Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Pendar sinar matahari pagi menembus celah tirai sutra yang membingkai jendela kaca raksasa penthouse.
Cahaya keemasan itu menyapu perlahan permukaan ranjang berukuran king size, menyinari sprei krem yang sedikit teracak-acak.
Jameson Baxter Ashford terbangun dari tidurnya.
Mata hazel-nya berkedip beberapa kali menetralkan rasa kantuk, lalu jemari tangannya secara refleks bergerak meraba sisi ranjang di sampingnya.
Kosong.
Sisi kasur itu sudah dingin, menyisakan keheningan dan wewangian samar beraroma mawar yang mulai menguap di udara.
Jameson mendudukkan tubuh polos bagian atasnya, menatap lembar sprei kosong di sisinya dengan dahi berkerut dalam.
Gadis itu sudah pergi.
Hazel Rosemary Brooks telah menghilang dari penthouse-nya tanpa meninggalkan satu patah kata atau jejak catatan kecil pun, persis seperti seekor siluman anggun yang memburu di tengah kegelapan malam lalu menguap saat fajar menyingsing.
Jameson mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, lalu terkekeh rendah—sebuah tawa bernada miris yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Gila..." gumam Jameson serak, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Bisa-bisanya aku semurahan ini?"
Pria Ashford itu menyisir rambut hitamnya yang berantakan dengan jemari.
Sungguh konyol.
Bahkan belum ada sebulan ia mengenal mahasiswinya sendiri, namun seluruh ruang di dalam pikirannya sudah tersita sepenuhnya oleh sosok Hazel.
Jameson membuang napas panjang, melirik ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja nakas.
Jemarinya meraih ponsel tersebut.
Namun bukannya membuka dokumen analisa saham atau laporan keuangan mingguan perusahaan, jemari Jameson justru menari di atas layar kaca, membuka mesin pencari digital.
Apakah nyeri haid wanita hanya terasa parah di hari pertama?
Bagaimana cara meredakan nyeri menstruasi dengan cepat?
Apakah wajar jika wanita mengalami pucat dan lemas saat siklus bulanan?
Jameson menatap layar ponselnya sendiri dengan pendar mata tak percaya.
Ini adalah untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, ia melakukan hal sekonyol dan seasing ini.
Selama dua tahun menjalani hubungan formal bersama Christie, Jameson bahkan sama sekali tidak pernah tahu kapan siklus bulanan mantan kekasihnya itu tiba, apalagi repot-repot mencari tahu gejalanya di internet.
Demi Tuhan, selama ini Jameson tidak pernah berpikir bahwa siklus biologi seorang wanita bisa serumit dan sebrutal itu, sampai-sampai bisa melumpuhkan seorang Hazel yang berdarah dingin hanya dalam hitungan menit.
Rasa cemas dan perhatian yang tak rasional itu terus merayap liar di dalam dadanya, membuat pria Ashford itu mendadak kehilangan ketenangan dingin yang selama ini menjadi kebanggaannya.
••••
Sementara itu, di Gedung Fakultas Bisnis Internasional Universitas California, suasana pagi terasa cerah dan berangin.
Di sepanjang lorong marmer yang ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, Hazel Rosemary Brooks melangkah dengan keanggunan mutlak.
Posisinya tegap, bahunya terangkat sempurna, dan setiap pijakan kakinya yang dibalut sepatu kets hitam memancarkan kepercayaan diri yang tinggi.
Sama sekali tidak ada jejak lemas, pingsan, atau wujud seorang wanita yang sedang menderita nyeri perut hebat seperti yang diperlihatkannya malam tadi.
Drama siklus bulanan yang dimainkannya malam tadi berjalan dengan sangat luar biasa sukses.
Nyeri perut ringan yang awalnya memang sempat dirasakannya tadi malam seketika menguap hilang tak berbekas usai ia meminum obat pereda nyeri dari kotak P3K.
Otak cerdas Hazel yang dingin dan manipulatif langsung melahirkan sebuah ide berlian.
Hazel dengan sengaja memanfaatkan momentum itu!
Ia membesar-besarkan drama sakit perutnya, berpura-pura lemas, dan bersikap ringkih sejak pertama kali kakinya menginjakkan lantai penthouse.
Mengapa? Karena Hazel paham betul psikologi seorang pemangsa seperti Jameson.
Pria dominan seperti keluarga Ashford pasti akan terus memantau, merawat, dan mengalihkan gairah liarnya menjadi rasa iba saat melihat mangsanya berada dalam kondisi tidak berdaya.
Dengan drama itu, Hazel tidak hanya berhasil meloloskan diri dari penyatuan panas malam kedua tanpa perlu mengotori tangannya, tetapi ia juga berhasil membalikkan kendali permainan dan membuat sang dosen kejam berlutut melayaninya seharian penuh!
Sebuah senyuman miring yang amat sangat puas terukir di bibir porselen Hazel sepanjang jalan menuju ruang kuliah.
"Hazel? Kau kenapa?" tegur Seraphina yang berjalan di sampingnya, menatap Hazel dengan dahi berkerut heran dan dahi menyipit.
"Sejak keluar dari parkiran tadi kau terus tersenyum-tersenyum sendiri seperti itu. Kau... tidak salah minum obat, kan?"
Hazel menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kelas, menoleh ke arah Seraphina sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Binar matanya memancarkan kebanggaan murni atas kecerdasannya sendiri.
"Aku hanya sedang merayakan sebuah kemenangan kecil, Sera," bisik Hazel dengan suara halus yang sarat akan nada kemenangan.
"Menyenangkan sekali rasanya saat kau menyadari bahwa kau baru saja berhasil menipu dan membodohi seseorang yang menganggap dirinya paling pintar di dunia ini."
Seraphina mengedipkan matanya bingung.
"Menipu siapa? Maksudmu soal tugas kelompok kemarin?"
Hazel hanya terkekeh rendah, membalas pertanyaan sahabatnya dengan gelengan kepala misterius sebelum melangkah masuk dan mengambil tempat duduk favoritnya di barisan tengah ruang kuliah.
Namun, kebanggaan dan kepuasan Hazel atas muslihat sempurnanya tidak bertahan lama.
Tepat lima belas menit sebelum perkuliahan dimulai, suasana di dalam ruang kelas yang tadinya riuh oleh obrolan mahasiswa mendadak surut dan membisu secara serentak.
Pintu kayu ganda kelas terdorong lebar, menampilkan sosok tinggi tegap yang seketika menyedot seluruh perhatian isi ruangan.
Jameson Baxter Ashford melangkah masuk.
Pria itu tampil sangat tampan dengan balutan kemeja hitam yang digulung rapi hingga ke siku.
Namun, yang membuat seluruh mahasiswa di ruangan itu membelalak kaget dan melongo tak percaya bukanlah ketampanan sang profesor, melainkan benda yang berada di dalam genggaman tangannya.
Pria penguasa dinasti Ashford itu membawa sebuah termos porselen putih berisi sup hangat aromatik serta sebuah kantong kertas kecil transparan yang memperlihatkan dua strip obat pereda nyeri dan botol kompresi baru!
Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya dalam kejutan luar biasa, Jameson melangkah tegap, mengabaikan meja podium dosen, dan berjalan lurus melewati deretan meja mahasiswa—menuju tepat ke arah tempat duduk Hazel!
Klek.
Jameson meletakkan termos sup hangat dan kantong obat tersebut tepat di atas meja Hazel, tepat di hadapan gadis yang kini membeku kaku dengan mata membelalak lebar.
"Habiskan sup ini sebelum kuliah dimulai," kata Jameson dengan nada suara yang sangat berat, tenang, namun penuh perhatian mutlak yang tak bisa dibantah di hadapan seluruh isi kelas.
"Aku sudah menyuruh koki memasaknya khusus untuk meredakan nyeri perutmu pagi ini. Jangan lupa minum obatmu tepat waktu, Hazel."
Deg.
Seluruh isi ruang kelas seketika menahan napas dalam keheningan yang teramat sangat syok.
...----------------...
Happy reading 🦋