Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sinar matahari menerobos lembut melalui celah gorden. Kenzo sudah bangun lebih awal dan berlari ke kamarnya untuk bersiap sekolah, menyisakan Nadia dan Arvin di ruangan.
Nadia perlahan bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa lebih segar, namun kakinya masih sedikit lemas. Saat hendak melangkah ke kamar mandi, Arvin yang baru merapikan berkasnya langsung menahan lengan Nadia.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arvin.
"Mau mandi, Mas," jawab Nadia pelan.
"Saya bantu," cetus Arvin singkat.
Wajah Nadia memerah. "Enggak usah, Mas. Aku bisa sendiri. Aku udah kuat jalan."
"Lantai kamar mandi licin," potong Arvin tak terbantahkan. "Kamu baru sembuh. Kalau terpeleset gimana?"
"Tapi aku malu, Mas... aku bisa sendiri," bisik Nadia.
Perdebatan kecil berlangsung singkat. Tanpa banyak bicara lagi, Arvin langsung membopong Nadia ke kamar mandi. Nadia terperanjat, refleks melingkarkan tangan di leher Arvin.
Di kamar mandi, Arvin mendudukkan Nadia di bangku khusus dan menyalakan pancuran air panas. Keheningan diselimuti gemericik air, melelehkan rasa canggung hingga akhirnya mereka mandi bersama.
Setelah selesai, Arvin membalut tubuh Nadia dengan handuk, lalu membopongnya ke area walk-in closet. Dengan telaten, Arvin memilihkan baju rumah yang nyaman dan membantunya memakaikannya.
"Mas... aku sebenarnya bisa pakai baju sendiri," bisik Nadia canggung.
"Mulai sekarang, kamu harus patuh sama saya. Jangan membantah kalau saya bantu," tegas Arvin dari jarak dekat.
Nadia teringat perjanjian lama mereka. "Tapi Mas... bukannya dulu Mas sendiri yang bikin aturan? Di aturan itu tertulis kita gak boleh campur urusan pribadi, gak ada kontak fisik berlebih, dan..."
"Gak ada lagi aturan-aturan itu," potong Arvin cepat.
Nadia terpana tak percaya. "Mas... kamu bercanda, kan? Enggak mungkin berubah pikiran secepat ini. Mas pasti lagi sembunyiin sesuatu..."
Nadia menunduk pelan. "Atau... Mas kayak gini cuma karena kasihan sama aku? Karena aku baru sembuh dari koma? Kalau cuma karena kasihan..."
Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya, Arvin langsung merengkuh tengkuk Nadia dan membungkam bibirnya rapat-rapat dengan bibirnya sendiri.
Nadia tersentak kaget sebelum akhirnya meleleh dalam rasa hangat. Beberapa saat kemudian, Arvin melepas ciumannya, menyatukan kening mereka.
Nadia memegang dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya merona merah padam, tak sanggup menatap mata Arvin.
Arvin menegakkan tubuhnya, merapikan kemeja dengan tenang. Tatapannya kembali dingin dan penuh wibawa.
"Masih mau menuduh saya yang enggak-enggak?" tanya Arvin berat dan datar.
Nadia cepat menggeleng. "Enggak... enggak lagi, Mas..."
Arvin bersedekap dada. "Pernikahan ini dari awal bukan permainan buat saya, Nadia. Kalau saya bilang aturan lama sudah tidak berlaku, artinya tidak berlaku. Saya tidak suka buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak jelas. Jadi mulai sekarang, jalani pernikahan ini tanpa keraguan."
"Paham?" tambah Arvin singkat.
Nadia mengangguk pelan. "Paham, Mas..."
Arvin memegang bahu Nadia lembut. "Bagus. Sekarang duduk di tempat tidur, saya ambilkan sarapan kamu ke atas."
......................
Mobil hitam Arvin berhenti di parkiran khusus eksekutif. Dengan langkah tegap, Arvin memasuki gedung kantornya. Para pegawai menyapa sang CEO yang selalu tampak dingin.
Di ruang kerja presdir, Bagas sudah menunggu membawa berkas laporan.
Bagas menyunggingkan senyum. "Pagi, Vin. Gimana, Nadia udah pulang ke rumah?"
Arvin meletakkan tas kerjanya, lalu mengangguk singkat. "Sudah. Kemarin sore."
Bagas menghela napas lega. "Syukurlah. Oh iya, Vin... aku sekalian mau minta maaf banget, kemarin waktu Nadia di rumah sakit, aku sama istriku belum sempat jenguk. Jadwal dinas luar kota kemarin padat banget."
Arvin duduk tenang di kursinya. "Gak masalah. Nadia juga butuh banyak istirahat."
Bagas tersenyum. "Nanti malam atau besok deh, aku sama istriku main ke rumahmu. Sekalian istriku mau kenalan sama Nadia. Dia penasaran banget dari kemarin."
Raut wajah dingin Arvin sedikit melunak. "Boleh. Kabari saja sebelum datang biar aku minta orang rumah siapkan makan malam."
Belum sempat Bagas melangkah keluar, ponsel di atas meja kerja Arvin bergetar dan berdering. Arvin melirik layarnya. Nama Yasmin, mantan ibu mertuanya, ibu dari almarhumah Inaya, tertera di sana.
Arvin menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel di telinganya. "Halo, Bu."
"Halo, Arvin... Gimana kabar kamu, Nak?" suara Yasmin terdengar dari seberang telepon.
"Kabar saya baik, Bu," jawab Arvin datar.
"Syukurlah kalau baik," sahut Yasmin. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang berubah makin berat. "Kamu ingat kan, Vin? Hari ini hari peringatan kematian Inaya. Sudah berapa tahun almarhumah putri Ibu ninggalin kita semua..."
Arvin terdiam, mendengarkan tanpa memotong.
"Ibu cuma mau ingatin kamu, jangan lupa ziarah ke makam Inaya hari ini. Bawakan bunga kesukaannya dan kirim doa buat dia," lanjut Yasmin.
"Gimana kalau kita berangkat barengan aja siang nanti ke pemakaman? Biar bisa berdoa sama-sama di sana."
Arvin menghela napas pelan, tatapannya menatap lurus ke arah jendela kaca kantornya yang besar.
"Terima kasih sudah mengingatkan, Bu. Tapi saya tidak bisa pergi bersama Ibu," tolak Arvin dingin namun tetap sopan.
"Saya ada urusan yang harus diselesaikan, jadi saya akan datang ke sana sendiri nanti."
Suara di seberang telepon mendadak hening sejenak. Yasmin menghela napas panjang, tersirat rasa kecewa dari nada bicaranya.
"Kamu selalu sibuk, Arvin... Padahal ini hari penting buat almarhumah Inaya," ujar Yasmin dengan suara berat. "Ya sudah kalau memang tidak bisa bareng Ibu. Tapi ingat ya, Vin, luangkan waktu kamu hari ini buat ke makamnya."
"Iya, Bu. Saya paham," balas Arvin singkat.
"Ya sudah. Ibu tutup teleponnya," pamit Yasmin sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Arvin perlahan menurunkan ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja. Ruang kerja presdir itu mendadak hening. Tatapan Arvin menerawang menatap luar jendela, raut wajahnya kembali mengeras, menyimpan bayang-bayang masa lalu yang rumit.
Bagas yang masih berada di ruangan itu menatap Arvin dengan hembusan napas pelan. Sebagai sahabat lama, ia tahu betul kerumitan hubungan Arvin dengan keluarga almarhumah istri pertamanya.
"Ibu Yasmin telepon lagi?" tanya Bagas hati-hati.
Arvin mengangguk pelan tanpa menoleh. "Ingatin hari kematian Inaya."
Bagas mengusap tengkuknya canggung. "Kamu beneran mau ke makam hari ini? Gimana sama Nadia? Dia kan baru saja pulang dari rumah sakit."
Arvin memutar kursinya, menatap Bagas datar. "Aku akan ke makam siang nanti bentar."
Bagas mengerutkan alisnya sedikit, menatap Arvin penasaran. "Anak-anak ikut kamu ke makam?"
Arvin menggeleng pelan. "Tidak. Kasihan anak-anak kalau harus bolak-balik, apalagi Kenzo masih kecil dan Nadia juga butuh didampingi di rumah. Aku berangkat sendiri saja setelah jam makan siang."
Bagas mengangguk paham. "Iya sih, mending kamu sendiri aja biar nggak bikin Nadia kepikiran atau capek juga. Kamu udah ngomong sama Nadia soal mau ziarah hari ini?"
Arvin terdiam sejenak. Pikiran tentang Nadia yang masih lemas di rumah melintas di kepalanya. "Belum. Nanti sebelum jalan aku kasih tahu dia."
"Ya udah, Vin. Biar urusan berkas dan jadwal rapat siang ini aku yang atur dan atasi dulu, biar kamu bisa tenang," ucap Bagas menawarkan bantuan.
"Terima kasih, Gas," jawab Arvin singkat.
Setelah Bagas pamit keluar dari ruangan, Arvin menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya pelan, lalu meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat kepada Nadia di rumah.