“Bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini? Siapa kalian kenapa kalian menatap aku seperti itu? Kenapa kalian diam, jawab aku!” teriak Tarissa ke arah sekumpulan orang yang mengenakan jubah hitam dan tampak sangat dingin.
Tatapan yang begitu tajam seolah ingin menelisik dan mengoyak-oyak jiwa Tarissa.
Belakangan ini Tarissa mengalami mimpi yang aneh dan terus berulang, hingga ia bermimpi ada sebuah cahaya warna warni masuk ke dalam tangannya yang menyebabkan muncul seperti tato ditangannya. Setelah ia bangun ternyata tato itu benar-benar muncul ditangannya. Tato itu bulat dan di dalam bulatan ada gambar lagi berupa simbol elemen tanah, air, api, tanah, angin, bunga salju, dan diluar lingkaran itu ada lingkaran lagi. Mulai dari saat itu Tarissa memiliki kekuatan ajaib.
Anehnya gambar elemen dipergelangan tangannya satu persatu menyala ketika Tarissa memegang tangan teman-temannya. Kira-kira siapa saja teman Tarissa yang juga mempunyai kekuatan dan darimana kekuatan itu berasal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon malesta istara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap
Abi, Sagara, dan Zannaya memandang negeri Acalapati yang menjulang tinggi di atas awan dengan penuh kagum. Negeri itu merupakan tujuan mereka disana mereka akan menghadapi pimpinan Acalapati yang baru, mengingat Acalapati berhasil dijajah dan mereka ingin mengungkap kebenaran di balik semua rencana jahat yang terjadi. Dalam misi yang berbahaya ini, ketiga pemuda tersebut mengandalkan kekuatan unik mereka masing-masing.
Abi, yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi apapun yang ia inginkan. Pertama-tama ia merubah dirinya menjadi seekor burung dan terbang menuju Acalapati untuk melihat keadaan disana. Setelah dirasa aman, ia kembali untuk menjemput Sagara dan Zannaya.
Zannaya, dengan kekuatan es yang kuat, menggunakan kemampuannya untuk menciptakan jembatan es yang kokoh dan aman di atas awan untuk memudahkan perjalanan mereka menuju negeri Acalapati. Dengan hati-hati, mereka menaiki jembatan es tersebut, menghadapi hembusan angin yang kencang dan suhu dingin yang menusuk tulang. Sagara dengan kekuatan alamnya menumbuhkan sulur-sulur yang kokoh untuk berpengan.
Perjalanan mereka melintasi awan penuh dengan keajaiban dan keindahan. Mereka melihat formasi awan yang unik, matahari yang bersinar terang di balik awan, dan pemandangan indah dari langit yang membentang luas di atas mereka. Namun, perjalanan ini juga penuh dengan tantangan, dengan angin yang kencang dan suhu yang semakin dingin. Akhirnya, mereka tiba di tepi negeri Acalapati yang berada di atas awan. Dengan hati-hati, Abi mendaratkan dirinya dan teman-temannya di atas awan, di tengah pemandangan yang menakjubkan. Mereka tahu bahwa perjalanan sejauh ini hanyalah permulaan dari ujian yang lebih besar yang menanti mereka di negeri Acalapati.
Abi, yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi apapun yang ia inginkan, memutuskan untuk menggunakan kekuatannya untuk berpura-pura menjadi salah satu pengawal di negeri Acalapati. Dia mengubah penampilannya menjadi seperti salah satu pengawal yang berjaga di pintu gerbang. Dengan penampilan baru ini, Abi merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk menyusup dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Abi kemudian membawa pakaian pengawal dan memberikannya pada Sagara dan Zannaya. Mereka bertiga mulai mencari keberadaan buku itu.
Di dalam istana Acalapati, Abi, Sagara, dan Zannaya merasakan suasana yang penuh misteri dan tegang. Mereka berjalan dengan hati-hati melalui koridor-koridor yang indah namun penuh rahasia. Tujuan mereka adalah menemukan buku yang diyakini memiliki jawaban untuk mengungkap rencana jahat Yasa Tirta dan menjaga keseimbangan dunia. Setelah berkeliling mereka belum menemukan petunjuk.
Abi dengan cerdik memutuskan untuk berbicara dengan salah satu pengawal istana dalam upaya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang keberadaan buku ajaib. Dia mengambil pendekatan yang tenang dan ramah, mencari cara untuk merayu informasi tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dengan senyuman tulus, Abi mendekati seorang pengawal yang sedang berjaga di salah satu lorong. "Permisi, saudara. Saya baru pertama kali datang ke istana ini dan mendengar banyak cerita menarik tentang harta karun pengetahuan yang ada di dalam istana ini. Saya penasaran, apakah Anda mungkin pernah mendengar tentang sebuah buku ajaib yang konon katanya berisi kebijaksanaan kuno?"
Pengawal itu melihat Abi dengan pandangan skeptis namun juga tertarik. "Ya, memang benar ada berbagai cerita tentang benda-benda kuno yang tersimpan di istana ini. Namun, tentang buku ajaib yang Anda maksud, saya tidak terlalu yakin. Nama dan detailnya mungkin telah terdistorsi oleh waktu."
Abi memberikan senyuman yang lebih lembut, "Saya mengerti. Tetapi saya memiliki minat yang sangat besar dalam sejarah dan pengetahuan kuno. Jika memungkinkan, apakah Anda berkenan memberi tahu saya apakah ada sumber informasi yang bisa membantu saya menemukan benda-benda berharga seperti itu di dalam istana?".
Pengawal itu berpikir sejenak, tampak sedikit ragu. Namun, dengan pandangan Abi yang hangat dan berpengetahuan, dia mulai merasa nyaman untuk berbicara. "Mungkin Anda ingin mencari tahu lebih lanjut di perpustakaan istana. Ada banyak koleksi buku-buku tua yang mungkin memiliki kisah-kisah atau catatan tentang benda-benda berharga."
Abi merasa senang mendapatkan petunjuk ini. "Terima kasih banyak atas informasinya. Saya akan mengunjungi perpustakaan dan mencari tahu lebih lanjut. Semoga saya bisa menemukan jejak-jejak pengetahuan yang tersembunyi di dalam istana ini."
Setelah berbincang sebentar lagi, Abi meninggalkan pengawal tersebut dan bergabung kembali dengan Sagara dan Zannaya. Dia berbagi informasi yang dia dapatkan, dan mereka semua merasa semakin dekat dengan buku ajaib yang mereka cari. Dengan petunjuk ini, mereka menuju perpustakaan istana dengan harapan bahwa buku ajaib tersebut akan membawa mereka menuju kebenaran dan keseimbangan yang mereka upayakan untuk mengembalikan.
Tubuh Abi, Sagara, dan Zannaya merasa seperti ditarik oleh tenaga yang kuat saat mereka masuk ke dalam perpustakaan. Sebelum mereka sempat merespons, seorang wanita tua yang mengenakan pakaian kuno dan memiliki aura yang misterius mendekati mereka. Zannaya spontan menggunakan kekuatannya untuk membekukan sebagian tubuh wanita tua itu karena terkejut, mereka semua terkejut mendengar kata-kata wanita itu. "Jangan khawatir, anak-anak. Saya tahu mengapa kalian datang ke sini," ujar wanita tua tersebut dengan suara lembut namun penuh makna. "Kalian mencari buku ajaib yang berisi pengetahuan kuno dan rahasia yang perlu diungkapkan untuk keseimbangan dunia."
Wanita tua itu kemudian melelehkan es yang membekukan tubuhnya dengan gerakan tangan yang tenang. Mereka tercengang oleh kejadian ini, tetapi mereka juga merasa penasaran dengan wanita tua yang tampaknya memiliki pengetahuan yang mendalam.
"Siapa Anda?" tanya Abi dengan rasa hormat.
Wanita tua itu tersenyum, "Saya adalah penjaga perpustakaan ini, sekaligus penjaga dari pengetahuan yang tertulis di dalam buku ajaib yang kalian cari. Nama saya Laras, saya adalah utusan para baiduri untuk menjaga buku itu hingga keturuannya datang mengungkap kebenaran yang terjadi."
Sagara bergumam, "Bagaimana Anda bisa tahu?"
Laras tertawa lembut, "Saya memiliki pengetahuan yang melampaui batas waktu, dan perpustakaan ini adalah rumah bagi segala macam rahasia. Saya telah menunggu kedatangan kalian, para pilihan yang ditunjuk oleh takdir untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi."
Zannaya menatap wanita tua itu dengan heran, "Tapi bagaimana Anda bisa yakin kami adalah pilihan yang tepat?"
Laras tersenyum bijaksana, "Kekuatan kalian yang unik dan tekad yang kuat telah membawa kalian ke sini. Saya merasakan bahwa kalian memiliki keberanian dan niat tulus untuk menjaga keseimbangan alam."
Abi, Sagara, dan Zannaya saling bertukar pandangan, merasa campur aduk oleh situasi yang mereka alami. Namun, mereka juga merasa bahwa Laras memiliki pengetahuan yang dapat membantu mereka dalam misi mereka.
"Dalam buku ini, kalian akan menemukan jawaban yang kalian cari, tetapi juga tantangan besar yang harus kalian hadapi," lanjut Laras dengan serius. "Kalian harus bersatu dan berjuang bersama untuk menghadapi ujian-ujian ini."
Laras membawa mereka ke ruang rahasia di balik rak buku. Setelah masuk ke dalam rak buku mereka harus masuk ke ruang bawah tanah. Setelah sampai di ruang bawah tanah terdapat kilatan cahaya yang seakan memberi batasan. Saat Sagara melangkah maju dirinya seperti menabrak dinding yang sangat keras, kemudian tubuhnya seperti tersengat arus listrik. Laras kemudian menjelaskan bahwa memang yang terpilih yang bisa masuk. Laras meminta mereka mencoba satu persatu. Saat giliran Abi, dengan mudah Abi melewatinya. Laras kemudian tersenyum, Abi kemudian berjalan menuji buku itu yang diletakan diatas mimbar baca. Abi mulai membuka dan membaca buku itu. Laras meminta agar Sagara dan Zannaya tetap berjaga, sedangkan Laras harus kembali ke perpustakaan agar tidak ada orang yang curiga karena dirinya menghilang.
Saat Abi membaca buku tersebut, dia menemukan fakta-fakta yang mengungkap rencana jahat Yasa Tirta dengan detail yang mengejutkan. Ternyata, Yasa Tirta telah menjalankan rencana yang sangat licik, yaitu menciptakan fitnah yang merusak reputasi rakyatnya sendiri dengan menciptakan istilah "Kaum Angkara". Ia menyebarkan kabar palsu bahwa kaum angkara telah bersekutu dengan iblis dan terlibat dalam kekacauan yang terjadi.
Fakta ini mengguncangkan Abi, Sagara, dan Zannaya. Mereka menyadari bahwa Yasa Tirta tidak hanya berusaha untuk menguasai dunia dengan membuka tabir, tetapi juga merusak citra kaum Angkara yang sebenarnya memiliki niat baik. Tindakan ini tidak hanya merugikan kaum angkara, tetapi juga menciptakan ketidakharmonisan dalam dunia mereka.
Abi merasa marah dan terpanggil untuk membongkar kebenaran ini kepada dunia. Ia tahu bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk melawan manipulasi dan kejahatan Yasa Tirta. Sagara dan Zannaya juga merasa semakin bersemangat untuk menghadapi Yasa Tirta dan mengungkap rencananya yang jahat. Sayangnya buku itu tidak bisa dibawa bersama mereka, kisah kelanjutannya harus mereka tebak sendiri. Mereka harus membedakan mana yang benar dan yang salah dengan naluri mereka sendiri, karena buku itu tidak bisa selalu mendampingi mereka.
Dengan pengetahuan baru ini, Abi, Sagara, dan Zannaya mengerti bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka. Mereka memutuskan untuk mengumpulkan dukungan dari kaum angkara yang masih setia pada tujuan kebaikan. Bersama-sama, mereka ingin menghentikan rencana jahat Yasa Tirta dan mengembalikan keseimbangan dunia.
Dengan hati yang penuh tekad, mereka melangkah keluar dari perpustakaan dan kembali ke perjalanan mereka. Mereka tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti di depan, tetapi mereka siap menghadapinya dengan keberanian dan kekuatan yang mereka miliki. Dalam perjalanan mereka untuk menghentikan Yasa Tirta, mereka berharap dapat mengembalikan kebenaran, keseimbangan, dan keadilan ke dunia yang mereka cintai.