening dua kali. Uang itu cukup untuk memperpanjang sewa dan membayar kebutuhan beberapa waktu.

Ia hampir mengirim tangkapan layar kepada Adrian.

Kemudian terdengar mobil berhenti di bawah.

* * *

Ibunya naik lebih dulu, memegang pegangan tangga dengan hati-hati. Dimas berjalan di belakang sambil membawa tas kecil milik ibu mertuanya.

Nara mencium tangan ibunya. Perempuan itu menyentuh rambutnya sebentar, kemudian memandang ruangan.

“Di sini kamu tidur?”

“Ada tempat tidur di belakang, Bu.”

“Dia memilih begini,” kata Dimas. Ia meletakkan tas di kursi. “Di rumah semuanya ada.”

Nara menarik kursi untuk ibunya. Ia tidak menanggapi Dimas, tetapi suaminya terus berdiri di dekat meja seolah ikut menjadi tuan rumah.

“Aku ambilkan air.”

“Duduk dulu,” kata ibunya.

Nara menurut.

Ibunya memandang wajahnya lama. Nara masih berharap mendengar pertanyaan tentang makan atau apakah ia cukup tidur. Ketika pertanyaan yang lain datang, ia tetap merasa belum siap.

“Maya sudah tahu?”

“Sudah.”

“Dia yang memberi tahu saya, Bu,” Dimas menyela. “Bukan Nara. Saya juga kaget. Selama ini kalau ditanya, katanya cuma kerja.”

Ibunya menatap Nara, menunggu sanggahan.

Tidak ada yang bisa disangkal dari kalimat itu.

“Aku bohong,” kata Nara. “Ke Dimas dan ke Maya.”

Ibunya mengusap wajah. Nara teringat Maya duduk di lantai studio sambil makan roti, menyebut rumah mereka sebagai tempat berlindung. Ia tidak sanggup menjelaskan kepada ibunya bahwa ia tetap jatuh cinta meskipun tahu semua kebaikan itu.

“Ibu kenal Maya sejak kalian masih sekolah. Ibunya juga…” Perempuan itu berhenti, menarik napas. “Bagaimana Ibu harus menatap mereka sekarang?”

“Maaf, Bu.”

Dimas menarik kursi dan duduk di sebelah ibu mertuanya.

“Itu sebabnya saya belum cerita ke orang lain. Saya masih ingin menyelesaikan ini baik-baik. Kalau Nara pulang hari ini, kami bisa mulai lagi.”

Ibunya memandang Nara.

“Kamu dengar? Dimas masih mau—”

“Aku ingin bicara berdua sama Ibu.”

Dimas menyandarkan punggung.

“Silakan bicara. Saya suamimu, Na. Apa lagi yang perlu disembunyikan?”

Nara menatap ibunya, bukan Dimas.

“Boleh?”

Ibunya merapikan tas di pangkuan, kemudian menoleh.

“Dim, tunggu di bawah sebentar, ya.”

“Bu, saya cuma nggak ingin ceritanya jadi lain setelah—”

“Ibu perlu dengar anak Ibu.”

Dimas terdiam. Ia bangkit dengan senyum tipis yang tidak ditujukan kepada Nara.

“Baik. Saya tunggu.”

Ia menutup pintu, tetapi Nara menunggu sampai langkahnya terdengar menuruni tangga sebelum mulai bicara.

Ibunya memperhatikan hal itu.

“Kamu takut dia dengar?”

Nara mengangguk.

“Aku selalu takut dia dengar sesuatu yang nggak dia suka.”

* * *

Nara tidak menceritakan kamar tidur mereka. Ia belum sanggup menyerahkan hal yang begitu pribadi bahkan kepada ibunya.

Ia menceritakan malam ketika dibangunkan untuk memberikan kata sandi. Kamera yang membuat Dimas tahu setiap kali ia pulang. Panggilan kepada kurir, pembatalan pameran, tangannya yang ditarik di depan tamu.

Ibunya mendengarkan sambil memegang gelas yang akhirnya diambilkan Nara.

“Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena kalau sudah baik lagi, aku merasa berlebihan sudah memikirkannya sejauh itu. Dia bisa baik, Bu. Ibu juga lihat.”

Ibunya tidak membantah.

“Aku pikir nanti kami bisa berubah. Aku coba ngomong, terus ujungnya aku harus menjelaskan kenapa dia perlu curiga. Kalau aku capek menjawab, dia bilang aku menyembunyikan sesuatu.”

Nara mengusap hidungnya.

“Sekarang aku memang menyembunyikan sesuatu. Dia bisa menunjuk semuanya dan bilang sejak awal dia benar.”

Ibunya menaruh gelas, lalu meraih tangan Nara. Sentuhan itu membuat air mata yang sejak tadi ditahan langsung jatuh.

“Ibu nggak senang dengar kamu diperlakukan begitu.”

Nara mengangguk, menggenggam tangan itu erat-erat.

“Tapi Nara, kamu tahu yang kamu lakukan sama Maya…”

“Aku tahu, Bu.”

Ia menangis lebih keras. Ibunya bergeser mendekat dan membiarkannya menempel pada bahunya. Nara merasa seperti anak kecil, kecuali kali ini tidak ada orang lain yang bisa diminta ibunya untuk mengembalikan semuanya seperti semula.

“Kalau kamu belum bisa di sini, pulang sama Ibu,” katanya setelah tangis Nara mereda.

Nara mengangkat kepala.

“Bukan ke rumah Dimas?”

Ibunya menggeleng.

“Ke rumah Ibu.”

Nara hampir mengiyakan. Ia membayangkan kamar lamanya, suara ibunya di dapur, seseorang yang akan mengetuk untuk mengingatkan makan.

Tetapi ia juga tahu ia akan menunggu pesan Adrian di sana. Ia belum sanggup berbaring di rumah ibunya sambil menyembunyikan orang yang masih diinginkannya.

“Aku tinggal di sini dulu. Aku bisa bayar sewanya. Tadi uang lukisan sudah masuk.”

Ibunya melihat ruangan sekali lagi, lalu mengangguk.

“Telepon Ibu. Jangan tunggu semuanya hancur baru cerita.”

Nara mencium tangannya lagi. Ia tidak berjanji bahwa semuanya akan segera beres.

* * *

Dimas menunggu di samping mobil ketika mereka turun.

Ia membuka pintu belakang untuk ibu mertuanya, lalu melihat Nara tidak membawa tas.

“Barangnya?”

“Aku tetap di sini.”

Dimas menoleh kepada ibunya.

“Bu?”

“Kalian perlu bicara lagi nanti. Hari ini Ibu nggak akan memaksa dia ikut.”

Senyum Dimas hilang. Ia berdiri dekat pintu mobil sampai ibu Nara sudah duduk, lalu merendahkan suara.

“Sekarang ibumu juga kamu buat kasihan. Senang?”

Nara melirik ibunya yang masih merapikan tas di jok. Ia tidak ingin memulai pertengkaran di samping pintu yang terbuka.

“Antar Ibu pulang, Dim. Tolong.”

Dimas menatapnya sebelum menutup pintu.

“Aku belum selesai.”

Nara tidak menjawab. Ia menunggu mobil itu pergi, lalu kembali ke studio dengan lutut lemas.

Ponselnya bergetar saat ia sampai di atas.

Adrian: Ibumu masih di sana?

Ia menjawab sudah pulang. Setelah itu ia menulis tentang uang lukisan, tentang ibunya yang mendengarkan, tentang betapa takutnya ia sebelum membuka pintu.

Adrian baru menelepon beberapa menit kemudian.

“Dimas menghubungiku,” katanya setelah mendengar suara Nara. “Dia minta ketemu siang ini. Aku sudah bilang bisa di kantor.”

Nara memejamkan mata. Jadi itu maksudnya belum selesai.

“Dia bilang mau bicara soal apa?”

“Soal kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!