Emlyn Blossom, baru saja diselingkuhi, dan tidak ingin mencinta lagi karena masih terluka. Apes, ia dilecehkan oleh Darrien Harrison, tapi bukannya minta pertanggungjawaban, ia malah menganggap kejadian itu adalah kesalahan, membuat Darrien merasa frustasi tak karuan.
Yuk intip lanjutannya... 💖💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eMViBi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Chapter 27: Kekasih Hatiku~
Darrien tersenyum-senyum sepanjang jalan, tangan satunya asik menggengam tangan wanita di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Emlyn. Mereka baru saja meresmikan hubungan mereka dengan lebih jelas sebagai sepasang kekasih.
"Aku harus menelfon Kenneth... Kalau bukan karena dia, kita tidak akan berbaikan seperti ini..." Seru Darrien menekan layar LCD mobilnya, mencari nama Kenneth dan menekan menu call, tak lama terdengar suara yang dituju.
"Ada apa?" Tanya Kenneth.
"Thanks Bro...," Ucap Darrien singkat dengan senyum sumringah.
"Kenapa? Sudah baikan dengan Emlyn?" Tanya Kenneth tersenyum, setelah mendengar suara bahagia milik Darrien yang berbeda jauh dari beberapa jam yang lalu saat mereka di restaurant.
"Hmm..., Kita juga sudah resmi." Jelas Darrien menatap Emlyn yang tersipu malu.
"Gitu dong, jangan gantungin anak orang terus. Diseriusin kek!" Dukung Kenneth yang turut senang mendengarnya.
"Hmm, satu lagi...,"
"Apa?" Tanya Kenneth.
"Besok Emlyn cuti 1 hari...," Lapor Darrien meminta izin Kenneth, mengingat Emlyn adalah bawahan pria itu.
"Baiklah... Baiklahh..., aku mengerti... Sudah sanaaaa...," Jawab Kenneth kemudian mematikan telfonnya, "Cihh, dasar bocah kasmaran...," Ledeknya.
"Kenapa aku harus cuti?" Tanya Emlyn bingung.
"Aku akan membawamu pergi melihat matahari terbit...," Ajak Darrien antusias.
Darrien membawa Emlyn ke sebuah pantai dalam perjalanan dua jam perjalanan, saat mereka tiba sudah pukul setengah 12 malam, di luar mobil, deburan ombak dan angin malam menerpa dengan dinginnya, dan karena rencana mereka melihat matahari terbit, merekapun memutuskan untuk tidur di dalam mobil sampai pagi hari.
"Aku penasaran, kenapa kamu memilihku? Tidak memilih mantanmu?" Tanya Emlyn, ia membaringkan badannya di kursi penumpang yang sudah ia turunkan sudutnya.
"Lalu kenapa kau memilihku? Tidak memilih pria lain yang mendekatimu?"
"Wanita mana yang tidak menaksir pria tampan sepertimu...," Gombal Emlyn sembari mengelus pelan hidung Darrien.
"Haha," Tawa Darrien senang, sebelum lanjut menjawab.
"Kepribadianmu berbeda dengan yang lain, kau tidak gila pujian Em. Tidak meminta ku mengatakan I love you, kau cantik dan tidak mencari perhatianku seperti wanita yang lain. Kau apa adanya, dan aku menyukainya...," Jawab Darrien bersungguh-sungguh, kali ini ia tidak akan ragu mengutarakan isi hatinya, tidak ingin kehilangan lagi karena sikapnya yang pengecut.
"Kau tidak tanya kenapa?" Tanya Emlyn memejam matanya, menguap, ia sudah mulai mengantuk.
"Kenapa?"
"Dulu mantanku, Kay, sering memujiku, hampir setiap hari dia mengatakan I Love You, aku wanita yang cantik, aku baik, aku satu-satunya... Dan ternyata itu hanya ucapan manis. Pada akhirnya ia juga terpincut dengan wanita lain. Sejak saat itu, aku tidak terlalu percaya dengan gombalan dan ucapan manis dari pria lain." Cerita Emlyn.
"Awalnya, aku juga tidak siap memulai hubungan baru. Tapi entah kenapa, berapa kali aku mencoba move on dan menjauh, hati dan tubuhku seperti ada magnet yang akan menarik untuk selalu bersamamu, memaafkanmu, dan akhirnya luluh lagi padamu... Kau ini apa sih?" Lanjut Emlyn lagi, membentuk teropong dengan tangannya, memperhatikan Darrien dengan mata kantuknya.
"Artinya kita berjodoh...," Seru Darrien penuh percaya diri, malam itu ia seperti anak kecil yang kesenangan.
"Cihh..," Respon Emlyn pura-pura kesal.
Cupp... Darrien mengecup pelan bibir Emlyn, "Tidurlah, aku akan membangunkan mu esok pagi...," Ucap Darrien mengusap kepala Emlyn dengan lembut hingga wanita itu tertidur.
***.***
Duakkk Duaakk Duuakkk... Ting Tong Ting Tonggg... Duak Duak Duak...
Pintu apartement Darrien sebentar lagi akan lepas dari engselnya, entah siapa yang menggedornya. Darrien menoleh melihat Emlyn yang tidur di lengannya ikut terbangun karena suara berisik itu.
"Siapa itu? Jam berapa sekarang?" Tanya Emlyn melihat jam di nakas samping tempat tidur menunjukkan pukul 10 pagi.
Baru 2 jam yang lalu mereka kembali dan Darrien membawa Emlyn tidur di apartemennya setelah tadi pagi mereka berhasil menyaksikan matahari terbit nan indah di pantai dengan romantis dan deburan ombak yang tenang.
"Aku baru terlelap, siapa sih yang gedor-gedor??" Omel Darrien kesal karena tidurnya terganggu, ia beranjak dari ranjangnya, Emlyn pun mengekorinya keluar kamar.
Klekkk...,
"Apa yang kau lakukan Darla??" Bentak Darrien yang sebelumnya melihat dari lubang intip kaca di pintu untuk memastikan siapa pelakunya, tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri.
"Siapa suruh kau mengambil kunci cadangan ku? Aku kan jadi tidak bisa masuk." Protes Darla kesal. Darrien tahu bukan itu penyebab adiknya datang dan mengomel.
"Ada apa?" Tanya Darrien.
Darla terperangah saat melihat Emlyn juga berada di sana, sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Jadi kemarin kau menolak Kak Callista demi wanita ini?" Tanya Darla tidak percaya. Emlyn memalingkan wajahnya saat Darla menunjuk dirinya.
"Jaga bicaramu. Dia kekasih ku sekarang...," Tegur Darrien tegas.
"APAAAA? Aku tidak percaya, bagaimana mungkin kau memilih wanita seperti ini dibandingkan Kak Callista?" Pekik Darla takjub, dilihat dari sudut manapun, penampilan Emlyn yang tidak modis, bagaimana bisa menarik perhatian kakaknya yang tampan.
"Aku rasa kau sudah buta Kak atau memang seleramu yang buruk?" Sindir Darla.
"Aku dan Callista sudah berakhir Darla, jangan mengungkit dia terus." Lama-lama Darrien begah mendengarnya.
"Tapi...," Darla kekeh dengan pendapatnya.
"Tolong hargai pilihan dan hidupku Darla. Kau sendiri tahu bagaimana dulu Callista meninggalkanku." Tegas Darrien tak ingin dibantah.
"Tapi wanita ini...," Darla tidak bisa berkata-kata. Darla bisa mengerti kenapa Darrien tidak mau kembali dengan Callista karena sakit hatinya dahulu, tapi dari sisi manapun, Emlyn terlihat minus di matanya. Apa lebihnya wanita ini untuk Darrien???
"Yang sopan! Dia kekasih hatiku, dan juga calon kakak iparmu...," Jawab Darrien menyentil dahi Darla, membuat adiknya manyun.
"Baiklah, baiklah... Terserah kamu saja. Yang pasti aku yakin Mama gak akan setuju...," Darla akhirnya menyerah, toh ia tahu kakaknya adalah orang yang keras dan membawa Emlyn ke huniannya, sudah pasti Darrien serius dengan wanita itu.
"Aku tahu...," Jawab Darrien yang sudah mengiranya.
"Kembalikan kunciku...," Pinta Darla menadahkan tangannya, Darrien menggeleng-gelengkan kepalanya halus, memang adik tidak tahu malu.
"Tidak akan! Kau belilah apartement untuk dirimu sendiri, jangan menganggu ke sini lagi." Tolak Darrien.
"Dasar pelit!!" Maki Darla lalu akan melangkah pergi, kemudian berbalik lagi, meletakkan tangannya di bibir, memperhatikan penampilan Emlyn yang menganggu pemandangannya.
"Heiii..., You! Paling tidak pergilah ke salon... Perbaiki penampilanmu... Kau akan cantik dan serasi dengan kakak ku jika berdandan... Lagipula kakakku kaya, gunakan saja uangnya." Saran Darla terdengar menyindir, tapi ada benarnya. Emlyn yang mendapat kritikan menohok, tidak bisa menutupi ekspresi sedihnya.
"Jangan kau dengarkan... Aku menyukaimu apa adanya...," Ucap Darrien menghibur Emlyn.
"Mana mungkin, lama-lama kau juga bosan dengan tampilannya yang jelek begini...," Sarkas Darla sebelum ditendang keluar oleh Darrien.
.
.
.
.
.
To Be Continue~