Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.
Cahaya matahari pagi menyelusup pelan di balik tirai kamar VIP, membendung aroma antiseptik yang menyengat. Mata Aluna bergerak perlahan, sebelum akhirnya terbuka kaku. Rasa nyeri menusuk di pergelangan tangan kirinya langsung menyambut, diiringi kepalanya yang berat.
Namun, pemandangan pertama yang menyapa indranya bukan hanya langit-langit kamar rumah sakit yang serba putih. Di sisi ranjangnya, duduk Romeo di atas kursi roda, menatapnya dengan raut khawatir yang amat dalam. Di belakang Romeo, berdiri Hayden dengan postur tegap, jas hitamnya masih yang semalam, menampilkan ekspresi dingin yang tak tersentuh.
"Aluna... kamu sudah bangun, Dik?" suara Romeo terdengar bergetar seraya menggapai jemari kanan Aluna. "Astaga, kamu membuat Kakak khawatir."
Aluna membelalak pelan, suaranya parau dan nyaris tak terdengar. "Kak Romeo...? Kenapa Kakak bisa ada di sini?"
"Hayden yang jemput Kakak pagi-pagi sekali," jelas Romeo seraya menoleh sebentar pada pria di belakangnya. "Kata Hayden kamu mendadak drop dan pingsan semalam karena kelelahan. Kakak kepikiran terus dari kemarin."
Aluna mengalihkan pandangannya pada Hayden. Pria itu hanya menatapnya datar, tidak ada jejak kepanikan semalam di wajahnya. Hayden berhasil menyembunyikan percobaan bunuh diri Aluna dengan sangat rapi dari Romeo.
Mata Romeo kemudian tertuju pada balutan perban putih tebal yang membebat pergelangan tangan kiri adiknya. Alisnya bertaut heran. "Lenganmu... kenapa dibalut perban setebal itu, Aluna? Cuma bekas infus, kan?"
Jantung Aluna berdesir hebat. Ia melirik Hayden yang masih bergeming, sebelum akhirnya memaksakan senyum tipis di bibirnya yang pucat. "Cuma... terkena pecah pembuluh darah pas dipasang infus biasa, Kak. Suster bilang kulit Aluna terlalu sensitif, jadi agak bengkak dan harus dibalut."
Romeo menghela napas lega, mengelus kepala adiknya. "Lain kali kalau tidak enak badan bilang, jangan dipaksa bekerja terus."
Hayden akhirnya melangkah maju, memecah keheningan di antara mereka. "Aku keluar sebentar. Kalian bicaralah," ucap Hayden singkat dengan nada dingin yang biasa, lalu memutar tubuhnya dan keluar meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Hayden, Romeo menatap pintu yang tertutup rapat, lalu kembali menatap adiknya dengan binar mata penuh kekaguman.
"Hayden itu benar-benar orang baik ya, Aluna," puji Romeo tulus. "Kakak tidak tahu harus membalas jasanya dengan cara apa lagi. Dia tidak cuma membiayai pengobatan Kakak, tapi juga selalu ada menjaga kamu. Kakak beruntung punya sahabat sebaik dia."
Aluna hanya memalingkan wajahnya, memejamkan mata rapat-rapat. Dada rasanya sesak mendengar pujian yang keluar dari mulut kakaknya sendiri untuk iblis yang telah merenggut kehormatan dan menginjak-injak harga dirinya. Rasanya ingin sekali ia berteriak membongkar semua kejahatan Hayden, namun ancaman pria itu tentang keselamatan Romeo membungkamnya rapat-rapat.
"Aluna?" panggil Romeo lembut.
Aluna menelan ludah kaku, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum napasnya benar-benar habis. "Kaki Kakak... bagaimana perkembangannya?"
Raut wajah Romeo seketika cerah. "Kemarin dokter terapi bilang respons sarafnya makin bagus. Ada kemajuan pesat, Aluna. Kakak yakin dalam waktu dekat Kakak sudah bisa jalan lagi dan beraktivitas normal. Jadi, kamu tidak perlu kerja keras lagi buat menopang keluarga kita."
Melihat binar harapan dan semangat hidup yang menyala di mata kakaknya, Aluna merasakan kehangatan tipis merayapi hatinya. Apapun penderitaan yang harus ia tanggung dari Hayden, melihat kakaknya sembuh adalah satu-satunya hal yang menahannya untuk tetap bertahan di dunia ini.
"Syukurlah, Kak... Aluna senang dengarnya," bisik Aluna tulus.
Tok! Tok!
Pintu kamar terbuka, menampilkan Suster Maya yang masuk membawa nampan sarapan dan peralatan medis. "Selamat pagi, Nona Aluna, Tuan Romeo," sapanya ramah.
"Pagi, Suster Maya," sahut Romeo cepat, nada suaranya mendadak berubah ceria, bahkan posisi duduknya di kursi roda langsung ditegakkan.
Suster Maya tersenyum manis seraya memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Aluna. "Tekanan darahnya sudah mulai stabil ya, Nona. Sarapannya dimakan dulu, setelah ini ada obat yang harus diminum."
"Terima kasih, Suster," ujar Aluna pelan.
Selama Suster Maya memindahkan nampan makanan ke meja makan, pandangan Romeo tidak pernah lepas dari gerak-gerik suster berparas manis itu. "Suster Maya sudah sarapan? Jangan lupa makan juga, nanti bisa sakit," seloroh Romeo dengan perhatian yang kentara.
Suster Maya terkekeh pelan. "Sudah tadi sebelum shift, Tuan Romeo. Terima kasih perhatiannya. Kalau begitu saya permisi dulu ya."
Setelah Suster Maya keluar, Aluna menatap kakaknya dengan alis terangkat. Sikap Romeo barusan sangat tidak biasa.
"Kakak menyukai Suster Maya, ya?" goda Aluna pelan.
Wajah Romeo seketika merona merah. Ia mengibaskan tangannya canggung. "Tidak... apa-apaan kamu ini, Aluna. Kakak cuma senang melihat Suster Maya. Dia sangat baik, ramah, dan telaten merawat pasien. Jarang ada suster sesabar dia."
"Masa cuma senang?" goda Aluna lagi dengan senyum tipis.
"Sudah, jangan banyak bicara. Kamu harus makan," potong Romeo mengalihkan pembicaraan seraya mengambil mangkuk bubur. Ia mulai menyuapi adiknya dengan penuh kesabaran. "Ayo, buka mulutmu."
Aluna menerima suapan demi suapan dari kakaknya. Di tengah suasana hangat itu, Romeo meraih remote di atas meja dan menyalakan televisi dinding untuk mengusir hening.
Layar televisi menyala, langsung menampilkan tayangan berita hiburan dengan cetakan judul tebal di bagian bawah layar: 'SENIMAN GENIUS HAYDEN MAHENDRA TERLIHAT MENGGENDONG SEORANG WANITA DI IGD, SIAPAKAH SOSOK TERSEBUT?'
Presenter di televisi membawakan berita dengan antusias: "Foto eksklusif yang memperlihatkan Hayden Mahendra—putra dari Mahendra Group sekaligus pelukis ternama—tampak panik melarikan seorang wanita ke rumah sakit mendadak gempar dan menjadi topik terhangat di seluruh media sosial..."
Romeo menghentikan suapannya, menatap layar televisi dengan dahi berkerut. "itu kamu kan dek, aku jadi tak enak pada Hayden. sampai masuk berita nasional seperti ini."
Aluna memandangi layar televisi itu dengan pandangan bingung sekaligus heran. Ia tahu Hayden kaya, tapi ia tak pernah menyangka pengaruh pria itu sejauh ini.
"Kak..." panggil Aluna pelan, suaranya sarat rasa penasaran yang terpendam. "Sebenarnya... siapa Hayden Mahendra itu? Kenapa hal sekecil itu saja bisa sampai jadi berita utama di mana-mana?"
*
*
*