H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Suasana di depan teras rumah minimalis itu terasa begitu panas membakar kulit, meski matahari sore mulai condong ke barat. Bisik-bisik dari para tetangga perumahan yang berkerumun semakin lama semakin tajam menusuk telinga. Tatapan menghakimi yang mengarah pada Reno, Gisella, Pak Bambang, dan Bu Maya membuat udara di sekitar seolah menipis.
Gisella menangis sesenggukan di samping mamanya, sementara Bu Maya terduduk lemas di atas koper kecil yang mereka bawa dari rumah sakit.
Reno berdiri mematung, menatap kosong ke arah pintu rumah yang kini tertutup rapat di hadapan mereka. Kenyataan pahit menghantam tempurung kepalanya secara bertubi-tubi rumah yang ia banggakan-banggakan sebagai tempat pelarian terakhir ternyata sudah berpindah tangan secara sah kepada orang lain atas keputusan mutlak Mahika. Tidak ada lagi aset, tidak ada lagi tabungan, dan tidak ada lagi jalan keluar yang tersisa.
Menyadari bahwa bertahan di tempat itu hanya akan mempermalukan diri mereka semakin dalam, Reno menarik napas dalam-dalam. Harga dirinya sebagai seorang pria yang baru saja dipecat dan diusir orang tuanya mendesak untuk mengambil sebuah keputusan cepat sebuah langkah tanggung jawab palsu di hadapan keluarga mertuanya agar ia tetap terlihat seperti pahlawan yang bisa diandalkan.
Reno memaksakan diri menegakkan punggungnya, lalu berbalik menatap keluarganya yang tampak kebingungan dan kelelahan.
"Bu... Pak... Gisel," panggil Reno dengan suara yang sengaja dibuat setenang mungkin, meski keringat dingin masih bercucuran di pelipisnya. "Sudah, jangan terus-terusan berdiri di sini. Kita tidak mungkin memohon pada orang yang sudah membeli rumah ini secara sah. Mari kita pergi dari sini sekarang."
Pak Bambang mendongak dengan kening berkerut, air muka pria paruh baya itu tampak sangat terpukul dan kebingungan. "Terus... kita mau ke mana lagi, Ren? Rumah di kampung sudah rata sama tanah, rumah di kota ini ternyata sudah dijual Mahika... Mau jadi apa kita malam ini? Tidur di jalanan?."
Reno memasang ekspresi penuh wibawa, mencoba menampilkan gestur seorang kepala keluarga yang tabah menghadapi cobaan. Ia merangkul pundak istrinya pelan.
"Tenang, Pak, Bu. Selama ada aku, kalian tidak perlu khawatir," ucap Reno dengan nada sok pahlawan, menyembunyikan kepanikan hebat di dalam dadanya. "Sebagai kepala rumah tangga, aku akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan tempat tinggal kalian. Ayo, kita cari taksi daring sekarang. Kita cari tempat tinggal sementara."
Mendengar ucapan Reno yang penuh keyakinan itu, sedikit rasa lega menyusup ke hati Pak Bambang dan Bu Maya. Di tengah keterpurukan mereka, sikap Reno yang seolah mau "pasang badan" dan bertanggung jawab membuat Pak Bambang merasa salah menilainya sebelumnya.
"Kamu benar, Nak..." ujar Pak Bambang dengan suara bergetar haru, menepuk pundak menantunya penuh rasa bangga. "Bapak bangga sama kamu, Reno. Di saat situasi hancur begini, kamu masih mau menunjukkan tanggung jawab sebagai suami dan menantu yang baik. Tidak salah Bapak merestui pernikahan kalian."
Reno hanya tersenyum tipis sebuah senyuman penuh kepalsuan yang terasa begitu pahit di lidahnya saat mendengar pujian dari sang mertua untuk kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Reno memesan sebuah taksi daring berukuran sedang. Keempat orang yang lelah fisik dan mental itu langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan kawasan perumahan elit yang kini telah menolak kehadiran mereka.
Selama di dalam perjalanan taksi, tangan Reno sibuk mengotak-ngotak ponselnya. Ia membuka aplikasi pencari properti dan sewa hunian harian atau bulanan, menyaring berdasarkan anggaran terendah yang tersisa di dompet digital dan sisa tabungannya yang kini menipis drastis.
Nomor demi nomor ia hubungi, hingga akhirnya ia menemukan satu penawaran kontrakan petakan murah di sebuah gang padat penduduk yang terletak jauh di pinggiran kota.
"Pak, ke alamat jalan Kutilang Raya nomor 12 ya, masuk ke gang sempit," instruksi Reno kepada sang sopir taksi.
Kurang lebih satu jam perjalanan dilalui di tengah kemacetan kota Jakarta sore itu. Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah lorong sempit yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
Reno meminta keluarganya turun. Mereka berjalan kaki menyusuri gang sempit yang lembap dan berdesakan, melewati jemuran warga yang melintang di atas kepala, hingga sampai di sebuah deretan petak kontrakan berdinding cat hijau pudar yang sudah terkelupas di sana-sini.
Seorang penjaga kontrakan keluar membukakan pintu salah satu petak yang kosong. Begitu pintu didorong terbuka, bau apek dan pengap langsung menyergap hidung mereka.
Ukuran petak kontrakan itu sangat kecil, hanya 6x3 meter persegi total luas keseluruhannya. Di dalamnya hanya terdapat satu ruangan utama sempit yang berfungsi ganda sebagai ruang tamu sekaligus kamar tidur darurat, sebuah sudut kecil untuk dapur tanpa kompor, dan satu kamar mandi berukuran mini di bagian paling belakang.
Gisella menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak keksayuan melihat kondisi tempat tinggal baru mereka yang jauh dari kata layak.
"Ren... k-kita mau tinggal di sini?" tanya Gisel dengan suara bergetar hebat, air matanya kembali tumpah. "Ini... ini sempit banget. Di mana kita mau tidur bertiga sama Bapak dan Ibu?"
Bu Maya ikut terduduk lemas di tepi pintu masuk, menatap lantai semen kasar yang kotor. "Ya Tuhan... kontrakan apa sekecil ini, Ren? Buat napas saja rasanya sesak..."
Reno menelan ludah dengan susah payah. Harga dirinya kembali tercabik-cabik melihat kenyataan tempat tinggal barunya. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Uang tunai di dompetnya hanya cukup untuk membayar sewa satu bulan penuh petakan tersebut dan sisa sedikit untuk membeli makan malam.
Dengan terpaksa, Reno memasang senyum dipaksakan.
"Sudah, Gisel, Bu... syukuri saja apa yang ada untuk saat ini," bujuk Reno dengan suara melunak, berusaha menutupi rasa malunya. "Uang tabungan kita menipis akibat acara pernikahan kemarin. Anggap saja ini tempat tinggal sementara sampai aku nanti dapat pekerjaan baru."
Reno mendesah berat, melirik ke arah ruangan sempit yang hanya memiliki satu petak sekat tipis.
"Karena tempatnya cuma seluas ini dan cuma ada satu ruangan utama... terpaksa kamar tidur satu-satunya ini kita tempati bersama-sama dulu ya," lanjut Reno, merapikan sedikit barang bawaan mereka yang diletakkan di lantai. "Aku, kamu, sama Bapak dan Ibu tidur berjejal di sini."
Mendengar penjelasan itu, Gisella semakin merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Dari seorang wanita yang diagung-agungkan, bergaun pengantin mewah, dan tinggal di rumah megah, kini ia harus mendekam di sebuah petak kontrakan kumuh ukuran 6x3 meter bersama suami pengangguran dan kedua orang tuanya.
Pak Bambang, meski tadi sempat memuji Reno, kini hanya bisa terduduk diam di lantai semen, menatap kosong ke dinding tembok yang berlubang kecil.
Hari semakin beranjak malam. Suasana di dalam kontrakan sempit itu terasa begitu pengap dan menyesakkan dada. Udara panas tanpa pendingin ruangan membuat keringat bercucuran di tubuh mereka yang kelelahan.
Reno merasa kepalanya pusing bukan kepalang. Tekanan dari segala penjuru dipecat dari pekerjaan, diusir oleh orang tua kandung, kehilangan rumah impian, hingga harus hidup berdesakan di petak kumuh bersama mertua rewel membuat dadanya terasa mau meledak.
Ia butuh udara segar. Ia butuh pelarian sesaat dari kenyataan yang teramat kejam ini.
Reno berdiri dari lantai, merapikan kerah kemejanya yang masih berdebu, lalu melangkah menuju pintu keluar kontrakan.
"Ren, mau ke mana kamu malam-malam begini?" tanya Bu Maya curiga melihat suaminya hendak pergi keluar.
Reno menoleh sejenak, memasang senyum kaku. "Aku mau cari angin segar sebentar di luar, Bu. Sekaligus mau beli makan malam buat kita semua di warung depan gang. Sebentar ya, aku segera balik."
Tanpa menunggu jawaban dari mertua atau istrinya, Reno langsung membuka pintu dan melangkah cepat keluar dari petak kontrakan sempit itu, membiarkan Gisella, Bu Maya dan Pak Bambang termenung di dalam ruangan yang pengap.
Ia berjalan menyusuri gang gelap, mencari tempat sepi untuk menenangkan pikirannya yang kalut, tanpa menyadari bahwa apa yang akan ia temui di luar sana justru akan menjerumuskannya ke dalam babak kehancuran yang jauh lebih dalam.
ap g cafek km berdarama🤣🤣
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂